Teknologi Pangan

Hyper-Palatable Food: Kenapa Ada Makanan yang Bikin Susah Berhenti Makan?

Pernah tidak, kamu berniat makan keripik “sedikit saja”, tapi tanpa sadar satu bungkus hampir habis? Atau merasa sudah kenyang, tetapi tangan tetap ingin mengambil biskuit, gorengan, cokelat, atau makanan manis-asin lainnya?

Berbagai makanan modern saat ini memang dibuat sangat menarik di lidah, sehingga rasanya sulit berhenti walaupun tubuh sebenarnya sudah cukup makan. Dalam dunia gizi dan perilaku makan, makanan seperti ini sering dikaitkan dengan istilah hyper-palatable food.

Istilah ini mungkin belum terlalu familiar bagi banyak orang. Namun, pembahasannya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di tengah mudahnya akses makanan kemasan, camilan, fast food, minuman manis, dan makanan siap saji.

Apa Itu Hyper-Palatable Food?

Hyper-palatable food adalah makanan yang memiliki kombinasi rasa, aroma, tekstur, dan komposisi zat gizi tertentu sehingga terasa sangat enak, mudah dinikmati, dan dapat mendorong seseorang untuk makan lebih banyak.

Makanan seperti ini biasanya tidak hanya mengandalkan satu rasa. Daya tariknya justru muncul dari perpaduan beberapa unsur, seperti rasa gurih, asin, manis, berlemak, renyah, lembut, creamy, atau mudah dikunyah. Oleh karena itu, sebagian makanan ini terasa “nagih” dan membuat seseorang sulit berhenti meskipun sebenarnya sudah cukup makan.

Menurut studi, hyper-palatable food tidak hanya dijelaskan sebagai “junk food” atau “makanan enak” secara umum. Akan tetapi, definisi yang dimaksud lebih terukur dengan melihat kombinasi zat gizi tertentu, seperti lemak, gula sederhana, karbohidrat, dan natrium.1

Secara sederhana, ada tiga kombinasi utama yang sering ditemukan pada hyper-palatable food:

Kelompok Hyper-Palatable FoodCiri UtamaContoh Olahan
Lemak + GaramMakanan tinggi lemak dan cukup tinggi natrium/garam. Kombinasi ini memberi rasa gurih, asin, dan “berat” di lidah.

memiliki lebih dari 25% kalori dari lemak, dan natrium minimal 0,30% dari berat makanan.
Pizza, daging olahan, ayam goreng tepung, makanan gurih berlemak
Lemak + GulaMakanan yang menggabungkan rasa manis dengan tekstur lembut, creamy, atau berlemak.

memiliki lebih dari 20% kalori dari lemak, dan lebih dari 20% kalori dari gula.
Cake, es krim, brownies, donat, pastry
Karbohidrat + GaramMakanan berbasis tepung atau pati yang diberi rasa asin/gurih, sehingga mudah dimakan berulang.

memiliki lebih dari 40% kalori dari karbohidrat, dan natrium minimal 0,20% dari berat makanan.
Crackers, pretzel, keripik, snack asin, biskuit gurih

Namun, penting dipahami juga bahwa hyper-palatable food bukan hanya soal jenis makanannya. Bagaimana cara makanan diolah juga berpengaruh. Satu bahan makanan bisa menjadi lebih menggoda ketika ditambahkan banyak lemak, garam, gula, saus, krim, atau bahan lain yang membuat rasa dan teksturnya semakin kuat.

Kenapa Makanan Ini Bisa Bikin Susah Berhenti?

alasan hyper-palatable food bikin susah berhenti makan
Sumber: magnific

Tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pengaturan lapar dan kenyang. Saat perut mulai penuh, tubuh akan mengirim sinyal bahwa kita sudah cukup makan.2 Namun, pada beberapa makanan yang sangat palatable, sinyal kenyang ini bisa “kalah” oleh dorongan rasa nikmat.

Kombinasi rasa gurih, manis, asin, berlemak, renyah, lembut, atau mudah dikunyah dapat membuat makanan terasa lebih menggoda dan lebih cepat dikonsumsi. Akibatnya, seseorang bisa makan lebih banyak sebelum benar-benar menyadari bahwa asupan energinya sudah cukup.

Sebuah studi juga menemukan bahwa semakin tinggi persentase kalori dari hyper-palatable food dalam satu momen makan, maka semakin besar pula total energi yang dikonsumsi. Bahkan hubungan ini dapat tetap terlihat meskipun sebelumnya telah memperhitungkan rasa lapar sebelum makan dan kepadatan energi makanan.3

Contohnya, kentang rebus biasanya lebih mudah membuat seseorang merasa cukup. Namun, ketika kentang diolah menjadi keripik tipis yang renyah, asin, dan gurih, makanan tersebut bisa terasa jauh lebih sulit dihentikan. Hal serupa juga bisa terjadi pada biskuit manis, donat, ayam goreng tepung, mi instan, burger, pizza, es krim, atau berbagai camilan gurih dan manis lainnya.

Di sisi lain, bukan berarti semua makanan tersebut harus dimusuhi. Namun, memahami karakteristik hyper-palatable food membantu kita lebih sadar bahwa sulit berhenti makan tidak selalu sekadar soal kurang niat. Terkadang, makanan yang dikonsumsi memang memiliki kombinasi rasa dan tekstur yang membuatnya lebih mudah dimakan dalam jumlah banyak.

Hubungannya dengan Makanan Ultra-Proses

Hyper-palatable food (HPF) sering ditemukan pada makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF). Namun, keduanya tidak selalu sama.

Makanan yang dikategorikan sebagai UPF dapat dilihat dari tingkat pemrosesan makanannya. Umumnya dibuat melalui proses industri dan sering mengandung bahan tambahan seperti penguat rasa, pemanis, pewarna, pengemulsi, atau bahan lain untuk memperbaiki rasa, tekstur, daya simpan, dan kemudahan konsumsi.

Sedangkan HPF dilihat dari kombinasi zat gizi dan karakteristik rasa, misalnya tinggi lemak dan garam, tinggi lemak dan gula, atau tinggi karbohidrat dan garam. Jadi, suatu makanan bisa saja termasuk HPF sekaligus UPF, tetapi tidak selalu.

Baca juga: PEMBATASAN KONSUMSI GULA, GARAM, DAN LEMAK (GGL) MENGGUNAKAN TRAFFIC-LIGHT LABEL

AspekHyper-Palatable Food (HPF)Ultra-Processed Food (UPF)
Dilihat dariKombinasi rasa dan zat giziTingkat pemrosesan industri
Ciri utamaSangat gurih, manis, asin, berlemak, renyah, creamy, atau mudah dimakan berulangMengalami banyak proses industri dan sering mengandung bahan tambahan
ContohPizza, ayam goreng tepung, keripik, cake, es krim, crackersSnack kemasan, mi instan, makanan siap saji beku, produk olahan industri
HubunganBisa termasuk UPF, tetapi tidak selaluBisa termasuk HPF, tetapi tidak selalu

Misalnya, keripik kemasan, mi instan, pizza, biskuit manis, atau snack gurih bisa termasuk HPF sekaligus UPF. Namun, makanan rumahan tertentu juga bisa menjadi HPF jika dibuat dengan kombinasi lemak, garam, gula, saus, krim, atau bahan lain yang membuatnya sangat gurih, manis, atau mudah dimakan berulang.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa HPF dan UPF perlu dipahami sebagai dua konsep berbeda, meskipun keduanya bisa saling tumpang tindih. Dalam studi tersebut, ada makanan yang termasuk HPF sekaligus UPF, hanya HPF, atau hanya UPF.4

Kenapa Makanan Seperti Ini Semakin Mudah Ditemukan?

Makanan yang terasa sangat menggoda dan sulit dihentikan bukan hanya muncul karena selera pribadi. Lingkungan makanan modern juga ikut berperan. Saat ini, makanan gurih, manis, renyah, creamy, dan praktis semakin mudah ditemukan, mulai dari minimarket, restoran cepat saji, layanan pesan antar, hingga makanan kemasan sehari-hari.

Bahkan, sebuah studi yang menganalisis terkait sistem pangan Amerika Serikat selama 30 tahun menemukan bahwa prevalensi hyper-palatable food meningkat dari 49% pada 1988 menjadi 69% pada 2018. Peningkatan paling menonjol terjadi pada kelompok makanan tinggi lemak dan natrium/garam, yaitu makanan gurih berlemak yang sering ditemukan pada makanan cepat saji, daging olahan, pizza, atau snack asin.5

Apa Dampaknya dan Bagaimana Mengendalikannya?

dampak dan cara mengendalikan hyper-palatable food
Sumber: magnific

Jika dikonsumsi sesekali, hyper-palatable food umumnya bukan masalah besar. Namun, jika terlalu sering menjadi pilihan utama, makanan seperti ini bisa memengaruhi kualitas pola makan.

  • Pertama, asupan kalori bisa meningkat tanpa terasa karena makanan ini sering kali padat energi dan mudah dikonsumsi berlebihan.
  • Kedua, makanan bergizi bisa tergeser. Seseorang mungkin sudah kenyang dari camilan, tetapi belum mendapat cukup protein, serat, vitamin, dan mineral.
  • Ketiga, tubuh bisa semakin terbiasa dengan rasa yang sangat kuat, sehingga makanan sederhana seperti sayur, buah, atau lauk rumahan terasa kurang menarik.

Baca juga: Hati-Hati! Makanan Ultra-Proses Bisa Menurunkan Kepekaan Lidah Anak Terhadap Rasa

WHO juga menekankan bahwa pola makan sehat sebaiknya berbasis pada makanan yang beragam, minim proses, rendah gula bebas, rendah garam berlebih, serta membatasi lemak jenuh dan lemak trans. Jadi, hyper-palatable food tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi perlu dikendalikan frekuensi, porsi, dan situasi konsumsinya.6

Caranya bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti:

  • Tidak menjadikan makanan ini sebagai pengganti makan utama.
  • Ambil camilan ke piring kecil daripada makan langsung dari kemasan besar.
  • Perbaiki kualitas makan utama dengan cukup protein dan serat agar kenyang lebih tahan lama.

Selain itu, kenali juga pemicunya. Biasanya kamu sering ingin makan camilan manis saat stres atau seperti apa? Apakah camilan gurih sering muncul saat begadang? Apakah kamu makan karena lapar, bosan, atau sekadar mencari rasa nyaman? Dengan mengenali polanya, strategi mengendalikannya bisa lebih tepat.

Jika ingin ngemil, siapkan pilihan yang lebih mendukung, seperti buah utuh, yoghurt tanpa gula berlebih, kacang tanah dalam porsi wajar, telur rebus, edamame, atau makanan rumahan yang lebih sederhana.

Referensi

  1. Fazzino, T. L., Rohde, K., & Sullivan, D. K. (2019). Hyper‐palatable foods: development of a quantitative definition and application to the US food system database. Obesity27(11), 1761-1768. ↩︎
  2. Barakat, G. M., Ramadan, W., Assi, G., & Khoury, N. B. E. (2024). Satiety: a gut–brain–relationship. The journal of physiological sciences74(1), 11. ↩︎
  3. Jun, D., Girard, J. M., Martin, C. K., & Fazzino, T. L. (2025). The role of hyper-palatable foods in energy intake measured using mobile food photography methodology. Eating Behaviors57, 101983. ↩︎
  4. Jun, D., Knowles, K., & Fazzino, T. L. (2025). Examination of hyper-palatable foods and their nutrient characteristics using globally crowdsourced data. PLoS One, 20(6), e0325479. ↩︎
  5. Demeke, S., Rohde, K., Chollet-Hinton, L., Sutton, C., Kong, K. L., & Fazzino, T. L. (2023). Change in hyper-palatable food availability in the US food system over 30 years: 1988–2018. Public health nutrition, 26(1), 182-189. ↩︎
  6. World Health Organization. (2023). WHO updates guidelines on fats and carbohydrates. World Health Organization. https://www.who.int/news/item/17-07-2023-who-updates-guidelines-on-fats-and-carbohydrates ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *