Mengenal Ubi Yakon, Camilan Sehat Cocok untuk Penderita Diabetes
Camilan manis sering kali jadi pantangan bagi penderita diabetes. Tapi ada satu jenis ubi yang justru manis alami dan tetap aman dikonsumsi, yaitu ubi yakon. Ubi ini sempat viral karena teksturnya mirip buah dan rasanya menyegarkan. Tapi ternyata, manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar tren.
Apa saja manfaat kesehatannya dan bagaimana ubi yakon bisa membantu mengontrol gula darah? Yuk, kita gali lebih dalam!
Kenalan dengan Ubi Yakon, Si Manis dari Andes yang Kini Digemari di Indonesia
Ubi yakon (Smallanthus sonchifolius) merupakan tanaman umbi yang berasal dari wilayah pegunungan Andes di Amerika Selatan. Kini, tanaman ini sudah mulai dibudidayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bentuk umbinya menyerupai wortel besar, namun teksturnya renyah seperti apel atau pir, dengan rasa manis alami yang menyegarkan.
Popularitas yakon meningkat karena rasanya yang unik dan bisa dinikmati langsung dalam keadaan segar. Tidak hanya enak, yakon juga mulai menarik perhatian dunia kesehatan karena kandungan zat gizinya yang khas.
Seiring perkembangan teknologi pangan, yakon bahkan sudah mulai diolah dengan metode spray drying (pengeringan semprot), yaitu teknik pengeringan cepat menggunakan bahan tambahan seperti maltodekstrin (pati jagung olahan) atau gum arabik (getah tanaman akasia) untuk menghasilkan yakon powder (bubuk yakon). Inovasi ini membuat yakon lebih tahan lama tanpa kehilangan nilai fungsionalnya.2
Sama seperti ubi jalar ungu yang kaya antioksidan dan serat, ubi yakon juga mulai dikenal sebagai umbi sehat yang mendukung gaya hidup alami.
Baca Juga: Kandungan dan Manfaat Ubi Jalar Ungu
Manfaat Ubi Yakon untuk Penderita Diabetes

Yakon sering dipilih sebagai camilan bergizi yang tetap aman dikonsumsi oleh mereka yang memiliki diabetes. Keistimewaannya terletak pada rasa manis alaminya, yang bukan berasal dari glukosa biasa, melainkan dari fructooligosaccharides (FOS) dan inulin. Keduanya adalah serat larut yang tidak dicerna tubuh, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah.
Justru sebaliknya, FOS dan inulin berperan sebagai prebiotik (serat yang menjadi makanan bagi bakteri baik) yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme baik di usus dan membantu menstabilkan kadar gula darah.
FOS bekerja dengan menghambat enzim alfa-glukosidase (enzim pemecah karbohidrat), sehingga memperlambat penyerapan glukosa. Sementara inulin merangsang hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1), yaitu hormon yang membantu mengatur kadar gula darah dan menekan nafsu makan.¹
Ubi yakon juga mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang bersifat antioksidan, yang bisa membantu menurunkan risiko peradangan dan komplikasi diabetes.²
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi yakon secara rutin dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan meningkatkan sensitivitas insulin.² Bahkan, uji praklinis menunjukkan bahwa rebusan yakon mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan.⁴
Dengan kombinasi tersebut, ubi yakon layak dipertimbangkan sebagai alternatif camilan yang tidak hanya aman, tapi juga mendukung pengelolaan diabetes secara alami.
Baca Juga: Diet Diabetes Mellitus
Manfaat Lain Ubi Yakon: Tidak Hanya untuk Gula Darah
Selain membantu mengelola diabetes, ubi yakon juga bermanfaat untuk berbagai aspek kesehatan berikut:
- Membantu Mencegah Obesitas
Kandungan inulin dalam yakon dapat menunda rasa lapar sekaligus merangsang hormon adiponektin yang berperan dalam metabolisme lemak.
- Menurunkan Kolesterol
FOS mengikat asam empedu dan membuangnya dari tubuh. Ini mendorong hati menggunakan kolesterol dari darah untuk memproduksi asam empedu baru.
- Menjaga Kesehatan Pencernaan
Sebagai prebiotik, FOS dan inulin merangsang pertumbuhan Lactobacillus dan Bifidobacterium.¹ Proses ini menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA) yang menjaga kesehatan usus dan membantu mencegah sembelit.
- Sumber Antioksidan
Kandungan fenolik, flavonoid, dan vitamin C dalam yakon berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi sel dari efek buruk radikal bebas.⁶
- Menjaga Kesehatan Tulang
Inulin membantu penyerapan kalsium dan magnesium, dua mineral penting yang berperan dalam mencegah osteoporosis.
- Menurunkan Risiko Penyakit Jantung
Polifenol dalam yakon membantu melancarkan aliran darah dan menjaga fungsi pembuluh darah, sehingga menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.
Tips Konsumsi Ubi Yakon agar Manfaatnya Optimal

Untuk mendapatkan manfaat optimal dari ubi yakon, penting juga memperhatikan cara penyajiannya. Berikut beberapa cara sehat yang bisa kamu coba:
- Dikonsumsi mentah, kupas dan iris tipis seperti buah. Rasanya segar, manis alami, dan teksturnya renyah mirip apel atau pir.
- Diolah menjadi keripik tanpa minyak, cocok sebagai camilan sehat rendah kalori. Pilih metode pemanggangan dengan oven atau air fryer agar lebih sehat tanpa perlu menambahkan minyak.
- Dicampur dalam salad atau smoothies. Cara ini memberi sensasi renyah dan manis alami tanpa harus menambahkan pemanis buatan.
Sebisa mungkin, hindari menggoreng yakon dengan banyak minyak atau menambahkan gula berlebih. Cara tersebut justru dapat mengurangi nilai gizi dan manfaat sehat dari umbi yang kaya serat ini.
Camilan Sehat Hari Ini, Investasi Hidup Lebih Seimbang
Ubi yakon bukan sekadar ubi biasa. Ia adalah contoh sempurna bagaimana makanan alami bisa mendukung kesehatan secara menyeluruh, mulai dari pencernaan, gula darah, hingga jantung dan tulang.
Bahkan di beberapa daerah, tanaman yakon mulai dibudidayakan oleh komunitas sebagai bagian dari program pengelolaan diabetes secara mandiri.5
Makan sehat tidak selalu membosankan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk mencoba hal baru. Kalau kamu butuh camilan yang lezat, bergizi, dan tetap aman bagi penderita diabetes, yakon layak masuk daftar pilihanmu.
Yuk, lebih sadar dengan pilihan makananmu! Kesehatan bukan soal tren, tapi soal keberlanjutan hidup. Mulai dari camilan kecil hari ini, kamu sedang berinvestasi untuk masa depan yang lebih sehat.
Referensi
- Cahyaningtyas, F. D., & Wikandari, P. R. (2022). Review artikel: Potensi fruktooligosakarida dan inulin bahan pangan lokal sebagai sumber prebiotik. Unesa Journal of Chemistry, 11(2), 97–107. https://doi.org/10.26740/ujc.v11n2.p97-107
- De Souza, A. F. O., do Nascimento Filho, E., Sousa, T. L. T. L., & da Silva, C. G. M. (2021). Propriedades funcionais do yacon e atomização por diferentes agentes encapsulantes. Research, Society and Development, 10(12), e285101220422. https://doi.org/10.33448/rsd-v10i12.20422
- Gusso, A. P., Mattanna, P., & Richards, N. (2014). Yacon: Benefícios à saúde e aplicações tecnológicas. Ciência Rural, 45(5), 912–919. https://doi.org/10.1590/0103-8478cr20140963
- Nurmawati, T. N., Rahmawati, A., & Mutiara, F. (2022). Penatalaksanaan kadar gula darah tikus putih (Rattus norvegicus) model diabetes mellitus tipe 2 menggunakan rebusan umbi yakon (Smallanthus sonchifolius). Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience-Tropic), 7(2), 105–112. https://doi.org/10.33474/e-jbst.v7i2.480
- Wijayanti, R. A., Nuraini, N., Syaban, R. A., Sundari, S., & Dewi, R. D. C. (2024). Stimulasi kreativitas pengelolaan diabetes melitus pada kelompok Prolanis melalui GEMAS (Gerakan Masyarakat Anti Diabetes) dan budidaya tanaman yacon. In National Conference for Community Service (Vol. 7, pp. 283–290). https://ocs.polije.ac.id/index.php/nacosvi/article/view/179/159
- Yan, M. R., Permal, R., Quach, E., Chessum, K., & Kam, R. (2022, May). Yacon concentrate NZFOS+, its phytochemical contents, health-related properties and potential applications. In Medical Sciences Forum, 9(1), 41. https://doi.org/10.3390/msf2022009041
