Sumber: Pixabay
Berapa sebenarnya kebutuhan energi tubuh kita setiap hari? Bagi sebagian besar ahli gizi, pertanyaan ini biasanya akan dijawab dengan menghitung Total Energy Expenditure (TEE) atau total kebutuhan energi harian. Salah satu komponen penting dalam perhitungan ini adalah faktor aktivitas fisik atau Physical Activity Level (PAL).1
Dalam banyak panduan gizi, PAL biasanya dipilih dari angka sederhana seperti:2
Pendekatan ini mungkin terlihat cukup praktis. Namun dalam kehidupan nyata, aktivitas manusia ternyata tidak sesederhana memilih salah satu dari angka tersebut.
Seseorang bisa saja jarang berolahraga, tetapi pekerjaannya sangat aktif. Sebaliknya, ada juga orang yang rutin olahraga, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan untuk duduk di depan komputer.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open Sport & Exercise Medicine mencoba melihat hal ini lebih dalam. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa menilai aktivitas fisik sebaiknya tidak hanya melihat dari sisi olahraga, tetapi juga aktivitas saat bekerja dan sehari-hari lainnya.3
Dalam ilmu gizi, kebutuhan energi total biasanya dihitung menggunakan rumus:
TEE = BMR × PAL
Di mana:
PAL berfungsi sebagai pengali yang menyesuaikan kebutuhan energi berdasarkan aktivitas.4
Sebagai contoh sederhana:
Namun, angka-angka ini sering kali terlalu umum untuk menggambarkan variasi aktivitas manusia.
Baca juga: Penggunaan Glukosa Selama Aktivitas Fisik
Banyak orang mengira aktivitas fisik hanya berarti olahraga. Padahal, aktivitas fisik bisa terdiri dari beberapa komponen, seperti:5
Misalnya, seorang pekerja kantor yang hanya melakukan jogging tiga kali seminggu terlihat aktif jika hanya melihat olahraga. Sebaliknya, seorang pekerja konstruksi yang tidak rutin olahraga mungkin tampak kurang aktif.
Padahal, pekerja konstruksi yang pekerjaannya melibatkan banyak gerakan sepanjang hari, pengeluaran energinya bisa jadi lebih tinggi dibanding pekerja kantoran.
Inilah alasan mengapa beberapa metode penilaian aktivitas modern mulai menggabungkan aktivitas kerja dan aktivitas di waktu luang lainnya.
Salah satu metode yang digunakan dalam penelitian terbaru adalah Saltin-Grimby Physical Activity Level Scale (SGPALS).1
Metode ini menilai aktivitas dari dua sisi utama, yaitu:
Kombinasi kedua jenis aktivitas ini menghasilkan kategori aktivitas yang lebih realistis beserta nilai PAL yang sesuai.
Misalnya:
Dengan pendekatan ini, penilaian aktivitas tidak hanya didasarkan pada seberapa sering seseorang berolahraga, tetapi juga memperhitungkan aktivitas yang dilakukan sepanjang hari, baik saat bekerja maupun di waktu luang.
Penentuan tingkat aktivitas seseorang memang bisa membantu memperkirakan kebutuhan energi harian, tetapi penting diingat bahwa perhitungan ini tetap bersifat estimasi.
Aktivitas fisik bukan hanya olahraga rutin. Banyak orang mungkin merasa cukup aktif padahal sebagian besar waktunya dihabiskan hanya dengan duduk.
Dengan kata lain, faktor aktivitas (PAL) lebih berguna untuk mengelompokkan tingkat aktivitas menjadi ringan, sedang, atau berat, tetapi tidak bisa menjamin angka kebutuhan energi yang sangat presisi.
Oleh karena itu, perhitungan TEE sebaiknya tetap dievaluasi bersama kondisi nyata individu, misalnya dengan memperhatikan perubahan berat badan atau energi harian yang dirasakan.
Dari penelitian terbaru, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diterapkan dalam praktik gizi.
Pekerjaan yang melibatkan banyak gerakan dapat meningkatkan pengeluaran energi secara signifikan.
PAL membantu memperkirakan kebutuhan energi, tetapi nilainya tetap perlu dievaluasi berdasarkan kondisi individu.
Perilaku duduk terlalu lama merupakan salah satu faktor risiko berbagai penyakit kronis.
Oleh karena itu, perhitungan kebutuhan energi sering kali perlu dievaluasi kembali setelah melihat respons tubuh, misalnya melalui perubahan berat badan atau komposisi tubuh.
Perhitungan kebutuhan energi tidak sesederhana memilih angka faktor aktivitas dari tabel.
Aktivitas seseorang bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk pekerjaan, aktivitas harian, dan olahraga. Dengan mempertimbangkan kombinasi aktivitas kerja dan aktivitas waktu luang, penilaian tingkat aktivitas bisa menjadi lebih realistis.
Pendekatan ini tentunya membantu ahli gizi dan praktisi kesehatan lainnya untuk memperkirakan kebutuhan energi dengan lebih baik, meskipun angka yang dihasilkan tetap merupakan estimasi yang perlu dievaluasi secara berkala.
Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…
Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…
Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…
Pernah merasa suasana hati mudah berubah, cemas, atau bahkan kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas?…