Konsumsi telur bikin kolesterol darah meningkat?

Oleh : Nurlienda Hasanah, S.Gz, MPH (Nutr & Diet)

Telur, merupakan bagian dari protein hewani yang mudah ditemui di sekitar kita. Protein hewani adalah protein yang lebih mudah penyerapannya oleh tubuh dibandingkan protein nabati. Telur adalah protein hewani yang murah, mudah diperoleh, praktis dalam pengolahannya dan memiliki dampak lingkungan yang rendah dibandingkan protein hewani lainnya. Telur dadar, telur ceplok, telur rebus, telur balado, pindang telur, telur asin dan aneka menu olahan telur ini diminati semua kelompok masyarakat.

Telur kaya akan kandungan gizi esensial (high-quality protein), komponen bioaktif seperti lutein dan zeaxanthin, sumber mineral, folat, vitamin B, vitamin larut lemak, lemak baik/monounsaturated fatty acid (MUFAs) serta sumber bahan makanan yang mengandung kolesterol. Sebutir telur ayam (ukuran sedang sekitar 60 gram) mengandung 92.4 kalori, 7.4 gram protein, 6.5 gram lemak, 0.4 gram karbohidrat, 51.6 mg kalsium, 154.8 mg fosfor, 1.8 mg zat besi (Fe) dan 0.6 mg zink.

Beberapa panduan diet merekomendasikan pembatasan konsumsi telur maksimal 3 butir per hari dikarenakan kandungan kolesterol dan pengaruhnya terhadap kenaikan lemak darah (kolesterol total, kolesterol Low Density Lipoprotein/LDL, kolesterol High Density Lipoprotein/HDL dan trigliserida) serta resiko terhadap penyakit kardiovaskular (penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan jantung, stroke, gagal jantung). Benarkah pembatasan konsumsi telur berhubungan dengan kadar kolesterol darah?

Apakah konsumsi telur mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol darah ?

Berdasarkan penelitian terbaru yang diterbitkan oleh The American Journal of Clinical Nutrition ditemukan bahwa tidak ada hubungan positif antara konsumsi telur dengan lemak darah pada kelompok yang mengonsumsi telur ≥ 7 telur per minggu dibandingkan kelompok yang mengonsumsi telur < 1 telur per minggu. Lemak darah yang diteliti meliputi kadar kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida, apoA1, apoB, dan rasio apoB:apoA1. Selain itu, tidak ada hubungan positif antara konsumsi telur dengan kejadian penyakit kardiovaskuler maupun penyebab kematian di 50 negara yang terlibat dalam penelitian ini. Hal ini sejalan dengan penelitian the China Kadoorie Biobank Study yang menyatakan bahwa konsumsi telur yang lebih banyak berhubungan dengan penurunan resiko penyakit kardiovaskular.

Konsumsi bahan makanan yang mengandung kolesterol berkaitan dengan kadar kolesterol total dan LDL, akantetapi phospholipid yang terkandung dalam telur meningkatkatkan lemak baik, yaitu HDL yang juga memiliki efek bertolak belakang dengan LDL. Efek konsumsi telur akan bervariasi pada masyarakat tergantung pada kualitas makanan yang dikonsumsi seperti tinggi atau rendahnya konsumsi karbohidrat. Konsumsi telur yang mengandung phospholipid ini memiliki keuntungan untuk mencegah peradangan (anti inflamasi). Akan tetapi, telur juga dapat berefek menjadi pro-inflamasi pada beberapa orang.

“It is associated with a reduction in inflammatory markers among overweight and obese individuals, whereas it has a proinflammatory response in healthy individuals”.

Oleh karenanya, kita masih diperkenankan untuk mengonsumsi telur 1 butir per hari dan hal ini telah diteliti tidak berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit kardiovaskular maupun kematian.  

Referensi

1. Andersen CJ. Bioactive egg components and inflammation. Nutrients 2015;7(9):7889–913

2. Mente A, Dehghan M, Rangarajan S, McQueen M, Dagenais G, Wielgosz A, Lear S, Li W, Chen H, Yi S, et al. Association of dietary nutrients with blood lipids and blood pressure in 18 countries: a crosssectional analysis from the PURE study. Lancet Diabetes Endocrinol 2017;5(10):774–87

3. Qin C, Lv J,Guo Y, Bian Z, Si J,Yang L, Chen Y, Zhou Y, ZhangH, Liu J, et al. Associations of egg consumption with cardiovascular disease in a cohort study of 0.5 million Chinese adults. Heart 2018;104(21):1756–63

4. Clarke R, Frost C, Collins R, Appleby P, Peto R. Dietary lipids and blood cholesterol: quantitative meta-analysis of metabolic ward studies. BMJ 1997;314(7074):112–17

5. Klimov AN, Konstantinov VO, Lipovetsky BM, Kuznetsov AS, Lozovsky VT, Trufanov VF, Plavinsky SL, Gundermann KJ, Schumacher R. “Essential” phospholipids versus nicotinic acid in the treatment of patients with type IIb hyperlipoproteinemia and ischemic heart disease. Cardiovasc Drugs Ther 1995;9(6): 779–84

6. Appel LJ, Sacks FM, Carey VJ, Obarzanek E, Swain JF, Miller ER 3rd, Conlin PR, Erlinger TP, Rosner BA, Laranjo NM, et al. Effects of protein, monounsaturated fat, and carbohydrate intake on blood pressure and serum lipids: results of the OmniHeart randomized trial. JAMA 2005;294(19):2455–64

7.  Dehghan M, Mente A, Rangarajan S, Mohan V, Lear S, Swaminathan S, Wielgosz A, Seron P et al. 2020. Association of egg intake with blood lipids, cardiovascular disease, and mortality in 177,000 people in 50 countries. Am J Clin Nutr 2020;00:1–9

8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Tabel Komposisi Pangan Indonesia dalam data komposisi pangan Indonesia yang diakses pada www. panganku.org


4 thoughts on “Konsumsi telur bikin kolesterol darah meningkat?

  • February 17, 2020 at 7:56 pm
    Permalink

    semua tergantung individu ay, sperti anak dan suamiku kalau kebanyakan makan telur jadi gatel2

    Reply
  • February 25, 2020 at 1:22 am
    Permalink

    Kalau aku pribadi udah jarang, tapi anak-anak masih sering karena kaitannya dengan sumber protein yang mudah pkus murah. Kalau protein nabati anak-anak masih gak bisa rutin, jadi solusinya ya telur ini

    Reply
  • February 25, 2020 at 4:18 am
    Permalink

    1 butir sehari sepertinya sudah cukup, nanti bisa diselang-seling harinya

    Reply
  • Pingback: Diet pada Osteoporosis - Blog AhliGiziID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: