Sumber: Freepik
Selama ini, menghitung kebutuhan energi harian hampir selalu melibatkan satu langkah yang dianggap wajib, yaitu menentukan faktor aktivitas fisik (FA).1
Namun, bagaimana jika pendekatan tersebut ternyata tidak selalu diperlukan? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan energi ternyata bisa diprediksi tanpa harus menentukan FA secara langsung.
Pendekatan ini tidak hanya menawarkan cara baru dalam menghitung kalori, tetapi juga membuka sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana tubuh menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam praktik gizi, kebutuhan energi biasanya dihitung dengan rumus:
TEE = BMR × Faktor Aktivitas
Masalahnya, dalam menentukan FA tidak selalu mudah. Aktivitas seseorang bisa sangat beragam dan tidak selalu tercermin hanya dari olahraga. Banyak orang yang aktif bekerja secara fisik, tetapi tidak berolahraga, atau sebaliknya.
Akibatnya, nilai FA yang digunakan sering kali hanya berupa perkiraan yang belum tentu benar-benar mewakili kondisi sebenarnya.
Meskipun saat ini penentuan FA bisa lebih presisi lagi dengan menggunakan pendekatan baru yaitu kombinasi antara FA saat bekerja dan waktu luang (Baca artikel: Cara Baru Menentukan Aktivitas Fisik untuk Kebutuhan Energi: Kombinasi Aktivitas Kerja dan Waktu Luang).
Akan tetapi, hal tersebut masih memiliki risiko kesalahan sistematis akibat ketidaksesuaian menentukan level aktivitas fisik karena dalam penentuannya sangat subjektif tergantung interpretasi ahli gizi.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food menawarkan pendekatan yang berbeda dan lebih objektif.3
Alih-alih menghitung kebutuhan energi melalui BMR dan FA, model ini justru langsung memprediksi total kebutuhan energi harian (TEE) menggunakan persamaan statistik.
Model ini dikembangkan dari ribuan data pengukuran energi menggunakan metode Doubly Labeled Water (DLW), yang dikenal sebagai salah satu metode paling akurat (gold standard) untuk mengukur pengeluaran energi dalam kondisi nyata.4
Dalam model ini, beberapa faktor dasar tetap digunakan, seperti:
Satu hal yang menarik, yakni tidak ada variabel aktivitas fisik atau FA yang dimasukkan secara langsung ke dalam rumus.
Namun, bukan berarti aktivitas fisik diabaikan. Model ini dikembangkan dari data ribuan orang dengan tingkat aktivitas yang berbeda-beda, mulai dari yang jarang bergerak hingga yang sangat aktif. Dengan demikian, pengaruh aktivitas tetap “terwakili” di dalam model ini, meskipun tidak dimasukkan secara langsung dalam bentuk angka seperti FA.
Jika dilihat secara lengkap, rumus ini memang melibatkan beberapa komponen matematis dengan variabel seperti berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin.
Rumus ini dikembangkan dari data pengukuran energi dalam jumlah besar, sehingga mampu digunakan untuk memperkirakan kebutuhan energi harian secara langsung.
Dalam praktiknya, perhitungan dapat dilakukan secara manual maupun dengan bantuan alat seperti kalkulator atau aplikasi, tergantung kebutuhan dan tujuan penggunaannya.
Perbedaan utama terletak pada cara memposisikan aktivitas fisik dalam perhitungan kebutuhan energi.
Pada pendekatan yang selama ini digunakan, aktivitas fisik dinyatakan dalam bentuk angka FA, yang kemudian dikalikan dengan BMR untuk mendapatkan kebutuhan energi harian.5
Berbeda dengan itu, pendekatan baru tidak lagi memasukkan aktivitas fisik dalam bentuk angka tersendiri. Sebaliknya, berbagai faktor seperti berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin dimasukkan bersama dalam satu model yang langsung menghasilkan estimasi kebutuhan energi harian.
Model ini dikembangkan dari data banyak individu dengan tingkat aktivitas yang beragam, sehingga pola pengaruh aktivitas terhadap kebutuhan energi sudah tercermin di dalamnya. Oleh karena itu, aktivitas fisik tidak perlu lagi dimasukkan secara terpisah dalam bentuk angka seperti FA.
Beberapa hal yang menjadi keunggulan dari pendekatan ini antara lain:
Namun, penting untuk dipahami bahwa hasil yang diperoleh tetap merupakan estimasi, bukan angka pasti.
Meskipun menawarkan pendekatan baru, model ini tetap memiliki keterbatasan.
Beberapa kondisi mungkin tidak sepenuhnya terwakili, seperti:
Selain itu, seperti metode lainnya, hasil perhitungan tetap memiliki kemungkinan selisih dari kebutuhan energi sebenarnya.
Oleh karena itu, penggunaan hasil perhitungan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi individu, misalnya melalui pemantauan berat badan atau respons tubuh.6
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perhitungan kebutuhan energi terus berkembang. Metode seperti BMR × FA masih digunakan dan tetap bermanfaat dalam banyak situasi. Namun, pendekatan baru ini memberikan alternatif cara pandang, terutama dalam memahami bahwa aktivitas fisik tidak selalu mudah diringkas menjadi satu angka.
Perhitungan kebutuhan energi tidak selalu harus bergantung pada penentuan aktivitas fisik secara manual. Pendekatan terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan energi dapat diprediksi secara langsung melalui model berbasis data besar, tanpa memasukkan PAL secara eksplisit dalam perhitungan.
Meski demikian, baik metode lama maupun pendekatan baru tetap memiliki peran masing-masing. Hal terpenting adalah memahami bahwa kebutuhan energi bersifat dinamis dan perlu dievaluasi secara berkala.
Reviewer: Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H.
Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…
Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…
Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…
Pernah merasa suasana hati mudah berubah, cemas, atau bahkan kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas?…