Kesehatan dan Gizi lainnya

Rumus Baru Kebutuhan Energi: Bisa Tanpa Menghitung Aktivitas Fisik?

Selama ini, menghitung kebutuhan energi harian hampir selalu melibatkan satu langkah yang dianggap wajib, yaitu menentukan faktor aktivitas fisik (FA).1

Namun, bagaimana jika pendekatan tersebut ternyata tidak selalu diperlukan? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan energi ternyata bisa diprediksi tanpa harus menentukan FA secara langsung.

Pendekatan ini tidak hanya menawarkan cara baru dalam menghitung kalori, tetapi juga membuka sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana tubuh menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Perhitungan Energi Selama Ini Juga Bergantung pada Aktivitas?

Dalam praktik gizi, kebutuhan energi biasanya dihitung dengan rumus:

TEE = BMR × Faktor Aktivitas

  • BMR adalah kebutuhan energi basal saat tubuh beristirahat
  • Faktor aktivitas (FA) mencerminkan tingkat aktivitas fisik harian2

Masalahnya, dalam menentukan FA tidak selalu mudah. Aktivitas seseorang bisa sangat beragam dan tidak selalu tercermin hanya dari olahraga. Banyak orang yang aktif bekerja secara fisik, tetapi tidak berolahraga, atau sebaliknya.

Akibatnya, nilai FA yang digunakan sering kali hanya berupa perkiraan yang belum tentu benar-benar mewakili kondisi sebenarnya.

Meskipun saat ini penentuan FA bisa lebih presisi lagi dengan menggunakan pendekatan baru yaitu kombinasi antara FA saat bekerja dan waktu luang (Baca artikel: Cara Baru Menentukan Aktivitas Fisik untuk Kebutuhan Energi: Kombinasi Aktivitas Kerja dan Waktu Luang).

Akan tetapi, hal tersebut masih memiliki risiko kesalahan sistematis akibat ketidaksesuaian menentukan level aktivitas fisik karena dalam penentuannya sangat subjektif tergantung interpretasi ahli gizi.

Pendekatan Baru: Tidak Lagi Memasukkan FA Secara Langsung

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food menawarkan pendekatan yang berbeda dan lebih objektif.3

Alih-alih menghitung kebutuhan energi melalui BMR dan FA, model ini justru langsung memprediksi total kebutuhan energi harian (TEE) menggunakan persamaan statistik.

Model ini dikembangkan dari ribuan data pengukuran energi menggunakan metode Doubly Labeled Water (DLW), yang dikenal sebagai salah satu metode paling akurat (gold standard) untuk mengukur pengeluaran energi dalam kondisi nyata.4

Apa Saja yang Diperhitungkan?

Sumber: Freepik

Dalam model ini, beberapa faktor dasar tetap digunakan, seperti:

  • berat badan
  • tinggi badan
  • usia
  • jenis kelamin
  • elevasi tempat tinggal
  • latar belakang populasi (dalam kondisi tertentu)

Satu hal yang menarik, yakni tidak ada variabel aktivitas fisik atau FA yang dimasukkan secara langsung ke dalam rumus.

Namun, bukan berarti aktivitas fisik diabaikan. Model ini dikembangkan dari data ribuan orang dengan tingkat aktivitas yang berbeda-beda, mulai dari yang jarang bergerak hingga yang sangat aktif. Dengan demikian, pengaruh aktivitas tetap “terwakili” di dalam model ini, meskipun tidak dimasukkan secara langsung dalam bentuk angka seperti FA.

Seperti Apa Rumusnya?

Jika dilihat secara lengkap, rumus ini memang melibatkan beberapa komponen matematis dengan variabel seperti berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin.

Sumber: Bajunaid, R., Niu, C., Hambly, C. et al. Predictive equation derived from 6,497 doubly labelled water measurements enables the detection of erroneous self-reported energy intake. Nat Food 6, 58–71 (2025).

Rumus ini dikembangkan dari data pengukuran energi dalam jumlah besar, sehingga mampu digunakan untuk memperkirakan kebutuhan energi harian secara langsung.

Dalam praktiknya, perhitungan dapat dilakukan secara manual maupun dengan bantuan alat seperti kalkulator atau aplikasi, tergantung kebutuhan dan tujuan penggunaannya.

Apa Bedanya dengan Metode yang Selama Ini Digunakan?

Perbedaan utama terletak pada cara memposisikan aktivitas fisik dalam perhitungan kebutuhan energi.

Pada pendekatan yang selama ini digunakan, aktivitas fisik dinyatakan dalam bentuk angka FA, yang kemudian dikalikan dengan BMR untuk mendapatkan kebutuhan energi harian.5

Berbeda dengan itu, pendekatan baru tidak lagi memasukkan aktivitas fisik dalam bentuk angka tersendiri. Sebaliknya, berbagai faktor seperti berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin dimasukkan bersama dalam satu model yang langsung menghasilkan estimasi kebutuhan energi harian.

Model ini dikembangkan dari data banyak individu dengan tingkat aktivitas yang beragam, sehingga pola pengaruh aktivitas terhadap kebutuhan energi sudah tercermin di dalamnya. Oleh karena itu, aktivitas fisik tidak perlu lagi dimasukkan secara terpisah dalam bentuk angka seperti FA.

Apa Kelebihan Pendekatan Ini?

Beberapa hal yang menjadi keunggulan dari pendekatan ini antara lain:

  • Tidak perlu menentukan FA secara manual
  • Menggunakan data dari metode pengukuran energi yang akurat (DLW)
  • Dikembangkan dari dataset besar dengan variasi aktivitas yang luas
  • Dapat membantu membandingkan antara kebutuhan energi tubuh dan asupan energi harian, sehingga terlihat apakah keduanya sudah sesuai atau belum.

Namun, penting untuk dipahami bahwa hasil yang diperoleh tetap merupakan estimasi, bukan angka pasti.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Meskipun menawarkan pendekatan baru, model ini tetap memiliki keterbatasan.

Beberapa kondisi mungkin tidak sepenuhnya terwakili, seperti:

  • aktivitas fisik ekstrem
  • kondisi khusus tertentu
  • hasil akhir masih dalam megajoule, bukan kilokalori, sehingga masih harus dikonversi

Selain itu, seperti metode lainnya, hasil perhitungan tetap memiliki kemungkinan selisih dari kebutuhan energi sebenarnya.

Oleh karena itu, penggunaan hasil perhitungan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi individu, misalnya melalui pemantauan berat badan atau respons tubuh.6

Apa Artinya bagi Praktik Gizi?

Pendekatan ini menunjukkan bahwa perhitungan kebutuhan energi terus berkembang. Metode seperti BMR × FA masih digunakan dan tetap bermanfaat dalam banyak situasi. Namun, pendekatan baru ini memberikan alternatif cara pandang, terutama dalam memahami bahwa aktivitas fisik tidak selalu mudah diringkas menjadi satu angka.

Perhitungan kebutuhan energi tidak selalu harus bergantung pada penentuan aktivitas fisik secara manual. Pendekatan terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan energi dapat diprediksi secara langsung melalui model berbasis data besar, tanpa memasukkan PAL secara eksplisit dalam perhitungan.

Meski demikian, baik metode lama maupun pendekatan baru tetap memiliki peran masing-masing. Hal terpenting adalah memahami bahwa kebutuhan energi bersifat dinamis dan perlu dievaluasi secara berkala.

Baca juga: Cara Baru Menentukan Aktivitas Fisik untuk Kebutuhan Energi: Kombinasi Aktivitas Kerja dan Waktu Luang

Referensi

  1. Kapri, E., Dey, S., Mehta, M., Deshpande, N., & Zemková, E. (2023). Analisis Pola Aktivitas Harian untuk Memperkirakan Tingkat Aktivitas Fisik dan Pengeluaran Energi Atlet Elit dan Non-Elit. Ilmu Terapan, 13 (5), 2763. https://doi.org/10.3390/app13052763 ↩︎
  2. Banerjee, S. (2022). Diet and physical activities: Knowledge of energy balance. Journal of Preventive Medicine and Holistic Health, 8(1), 1–2. https://doi.org/10.18231/j.jpmhh.2022.001 ↩︎
  3. Bajunaid, R., Niu, C., Hambly, C. et al. Predictive equation derived from 6,497 doubly labelled water measurements enables the detection of erroneous self-reported energy intake. Nat Food 6, 58–71 (2025). https://doi.org/10.1038/s43016-024-01089-5 ↩︎
  4. Yasukata, J., Yamada, Y., Sagayama, H., Higaki, Y., & Tanaka, H. (2022). Relationship between Measured Aerobic Capacity and Total Energy Expenditure Obtained by the Doubly Labeled Water Method in Community-Dwelling, Healthy Adults Aged 81–94 Years. Geriatrics, 7(2), 48. https://doi.org/10.3390/geriatrics7020048 ↩︎
  5. Bisma, R., Nerisafitra, P., & Utami, A. W. (2021). Perancangan sistem perhitungan kebutuhan kalori sebagai pendamping gaya hidup sehat. Journal of Emerging Information Systems and Business Intelligence, 2(4). ↩︎
  6. Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2004). Human energy requirements: Report of a joint FAO/WHO/UNU expert consultation. FAO. https://www.fao.org/4/y5686e/y5686e04.htm ↩︎

Reviewer: Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H.

Dewi Rizky Purnama

Recent Posts

Lebaran Tanpa Khilaf: Tips Menikmati Hidangan agar Tidak Overeating

Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…

3 days ago

Mengenal ‘Fibermaxxing’: Tren Baru yang Membuat Asupan Serat Kembali Jadi Perhatian

Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…

2 weeks ago

GLP-1: “Terapi Penurun BB” yang Sedang Mendunia, Benarkah Aman dan Efektif?

Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…

3 weeks ago

Tanpa Sadar, Lingkunganmu Menentukan “Isi Piringmu”

Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…

4 weeks ago

Benarkah Teh Hijau Bisa Menurunkan Berat Badan?

Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…

1 month ago

Kalsium dan Mood: Kenapa Asupan Mineral Ini Penting untuk Kesehatan Jiwa?

Pernah merasa suasana hati mudah berubah, cemas, atau bahkan kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas?…

1 month ago