Sumber: magnific.com
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering mengira bahwa pilihan makan sepenuhnya berasal dari diri sendiri. Padahal, tanpa disadari, lingkungan di sekitar kita punya peran besar dalam menentukan apa yang akhirnya kita konsumsi. Mulai dari apa yang tersedia, mudah dijangkau, hingga yang sering kita lihat setiap hari. Sering kali, hal-hal tersebut justru lebih kuat daripada niat kita sendiri.
Coba perhatikan sekeliling, berapa banyak pilihan makanan cepat saji dibandingkan tempat yang menjual buah dan sayur segar? Tanpa sadar, kita sering kali makan bukan karena lapar, tapi karena mudah dijangkau.
Warung, minimarket, restoran cepat saji, hingga pedagang kaki lima yang menawarkan makanan tinggi gula, garam, dan lemak kini semakin mudah ditemui di sekitar kita. Pilihan ini terasa praktis, cepat, dan akhirnya lebih sering dipilih. Berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa lingkungan dengan banyak pilihan makanan tidak sehat cenderung mendorong konsumsi berlebih. Sementara itu, ketersediaan makanan sehatlah yang justru berkaitan dengan pola makan yang lebih baik.1
Di Indonesia, kondisi ini semakin terlihat di wilayah perkotaan, di mana pilihan makanan praktis semakin melimpah. Akibatnya, terutama pada remaja, makanan tinggi kalori sering kali menjadi pilihan utama, bukan karena diinginkan, tapi karena paling mudah didapat.2
Di era digital, lingkungan tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga mencakup ruang virtual. Media sosial dan aplikasi pesan-antar makanan (food delivery) perlahan membentuk cara kita melihat dan memilih makanan. Tanpa sadar, melihat foto makanan yang menggugah selera bisa memicu keinginan makan, bahkan ketika kita sebenarnya tidak lapar. Otak merespons rangsangan visual tersebut seolah-olah sinyal untuk makan.3
Dalam beberapa tahun terakhir, tren ini semakin terlihat. Misalnya melalui paparan konten makanan di media sosial, terutama yang tinggi kalori, dapat meningkatkan keinginan makan dan mendorong perilaku yang lebih impulsif, khususnya pada remaja dan usia muda. Ditambah lagi, algoritma yang terus menampilkan iklan dan promo makanan membuat kita semakin sering terpapar pilihan yang sama.4
Di Indonesia, fenomena ini semakin terasa seiring meningkatnya penggunaan aplikasi food delivery.5 Kemudahan akses, promo menarik, dan tampilan visual yang menggoda membuat makanan cepat saji dan minuman manis menjadi pilihan yang semakin sering dikonsumsi, terutama pada usia muda.
Baca juga: Stop Makan Sambil Scroll! Ini Alasan Mindful Eating Berperan dalam Membentuk Pola Makan
Pilihan makan ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh diri sendiri, tetapi juga oleh orang- orang di sekitar kita.
Sejak kecil, keluarga membentuk kebiasaan makan kita, mulai dari apa yang tersedia di rumah hingga bagaimana pola makan sehari-hari. Seiring bertambahnya usia, pengaruh teman sebaya juga semakin besar. Kita cenderung menyesuaikan pilihan makan dengan lingkungan sosial, entah itu saat makan bersama atau sekadar mengikuti kebiasaan yang dianggap “normal”.6
Tanpa disadari, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji atau minuman manis terbentuk karena lingkungan sekitar kita. Di Indonesia, beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja yang berada di lingkungan dengan pola makan kurang sehat cenderung memiliki kebiasaan yang serupa.6
Pilihan makanan tidak selalu sepenuhnya ditentukan oleh keinginan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan tempat tinggal. Bagi sebagian orang, makanan sehat seperti buah, sayur, dan sumber protein berkualitas bisa jadi lebih mahal atau tidak selalu mudah dijangkau. Sebaliknya, makanan instan atau ultra-processed food (UPF) yang tinggi gula, garam, dan lemak justru lebih murah, praktis, dan mudah diakses.
Kondisi ini membuat sebagian orang seolah “terpaksa” memilih makanan yang kurang sehat, bukan karena tidak tahu, tetapi karena keterbatasan pilihan.2 Di Indonesia, ketimpangan akses terhadap pangan bergizi masih menjadi tantangan, terutama di tengah perubahan gaya hidup dan sistem pangan yang semakin modern.
Meskipun lingkungan memiliki pengaruh besar, bukan berarti kita sepenuhnya kehilangan kendali atas pilihan makan. Kesadaran menjadi kunci untuk mulai mengambil kembali kontrol tersebut. Dengan memahami bagaimana lingkungan fisik, digital, maupun sosial memengaruhi perilaku makan, kita bisa mulai lebih peka terhadap keputusan yang kita ambil setiap hari.
Penelitian dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa peningkatan food literacy atau literasi gizi dan kemampuan mengelola lingkungan pribadi dapat membantu membentuk pilihan makan yang lebih sehat. Perubahan tidak harus besar, langkah sederhana seperti merencanakan makan, lebih selektif terhadap paparan konten makanan, serta mengenali sinyal lapar dan kenyang tubuh dapat menjadi awal yang baik.2
Perubahan tidak harus drastis. Justru, langkah kecil yang konsisten sering kali lebih efektif. Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dicoba:
Sediakan buah atau camilan sehat di rumah. Apa yang terlihat dan mudah dijangkau cenderung lebih sering kita pilih.
Coba kurangi melihat konten makanan yang bikin “lapar mata”. Hal kecil seperti mute atau unfollow akun tertentu bisa membantu.
Tunda 10–15 menit sebelum memesan makanan. Cara ini bisa membantu membedakan antara lapar sungguhan dan sekadar keinginan sesaat.
Misalnya dengan membawa bekal atau menentukan menu sebelum lapar. Saat pilihan sehat jadi yang paling mudah, kita lebih mungkin memilihnya.
Alih-alih dihindari, gunakan fitur filter atau pilih menu yang lebih seimbang saat memesan makanan.5
Pada akhirnya, mungkin kita tidak bisa mengubah semua yang ada di sekitar kita. Namun, kita selalu punya ruang untuk lebih sadar terhadap pilihan yang kita buat. Dari kesadaran itu, pelan-pelan kita bisa membentuk kebiasaan yang lebih baik. Perlu dipahami bersama bahwa sering kali, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru menjadi awal dari perubahan yang lebih besar, termasuk apa yang kita pilih untuk mengisi piring setiap hari.
Baca juga: Kompleksitas Diet: Makanan Apa yang Benar-Benar Berdampak untuk Kesehatan?
Editor: Dewi Rizky Purnama, S.Gz
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…
Pernah merasa suasana hati mudah berubah, cemas, atau bahkan kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas?…
Banyak orang yang ingin menurunkan berat badan akhirnya beralih dari roti tawar putih ke roti…
Banyak orang mengira semua yogurt itu sehat. Sayangnya, tidak selalu begitu. Banyak produk yogurt di…
Selama ini, menghitung kebutuhan energi harian hampir selalu melibatkan satu langkah yang dianggap wajib, yaitu…
Berapa sebenarnya kebutuhan energi tubuh kita setiap hari? Bagi sebagian besar ahli gizi, pertanyaan ini…