Perempuan dalam Identitas Gizi

            Perempuan adalah anugerah. Dalam sebuah identitas gizi, perempuan adalah pengontrol utama. Allah telah memberi sebuah karunia yang menjadi kodrat setiap perempuan yakni sebagai wanita hamil dan seorang ibu menyusui. Ini berarti perempuan dalam identitas gizi adalah kelompok rentan baik dari sebagai remaja putri, ibu hamil, dan ibu menyusui. Perempuan pula pengontrol utama untuk kelompok rentan lain, yakni bayi dan balita.

Sejak terjadi pembuahan, manusia bergantung pada zat-zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan kelangsungan hidupnya. Dalam kandungan ibu, janin memperoleh zat-zat gizi dari persediaan ibu, setelah lahir hingga enam bulan ia cukup hanya mendapat makanan melalui Air Susu Ibu (ASI), dan sampai dua tahun atau lebih si bayi tetap diberi ASI pula.

Gizi Dalam Daur Kehidupan; Sebuah Peran Perempuan

            Masa kehamilan, pada masa dalam kandungan, janin sepenuhnya bergantung pada ibu untuk keperluaan zat-zat gizinya. Kebutuhan ini meningkat secara berangsur hingga bayi lahir. Pada saat kandungan, zat-zat gizi hendaknya berada dalam keadaan seimbang dalam darah ibu. Hal ini sepenuhnya bergantung pada apa yang ibu konsumsi, serta proses pencernaan, absorpsi (penyerapan), dan metabolisme zat-zat gizi yang terjadi. Keadaan gizi ibu hamil yang tidak seimbang berpengaruh negatif terhadap bayi, seperti berat badan lahir rendah (BBLR), pertumbuhan terhambat, lahir cacat, hingga kematian.

            Masa menyusui, menyusui merupakan bagian integral siklus reproduksi berupa proses fisiologis yang dapat dilakukan oleh hampir semua ibu sesudah melahirkan. Makanan pertama yang diberikan kepada bayi sesudah lahir adalah air susu ibu (ASI). ASI adalah makanan alamiah yang diperuntukkan bagi bayi. ASI mengandung zat-zat gizi yang lengkap, selain itu mudah dicerna, dan diabsorpsi. Dalam ASI-pun terdapat zat-zat antiinfeksi dan antialergi.

Dalam penjelasan kondisi umum di Renstra Kemenkes Tahun 2015-2019 tertulis, Angka Kematian Ibu sudah mengalami penurunan, namun masih jauh dari target MDGs tahun 2015, meskipun jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan mengalami peningkatan. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh tantra lain kualitas pelayanan kesehatan ibu yang belum memadai, kondisi ibu hamil yang tidak sehat dan faktor determinan lainnya. Penyebab utama kematian ibu yaitu hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan post partum. Penyebab ini dapat diminimalisir apabila kualitas Antenatal Care dilaksanakan dengan baik. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan kondisi ibu hamil tidak sehat antara lain adalah penanganan komplikasi, anemia, ibu hamil yang menderita diabetes, hipertensi, malaria, dan empat terlalu (terlalu muda <20 tahun, terlalu tua >35 tahun, terlalu dekat jaraknya 2 tahun dan terlalu banyak anaknya > 3 tahun). Sebanyak 54,2 per 1000 perempuan dibawah usia 20 tahun telah melahirkan, sementara perempuan yang melahirkan usia di atas 40 tahun sebanyak 207 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini diperkuat oleh data yang menunjukkan masih adanya umur perkawinan pertama pada usia yang amat muda (<20 tahun) sebanyak 46,7% dari semua perempuan yang telah kawin. Peningkatan kesehatan ibu sebelum hamil terutama pada masa remaja, menjadi faktor penting dalam penurunan AKI dan AKB.

            Salah satu faktor diantara sekian banyak yang memengaruhi keberhasilan suatu kehamilan adalah gizi. Status gizi ibu hamil salah satunya berpengaruh terhadap berat badan lahir bayi. Dalam hal ini maka perempuan menempatkan peran sebagai ibu hamil dan ibu menyusui dalam proses gizi dalam daur kehidupan. Proses kehamilan dan peran menyusui memberikan arti besar dalam sebuah identitas gizi. Ini juga menunjukkan betapa besar peran perempuan dalam proses gizi dalam daur kehidupan.

Peran Lanjutan Perempuan

            Dalam hal ini perempuan adalah pengontrol utama terhadap kelompok rawan lain dalam proses gizi dalam daur kehidupan. Kelompok rawan ini yakni bayi dan balita. Bahkan pada anak sekolah (pra sekolah dan sekolah dasar).

            Dalam Renstra Kemenkes 2015-2019 disebutkan dalam 5 tahun terakhir, Angka Kematian Neonatal (AKN) tetap sama yakni 19/1000 kelahiran, sementara untuk Angka Kematian Pasca Neonatal (AKPN) terjadi penurunan dari 15/1000  menjadi 13/1000 kelahiran hidup, angka kematian anak balita juga turun dari 44/1000 menjadi 40/1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian pada kelompok perinatal disebabkan oleh  Intra Uterine Fetal Death (IUFD) sebanyak 29,5% dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 11,2%, ini berarti faktor kondisi ibu sebelum dan selama kehamilan amat menentukan kondisi bayinya. Tantangan ke depan adalah mempersiapkan calon ibu agar benar-benar siap untuk hamil dan melahirkan dan menjaga agar terjamin kesehatan lingkungan yang mampu melindungi bayi dari infeksi. Untuk usia di atas neonatal sampai satu tahun, penyebab utama kematian adalah infeksi khususnya pnemonia dan diare. Ini berkaitan erat dengan perilaku hidup sehat ibu dan juga kondisi lingkungan setempat.

Perkembangan masalah gizi di Indonesia semakin kompleks saat ini, selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, masalah kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus kita tangani dengan serius. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang (underweight) menjadi 15% dan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi 32% pada tahun 2014. Hasil Riskesdas dari tahun 2007 ke tahun 2013 menunjukkan fakta yang memprihatinkan dimana  underweight meningkat dari 18,4% menjadi 19,6%,  stunting juga meningkat dari 36,8% menjadi 37,2%, sementara  wasting (kurus) menurun dari 13,6% menjadi 12,1%. Riskesdas 2010 dan 2013 menunjukkan bahwa kelahiran dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) <2500 gram menurun dari 11,1% menjadi 10,2%.  Stunting terjadi karena kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kemiskinan dan pola asuh tidak tepat, yang mengakibatkan kemampuan kognitif tidak berkembang maksimal, mudah sakit dan berdaya saing rendah, sehingga bisa terjebak dalam kemiskinan. Seribu hari pertama kehidupan seorang anak adalah masa kritis yang menentukan masa depannya, dan pada periode itu anak Indonesia menghadapi gangguan pertumbuhan yang serius.

Yang menjadi masalah, lewat dari 1000 hari, dampak buruk kekurangan gizi sangat sulit diobati. Untuk mengatasi  stunting, masyarakat perlu dididik untuk memahami pentingnya gizi bagi ibu hamil dan anak balita. Secara aktif turut serta dalam komitmen global (SUN-Scalling Up Nutrition) dalam menurunkan stunting, maka Indonesia fokus kepada 1000 hari pertama kehidupan (terhitung sejak konsepsi hingga anak berusia 2 tahun) dalam menyelesaikan masalah stunting secara terintergrasi karena masalah gizi tidak hanya dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan saja (intervensi spesifik) tetapi juga oleh sektor di luar kesehatan (intervensi sensitif). Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.

Prof. Ali Khomsan (2012) menuliskan, peran ganda perempuan berimplikasi pada derajat kesehatan keluarga. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. Ini tentu saja tidak lepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak-anak yang selalu sehat.

Memang ketika seorang perempuan bekerja secara tidak langsung ia kehilangan tentang waktu yang berharga terkait dengan proses asuh. Tapi ada asumsi lain ada penelitian di India, tulis Ali Khomsan (2012), menunjukkan bahwa tumbuh kembang anak balita yang tidak diasuh secara penuh waktu oleh ibunya karena bekerja ternyata lebih baik dibandingkan ibu yang penuh waktu dalam mengasuh anak.

Pola asuh yang dimiliki seorang ibu merupakan faktor determinan yang menentukan tumbuh kembang anak. Dalam mewujudkan pola asuh (Khomsan, 2012), ada faktor eksternal yang turut berperan yakni status sosial ekonomi keluarga mencakup pendapatan, pendidikan, interaksi sosial, dan nilai-nilai dalam keluarga.

Asumsi lanjutannya adalah ini terkait kondisional ekonomi. Kehilangan kesempatan untuk mengasuh anak tertutupi oleh meningkatnya penghasilan (yang apabila) dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan anak. Hal ini dapat terjadi bila (kesadaran) ibu yang bekerja tadi mempunyai kontrol penuh atas penghasilan yang diperolehnya. Selain itu tentu tentang naluri keibuan yang tetap diisi dalam paruh waktunya pada sang balita.

Urgensi Perempuan dalam Identitas Gizi

            Urgensi perempuan dalam identitas gizi terlihat dari program-program gizi. Terdapat dua tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019, yaitu: 1) meningkatnya status kesehatan masyarakat dan; 2) meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.

Peningkatan status kesehatan masyarakat dilakukan pada semua kontinum siklus kehidupan (life cycle), yaitu bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, kelompok usia kerja, maternal, dan kelompok lansia. Tujuan indikator Kementerian Kesehatan bersifat dampak (impact atau outcome). Dalam peningkatan status kesehatan masyarakat, indikator yang akan dicapai terkait urgensi perempuan adalah: Pertama, Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per 100.00 kelahiran hidup (SP 2010), 346 menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012). Kedua,  Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup. Ketiga,  Menurunnya persentase BBLR dari 10,2% menjadi 8%.

            Pengentasan itu atau peminimalisiran masalah ini untuk memenuhi indikator ini berbagai program terkait tentu digalakkan. Diantaranya; ibu hamil KEK mendapat makanan tambahan, ibu hamil mendapat tablet tambah darah, ibu nifas mendapat kapsul vitamin A, remaja putri mendapatkan tablet tambah darah, promosi ASI Eksklusif, promosi Inisiasi Menyusu Dini (IMD), serta pemantauan pertumbuhan balita setiap bulan. Tentunya ini semua tergolong sebagai program Gizi Spesifik dalam 1000 HPK. Demikian tentunya beragam hal ini, perempuan sebagai kelompok rawan dan pengontrol kelompok rawan lain dalam daur kehidupan dalam proses gizi serta berbagai unsur indikator dan program telah menegaskan tentang urgensi perempuan dalam identitas gizi sedemikian besarnya. Tapi tentu dukungan dari para lelaki adalah sebuah keharusan.

Referensi:

Almatsier, Sunita, dkk, 2011. Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Kemenkes, 2015. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015 -2019.

Khomsan, Ali, 2012. Ekologi Masalah Gizi, Pangan dan Kemiskinan. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Tim Penyusun, 2013. Pedoman Perencanaan Program Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK)

Muhammad Sadli

(Bekerja di Salah Satu Puskesmas di Maluku Utara, Mahasiswa Terapan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar, Founder Ruang Gizi, ruanggizis.wordpress.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: