Telur Jadi Protein Murah Favorit MBG! Yuk, Simak Plus Minusnya
Kalau bicara soal menu MBG, satu bahan yang hampir selalu muncul adalah telur. Dari telur rebus, telur dadar, sampai orak-arik sederhana, semuanya dianggap sebagai lauk murah bergizi yang bisa membantu memenuhi kebutuhan protein anak sekolah. Tidak heran jika banyak dapur memilih telur sebagai bahan andalan, karena praktis, terjangkau, dan kaya manfaat.
Namun, di balik semua kelebihannya, penggunaan telur dalam skala besar ternyata tidak sesederhana itu. Telur adalah protein hewani yang sangat baik, tetapi juga termasuk pangan berisiko jika tidak ditangani dengan benar.
Peran Strategis Telur sebagai Sumber Protein Hewani di MBG
Salah satu alasan telur menjadi favorit MBG adalah nilai gizinya yang sangat tinggi. Secara gizi, telur mengandung lebih dari 16 vitamin dan mineral yang berperan penting bagi metabolisme dan membantu mengatasi kekurangan gizi pada kelompok rawan pangan.1,2
Satu butir telur mengandung protein lengkap dengan asam amino esensial, kolin untuk perkembangan otak, serta vitamin dan mineral seperti vitamin A, D, B12, seng, dan selenium. Telur juga dikenal memiliki bioavailabilitas protein mendekati 100%, sehingga tubuh dapat memanfaatkannya secara optimal.3
Baca Juga: Konsumsi telur bikin kolesterol darah meningkat?

Dalam konteks program berskala nasional, telur dapat membantu menutup kesenjangan protein hewani yang sering sulit dicapai jika hanya mengandalkan lauk daging atau ayam, apalagi ketika anggaran harus dibagi merata ke seluruh wilayah.3
Dari sisi ilmu gizi, protein hewani memiliki mutu yang lebih tinggi dibanding protein nabati karena komposisinya paling mendekati protein manusia.4,5 Artinya, telur mampu memberikan dampak yang lebih langsung terhadap pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh anak.
Di banyak daerah, kekurangan asupan protein hewani menjadi salah satu faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang, termasuk kekerdilan.6 Oleh karena itu, telur sebagai sumber protein hewani yang murah, mudah diperoleh, dan bernilai gizi tinggi, menjadi pilihan strategis dalam menu anak sekolah.7
Telur Jadi Menu Murah dan Mudah Diolah

Selain padat gizi, telur juga istimewa karena praktis dan ekonomis untuk dapur MBG. Harga satu butir telur saat ini bisa diakses mulai dari harga Rp2.000, sementara satu rak berisi 30 butir umumnya berkisar mulai Rp50.000 – 60.000. Dengan harga yang stabil di banyak daerah, telur menjadi opsi protein hewani yang paling terjangkau dan mudah diakses.
Dari sisi operasional, telur sangat cocok untuk dapur besar karena teknik memasaknya sederhana dan bisa dilakukan dengan metode langsung, tanpa membutuhkan peralatan yang rumit.1 Keserbagunaannya memungkinkan berbagai menu massal, mulai dari telur rebus, telur orak-arik, telur dadar sayur, hingga telur bumbu balado, yang dapat diproduksi dalam ratusan hingga ribuan porsi tanpa mengurangi kualitas.
Dari sisi penerimaan, telur juga menjadi lauk yang disukai mayoritas anak, sehingga hampir selalu habis ketika disajikan di sekolah.3 Sederhananya bumbu dan konsistensi rasa membuat telur cocok untuk menu yang harus menyesuaikan selera beragam.
Tidak heran jika banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengombinasikan telur dengan menu sederhana seperti nasi, sayur bening, atau perkedel, yang sudah cukup membantu memenuhi kebutuhan gizi harian anak. Meski begitu, tetap ada sebagian kecil orang tua atau individu yang khawatir soal kolesterol dalam telur, sehingga persepsi ini kadang memengaruhi penerimaan dalam beberapa komunitas.1
Tantangan Besar: Telur Adalah Pangan yang Mudah Rusak

Meskipun telur adalah sumber protein hewani yang murah dan bergizi, penggunaannya dalam skema makan massal seperti MBG memiliki tantangan yang tidak bisa diabaikan. Faktor keamanan pangan menjadi krusial karena telur sangat sensitif terhadap suhu, kebersihan, dan waktu penyajian.
1. Telur Rebus Cepat Masuk “Zona Bahaya”
Setelah dimasak, telur rebus idealnya dikonsumsi maksimal 2 jam pada suhu ruang untuk mencegah pertumbuhan bakteri seperti Salmonella.8 Sementara di lapangan, makanan harus sering menunggu waktu distribusi, penataan boks, dan penyajian. Ketika waktu tunggu ini melebihi batas aman, risiko kontaminasi bisa meningkat tajam.
2. Pengiriman Massal Meningkatkan Risiko Kontaminasi
Dalam proses produksi makanan di SPPG, makanan dimasak pagi buta, lalu dikirim ke sekolah dengan jarak yang bervariasi. Tanpa kontrol suhu yang tepat selama transportasi, telur matang dapat menjadi lembap, hangat, atau bahkan terekspos lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri.9 Oleh karena itu, pengiriman massal tanpa sistem pendingin atau penghangat juga dapat meningkatkan risiko kontaminasi dari lingkungan sekitar.8,10
3. Tekstur Telur Berubah Ketika Suhu Turun
Tekstur telur, terutama telur dadar atau telur orak-arik, mudah berubah ketika berada di suhu rendah. Omelet yang semula empuk bisa menjadi keras dan alot ketika suhu turun. Perubahan tekstur ini akhirnya membuat anak-anak cenderung kurang menyukainya, sehingga asupan protein juga bisa semakin berkurang.9
4. Kebersihan Cangkang Jadi Faktor Risiko Kontaminasi
Cangkang telur dapat membawa bakteri dari peternakan. Dalam produksi massal, risiko kontaminasi silang bisa semakin besar jika prosedur kebersihan tidak diawasi secara ketat. Oleh karena itu, penanganan telur mentah sebaiknya dipisahkan tersendiri, dan disertai penerapan higiene petugas serta sanitasi alat yang konsisten untuk mencegah perpindahan bakteri.
Kesimpulannya, pemanfaatan telur dalam menu MBG tidak cukup hanya mempertimbangkan nilai gizinya. Manajemen suhu, kontrol kebersihan, dan teknik penyajian adalah kunci utama agar telur tetap aman, enak, dan memberikan manfaat optimal bagi anak-anak yang mengonsumsinya.
Lalu, Apa Solusi Aman untuk Memakai Telur di Menu MBG?

Agar telur tetap aman dan bernilai gizi tinggi untuk anak sekolah, dapur MBG bisa menerapkan beberapa langkah praktis berikut:
- Pastikan telur matang sempurna, tidak setengah matang.
- Sajikan telur dalam keadaan hangat (>60°C) atau langsung setelah dimasak.
- Jika perlu distribusi jauh, lebih aman menggunakan orak-arik atau pepes telur daripada telur rebus utuh.
- Pastikan petugas selalu mencuci tangan sebelum mengolah makanan.
- Buat jadwal masak yang mendekati waktu distribusi untuk meminimalkan pendinginan.
Solusi ini mungkin sederhana, tetapi bisa sangat berpengaruh terhadap keamanan makanan.
Telur Tetap Ideal Digunakan, Asal Diproses dengan Benar
Telur adalah protein hewani murah yang sangat cocok untuk mendukung keberhasilan MBG. Kandungan gizinya padat, harganya terjangkau, dan anak-anak mayoritas menyukainya. Namun, penggunaannya dalam skala besar tetap membutuhkan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.
Jadi, telur bisa menjadi lauk andalan MBG yang aman jika dapurnya menerapkan standar kebersihan dan pengolahan yang benar. Baik tenaga gizi, pihak SPPG, dan orang-orang yang peduli dengan kualitas makan anak sekolah, kita punya peran penting untuk mendorong praktik dapur yang lebih baik.
Dengan pemahaman sederhana tentang risiko dan solusinya, kita bisa memastikan bahwa lauk murah seperti telur tetap menjadi pilihan yang aman dan bermanfaat.
Baca Juga: 7 Potensi Penyebab KLB Keracunan MBG
Referensi
- Walker, S., & Baum, J. (2021). Eggs as an affordable source of nutrients for adults and children living in food-insecure environments. Nutrition Reviews. https://doi.org/10.1093/NUTRIT/NUAB019 ↩︎
- Agus, A., Hanim, C., Al Anas, M., & Agussalim, A. (2022). Feed, Animal and Human Health: Designing Functional Egg. https://doi.org/10.2991/absr.k.220401.065 ↩︎
- Maherawati, M., Suswati, D., Dolorosa, E., Hartanti, L., & Fadly, D. (2023). Sosialisasi Gizi Telur Sebagai Protein Hewani Murah Untuk Pencegahan Stunting. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 7(4), 3312-3322. https://doi.org/10.31764/jmm.v7i4.15823 ↩︎
- Vidiasari, V. (2022). Pemberian Makanan Tinggi Protein di Masa New Normal dalam Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi pada Anak Balita. 5(2), 158–160. https://doi.org/10.30994/jceh.v5i22.398 ↩︎
- Sholikhah, A., & Dewi, R. K. (2022). Peranan Protein Hewani dalam Mencegah Stunting pada Anak Balita. JRST (Jurnal Riset Sains Dan Teknologi), 6(1), 95. https://doi.org/10.30595/jrst.v6i1.12012 ↩︎
- Septinova, D., Hartono, M., Apriliana, E., Selawati, D., & Hermawan, A. (2023). Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Edukasi dan Sosialisasi Pencegahan Stunting Melalui Gerakan Gemar Konsumsi Telur Bersama Orang Tua dan Siswa PAUD Anggrek Putih Bandar Lampung Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampun. 02(02), 174–184. http://repository.lppm.unila.ac.id/52629/ ↩︎
- Bunga Ihda Norra, Putri Hendrika, T., Auliyaur Rohmah, A., & Ila nabinya. (2021). Identifikasi Pemahaman Umum Ayam (Gallus Gallus) Dan Ikan Mujair (Oreochromis Mossambicus) PADA MAHASISWA UIN WALISONGO SEMARANG. Bio-Lectura, 8(1), 29–36. https://doi.org/10.31849/bl.v8i1.5763 ↩︎
- Cardoso, M. J., Nicolau, A. I., Borda, D., Nielsen, L. H., Maia, R. L., Møretrø, T., Ferreira, V., Knøchel, S., Langsrud, S., & Teixeira, P. (2021). Salmonella in eggs: From shopping to consumption-A review providing an evidence-based analysis of risk factors. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 20(3), 2716–2741. https://doi.org/10.1111/1541-4337.12753 ↩︎
- An, J.-H., Hwang, Y., Hwang, S., Kwon, H., Gu, H.-Y., Park, K., & Choi, C. (2023). Comparative evaluation of egg quality in response to temperature variability: From farm to table exposure scenarios. Food Science of Animal Resources. https://doi.org/10.5851/kosfa.2023.e62 ↩︎
- Harage, H. A. A., & Al-Aqaby, A. R. (2024). Bacterial contamination of chicken eggs: A review. South Asian Journal of Agricultural Sciences. https://doi.org/10.22271/27889289.2024.v4.i2b.147 ↩︎
