Masalah Berat Badan

Ikut Tren Diet Karnivor? Ini 5 Risiko Jangka Panjang yang Wajib Kamu Tahu!

Belakangan ini, diet karnivor semakin ramai dibicarakan di media sosial. Banyak yang mengklaim bisa membuat berat badan turun secara cepat. Selain itu, juga membuat energi semakin meningkat, hingga masalah pencernaan yang membaik hanya dengan mengonsumsi daging dan lemak hewani lainnya.

Sekilas mungkin terdengar menjanjikan. Tapi, sebelum ikut-ikutan tren, penting untuk mempelajari terlebih dahulu terkait dampaknya bagi kesehatan jika pola makan ini dijalani dalam jangka panjang.

Dari sudut pandang gizi, diet karnivor bukan sekadar “diet rendah karbohidrat”, melainkan pola makan yang mengeliminasi hampir seluruh kelompok pangan nabati. Di sinilah potensi risikonya mulai muncul.

Berikut 5 risiko jangka panjang diet karnivor yang perlu dipahami sebelum memutuskan untuk menjalaninya.

1. Risiko Kekurangan Serat dan Gangguan Pencernaan

diet karnivor bisa menyebabkan kekurangan serat dan sembelit
Sumber: Freepik

Diet karnivor hanya mengandalkan pangan hewani dan sepenuhnya menghilangkan makanan dari tumbuhan. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan serat yang secara alami hanya terdapat pada sayur, buah, kacang, dan biji-bijian.1

Padahal, serat memiliki peran penting terhadap metabolisme, utamanya dalam menjaga kesehatan saluran cerna, membantu pergerakan usus, serta mendukung keseimbangan mikrobiota usus.

Asupan serat yang cukup juga membantu proses buang air besar berjalan lancar dan menjaga fungsi pencernaan tetap optimal.

Bahkan menurut studi, serat juga sangat dianjurkan dikonsumsi sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus.2

Tanpa pemenuhan serat, pelaku diet karnivor bisa berisiko mengalami sembelit, gangguan pencernaan, dan perubahan mikrobiota usus. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko masalah pencernaan kronis, termasuk kanker kolon.

Ini dibuktikan dari salah satu studi yang menunjukkan hasil bahwa pasien kanker kolorektal tercatat 6,75 kali lebih sering memiliki riwayat asupan serat rendah dibandingkan kelompok tanpa kanker.3

2. Potensi Ketidakseimbangan Zat Gizi Mikro

diet karnivor bisa berpotensi menyebabkan kekurangan zat gizi mikro
Sumber: Freepik

Meskipun daging kaya akan protein dan beberapa mineral, diet karnivor cenderung tetap rendah vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin C, folat, magnesium, kalium, serta senyawa antioksidan.

Hal ini karena sayur dan buah yang merupakan sumber utama berbagai vitamin, mineral, serat, serta fitokimia tidak disertakan dalam diet karnivor. Artinya, zat-zat tersebut sangat terbatas atau bahkan tidak ditemukan pada kelompok pangan hewani.4

Padahal, kandungan dalam sayur dan buah berperan penting sebagai antioksidan dan mendukung fungsi metabolisme tubuh.

Dalam jangka panjang, kekurangan zat gizi mikro ini dapat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, gangguan metabolisme, dan munculnya kelelahan kronis, meskipun asupan protein tampak sudah “cukup”.

3. Beban Berlebih pada Ginjal dan Hati

diet karnivor memberi beban berlebih pada ginjal dan hati
Sumber: Freepik

Asupan protein hewani yang sangat tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal, terutama pada individu dengan kondisi tertentu. Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi protein tinggi tidak aman bagi orang dengan riwayat atau gangguan fungsi ginjal, termasuk kelainan ginjal bawaan.

Diet tinggi protein, khususnya lebih dari 2 g/kg berat badan per hari, dalam jangka panjang dapat memicu hiperfiltrasi ginjal dan meningkatkan kadar ureum dalam darah.5 Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berisiko mempercepat penurunan fungsi ginjal.6

Baca juga: PLADO Diet, Rekomendasi untuk Gagal Ginjal Kronis

Selain ginjal, metabolisme protein dan lemak dalam jumlah besar juga membebani fungsi hati. Hati berperan utama dalam pengolahan makronutrien, dan konsumsi jangka panjang makanan tinggi protein dikaitkan dengan peningkatan penumpukan lemak (trigliserida), peradangan, stres oksidatif, serta gangguan keseimbangan metabolik.7

Kelompok dengan diabetes mellitus, penyakit ginjal, atau gangguan fungsi hati cenderung lebih rentan terhadap dampak ini. Tanpa pengawasan tenaga kesehatan, pola makan tinggi protein berpotensi mempercepat gangguan fungsi organ pada kelompok berisiko.

4. Risiko Kesehatan Jantung dalam Jangka Panjang

diet karnivor berdampak pada kesehatan jantung
Sumber: Freepik

Diet karnivor umumnya tinggi lemak jenuh dan kolesterol, karena komposisinya yang dominan dari daging dan produk hewani lainnya. Jika ini dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang, dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL, memicu peradangan, dan menaikkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama karena minimnya serat dan variasi lemak sehat.

Selain itu, kombinasi kolesterol tinggi dan asupan natrium yang berlebih pada beberapa olahan daging semakin memperbesar risiko gangguan jantung dan pembuluh darah.1

Perlu diingat bahwa, penurunan berat badan yang cepat di awal diet karnivor tidak selalu mencerminkan perbaikan kesehatan jantung secara menyeluruh. Evaluasi kesehatan jangka panjang tetap perlu memperhatikan profil lemak darah dan tekanan darah.

5. Sulit Dipertahankan dan Berisiko Pola Makan Tidak Seimbang

diet karnivor sulit dipertahankan dan berdampak pada pola makan tidak seimbang
Sumber: Freepik

Salah satu tantangan utama diet karnivor adalah keberlanjutannya dalam jangka panjang. Pola makan yang sangat terbatas sering kali sulit diterapkan dalam kehidupan sosial, memicu siklus diet ketat lalu berhenti, serta meningkatkan risiko terbentuknya hubungan yang tidak sehat dengan makanan.

Dalam jangka panjang, pendekatan yang terlalu ekstrem ini justru berpotensi menimbulkan masalah gizi baru. Tekanan psikologis akibat pembatasan makan yang ketat juga dapat mendorong perilaku makan tidak teratur, seperti makan berlebihan, muntah yang dipaksakan, atau bentuk gangguan makan lainnya.

Diet karnivor memang dapat memberikan hasil cepat bagi sebagian orang, terutama penurunan berat badan di awal. Namun, dari sudut pandang gizi dan kesehatan, manfaat jangka pendek tersebut belum tentu sejalan dengan keberlanjutan pola makan serta kesehatan jangka panjang.8

Jadi, perlu dipahami bahwa setiap tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda. Tren diet juga tidak bisa langsung dianggap cocok begitu saja untuk semua orang.

Sebelum mengikuti tren diet apa pun, termasuk diet karnivor, sebaiknya luangkan waktu untuk memahami dampaknya secara menyeluruh. Pola makan sehat bukan tentang ekstrem, melainkan tentang keseimbangan dan keberlanjutan.

Baca juga: Kompleksitas Diet: Makanan Apa yang Benar-Benar Berdampak untuk Kesehatan?

Referensi

  1. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, October 25). Kelebihan dan kekurangan diet karnivora. Keslan – Kementerian Kesehatan RI. Retrieved January 19, 2026. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3762/kelebihan-dan-kekura ↩︎
  2. Mujianto, M., Harahap, B., Robbany, M. D., & Sebayang, N. S. (2023). Serat Makanan Sebagai Sumber Makanan Fungsional yang Baik (Thoyyib) Bagi Pencernaan. Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Teknologi Pangan12(2), 7-13. https://jurnal.um-palembang.ac.id/edible/article/download/7350/3809 ↩︎
  3. Swari, R. P., Sueta, M. A. D., & Adnyana, M. S. (2019). Hubungan asupan serat dengan angka kejadian kanker kolorektal di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016-2017. Intisari Sains Medis10(2). https://doi.org/10.15562/ism.v10i2.262 ↩︎
  4. Safyanti, S., Andrafikar, A., & Yuniarti, E. (2023). Efektivitas model pemberdayaan ibu rumah tangga dan anak sekolah dalam meningkatkan konsumsi sayur. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory, 6(1), 359–364. https://jurnal.syedzasaintika.ac.id/index.php/meditory/article/view/1898 ↩︎
  5. Kamper, A. L., & Strandgaard, S. (2017). Long-term effects of high-protein diets on renal function. Annual review of nutrition37(1), 347-369. https://www.annualreviews.org/content/journals/10.1146/annurev-nutr-071714-034426 ↩︎
  6. Fitranti, D. Y., Aniq, K., Purwanti, R., Kurniawati, D. M. A., Wijayanti, H. S., & Saphira, R. R. (2022). Asupan Makanan dan Intensitas Latihan Kaitannya dengan Fungsi Ginjal dan Komposisi Tubuh pada Komunitas Gym. Amerta Nutrition6(1). 63-71. https://e-journal.unair.ac.id/AMNT/article/download/18426/17123 ↩︎
  7. Díaz-Rúa, R., Keijer, J., Palou, A., van Schothorst, E. M., & Oliver, P. (2017). Long-term intake of a high-protein diet increases liver triacylglycerol deposition pathways and hepatic signs of injury in rats. The Journal of nutritional biochemistry46, 39-48. https://doi.org/10.1016/j.jnutbio.2017.04.008 ↩︎
  8. Habib, A., Ali, T., Nazir, Z., Inayat, Q. U. A., & Haque, M. A. (2023). Unintended consequences of dieting: How restrictive eating habits can harm your health. International Journal of Surgery Open60, 100703. 1-2. https://doi.org/10.1016/j.ijso.2023.100703 ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *