Pengaturan Asupan Makan pada HIV AIDS

Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Orang dengan HIV AIDS (ODHA) membutuhkan pengaturan asupan makan yang sesuai sehingga risiko malnutrisi dapat diminimalisir. Mari kita simak lebih lanjut pada artikel berikut =)

HIV AIDS

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang bagian utama sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan tubuh terbuka terhadap serangan infeksi dan penyakit termasuk AIDS, yang merupakan tahap akhir dari penyakit tersebut. HIV merupakan retrovirus yang hanya memiliki seuntai RNA, sehingga virus HIV bereplikasi menggunakan suatu enzyme (reverse traskriptase) dengan memanfaatkan DNA yang dimiliki sel CD4+, sehingga DNA sel akan mentranskripsikan RNA virus selama replikasi.​1,2​

HIV tidak mudah ditularkan kecuali melalui pertukaran cairan selama kontak seksual, terinfeksi melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik bergantian, atau dari ibu yang terinfeksi HIV ke neonatus. Orang yang berisiko tinggi mengalami HIV termasuk laki-laki homoseksual dan biseksual, penderita hemofilia, pecandu narkoba, heteroseksual dengan banyak pasangan, dan bayi dari ibu HIV-positif. Ibu menyusui yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV ke bayi, terutama jika mengalami mastitis.​2,3​

Infeksi HIV terkait banyak organ. HIV mengganggu kemampuan respon imun yang sesuai. Malnutrisi dan komplikasinya lebih berdampak buruk bagi tubuh; HIV seringkali menyebabkan penurunan status gizi. Status gizi yang menurun pada orang yang terinfeksi HIV dikaitkan dengan perkembangan penyakit, peningkatan morbiditas dan penurunan kualitas hidup, tidak tergantung pada defisiensi imun dan viral load.​4​

https://pixabay.com/id/illustrations/hiv-aids-png-1-2-1280510/
https://pixabay.com/id/illustrations/hiv-aids-png-1-2-1280510/

Intervensi Gizi pada ODHA

Perbaikan gizi dapat mencegah infeksi oportunistik, seperti kandidiasis oral; sirosis atau karsinoma hepatoseluler dari infeksi kronis dengan hepatitis B atau C; dan kondisi lain seperti pemulihan kekebalan sindrom inflamasi.​3​ Penurunan berat badan yang cepat terkait dengan infeksi oportunistik biasanya disertai dengan kelelahan dan penurunan aktivitas fisik, mengakibatkan penurunan dalam pengeluaran energi total (total energy expenditure/TEE). Penurunan TEE dapat membantu menjaga massa lemak tubuh tanpa lemak dengan mengimbangi peningkatan Resting Energy Expenditure/REE. ​4​

Penurunan asupan kalori dibanding peningkatan REE, secara signifikan berkorelasi dengan penurunan berat badan. Orang yang terinfeksi HIV tanpa gejala, berat badannya stabil, dan tidak menggunakan antiretroviral therapy (ART), maka peningkatan asupan kalori mengkompensasi peningkatan REE dan dipercepat dengan pergantian protein.​4​

Intervensi gizi pada ODHA dilakukan dengan tujuan : ​3​

  • Meningkatkan sistem imun utk mencegah infeksi oportunistik (kandidiasis oral, sirosis hepatik, dll)
  • Meningkatkan respon terhadap terapi (dg konseling gizi dan monev)
  • Menjaga berat badan (BB) 95-100% dari BB normal
  • Mengatasi demam dan gangguan gastrointestinal (mual, muntah, diare, konstipasi, dll)
  • Melakukan monitoring evaluasi terhadap penggunaan terapi alternatif

Kebutuhan Zat Gizi pada HIV AIDS

Pengaturan asupan makan merupakan hal yang penting diperhatikan pada orang dengan HIV AIDS. Mempertahankan pola makan yang sesuai dengan kondisi pasien; menggunakan diet tinggi energi tinggi protein dengan zat gizi yang cukup. Penambahan atau pemeliharaan berat badan dimungkinkan pada pasien dengan infeksi HIV dan stadium awal AIDS menggunakan suplemen.

Energi

WHO merekomendasikan asupan energi di atas 10% dari energi yang diharapkan untuk infeksi HIV tanpa gejala. Dalam pedoman ESPEN untuk HIV dan penyakit menular, menyimpulkan bahwa tidak ada bukti kebutuhan energi pada infeksi HIV berbeda dari kelompok pasien lain sebagai studi tentang pengeluaran energi total belum menunjukkan hipermetabolisme. Namun, pada pasien HIV AIDS selama fase pemulihan setelah infeksi oportunistik kebutuhan energi meningkat 20 sampai 50%. Selain itu, fase anabolik setelah mulai ART cenderung meningkatkan kebutuhan energi sesuai persyaratan.​4​

Protein


Pedoman ESPEN untuk terapi gizi pada HIV dan penyakit menular yaitu asupan protein 1,2 gram / kg BB / hari dalam fase stabil penyakit, dapat ditingkatkan menjadi 1,5 gram / kg BB / hari selama sakit akut. Demam dan infeksi dapat semakin meningkatkan kebutuhan protein. Selain itu, peningkatan asupan energi juga diperlukan jika terjadi infeksi, demam, dan pneumonia.​4​

Lemak

Menjaga asupan lemak pada orang dengan HIV AIDS sekitar 30 – 35% dari total kalori. Jumlah dan jenis lemak yang dianjurkan berdasarkan kebutuhan energi, risiko kardiovaskular, dan kondisi peradangan Jika pasien berisiko mengalami penyakit kardiovaskular mungkin memerlukan asupan lemak yang lebih rendah dan rasio lemak tak jenuh yang lebih tinggi. Sumber asam lemak omega-3 direkomendasikan untuk membantu mengurangi efek peradangan juga memperbaiki profil lipid.​1​

Lebih Lanjut : Fungsi Omega 3 dan 6

Karbohidrat

Asupan karbohidrat diberikan dalam jumlah cukup. Jumlah dan jenis karbohidrat direkomendasikan berdasarkan kebutuhan energi dan toleransi karbohidrat. Kondisi HIV AIDS dengan resistensi insulin dan diabetes memerlukan diet modifikasi untuk memodulasi kadar glukosa dan insulin. ​1​

Serat

Rekomendasi serat serupa dengan yang ada di individu yang sehat yaitu 14 gram / 1000 kkal. Serat disarankan untuk meningkatkan toleransi glukosa, mempengaruhi respon glikemik terhadap makanan, dan mengurangi potensi risiko kardiovaskular dan deposisi lemak yang berubah terlihat pada lipodistrofi.​1​

Baca Artikel : Pengaturan Indeks Glikemik

Cairan

Kebutuhan cairan pada dewasa sekitar 35 – 40 ml/kgBB/ hari (rata – rata 2 L/hari) untuk menjaga cairan tubuh kecuali pada kondisi yang harus membatasi cairan (misal edema, gangguan jantung, gangguan ginjal). Pada kondisi mual, muntah, demam kebutuhan cairan ditambah, natrium, kalium, chlor perlu ditambah.

Mikronutrien

Suplemen multivitamin, mineral sebaiknya direkomendasikan namun tidak melebihi 100% dari AKG. WHO tidak merekomendasikan pemberian zat gizi mikro melebihi rekomendasi pada orang dengan HIV. Vitamin A dan beta karoten dapat memperbaiki permeabilitas GI dan diare. Defisiensi yg umumnya terjadi Vitamin A, B kompleks, C, E, selenium, Zink diajurkan pemenuhan zat gizi tersebut dari pemberian diet adekuat dengan variasi bahan makanan. Defisiensi vit K tjd krn penggunaan antibiotik.​1,3​

Rekomendasi Gizi pada Kondisi Khusus Akibat Efek Samping HIV

Berikut tips asupan makan untuk menangani efek samping HIV AIDS.​1​

Efek SampingRekomendasi Gizi
Mual, Muntah•Porsi kecil tapi sering
•Hindari makan dan minum secara bersamaan
•Air minum jernih dan sejuk
•Makanan kering dengan tekstur renyah co : krakers, toast
•Batasi makanan berlemak tinggi
•Batasi makanan beraroma tajam
•Gunakan baju yang longgar
•Istirahat dengan posisi duduk setelah makan
•Catat waktu saat mual dan muntah serta makanan yg merangsang mual dan muntah
DiarePlain Carbohydrate co : nasi, bubur,cdsb
•Buah – buahan rendah serat, co : pisang
•Banyak minum
•Porsi kecil tapi sering
•Batasi makanan berlemak tinggi, makanan dan minuman yang sangat manis
•Batasi makanan berbumbu tajam
•Hindari susu dan produk olahannya
•Batasi kafein (kopi, teh, coklat, minuman berenergi)
Hilang selera makan•Porsi kecil tapi sering
•Volume makanan kecil tapi padat energi dan zat gizi
Perubahan cita rasa•Tambahkan bumbu dalam makanan
•Hindari makanan kaleng
•Makan di lingkungan yang nyaman
Luka pada mulut•Makanan lunak atau lumat
•Lembabkan makanan dengan kuah
•Minum dengan makanan
•Hndari minuman asam
•Makan dan minum pada suhu kamar
Penurunan berat badan•Porsi kecil tapi sering
•Volume makanan kecil tapi padat energi dan zat gizi
•Bila perlu konsumsi suplemen oral

Referensi

  1. 1.
    Nelms M, Sucher K, Lacey K, Roth S. Nutrition Therapy and Pathophysiology. Wadsworth – Cengage Learning; 2010.
  2. 2.
    WHO W. Fact sheet HIV/AIDS. World Helath Organization. Accessed 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids
  3. 3.
    Stump S. Nutrition and Diagnosis-Related Care. 7th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2012.
  4. 4.
    Pribram V. Nutrition and HIV. 1st ed. Wiley-Blackwell; 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: