Anemia Gizi pada Remaja Putri

Tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN), tahun ini HGN bertema Remaja Sehat Bebas Anemia. Anemia masih menjadi masalah gizi bagi wanita usia subur terutama remaja putri. Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi anemia pada remaja sebesar 32%, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia.

Masalah Anemia

yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama yang mempengaruhi orang-orang di negara maju dan berkembang. Anemia dapat terjadi di semua tahap kehidupan, namun, anak-anak dan wanita usia subur (WUS) merupakan kelompok paling rentan. Ketika anemia terjadi pada anak-anak, hal itu dapat mempengaruhi kinerja kognitif dan pertumbuhan fisik mereka.​1​

Wanita memiliki peran penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia karena wanita memiliki peran dalam kehamilan dan melahirkan keturunan. Pada wanita, anemia dapat mempengaruhi kapasitas mereka untuk bekerja dan dapat menyebabkan kehamilan yang buruk. Apabila wanita mengalami anemia maka berisiko mengalami keguguran, kematian janin, kelahiran prematur, perdarahan, serta kematian ibu dan bayi.​2​ Remaja putri rentan mengalami anemia gizi, terutama besi dan asam folat karena mengalami menstruasi setiap bulannya. Kondisi tersebut membuat remaja putri kehilangan darah sekitar 0-48 mg/hari (tergantung pada aliran menstruasi), kurang asupan zat gizi, infeksi parasit seperti malaria dan kecacingan.​2​ Wanita dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) rendah <18,5 kg/m2 memiliki kemungkinan 29% lebih besar mengalami anemia dibandingkan wanita dengan IMT normal.​3​

Baca Artikel : Anemia Defisiensi Besi

Pola Makan Remaja Putri

Remaja putri biasanya sangat memperhatikan bentuk badan, sehingga banyak yang mengonsumsi makanan yang tidak adekuat. Selain itu, remaja putri mengalami peningkatan kebutuhan zat besi karena percepatan pertumbuhan (growth spurt) dan menstruasi. Akibatnya, remaja putri lebih rawan terkena masalah kesehatan, diantaranya anemia. Anemia pada remaja putri dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pola makan dan siklus menstruasi. ​4,5​

Pola makan yang rendah kandungan zat besi dan vitamin, khususnya folat, serta adanya gangguan intestinal akan mempengaruhi absorpsi zat-zat gizi ke dalam tubuh dan menimbulkan anemia. Asupan besi yang kurang pada remaja dapat disebabkan oleh pengetahuan yang kurang tentang pangan sumber zat besi dan peran zat besi bagi remaja. Status gizi mempunyai korelasi positif dengan konsentrasi hemoglobin, artinya semakin buruk status gizi seseorang maka akan semakin rendah kadar hemoglobinnya. Secara signifikan, anemia berkaitan dengan malnutrisi (underweight, stunting, wasting). Prevalensi anemia lebih tinggi di antara anak-anak yang stunting dan wanita dengan IMT rendah dibandingkan yang tidak memiliki keduanya (tidak stunting dan IMT normal).​4,5​

Selain itu, anemia pada remaja putri dipengaruhi oleh siklus menstruasi. Pola menstruasi adalah serangkaian proses menstruasi yang terdiri atas siklus menstruasi, lama pendarahan menstruasi, dan dismenorea. Wanita akan kehilangan darah akibat menstruasi sepanjang usia produktif. Jumlah darah yang hilang selama 1 periode menstruasi antara 20-25 cc. Jumlah ini menunjukkan adanya kehilangan zat besi sekitar 12,5-15 mg per bulan atau sekitar 0,4-0,5 mg dalam sehari. Panjangnya siklus menstruasi dipengaruhi oleh usia, berat badan, aktivitas fisik, tingkat stress, genetik dan gizi. Kejadian anemia pada remaja putri yang disebabkan pola menstruasi tidak baik karena jumlah darah dan frekuensi menstruasi yang berlebihan. Siklus menstruasi yang tidak teratur menyebabkan remaja putri kehilangan banyak darah dibandingkan dengan remaja yang memiliki pola menstruasi teratur.​5,6​

Lebih Lanjut : Gizi pada Remaja

Dampak Anemia pada Remaja Putri

Menurut WHO, remaja putri merupakan kelompok resiko tinggi yang mengalami anemia dibandingkan remaja putra dimana kebutuhan zat besi memuncak pada umur 14-15 tahun, sedangkan remaja putra satu atau dua tahun berikutnya. Remaja putri lebih cenderung rentan terkena anemia karena masa remaja berada pada masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi yang lebih tinggi termasuk zat besi. Dampak anemia pada remaja putri yaitu pertumbuhan terhambat, mudah terinfeksi, mengakibatkan kebugaran atau kesegaran tubuh berkurang, semangat belajar atau prestasi menurun.

Upaya pencegahan anemia pada remaja melalui suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri merupakan intervensi spesifik yang sangat strategis, untuk mempersiapkan calon ibu yang sehat melahirkan generasi penerus yang berkualitas.

Referensi

  1. 1.
    Soliman A, Kalra S, Sanctis V. Anemia and growth. Indian J Endocr Metab. Published online 2014:1. doi:10.4103/2230-8210.145038
  2. 2.
    Dieny F, Rahadiyanti A, Kurniawati D. Gizi Prakonsepsi. Bumi Medika; 2019.
  3. 3.
    Scholl TO, Hediger ML, Fischer RL, Shearer JW. Anemia vs iron deficiency: increased risk of preterm delivery in a prospective study. The American Journal of Clinical Nutrition. Published online May 1, 1992:985-988. doi:10.1093/ajcn/55.5.985
  4. 4.
    Rahman MS, Mushfiquee M, Masud MS, Howlader T. Association between malnutrition and anemia in under-five children and women of reproductive age: Evidence from Bangladesh Demographic and Health Survey 2011. Adu-Afarwuah S, ed. PLoS ONE. Published online July 3, 2019:e0219170. doi:10.1371/journal.pone.0219170
  5. 5.
    Utami B, Surjani S, Mardiyaningsih E. Hubungan Pola Makan dan Pola Menstruasi dengan Kejadian Anemia Remaja Putri. Jurnal Keperawatan Soedirman. 2015;10(2):67-75.
  6. 6.
    Priyanto LD. The Relationship of Age, Educational Background, and Physical Activity on Female Students with Anemia. JBE. Published online August 30, 2018:139. doi:10.20473/jbe.v6i22018.139-146

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: