Terapi Gizi pada Pasien Covid-19

Mengenal Virus Covid-19

Apa itu Penyakit virus Corona ?

Penyakit virus corona 2019 (COVID-19) adalah penyakit pernapasan yang dapat menular dari orang ke orang. Virus yang menyebabkan COVID-19 adalah virus corona yang pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Cina. Risiko infeksi COVID-19 lebih meningkat pada orang yang kontak langsung dengan pengindap / terinfeksi COVID-19 , contohnya petugas kesehatan dan anggota keluarga. Orang lain yang beresiko lebih tinggi yaitu orang yang baru-baru ini berada di daerah dengan penyebaran COVID-19 yang berkelanjutan.

gambar virus covid-19

Photo by CDC on Unsplash
gambar virus corona

Bagaimana COVID-19 bisa menyebar ?

Virus yang menyebabkan COVID-19 mungkin muncul dari sumber hewan, tetapi sekarang penyebaran tersebut berasal dari orang ke orang. Virus ini diperkirakan menyebar terutama diantara orang-orang yang berhubungan dekat satu sama lain (dalam jarak satu kaki) melalui tetesan pernapasan yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin (droplet).

COVID-19 juga bisa bersumber dari permukan atau benda yang terdapat virus diatasnya dan kemudian menyentuh mulut, hidung atau mata mereka sendiri, tetapi ini tidak dianggap cara utama dalam proses penyebaran.

Apa saja gejala-gejala COVID-19 ?

Pasien pasien dengan COVID-19 mengalami penyakit pernapasan ringan hingga berat, dengan gejala sebagai berikut :

  1. Demam
  2. Batuk
  3. Sesak napas

Apa komplikasi akibat virus tersebut ?

Beberapa pasien memiliki pneumonia di kedua paru-paru, kegagalan multi-organ dan dalam beberapa kasus kematian

Bagaimana cara melindungi diri sendiri ?

social distancing


Photo by Gustavo Fring from Pexels
selalu jaga jarak untuk menghindari penularan covid-19

Orang dapat membantu melindungi diri dari penyakit pernapasan dengan tindakan pencegahan sehari-hari seperti :

  1. Hindari kontak dekat dengan orang sakit
  2. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan tidak di cuci.
  3. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik
  4. Gunakan pembersih tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60% alcohol jika sabun dan air tidak tersedia.
  5. Jika anda sakit, agar tidak menyebar ke orang lain, anda harus tetap tinggal dirumah saat anda sakit.
  6. Tutupi batuk atau bersin dengan tisu, lalu buang tisu ke tempat sampah.
  7. Bersihkan dan desinfektan benda dan permukaan yang sering disentuh.
  8. Jika anda baru melakukan perjalanan di daerah yang terkena, mungkin anda dilakukan isolasi hingga 2 minggu, jika anda mengalami gejala selama periode itu (batuk, demam sulit bernapas) dapatkan segera bantuan medis. Hubungi kantor layanan kesehatan terdekat sebelum anda pergi, beritahu tentang perjalanan anda dan gejala anda. Mereka akan memberi anda petunjuk tentang cara mendapatkan perwatan tanpa emaparkan oranf lain pada penyakit anda.
  9. Saat sakit, hindari kontak dengan orang-orang. Jangan pergi keluar dan menunda perjalanan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pernyebaran penyakit kepada orang lain.

Asuhan Gizi Pada Penyakit Infeksi Gizi

Hubungan antara Gizi dan Penyakit Infeksi

dalam kondisi wabah pandemic Covid 19 yang kita hadapi saat ini , penyakit infeksi memiliki hubungan erat antara zat gizi dan penyakit infeksi.

  • Efek Gizi (makanan) terhadap system imun

Makanan memiliki peranan penting terhadap system imun, jika seseorang memiliki status gizi buruk atau tidak normal maka status system imun kita juga kurang optimal.

  • Efek makanan dan timbulnya penyakit infeksi

Apabila makanan yang kita konsumsi atau yang diberikan oleh ahli gizi mengandung mikroba berbahaya, otomatis dapat menimbulkan penyakit infeksi pada pasien tersebut. Biasanya hal tersebut disebabkan karenan pelayanan makanan yang tidak baik atau sanitasi hiegien yang kurang.

  • Malnutrisi dan penyakit Infeksi

Hubungan gizi dan infeksi dapat kita kaitkan dengan terjadinya malnutrisi. Seseorang dengan status gizi malnutrisi otomatis akan sangat cepat mengalami penyakit yang Namanya infeksi.

  • Gizi pada pasien dengan immune defcinency .

Jika seseorang mengalami kondisi system imun yang deficiency  atau memang dari bawaan seseorang tersebut mengalami immune deficiency, hal ini juga dapat mempercepat timbulnya peyakit infeksi. Karena seseorang yang memiliki status immune yang deficiency sangat berbeda dengan seseorang yang sehat pada umumnya serta makanan yang diberikan juga berbeda pada umumnya. Oleh karena itu kerentanan mereka pada penyakit infeksi jauh lebih tinggi.

  • Kelebihan Gizi./ Obesitas dan infeksi

Kemudian yang terakhir yaitu tidak kalah pentingnya pada pasien dengan kondisi yang obesitas. Kondisi obesitas juga dikategorikan sebagai kelebihan gizi, karena sebenarnya pada kondisi obesitas juga mengalami peradangan yang berakibat sangat mudah menjadi factor terpaparnya infeksi. Obesitas berkaitan dengan gangguan system metabolic syndrome seperti diabetes melitus , penyakit degenaratif lain menjadikan status gizi obesitas tergolong orang yang rawan terhadap penyakit infeksi.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi dan berakibat malnutrisi

Pada kondisi seseorang yang lemah , mereka mudah sekali terkena infeksi , sseperti berikut beberapa faktor yang berakibat malnutisi.

  1. Penurunan absorbsi Gizi

Masalah ini dikaitkan jika terjadi infeksi pada saluran pencernaan terganggu atau asupan makanan yang berkurang, dapat menurunkan ketahanan tubuh yang berakibat terjadinya malnutrisi.

  • Pola dan kepercayaan yang salah

Lingkungan masyarakat masih banyak yang memiliki pola pemikiran yang salah terhadap makanan yang kita berikan atau menolak . seperti contoh, beberapa masyarakat menolak terhadap makanan dengan protein yang tinggi. Hal ini dapat menghambat proses perbaikan status gizi dalam upaya pencegahan penyakit infeksi tersebut. Hal ini juga menjadi bagian tugas para tenaga gizi dilapangan untuk menjelaskan kepada masyarakat.

  • Anorexia
  • Gangguan metabolic
  • Kurangnya asupan vitamin dan mineral

Proses Pelayanan dan Perencanaan Makanan pada Pasien COVID-19

gizi pada pasien covid-19
Peran ahli gizi besar dalam menangani kasus covid-19

Pada proses pemberian asuhan gizi pada pasien infeksi kita perlu memperhatikan kondisi pasien dalam memberikan asupan makanan , apakah kebutuhan energi pasien tersebut sudah cukup atau belum terpenuhi. Karena banyak sekali faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan gizi, contohnya dalam kondisi demam atau kemampuan peningkatan kapasistas otot pernapasan.

selain itu juga pada pasien COVID-19 mengalami gangguan metabolisme zat gizi makro dan mikro, seperti :

  1. Gangguan penggunaan glukosa

Terjadinya proses peningkatan glikolisis dapat meningkatkan gluconeogenesis sehingga juga berdapampak terjadi resistensi insulin yang menyebabkan glokosa darah meningkat.

  • Peningkatan katabolisme

Terjadinya mobilisasi lemak yang tinggi dan meningkatkan proses pemecahan lemak.

  • Peningkatan katabolisme protein.

Negative protein balance dapat mengalami perubahan profil asam amino , sehingga kosentrasi BCAA (branched chain amino acid) menurun .

  • Peningkatan utilisasi vitamin dan mineral dalam tubuh akibat kondisi infeksi.

Peningkatan gangguan sistem metabolisme disebabkan oleh kurangnya asupan, dimana asupan ini berkurang karena :

  • Penurunan nafsu makan
  • Dyspnea
  • Penggunaan ventilator
  • Gangguan kesadaran
  • Jika virus menyerang GIT, bias menyebkan diare, mual, muntah sehingga dapat terjadi malabsrobsi dan kehilangan zat gizi.

Kebutuhan Zat Gizi pada pasien COVID-19

Total kebutuhan Energi

kondisi stabil : 30-35 kkal/kg bb ideal/ hari. Penambahan energi dibutuhkan jika dalam kondisi demam sebanyak 13 % setiap kenaikan 10 C  diatas 37 0 C. 

pada kondisi critical ill : 25- 30 kkal/ kg bb ideal / hari.

obese (BMI 30-50 ) : 11-14 kcal / kg bb actual/hari

– pemberian kalori bertahap 10-15 kkal/kg berat badan / hari dari 70% total asupan terpenuhi. – apabila kondisi sudah stabil (3-7 hari) mulai dinaikkan asupan energinya

Karbohidrat

50-60 % dari total kebutuhan energi

– perlu diperhatikan karbohirat berisfat kompleks dengan melihat kondisi pasien yang seak nafas, namun masih bias memenuhi kebutuhan , kecuali pasien dengan respirassi berat maka kebutuhan karbohidrat dapat dikurangi sampai 50 % dari kebutuhan total. Karena perlu kita ketahui hasil dari metabolisme proses karbohdrat yaitu CO2 yang bisa memperberat kondisi pasien.

Protein

15-25 % total energi

     – sumber protein high biological value dan BCAA

     – 50 % kebutuhan protein dari sumber hewani

     – perhatikan pasien lansia dan penurunan fungsi ginjal , tujuan :

            a. mengurangi muscle wasting, meningkatkan kekuatan otot pernafasan.

b. disarankan suplementasi BCAA  hingga 35% yang dapat menghambat pemecahab otot, memperbaiki resistensi insulin.

Lemak

25-30 % total energi

– sumber lemak yang direkomendasikan

  1. asam lemak esensial : minyak sayur (terutama yang mengandung MUFA)

2. Omega 3 : meningkatkan proses fagositosis oleh makrofag dan neutrophil serta menekan produksi sitokin inflamasi.

3. Omega 9 : menurunkan inflamasi yang termediasi IL-1 beta

4. Gabungan omega 3 dan 9 : menurunkan resiko infeksi, meningkatkan fungsi imun dan liver,

Rekomendasi kebutuhan Omega 3 berdasarkan AKG

berikut contoh bahan makanan yang mengandung Omega 3 per 100 g

  1. Telur
    1. Keju
    1. Butter
    1. Olive oil
    1. Minyak canola
    1. Chia seeds
    1. Walnut

berikut contoh bahan makanan yang mengandung Omega 9 per 100 g

(berdasarkan FAO-WHO , 2013  kebutuhan omega 9 yaitu 15-20 mg/ hari

  1. Butter : 26,8 mg
  2. Almond : 36,6 mg
  3. Hazelnut : 42,2 mg
  4. Kacang / peanut : 23,4 mg
  5. Minyak canola : 58,9 mg
  6. Minyak kedelai : 24,3 mg
  7. Minyak jagung : 29,3 mg
  8. Sunflower oil : 31,8 mg
  9. Olive oil : 73,9 mg

Vitamin A

rekomendasi kebutuhan usia < 5 tahun : 350 mcg RE, dewasa 600 ug RE- 900 ug, suplementasi 450 mcg vitamin A meningkatan fungsi leukosit dan sel T.

berikut contoh bahan makanan yang mengandung vit A (mcg/100g)

  1. Ubi jalar : 191
  2. Kangkong : 303
  3. Labu kuning : 401
  4. Bayam : 519
  5. Mentega : 749
  6. Kuning telur : 810
  7. Wortel : 1942
  8. Hati ayam : 11325
  9. Hati sapi : 20375
  10. Minyak ikan : 24242

Vitamin C

Meningkatkan pemberukan antibody untuk system imun

Rekomendasi : vitamin C 200 mg

Konsumsi vit C dari makanan sebesar 100-200 mg/hari cukup mencegah infeksi dan meningkatkan fungsi imun

Suplementasi vit C pada pasien infeksi (pneumonia) sebanyak 250-800 mg/hari menurunkan lama hari rawat.

Berikut contoh bahan makanan yang mengandung vitamin C (mg/100 g)

  1. Stoberi : 53
  2. Lemon : 53
  3. Jeruk : 61,5
  4. Pepaya : 62
  5. Brokoli : 75
  6. Jambu biji : 184

Vitamin E

Antioksidan untuk menetralkan radikal bebas

Vitamin E 10 mg

Suplementasi 50 mg/ hari pada laki laki perokok dengan pneumonia (intervensi jangka Panjang ) menurunkan 69% resiko pneumonia.

Berikut contoh bahan makanan yang mengandung vitamin E (mg/100 g)

  1. Telur : 2
  2. Apukat : 1,3
  3. Almond : 24
  4. Minyak ikan : 3

Natrium

Rekomendasi kebutuhan 2000-2500 mg/hari

              1 g garam dapur = 380 mg Natrium

Kalsium

600 mg/hari

1 gelas susu : 230 mg

Tahu 1 porsi = 130 mg

Zink

20-40 mg/hari

Meningkatkan fungsi imun : suplementasi 30 mg/hari selama 4 bulan meningkatkan fungsi sel T pada lansia. Suplmentasi 7 mg pada anak usia 2-3 tahun dan 9,45 mg meningkatkan respon imun innate, mengurangi rsiko flu berulang

Metode Pemberian

  • Diutamakan melalui oral
  • Porsi kecil dan sering
  • 400-600 kkal dari total energi direkomendasikan melalui pemberian ONS (Oral Nutrition Supplement)
  • Kondisi disfagia : mengubah tekstur makanan atau metode lain untuk mencegah aspirasi
  • Jika kondisi disfagia semakin berat, pemberian makan diberikan melalui enteral
  • Target awal < 70 % kebutuhan , ditingkatkan perlahan dalam 3-7 hari pada kondisi pasien stabil.

Kesimpulan

  • Terdapat hubungan yang sangat erat antara peran intervensi gizi dan penyakit infeksi
  • Malnutrisi akan mudah dapat mempengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi
  • Pemenuhan kebutuhan gizi menjadi bagian penting perawatan pada pasien infeksi yang tidak dapat diabaikan
  • Setiap zat gizi akan memberikan manfaat spesifik yang penting untuk diketahui dalam mencegah kondisi lebih buruk akibat infeksi.

sumber materi artikel : https://www.youtube.com/watch?v=4M6Y-wTDX8Q&t=707s

Referensi

  1. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/downloads/2019-ncov-factsheet.pdf
  2. Saul, A.W., 2020. Nutritional treatment of coronavirus. Orthomolecular Medicine News Service, 16, p.6.
  3. Levy TE (2019) Magnesium: Reversing Disease. Medfox Pub. ISBN-13: 978-0998312408
  4.  Dean C (2017) Magnesium. http://www.orthomolecular.org/resources /omns/v13n22.shtml.
  5. Dean C. (2017) The Magnesium Miracle. 2nd Ed., Ballantine Books. ISBN-13: 978-0399594441orthomolecular.org/resources/omns/v16n06.shtml 5/9
  6. Cannell JJ, Vieth R, Umhau JC, Holick MF, et al. (2006) Epidemic influenza and vitamin D.Epidemiol Infect. 134:1129-1140. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16959053.
  7. Grant WB, Giovannucci E. (2009) The possible roles of solar ultraviolet-B radiation and vitamin D in reducing case-fatality rates from the 1918-1919 influenza pandemic in the United States.Dermatoendocrinol. 1:215-219. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20592793.
  8. Martineau AR, Jolliffe DA, Hooper RL et al. (2017) Vitamin D supplementation to prevent acute respiratory tract infections: systematic review and meta-analysis of individual participant data. BMJ.356:i6583. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28202713.
  9. Yin Y, Wunderink RG. (2018) MERS, SARS and other coronaviruses as causes of pneumonia. Respirology. 2018 Feb;23(2):130-137. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29052924.
  10. Zhu N, Zhang D, Wang W, et al., China Novel Coronavirus Investigating and Research Team. (2020) A Novel Coronavirus from Patients with Pneumonia in China, 2019. N Engl J Med. 2020 Jan 24. doi: 10.1056/NEJMoa2001017. [Epub ahead of print] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/31978945.3.2.2020 Nutritional Treatment of Coronavirusorthomolecular.org/resources/ omns/v16n06.shtml 6/9
  11. Fraker PJ, King LE, Laakko T, Vollmer TL. (2000) The dynamic link between the integrity of the immune system and zinc status. J Nutr. 130:1399S-1406S. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10801951.
  12. Shankar AH, Prasad AS. (1998) Zinc and immune function: the biological basis of altered resistance to infection. Am J Clin Nutr. 68:447S-463S. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9701160..
  13. Manders, R. J., Little, J. P., Forbes, S. C. & Candow, D. G. 2012. Insulinotropic and muscle protein synthetic effects of branched-chain amino acids: potential therapy for type 2 diabetes and sarcopenia. Nutrients, 4, 1664-1678.
  14. Yoon, M.-S. 2016. The Emerging Role of Branched-Chain Amino Acids in Insulin Resistance and Metabolism. Nutrients, 8, 405.
  15. Finucane, O. M., Lyons, C. L., Murphy, A. M., Reynolds, C. M., Klinger, R., Healy, N. P., Cooke, A. A., Coll, R. C., McAllan, L., Nilaweera, K. N., O’Reilly, M. E., Tierney, A. C., Morine, M. J., Alcala-Diaz, J. F., Lopez-
  16. Miranda, J., O’Connor, D. P., O’Neill, L. A., McGillicuddy, F. C. & Roche, H. M. 2015. Monounsaturated fatty acid-enriched high-fat diets impede adipose NLRP3 inflammasome-mediated IL-1beta secretion and insulin resistance despite obesity. Diabetes, 64, 2116-28.
  17. Gutiérrez, S., Svahn, S. L. & Johansson, M. E. 2019. Effects of Omega-3 Fatty Acids on Immune Cells. International journal of molecular sciences, 20, 5028.
  18. Carr, A. C. & Maggini, S. 2017. Vitamin C and Immune Function. Nutrients, 9.
  19. Lee, G. Y. & Han, S. N. 2018. The role of vitamin E in immunity. Nutrients, 10, 1614.
  20. Rondanelli, M., Miccono, A., Lamburghini, S., Avanzato, I., Riva, A., Allegrini, P., Faliva, M. A., Peroni, G.,
  21. Nichetti, M. & Perna, S. 2018. Self-care for common colds: the pivotal role of vitamin D, vitamin C, zinc, and Echinacea in three main immune interactive clusters (physical barriers, innate and adaptive immunity) involved during an episode of common colds—Practical advice on dosages and on the time to take these nutrients/botanicals in order to prevent or treat common colds. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2018.
  22. Villamor, E. & Fawzi, W. W. 2005. Effects of vitamin a supplementation on immune responses and correlation with clinical outcomes. Clinical microbiology reviews, 18, 446-464.
  23. Persagi –Asdi : Panduan Pelayanan Gizi dan Dietetik di Tumah Sakit Darurat. Dalam Penanganan Pandemik Covid-19, Direktorat Gizi Masyarakat – Persagi-AsDi, 2020
  24. Nutrition Managemen in Critical Ill – project team , Chinese Nutrition Society for clinical Nutrition , Nutrition intervention for covid-19

AhliGiziID

platform konsultasi gizi online oleh ahli gizi terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: