Kesehatan dan Gizi lainnya

Pisang Hijau dan Pisang Matang, Apakah Efeknya Sama Bagi Pencernaan?

Pernah memperhatikan bagaimana pisang yang awalnya hijau, keras, dan kurang manis perlahan berubah menjadi kuning, lembut, dan terasa lebih manis?

Sekilas, perubahan tersebut mungkin hanya terlihat dari warna, tekstur, dan rasanya.

Padahal, proses pematangan juga bisa mengubah komposisi karbohidrat di dalam pisang, termasuk bagaimana sebagian karbohidrat tersebut dicerna oleh tubuh.

Lantas, apakah pisang hijau lebih baik untuk pencernaan dibandingkan pisang matang? Atau justru sebaliknya?

Apa yang Sebenarnya Berubah Ketika Pisang Matang?

Salah satu perubahan terbesar selama proses pematangan pisang terjadi pada kandungan pati dan gulanya.

Ketika masih hijau, pisang umumnya mengandung lebih banyak pati, yaitu salah satu bentuk karbohidrat kompleks. Seiring pematangan, sebagian pati tersebut dipecah menjadi gula, sehingga pisang terasa semakin manis dan teksturnya menjadi lebih lembut.

Hal ini dibuktikan melalui salah satu penelitian tahun 2021 yang menganalisis kandungan pati, gula, dan serat pisang pada berbagai tingkat kematangan. Peneliti menemukan bahwa kandungan pati cenderung menurun selama proses pematangan. Sementara kandungan gula meningkat dari pisang yang belum matang menuju matang.1

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan perubahan pada kandungan serat pisang. Dengan metode pengukuran yang turut memperhitungkan pati resisten, kandungan serat pada pisang hijau tercatat sekitar 18 gram per 100 gram, kemudian menurun menjadi sekitar 4–5 gram pada pisang matang.

manfaat konsumsi pisang matang bagi pencernaan
Sumber: magnific

Namun di sisi lain, penggunaan metode pengukuran yang lebih lama menunjukkan kandungan serat hanya sekitar 2 gram per 100 gram dan relatif tidak berubah selama pematangan. Perbedaan ini terjadi karena tidak semua metode pengukuran memperhitungkan pati resisten dengan cara yang sama.1

Pisang Hijau Punya Pati yang Tidak Mudah Dicerna

Pisang hijau dikenal mengandung lebih banyak resistant starch atau pati resisten, yaitu jenis pati yang sulit dicerna oleh enzim pencernaan di usus halus.2

Berbeda dari pati yang dapat dipecah menjadi glukosa dan diserap tubuh, sebagian besar pati resisten melewati usus halus dan mencapai usus besar.

Di sana, pati resisten dapat dimanfaatkan oleh mikrobiota usus melalui proses fermentasi. Proses ini menghasilkan asam lemak rantai pendek, seperti asetat, propionat, dan butirat, yang memiliki berbagai peran dalam kesehatan usus.2

Sebuah penelitian tahun 2024 menganalisis kandungan pati resisten pada tepung yang dibuat dari pisang dengan berbagai tingkat kematangan. Hasilnya, kandungan pati resisten menurun dari sekitar 34,6% pada pisang yang belum matang menjadi 8,8% pada pisang dengan tingkat kematangan lebih tinggi.3

Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan pisang dapat memengaruhi jumlah pati yang sulit dicerna oleh tubuh. Namun, kandungan pati resisten yang lebih tinggi tidak otomatis berarti manfaat pencernaannya pasti lebih besar pada setiap orang.

Apakah Manfaat Pisang Hijau Sudah Terbukti pada Manusia?

Ada penelitian yang memberikan gambaran cukup menarik.

Dalam sebuah uji klinis yang diterbitkan pada 2025, sebanyak 48 orang dewasa sehat menyelesaikan intervensi selama enam minggu. Peserta dibagi ke dalam kelompok yang mengonsumsi tepung pisang hijau, inulin (jenis serat pangan), atau bahan pembanding sebanyak tiga kali seminggu.4

Hasilnya, konsumsi tepung pisang hijau menunjukkan perbaikan pada beberapa keluhan pencernaan, termasuk berkurangnya feses keras dan keluhan sembelit, meskipun responsnya berbeda antarkelompok peserta.

Menariknya, respons mikrobiota usus juga tidak sama pada seluruh peserta. Peneliti menemukan bahwa perubahan komposisi mikrobiota setelah konsumsi tepung pisang hijau berkaitan dengan karakteristik mikrobiota yang sudah dimiliki peserta sebelum intervensi.4

Namun, perlu diperhatikan bahwa penelitian ini menggunakan tepung pisang hijau, bukan buah pisang yang dikonsumsi secara langsung. Jadi, temuan tersebut juga belum bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa pisang hijau lebih baik bagi pencernaan dibandingkan pisang matang.

Lalu, Bagaimana dengan Pisang Matang?

Perubahan komposisi selama pematangan tidak otomatis membuat pisang matang lebih nyaman bagi pencernaan setiap orang.

Monash University melaporkan bahwa pisang matang yang mereka uji memiliki kandungan oligo-fruktan lebih tinggi dibandingkan pisang yang masih cukup keras. Oligo-fruktan sendiri termasuk kelompok FODMAP, yaitu jenis karbohidrat yang dapat memicu keluhan seperti kembung atau rasa tidak nyaman pada sebagian orang dengan usus sensitif.5

Meski begitu, kandungan FODMAP dapat berbeda menurut jenis pisang dan tingkat kematangannya. Di sisi lain, respons tubuh juga dipengaruhi oleh ukuran porsi serta toleransi masing-masing orang.

Bukan Hanya Kematangan, Cara Mengolahnya Juga Berpengaruh

Selain tingkat kematangan, cara mengolah pisang juga perlu diperhatikan. Beberapa jenis pisang lebih umum dikonsumsi setelah dimasak, misalnya dengan direbus atau dikukus. Proses pengolahan tersebut juga dapat memengaruhi kandungan patinya.

cara pengolahan pisang
Sumber: magnific

Penelitian pada tahun 2024 menemukan bahwa perebusan dan pemasakan bertekanan dapat menurunkan kandungan pati resisten pada pisang belum matang yang diteliti. Peneliti menjelaskan bahwa panas dan air dapat mengubah struktur pati sehingga lebih mudah diuraikan oleh enzim pencernaan.6

Jadi, kandungan pati resisten pada pisang hijau mentah belum tentu sama dengan pisang hijau yang sudah dimasak.

Jadi, Mana yang Lebih Baik untuk Pencernaan?

Tidak ada satu jawaban pasti yang berlaku untuk semua orang.

Secara umum, pisang hijau memang memiliki lebih banyak pati resisten yang dapat menjadi bahan fermentasi bagi mikrobiota usus. Sementara itu, pisang matang memiliki lebih sedikit pati dan lebih banyak gula hasil pematangan.

Keduanya memiliki karakteristik berbeda, tetapi perbedaan tersebut tidak otomatis menjadikan salah satunya lebih sehat atau lebih baik untuk pencernaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pilihlah pisang yang sesuai dengan kebutuhan, cara pengolahan, serta kenyamanannya bagi pencernaan masing-masing.

Jika memiliki keluhan pencernaan tertentu, perhatikan juga jenis pisang, porsi, dan respons tubuh setelah mengonsumsinya.

Pada akhirnya, buah yang sama pun dapat memiliki komposisi berbeda hanya karena tingkat kematangannya berubah.

Jadi, ketika memilih pisang, jangan hanya melihat warna atau rasa manisnya. Yuk, mulai lebih memahami bagaimana makanan yang kita konsumsi dapat bekerja di dalam tubuh!

Referensi

  1. Phillips, K. M., McGinty, R. C., Couture, G., Pehrsson, P. R., McKillop, K., & Fukagawa, N. K. (2021). Dietary fiber, starch, and sugars in bananas at different stages of ripeness in the retail market. PLOS ONE, 16(7), e0253366. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0253366 ↩︎
  2. Dibakoane, S. R., Da Silva, L. S., Meiring, B., Anyasi, T. A., Mlambo, V., & Wokadala, O. C. (2024). The multifactorial phenomenon of enzymatic hydrolysis resistance in unripe banana flour and its starch: A concise review. Journal of Food Science, 89(9), 5185–5204. https://doi.org/10.1111/1750-3841.17270 ↩︎
  3. Cheng et al. (2024). Investigate the composition and physicochemical properties attributes of banana starch and flour during ripening. Carbohydrate Polymer Technologies and Applications, 7, 100446. https://doi.org/10.1016/j.carpta.2024.100446 ↩︎
  4. Hoffmann Sardá, F. A., Giuntini, E. B., Oliveira, A., Souza, G. S., Prado, S. B. R., Taddei, C. R., Tadini, C. C., Bittinger, K., Bushman, F. D., Menezes, E. W., & Hoffmann, C. (2025). Baseline intestinal microbiota composition influences response to a real-world dietary fiber intervention. npj Biofilms and Microbiomes, 11, Article 203. https://doi.org/10.1038/s41522-025-00817-4 ↩︎
  5. Webber, S., & Collins, L. (2017, May 16). Update: Bananas re-tested! Monash FODMAP, Monash University. https://www.monashfodmap.com/blog/update-bananas-re-tested/ ↩︎
  6. Karunarathna, S., Wickramasinghe, I., Brennan, C., Truong, T., Navaratne, S., & Chandrapala, J. (2024). Investigating the impact of boiling and pressure cooking on resistant starch levels in food. International Journal of Food Science & Technology, 59(6), 3907–3917. https://doi.org/10.1111/ijfs.17138 ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *