Mengulas Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi Buruk Asmat
Oleh : Mokhamad Ali Zaenal Abidin, S.Gz
Merujuk pada Suara Pembaruan (2018), setelah 2015 lalu dilapokan puluhan warga Papua di Kabupaten Nduga meninggal karena gizi buruk. Awal 2018 ini setidaknya 66 warga Papua di Kabupaten Asmat dilaporkan meninggal karena gizi buruk dan campak. Oleh karenanya Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Asmat1.
KLB Gizi Buruk Suku Asmat
Data statistik menunjukan dalam dua tahun terakhir (2016-2017) prevalensi malnutrisi meningkat di Papua. Pada 2016 sebanyak 3,2% balita mengalami gizi buruk dan meningkat menjadi 6,8% di 2017. Sedangkan balita pendek (stunting) meningkat dari 28% menjadi 32,8%. Ironisnya, cakupan imunisasi tidak naik signifikan, dari 75,3% menjadi 76,6%. Serta cakupan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) justru turun dari 21,3% menjadi 20,1%.
Khusus di Kabupaten Asmat, status gizi buruk meningkat tajam dalam dua tahun ini. Prevalensi gizi buruk naik drastis dari 4,1% menjadi 14,3%. Sedangkan balita gizi kurang (kurus) naik dari 9,5% menjadi 14,5%. Pada 2017 total ada sekitar 28,8% atau 4.200 dari total 14.685 balita di Asmat mengalami gizi buruk. Masih merujuk data yang sama, balita stunting di Asmat naik dari 24,1% menjadi 25,9%. Hal ini diperparah dengan cakupan pemberian vitamin dari pemerintah untuk intervensi masalah gizi yang menurun dari 85,1% menjadi 72,4%2.
Terjadinya KLB gizi buruk dan campak di Asmat mendorong berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk secara cepat menangani kasus ini. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Asmat segera melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak di wilayahnya. Di Distrik Suator dan Distrik Kolf Brasa melayani 933 anak; Distrik Fayit dan Aswi melayani 407 anak; Distrik Pulau Tiga melayani 487 anak; Distrik
Jetsy melayani 320 anak; dan Distrik Sirets melayani 732 anak. ORI dilakukan sebagai bagian dari standard operating procedure ketika terjadi KLB, dalam hal ini gizi buruk dan campak. Menurut Bupati Asmat, Elisa Kambu, hingga 17 Januari 2018 penderita campak di Asmat mencapai 600 orang.3
Pemerintah Pusat Turun Tangan
Pemerintah pusat juga mengirimkan tim kesehatan yang terdiri atas 39 tenaga kesehatan: 11 dokter spesialis, yakni 1 dokter spesialis bedah, spesialis kulit kelamin, spesialis anestesi, spesialis obgyn, dan spesialis gizi klinik, 3 dokter spesialis anak, 3 dokter spesialis penyakit dalam; 4 dokter umum; 3 orang perawat bedah; dan 2 orang penata anestesi. Tenaga kesehatan lainnya, yaitu tenaga gizi, tenaga kesehatan lingkungan, dan surveilans. Tim kesehatan ini bekerjasama dengan satgas kesehatan TNI yang telah dibentuk melalui instruksi Presiden Republik Indonesia.4
Bersama dengan penurunan jumlah pasien gizi buruk dan campak, melalui usulan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Asmat yang tertuang dalam surat Nomor 800/50/Dinkes/2/2018 dan merujuk pada Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010, status KLB dinyatakan berakhir per 4 Februari 2018. Saat pencabutan status KLB tersebut tersisa 12 orang pasein di RSUD setempat, terdiri dari 9 anak yang dirawat akibat gizi buruk dan 3 anak penderita campak. Kondis dinilai telah terkendaali dengan indikasi adanya vaksinasi di 224 kampung pada 23 distrik. Hingga KLB berakhir 72 orang tercatat meninggal, 8 orang meninggal di rumah sakit dan sisanya di kampung (Kemenkes, 2018).
Pasca KLB gizi buruk, edukasi tentang asupan nutrisi menjadi sangat dibutuhkan. RSUD Agast juga terus melakukan edukasi untuk mendorong perubahan asupan nutrisi warga Asmat bersamaan dengan penyembuhan pasien gizi buruk dengan komplikasi yang tersisia. Pasien yang telah sembuh disarankan untu kembali ke kampung dengan tetap berkomunikasi dengan tenaga kesehatan di wilayah kerja puskemas atau puskesmas pembantu. Hal itu juga perlu didukung dengan pemenuhan kelengkapan distribusi logistik susu dan bahan makanan bagi penderita gizi buruk. Monitoring ke kampung-kampung sangat diperlukan karena akan membantu pemantauan makanan dan mengantisipasi risiko yang mucul, seperti kelaparan dan kematian (Kemenkes, 2018).
Referensi
- 1.Suara Pembaruan. Kasus Gizi Buruk di Kabupaten Asmat Meningkat Tajam. Suara Pembaruan. http://bit.ly/suarapembaruan-giziasmat. Published 2018. Accessed 2018.
- 2.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Asmat Masih Butuh Pendampingan. Tersedia dalam. http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=18020700003. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Published 2018. Accessed 2018.
- 3.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penderita Menurun, Status KLB Campak Asmat Dicabut. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=18020600001. Published 2018. Accessed 2018.
- 4.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tangani KLB Gizi Buruk dan Campak di Asmat, Kemenkes Kirim 39 Tenaga Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=18020600001. Published 2018. Accessed 2018.