Beda Besi Heme dan Non Heme

Indikator yang menentukan anemia terutama anemia gizi besi salah satunya ditunjukkan dengan kadar hemoglobin. Zat gizi yang sangat terkait yaitu zat besi dapat berasal dari besi heme dan non-heme. Mari kita simak pada artikel berikut.

Zat Besi

Besi merupakan komponen dari setiap sel hidup, secara intrinsik terlibat dalam berbagai reaksi biokimia dalam tubuh dan berhubungan dengan transportasi oksigen dan penyimpanan, energi produksi, sintesis DNA, dan transportasi elektron. Selain itu, besi juga merupakan komponen hemoglobin dalam eritrosit (sel darah merah) diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh dan dalam bentuk mioglobin, untuk penyimpanan dan penggunaan oksigen di otot. Sebagian kecil, zat besi dapat ditemukan dalam bentuk transporting iron binding protein (transferin), sedangkan sebagian kecil lagi berada dalam enzim-enzim yang berfungsi sebagai katalisator pada proses metabolisme dalam tubuh.​1​

Sebagai mineral esensial dalam tubuh yang dapat berkombinasi dengan protein sehingga mampu menerima dan melepaskan oksigen dan karbondioksida. Kandungan besi dalam tubuh orang dewasa sekitar 2,5 – 4 gram, dimana kurang lebih 2,5 gram terdapat dalam sirkulasi (sel darah merah) sebagai komponen hemoglobin. Lebih dari 65% besi tubuh ditemukan di hemoglobin, 10% ditemukan sebagai mioglobin, dan 1-5% ditemukan di sirkulasi darah atau penyimpanan.​2​

baca Artikel : Anemia Defisiensi Besi

Sumber Besi Heme dan Non Heme

Besi dalam makanan terdapat dalam dua bentuk yaitu besi heme dan non-heme. Besi heme lebih mudah diserap dari pada besi non-heme. Absorbsi besi heme bisa mencapai 10 – 30%. Dalam keadaan defisit penyerapannya bisa mencapai 40%. Besi heme tersedia 10-15% dalam diet sehari-hari yang banyak ditemukan pada makanan seperti, daging, ikan dan unggas. Sementara itu, besi non-heme sebagian besar berasal dari sumber nabati, meskipun ada beberapa dari hewani. Sumber besi non-heme ini 85-90% terdapat dalam makanan sehari-hari namun hanya 5% yang diserap. Sumber makanan yang mengandung besi non-heme diantaranya telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah-buahan. Mengonsumsi besi heme bersamaan dengan besi non-heme dapat meningkatkan absorbsi besi nonheme, karena besi heme mengandung meat fish poultry factor yang memacu absorbsi besi non-heme.​3​

Bioavailabilitas besi non-heme dipengaruhi oleh berbagai komponen diet yang dapat meningkatkan atau menghambatnya penyerapan. Penyerapan zat besi non-heme dapat dihambat oleh kalsium, phosvitin dalam kuning telur, asam fitat yang biasanya ditemukan dalam kacang-kacangan dan gandum serta zat yang mengandung polifenol seperti teh (termasuk teh herbal), kopi dan coklat. Namun, asam organik (asam sitrat, malat dan laktat), serta vitamin A, beta-karoten dan asam askorbat dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. Selain itu konsumsi protein hewani khususnya kelompok daging, ikan dan ayam juga akan meningkatkan penyerapan zat besi non-heme.​4​

Penyerapan Besi Heme dan Non Heme

Besi heme berasal dari sumber hewani yang mempunyai tingkat absorbsi dan bioavailabilitasnya tinggi. Sebelum diabsorbsi besi heme harus dihidrolisis dari bagian globin dari hemoglobin atau mioglobin. Sedangkan Besi non-heme berasal dari sumber nabati dimana tingkat absorbsi dan bioavailabilitasnya rendah.​2​

Status zat besi di dalam tubuh manusia tergantung pada penyerapan zat besi tersebut. Seseorang dengan konsumsi asupan besi heme diketahui mempunyai tingkat status besi yang baik atau kadar serum feritin yang normal dalam tubuh dibandingkan dengan asupan besi non heme. Hal ini terkait dengan efisiensi penyerapan besi heme yang lebih besar dibandingkan dengan besi non heme sehingga memungkinkan transporter besi heme untuk melewati membran sel secara langsung dan ke dalam aliran darah. Sedangkan besi non heme dalam mekanismenya harus melalui perubahan Fe3+ menjadi bentuk Fe2+ terlebih dahulu. Selain itu, konsumsi asupan zat besi non heme sangat dipengaruhi oleh inhibitor antara lain kafein, tanin, oksalat, fitat, yang terdapat dalam produk kacang-kacangan, teh, dan kopi. Sehingga seseorang dengan asupan besi non heme cenderung memiliki status besi yang kurang baik atau kadar ferritin yang lebih rendah.​5​

Salah satu kandungan dalam vitamin yang sangat membantu penyerapan besi non-heme adalah vitamin C. Kandungan vitamin C ini dapat mereduksi besi ferri menjadi ferro dalam usus halus sehingga mudah diabsorpsi dengan menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan. Absorpsi besi dalam bentuk non-heme meningkat empat kali lipat bila ada vitamin C. Akibatnya, risiko terjadinya defisiensi zat besi dapat dihindari.​6​

Lebih Lanjut : Konsumsi Vitamin C

Referensi

  1. 1.
    Mahan L, Stump S. Krause’s, Food and Nutrition Therapy. Elsevier; 2008.
  2. 2.
    Gropper S, Groff L. Advanced Nutrition and Human Metabolism. Vol 5. Wadsworth Cengage Learning; 2009.
  3. 3.
    Marcia N, Karen L, Long R. Nutrition Therapy and Phatophysiology. Vol 2. Wadsworth Cengage Learning; 2010.
  4. 4.
    Saunders AV, Craig WJ, Baines SK, Posen JS. Iron and vegetarian diets. Medical Journal of Australia. Published online June 2013. doi:10.5694/mja11.11494
  5. 5.
    Young I, Parker H, Rangan A, et al. Association between Haem and Non-Haem Iron Intake and Serum Ferritin in Healthy Young Women. Nutrients. Published online January 12, 2018:81. doi:10.3390/nu10010081
  6. 6.
    Sudoyo W, Setiyohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Vol 4. Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FK UI; 2007.

Ayu Rahadiyanti

Executive Editor Ahli Gizi ID | Lecturer | Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *