Chinese Restaurant Syndrome: Benarkah MSG Jadi Penyebabnya?
Pusing setelah makan makanan yang terasa sangat gurih sering kali langsung dikaitkan dengan MSG. Ada yang merasa wajahnya panas, leher terasa tidak nyaman, bahkan jantung jadi berdebar. Keluhan semacam ini kemudian dikenal luas dengan istilah Chinese Restaurant Syndrome.
MSG pun sejak lama menjadi bahan yang paling sering disalahkan. Padahal, ketika hubungan tersebut diuji dalam penelitian terkontrol, hasilnya tidak selalu konsisten.
Lalu, apakah MSG memang benar menjadi penyebab utama keluhan tersebut? Atau sebenarnya hubungan antara MSG dan keluhan tersebut tidak sesederhana yang selama ini kita kira?
Dari Mana Istilah Chinese Restaurant Syndrome Berasal?
Istilah Chinese Restaurant Syndrome mulai dikenal sejak tahun 1968 setelah seorang dokter bernama Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada The New England Journal of Medicine. Ia melaporkan beberapa keluhan yang muncul sekitar 15–20 menit setelah makan di sejumlah restoran China, seperti mati rasa di bagian belakang leher yang menjalar ke lengan dan punggung, rasa lemah, serta jantung berdebar. Keluhan tersebut dilaporkan berlangsung hingga sekitar dua jam tanpa efek sisa.1
Seiring berjalannya waktu, istilah Chinese Restaurant Syndrome mulai ditinggalkan karena dianggap tidak tepat dan bernuansa ofensif (menyinggung kelompok tertentu). Kumpulan gejala seperti sakit kepala, wajah memerah, dan berkeringat kini lebih sering disebut sebagai MSG symptom complex.2
Sebenarnya, Apa Itu MSG?
MSG atau monosodium glutamate adalah garam natrium dari asam glutamat, salah satu asam amino yang juga terdapat secara alami di tubuh dan berbagai makanan.3
Glutamat secara alami juga terdapat dalam berbagai makanan, termasuk tomat dan keju. Selain itu, ketika protein dalam makanan dicerna, glutamat bebas juga dapat dilepaskan, dan secara kimia glutamat tersebut sama dengan glutamat yang terdapat dalam MSG.4

MSG digunakan terutama untuk memperkuat rasa umami, yaitu rasa gurih yang berbeda dari manis, asin, asam, dan pahit.
Jadi, MSG sebenarnya bukanlah zat yang sepenuhnya asing bagi tubuh. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah tambahan MSG pada makanan dalam jumlah tertentu benar-benar menyebabkan kumpulan gejala yang disebutkan tadi?
Apa yang Ditemukan Ketika MSG Benar-Benar Diuji?
Ketika hubungan antara MSG dan berbagai keluhan diuji secara terkontrol, hasilnya ternyata tidak selalu konsisten.
Sebuah review tahun 2026 menemukan bahwa uji double-blind, placebo-controlled (peserta maupun peneliti tidak mengetahui siapa yang mendapat MSG dan siapa yang mendapat bahan pembanding), jarang dapat mengonfirmasi munculnya gejala secara konsisten ketika MSG diberikan dalam dosis yang realistis seperti yang biasa dikonsumsi melalui makanan. Sementara itu, pada sebagian orang, keluhan intoleransi yang bersifat sementara dapat muncul ketika MSG diberikan dalam dosis tinggi dan dalam kondisi perut kosong.5
Hal ini sejalan dengan penelitian terkontrol sebelumnya pada 130 orang yang mengaku sensitif terhadap MSG. Pada awal pengujian, 5 gram MSG tanpa makanan memang lebih sering menimbulkan keluhan. Namun, ketika diuji kembali, gejala tersebut tidak muncul secara konsisten.6
FDA, berdasarkan laporan FASEB (Federation of American Societies for Experimental Biology), menjelaskan bahwa sebagian orang yang sensitif dapat mengalami gejala ringan dan sementara. Gejalanya seperti sakit kepala, mati rasa, wajah memerah, kesemutan, jantung berdebar, atau mengantuk. Ini terjadi setelah mengonsumsi 3 gram MSG atau lebih sekaligus tanpa dikonsumsi bersama makanan.4
Sebagai perbandingan, satu porsi makanan dengan tambahan MSG biasanya mengandung kurang dari 0,5 gram MSG. FDA menyebut bahwa mengonsumsi lebih dari 3 gram MSG sekaligus tanpa makanan merupakan kondisi yang jarang terjadi.
Artinya, kondisi yang dapat memunculkan keluhan tersebut berbeda dengan jumlah MSG yang umumnya dikonsumsi bersama makanan sehari-hari.
Apakah Ini Berarti Alergi MSG?
Tidak selalu. Alergi makanan umumnya melibatkan respons sistem imun terhadap zat tertentu. Sementara itu, penelitian mengenai MSG symptom complex tidak menunjukkan pola yang konsisten sebagai reaksi alergi klasik yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) (salah satu komponen sistem imun yang berperan dalam reaksi alergi).5

Oleh karena itu, keluhan seperti pusing, rasa panas, atau kesemutan yang dilaporkan setelah konsumsi MSG lebih tepat dibahas sebagai reaksi atau intoleransi yang dilaporkan, bukan langsung disebut sebagai alergi MSG.
Jika seseorang mengalami gejala berat seperti sesak napas, pembengkakan, atau penurunan kesadaran setelah makan, tentu kondisinya berbeda dan perlu mendapatkan pertolongan medis karena bisa berkaitan dengan reaksi terhadap komponen makanan lainnya.
Lalu, Apakah MSG Aman Dikonsumsi?
FDA mengategorikan MSG sebagai bahan yang generally recognized as safe (GRAS), yaitu secara umum diakui aman untuk digunakan dalam makanan berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia.4
Tapi, ini bukan berarti bahwa MSG aman digunakan sebanyak mungkin. MSG tetap merupakan salah satu sumber natrium, sehingga penggunaannya tetap perlu dilihat bersama total asupan natrium dari seluruh makanan sehari-hari.
Jadi, Benarkah MSG Menjadi Penyebab Chinese Restaurant Syndrome?
Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak.
Dosis MSG yang sangat tinggi, terutama ketika dikonsumsi tanpa makanan, dapat memunculkan keluhan ringan dan sementara pada sebagian orang yang sensitif. Namun, pada dosis yang lebih menyerupai penggunaan MSG dalam makanan sehari-hari, penelitian belum dapat menunjukkan gejala tersebut secara konsisten.
Jadi, anggapan bahwa “setiap makan MSG pasti bikin pusing” tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Kalau kamu sering mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu, ada baiknya tidak langsung menyalahkan satu bahan saja. Perhatikan kembali jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, dan apakah pola keluhan tersebut benar-benar berulang.
Pada akhirnya, MSG tetap dapat digunakan sebagai penyedap dalam makanan. Hal yang lebih penting adalah melihat pola makan secara keseluruhan dan menggunakannya dalam jumlah yang wajar.
Baca juga: Perhitungan Konsumsi Garam Individu
Referensi
- Babbel J, Ramos C, Wangberg H, Luskin K, Simon R. Adverse reactions to food additives. J Food Allergy. 2021 Apr 1;3(1):8-23. doi: 10.2500/jfa.2021.3.210004. PMID: 39022633; PMCID: PMC11250194. ↩︎
- Munasiah, M. (2020). Dampak Pemberian Monosodium Glutamat Terhadap Kesehatan. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 2(4), 51. https://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/190/142/ ↩︎
- Ariska, L. P. A. (2024). Analisis kadar Monosodium Glutamat (MSG) pada berbagai macam jenis kuah soto menggunakan refraktometer abbe. Maliki Interdisciplinary Journal, 2(5). https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/download/4674/2947/ ↩︎
- U.S. Food and Drug Administration. (2012, November 19). Questions and answers on monosodium glutamate (MSG). https://www.fda.gov/food/food-additives-petitions/questions-and-answers-monosodium-glutamate-msg ↩︎
- Lisiecka MZ. The Role of Monosodium Glutamate in Food Allergies and Its Health Implications. J Am Nutr Assoc. 2026 May-Jun;45(4):367-376. doi: 10.1080/27697061.2025.2587739. Epub 2025 Nov 25. PMID: 41289354. ↩︎
- Geha RS, Beiser A, Ren C, Patterson R, Greenberger PA, Grammer LC, Ditto AM, Harris KE, Shaughnessy MA, Yarnold PR, Corren J, Saxon A. Multicenter, double-blind, placebo-controlled, multiple-challenge evaluation of reported reactions to monosodium glutamate. J Allergy Clin Immunol. 2000 Nov;106(5):973-80. doi: 10.1067/mai.2000.110794. PMID: 11080723. ↩︎
