Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menempatkan susu sebagai salah satu sumber protein hewani yang direkomendasikan, mudah didistribusikan dan bernilai gizi cukup baik. Namun, ada satu ketentuan penting, bahwa susu yang direkomendasikan adalah susu UHT plain, bukan susu berperisa atau yang mengandung pemanis tambahan.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Pertimbangan pemilihan susu plain terutama berkaitan dengan kualitas gizi dan batasan gula tambahan. Di luar itu, ada isu terkait yang juga perlu diperhatikan dalam distribusi susu MBG, yaitu tingginya angka intoleransi laktosa pada sebagian masyarakat Indonesia.
Susu cair plain adalah susu cair yang berasal dari susu segar, dengan kemungkinan penambahan bahan pangan lain selama tidak mengubah rasa atau aromanya.1 Artinya, bahan tambahan seperti perisa cokelat, stroberi, atau flavor lain tidak diperbolehkan karena dapat memberikan rasa tertentu.
Susu plain dipilih karena mempertimbangkan keamanan, kualitas gizi, dan dampak jangka panjang terhadap kebiasaan makan anak. Berikut beberapa alasannya.
Salah satu alasan paling mendasar memilih susu plain adalah ketiadaan gula tambahan. Penelitian menunjukkan bahwa kandungan gula dalam susu plain berada di kisaran 4,14 g/100 mL, sedangkan susu berperisa dapat mencapai 8,85 g/100 mL akibat penambahan pemanis.5
Sejumlah studi menunjukkan bahwa susu plain umumnya memiliki energi, lemak total, dan protein yang sedikit lebih tinggi per sajian dibandingkan susu berperisa, sedangkan susu berperisa memiliki karbohidrat lebih besar karena tambahan gula.² Perbedaan ini tampak kecil, tetapi bila dikonsumsi setiap hari dalam program berskala nasional seperti MBG, dampaknya bisa berarti.
Pedoman minuman sehat untuk anak, termasuk Healthy Beverage Consumption in Early Childhood, juga merekomendasikan susu tanpa perisa karena susu berperisa berkontribusi pada peningkatan asupan gula tambahan yang berdampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang.3,4
Gula tambahan yang lebih tinggi pada susu berperisa dapat meningkatkan risiko:
Oleh karena itu, pemilihan susu UHT plain dapat membantu menjaga asupan gula anak tetap terkendali tanpa mengurangi kualitas gizinya.
Meskipun susu berperisa kerap lebih disukai sebagian anak karena rasanya yang manis, produk ini justru memiliki risiko food waste yang lebih tinggi. Beberapa formulasi memiliki rasa yang terlalu kuat, sehingga sebagian anak menolaknya atau hanya meminumnya sebagian.
Sebaliknya, susu plain memiliki rasa yang lebih netral dan dapat diterima oleh berbagai kelompok umur, sehingga peluang penolakan menjadi lebih rendah.
Literatur juga menunjukkan bahwa susu berperisa cenderung memiliki umur simpan yang lebih pendek karena tambahan perisa dapat memengaruhi stabilitas produk, yang pada akhirnya meningkatkan potensi limbah pangan.⁶
Berdasarkan kajian pangan, susu berperisa umumnya dikategorikan sebagai Ultra-Processed Food (UPF) karena mengandung aditif seperti perisa, pewarna, penstabil, atau pemanis. Konsumsi UPF dikaitkan dengan banyak dampak kesehatan negatif, mulai dari inflamasi, penambahan berat badan, hingga risiko penyakit kronis.6,7
Sebaliknya, susu UHT plain termasuk ke dalam minimally processed food, sehingga lebih sejalan dengan semangat MBG yang mendorong konsumsi pangan bergizi, sederhana, dan tidak banyak diproses.
Di balik semua keunggulan susu plain, ada satu isu yang tidak bisa diabaikan, yaitu intoleransi laktosa. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa prevalensi intoleransi laktosa di Indonesia tergolong tinggi, di samping adanya risiko alergi susu serta potensi kontaminasi jika susu tidak disimpan atau disajikan dengan benar.8
Temuan ini sejalan dengan penelitian pada anak Indonesia yang menunjukkan bahwa malabsorpsi laktosa dialami oleh 20,8% anak usia 3–5 tahun dan meningkat menjadi 35,3% pada anak usia 6–12 tahun.9
Secara global, penelitian juga menunjukkan bahwa intoleransi laktosa cenderung lebih tinggi pada populasi tertentu karena faktor genetik.10
Di antara anak yang mengalami malabsorpsi ini, gejala yang paling sering muncul adalah diare, nyeri perut, dan mual. Jika kondisi tersebut terjadi pada banyak anak secara bersamaan, dampaknya bisa cukup luas. Mulai dari ketidaknyamanan saat sekolah, ketidakhadiran akibat keluhan pencernaan, hingga munculnya stigma negatif seperti “susu MBG bikin sakit perut.”
Selain itu, distribusi dan penanganan produk susu juga menjadi tantangan tersendiri dalam program berskala nasional. Susu UHT plain memerlukan penyimpanan yang terlindung dari panas berlebih, serta proses distribusi yang memastikan kemasan tidak rusak atau bocor.
Jika tidak ditangani dengan baik, maka risiko kontaminasi, perubahan kualitas, dan pemborosan produk bisa meningkat. Hal ini membuat monitoring penyimpanan dan handling di setiap SPPG maupun titik distribusi menjadi tantangan yang sulit dalam pelaksanaan MBG.
Susu plain masih tetap cocok dimasukkan dalam menu MBG, dan menjadi pilihan paling rasional berdasarkan:
Namun, program ini perlu menyadari bahwa tidak semua anak dapat menerima susu dengan nyaman, sehingga dibutuhkan mitigasi risiko.
Penting dipahami juga bahwa ketidaknyamanan setelah minum susu bukan berarti anak harus berhenti mengonsumsi produk susu sama sekali. Ada banyak cara aman untuk tetap mendapatkan manfaat gizinya tanpa memperburuk gejala.
Menurut penelitian, banyak individu masih dapat mentoleransi 12–15 gram laktosa per hari.11 Alternatif seperti minuman nabati berbasis kedelai juga memiliki kandungan kalsium yang sebanding.12 sementara probiotik dan produk fermentasi dapat membantu meredakan gejala.13
Selain itu, Kemenkes menegaskan bahwa susu hanyalah salah satu sumber protein. Dalam kelompok lauk pauk, sumber protein yang bisa menggantikannya yakni seperti ikan, telur, daging, unggas, serta kacang-kacangan dan hasil olahannya.8 Artinya, pangan bergizi lain juga dapat mencukupi kebutuhan anak.
Untuk memastikan program ini tetap inklusif, pihak MBG dan sekolah dapat melakukan monitoring sederhana terhadap keluhan pencernaan, serta memberikan edukasi kepada orang tua dan guru bahwa ketidaknyamanan setelah minum susu lebih sering disebabkan intoleransi laktosa dan bukan reaksi berbahaya.
Sebagai kesimpulan, susu plain direkomendasikan di MBG bukan hanya karena lebih sehat dan minim gula, tetapi juga karena lebih sejalan dengan prinsip pangan bergizi sederhana.
Namun di sisi lain, intoleransi laktosa adalah kenyataan yang perlu diperhatikan. Melalui monitoring keluhan, edukasi, dan opsi alternatif, program ini dapat berjalan lebih inklusif sekaligus menjaga kenyamanan penerima manfaat.
Baca Juga: Menu Lokal Jadi Andalan MBG! Bagaimana Fakta di Lapangan?
Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…
Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…
Pernah merasa suasana hati mudah berubah, cemas, atau bahkan kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas?…
Banyak orang yang ingin menurunkan berat badan akhirnya beralih dari roti tawar putih ke roti…