Diare pada Anak : Pencegahan dan Penanganannya

Kondisi diare sering dialami oleh anak – anak. Bagaimana pencegahan dan penanganannya ? Mari kita simak pada artikel berikut =)

Diare

adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari. Apabila diare berlangsung 2 minggu atau lebih digolongkan pada diare kronis. ​1​Diare sering terjadi pada anak usia di bawah 2 tahun dengan insidensi tertinggi kelompok umur 6-11 bulan. Hal ini dapat disebabkan oleh penuruan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang saat bayi mulai merangkak.​2​

Faktor resiko diare dibagi menjadi tiga yaitu faktor karakteristik individu, faktor perilaku dan pencegahan dan faktor lingkungan. Faktor karakteristik individu yaitu umur balita kurang dari 24 bulan, status gizi balita dan tingkat pendidikan pengasuh balita. Perilaku pencegahan diantaranya yaitu mencuci tangan sebelum makan, mencuci peralatan makan sebelum digunakan, mencuci bahan makanan, mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, dan merebus air minum serta kebiasaan memberi makan anak di luar rumah. Lingkungan meliputi kepadatan perumahan, ketersediaan sarana air bersih (SAB), pemanfaatan SAB, dan kulitas air bersih.​2​

Baca : Metode Skrining Gizi Anak

Penyebab Diare

Penyebab terjadinya diare yaitu sebagai berikut:​3,4​
1) Infeksi (bakteri, virus atau manifestasi parasit)
Virus merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70-80%). Beberapa jenis virus penyebab diare antara lain Rotavirus, Norwalk virus, Astrovirus, dan Adenovirus. Bakteri penyebab diare adalah E.coli, Shigela sp, Helicobacter jenuni, dan Salmonella (non-thipoid). Protozoa penyebab diare adalah Gidaria lamblia, Entamoeba holystica, Cryptosporidium, Microsporidium sp, Isospora belli dan Cyclospora cayatanensis.
2) Malabsorbsi (karbohidrat, protein dan lemak)
3) Alergi (makanan dan susu sapi)
4) Keracunan
5) Imunodefisiensi

Pencegahan Diare pada Anak

Tingginya angka diare pada anak merupakan masalah yang penting di masyarakat sehingga perlu untuk dilakukan upaya pencegahan diare dengan mengedukasi orang tua, pengasuh balita dan keluarga balita. Orang tua dan pengasuh sebagai salah satu orang yang paling dekat dengan anak memiliki peran penting dalam pengendalian diare anak, baik dalam hal pencegahan maupun tatalaksana awal. Pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik dari orang tua dan pengasuh dalam pencegahan dan manajemen diare pada anak tentu berperan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat diare pada anak.​5​

Upaya pencegahan diare pada anak sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya diare, hal ini bergantung pada kebiasaan seseorang dalam menjaga kebersihan makanan dan minuman. Berikut ini merupakan tahapan pencegahan untuk mengatasi penyakit diare pada anak, dapat dilakukan dengan cara :​6​

ASI Ekslusif

ASI merupakan makanan paling baik untuk bayi, komponen zat makanan yang terkandung dalam bentuk ideal dan seimbang untuk diserap secara optimal. Sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan bayi sampai usia 6 bulan sehingga tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini. Memiliki manfaat preventif secara imunologis dengan adanya antibodi dan zat – zat lain yang terkandung di dalamnya. Pada bayi baru lahir, pemberian ASI sevara penuh memiliki manfaat 4x lebih baik dibandingkan diare dengan pemberian ASI disertai dengan susu botol.

Makanan Pendamping ASI (MPASI)

Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Beberapa saran untuk meningkatkan pemberian MP-ASI diantaranya adalah :

  • Dikenalkan dengan makanan lunak, dan diberikan sesuai usia anak
  • Menggunakan bahan makanan segar yang kemudian langsung diolah, selain itu bahan makanan yang segar memiliki kualitas yang baik dan zat gizinya masih terjaga
  • Menambahkan minyak, lemak, dan gula ke dalam MP-ASI serta biji – bijian dan kacang – kacangan untuk menambah energi. Selain itu dapat diberikan olahan susu, telur, ikan, daging, kacag, buah – buahan, dan sayuran berwarna ke dalam makanan
  • Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak
  • Menggunakan peralatan yang bersih dan steril
  • Memasak makanan dengan benar dan matang, simpan sisa makanan pada tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak

Perilaku hidup bersih sehat (PHBS)

dilakukan dengan cara :

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih
  • Menggunakan air bersih yang cukup
  • Menggunakan jamban yang sehat
  • Selalu menggunakan sandal dan alas kaki
  • Membuang tinja dengan benar
  • Suplementasi vitamin A

Lebih Lanjut : Suplementasi vitamin A

Penanganan Diare pada Anak

Berdasarkan Depkes RI (Direktorat Jenderal Pengandalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, memiliki program “LINTAS DIARE” yaitu dengan lima langkah tuntaskan diare sesuai rekomendasi WHO/UNICEF dan IDAI. Gerakan “LINTAS DIARE” ini berisi pemberian oralit, pemberian zinc selama 10 hari, menerusan pemberian ASI dan memberikan asupan makan, pemberian antibiotik selektif, serta berikan nasihat untuk orang tua dan pengasuh.​1​

Pemberian cairan dan oralit

a.) Beri Cairan Lebih Banyak dari Biasanya

  • Teruskan ASI eksklusif lebih sering dan lebih lama
  • Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, berikan susu yang biasa diminum dan oralit atau cairan rumah tangga sebagai tambahan (kuah sayur, air tajin, air matang, dan sebagainya)

b.) Berikan Oralit
Oralit merupakan campiran garam natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), trisodium sutrat dan glukosa anhidrat. Dehidrasi ringan pada kasus diare 95% dapat diperbaiki dengan mengunakan oralit atau menggunakan laurtan rehidrasi oral (ORS), sedangkan dalam kondisi dehidrasi berat yang terjadi, maka diberikan ORS via intervena.​1,7​ Diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang terbuang saat diare. Walaupun air sangat penting untuk mencegah dehidrasi, air minum tidak mengandung garam elektrolit yang diperlukan untuk keseimbangan elektolit tubuh. Campuran glukosa dan garam dalam ORALIT dapat diserap dengan baik oleh usus pada penderita diare. Oralit dapat diperoleh pada apotek, toko obat, posyandu, polindes, puskesmas pembantu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya.​1​

Penanganan yang penting dilakukan pada diare adalah mengganti cairan yang hilang, sehingga dapat diberikan cairan oralit yang dapat menghidrasi tubuh. Selain itu, berikan makanan rendah serat supaya feses lebih padat dan diare dapat berhenti. Pemberian oralit dilakukan sampai diare berhenti, bila muntah tunggu selama 10 menit dan lanjutkan sedikit demi sedikit.​1​

  • Umur <1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali BAB
  • Usia >1 tahun diberi 100-299 ml setiap kali BAB : Anak harus diberikan 6 bungkus oralit (200 ml) di rumah apabila belum diobati di puskesmas atau RS, tidak dapat kembali ke petugas kesehatan jika diare memburuk

Pemberian tablet zink selama 10 hari berturut-turut

Zink merupakan mukronutrien yang berfungsi untuk mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja. Zinc sangat aman diberikan untuk anak, karena berdasarkan penelitian sebanyak 20% lebih cepat sembuh jika diberikan zinc pada saat diare, 19-59% mengurangi jumlah tinja/feses. Suplementasi zinc dapat diperoleh dalam bentuk tablet, bubuk sachet, ataupun sirup dalam botol. Zinc merupakan mineral penting bagi tubuh, lebih dari 300 enzim pada tubuh bergantung pada zinc. Hal ini diperlukan seperti kulit dan mukosa saluran cerna, semua berperan sebagai fungsi imunitas dan menurunkan penyakit infeksi.​1​

Berikan suplementasi zinc 10 hari berturut – turut walaupun diare sudah berhenti, dapat diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan 1 sendok air matang atau ASI.

  • Umur <6 bulan diberi 10 mg (1/2 tablet per hari)
  • Umur >6 bulan diberi 20 mg (1 tablet per hari)

Catatan :
a) Bila anak muntah sekitar 30 menit setelah pemberian zinc, ulangi pemberian dengan cara memberikan potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis penuh
b) Bila anak dengan dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap berikan zinc segera setelah anak bisa minum atau makan.

Teruskan pemberian ASI dan MPASI

ASI harus diberikan pada anak yang sedang mengalami diare, sebab hal ini sangat baik untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh bayi. Apabila bayi masih mendapatkan ASI, maka berikan sebanyak yang dia mau. Jika perlu, berikan ASI sebanyak mungkin selama dia mau. Selain itu, apabila bayi sudah diberikan MP-ASI (usia 6 bulan atau lebih) makanan diberikan dalam frekuensi lebih sering.​1​
Berikan anak makanan yang sesuai dengan usia untuk mencegah kekurangan gizi.​1​
a) Beri makanan sesuai umur dan makanan yang sama ketika anak sehat
b) Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur setiap porsi makan
c) Beri makanan kaya kalium seperti buah segar, pisang, air kelapa
d) Berikan makanan lebih sering dengan porsi lebih kecil dari biasanya (diberikan setiap 3-4 jam)
e) Setelah diare berenti, beri makanan yang sama dan makanan tambahan selama 2 minggu.

Baca Artikel : Rahasia Sukses Pemberian Makan Melalui Responsive Feeding

Pemberian Antibiotik Selektif

Antibiotik hanya diberikan sesuai dengan indikasi, misalnya disentri, kolera. Pemberian antibiotik harus diberikan sesuai rekomendasi dokter, sebab hal ini lebih efektif dan tidak berbahaya jika dibandingkan diberikan sendiri karena antibiotik jika tidak dihabiskan sesuai dosis maka akan menimbulkan resistensi kuman terhadap antibiotik.​1​

Pemberian nasihat pada ibu/keluarga

Pemberian nasihat oleh tenaga kesehatan, tentang pemberian oralit, zinc, ASI/MP-ASI, dan tanda – tanda segera membawa anak ke petugas kesehatan apabila terdapat keluhan :​1​
a) Buang air besar cair lebih sering
b) Muntah berulang – ulang
c) Mengalami rasa haus
d) Timbul demam
e) Makan dan minum sangat sedikit
f) Buang air besar berdarah
g) Tidak membaik dalam 3 hari

Referensi

  1. 1.
    Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan R. Buku Saku Petugas Kesehatan: Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2011.
  2. 2.
    Utami N, Luthfiana N. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Diare pada Anak. Majority. 2016;51(4):101-106.
  3. 3.
    Widoyono W. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, Dan Pemberantasannya. 2nd ed. Erlangga; 2011.
  4. 4.
    Amin L. Tatalaksana Diare Akut . Cermin Dunia Kedokteran. 2015;42(7):504-508.
  5. 5.
    Hapsari A, Gunardi H. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Orang Tua Tentang Diare Pada Balita di RSCM Kiara. Sari Pediatr. . Sari Pediatri. 2018;19(6):316-320.
  6. 6.
    Kemenkes RI R. Situasi Diare Di Indonesia: Buletin Jendela Data Dan Informasi Kesehatan. Jakarta: Subdit Pengendalian Diare Dan Indeksi Saluran Pencernaan . Kemenkes RI; 2011.
  7. 7.
    Shanti A, Khailil S, Asiri K, Alsheri A, Deajim Y. Occurance Diarrhea Feeding Practises among Children below Two Years of Age in Southwestern Saudi Arabia. Int J Environ Res Public Health. 2020;17(22):1-10.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: