Kesehatan dan Gizi lainnya

Benarkah Kangkung Bisa Membuat Kita Mengantuk Setelah Makan?

Pernah mendengar anggapan bahwa makan kangkung bisa membuat kita mengantuk? Bahkan, tidak sedikit orang yang mengaitkan rasa kantuk setelah makan siang dengan kangkung yang baru saja dikonsumsi.

Anggapan ini menarik karena ternyata bukan sekadar muncul tanpa dasar. Sejumlah penelitian memang pernah menemukan potensi efek sedatif (efek menenangkan dan menurunkan aktivitas tubuh) pada kangkung. Namun, ada bagian penting yang sering terlewat, yakni pada penelitian tersebut sebagian besar menggunakan ekstrak kangkung pada hewan percobaan, bukan seporsi kangkung yang biasa kita makan.

Jadi, apakah makan kangkung benar-benar bisa membuat kita mengantuk? Yuk, lihat apa yang sebenarnya ditemukan dalam penelitian.

Kangkung Memang Pernah Diteliti Efek Sedatifnya

Efek sedatif secara sederhana dapat dipahami sebagai efek yang menenangkan atau menurunkan aktivitas sistem saraf pusat. Dalam kondisi tertentu, ini dapat membuat aktivitas berkurang dan mempermudah tidur.

Penelitian terhadap kangkung air (Ipomoea aquatica) memang menunjukkan adanya potensi tersebut.

Sebuah penelitian menggunakan 25 ekor mencit menemukan bahwa pemberian ekstrak kangkung air dapat menimbulkan efek sedasi, yang diamati dari penurunan aktivitas serta respons tubuh mencit. Dosis ekstrak tertinggi yang diuji memberikan efek sedasi paling kuat dibandingkan dosis yang lebih rendah.1

Hasil serupa kembali ditemukan dalam penelitian tahun 2022. Mencit yang diberikan ekstrak kangkung air menunjukkan efek sedatif, dengan dosis yang lebih tinggi menghasilkan onset (waktu yang dibutuhkan sejak suatu zat diberikan sampai efeknya mulai muncul) sedasi lebih cepat dan durasi yang lebih lama.2

Penelitian terbaru pada tahun 2025 juga mendapatkan hasil serupa. Ekstrak etanol kangkung air pada mencit dapat menurunkan aktivitas motorik serta memengaruhi onset dan durasi tidur. Pada penelitian tersebut, dosis tertinggi yang diuji menghasilkan onset tidur tercepat dan durasi tidur terlama.3

Jadi, memang ada bukti eksperimental bahwa ekstrak kangkung air memiliki potensi sedatif pada hewan percobaan.

Tapi, Ekstrak Kangkung Tidak Sama dengan Sepiring Kangkung

Sumber: pixabay

Nah, bagian inilah yang penting untuk diperhatikan.

Penelitian-penelitian tersebut tidak meminta manusia makan seporsi tumis kangkung lalu mengukur rasa kantuknya. Tapi, bahan yang digunakan adalah ekstrak kangkung dengan dosis tertentu, kemudian diberikan kepada mencit.

Proses ekstraksi dapat menghasilkan sediaan dengan konsentrasi berbagai senyawa yang berbeda dari kangkung yang dimasak dan dikonsumsi sebagai sayuran sehari-hari. Selain itu, dosis yang digunakan pada mencit juga tidak bisa langsung disamakan dengan porsi kangkung pada manusia.

Penelitian tersebut juga terutama menggunakan kangkung air (Ipomoea aquatica). Jadi, hasilnya perlu dibaca sesuai jenis kangkung dan bentuk sediaan yang memang diteliti.

Artinya, temuan bahwa ekstrak kangkung memiliki efek sedatif pada mencit dianggap belum cukup untuk membuktikan bahwa makan kangkung dalam porsi biasa pasti membuat manusia mengantuk.

Lalu, Kandungan Apa yang Diduga Berperan?

Studi menemukan beberapa kelompok senyawa pada ekstrak kangkung air, termasuk flavonoid, alkaloid, tanin, dan steroid.3

Selain itu, ada juga penelitian yang mengidentifikasi sejumlah senyawa pada ekstrak kangkung air dan kembali menemukan aktivitas sedatif melalui pengujian in vivo (pengujian yang dilakukan pada organisme hidup). Namun, peneliti masih menekankan perlunya studi lebih lanjut untuk mengetahui senyawa aktif dan mekanisme yang benar-benar berperan terhadap efek tersebut.4

Jadi, kita juga belum bisa menyederhanakannya menjadi, misalnya, “kangkung mengandung senyawa tertentu, sehingga setelah dimakan langsung membuat ngantuk.”

Potensi biologisnya memang ada, tetapi mekanismenya masih perlu dipelajari lebih dalam.

Bagaimana dengan Penelitian pada Manusia?

Di sinilah bukti yang tersedia masih jauh lebih terbatas.

Sebuah review tahun 2022 menelusuri tumbuhan Indonesia yang memiliki aktivitas hipnotik-sedatif berdasarkan penggunaan empiris dan penelitian klinis.5 Berdasarkan seluruh pustaka uji klinis yang dikaji, peneliti menyimpulkan bahwa ada empat tumbuhan yang memiliki aktivitas hipnotik-sedatif, yaitu Viola odorata (bunga violet), Mimosa pudica (putri malu), Passiflora incarnata (bunga passion/passionflower), dan Valeriana officinalis (valerian). Kangkung tidak termasuk dalam empat tumbuhan yang disimpulkan memiliki aktivitas tersebut berdasarkan data uji klinis.5

Tapi, hal ini juga tidak langsung berarti bahwa kangkung pasti tidak memiliki pengaruh pada manusia. Namun, bukti langsung bahwa konsumsi kangkung sebagai sayuran yang menyebabkan rasa kantuk pada manusia masih belum memadai.

Inilah perbedaan penting antara melihat adanya “potensi sedatif” dengan menyimpulkan bahwa suatu makanan pasti membuat kita mengantuk.

Mengantuk Setelah Makan Belum Tentu karena Kangkung

Sumber: magnific

Ada satu hal lain yang perlu dipertimbangkan. Rasa kantuk memang dapat meningkat pada waktu tertentu setelah makan, terutama pada siang hingga sore hari.

Dalam ilmu tidur dikenal istilah post-lunch dip, yaitu kecenderungan meningkatnya rasa kantuk dan menurunnya kewaspadaan pada pertengahan hari. Menariknya, fenomena ini dapat muncul bahkan tanpa adanya asupan makanan, sehingga tidak sepenuhnya disebabkan oleh makan siang.6 Ritme sirkadian atau ritme biologis tubuh juga ikut berperan.

Kondisi setelah makan dapat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti jumlah makanan yang dikonsumsi, komposisi makan, waktu makan, hingga kurang tidur pada malam sebelumnya. Misalnya pada sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa makan siang dalam jumlah lebih besar dapat memperburuk rasa kantuk pada kondisi tertentu.7

Jadi, kalau setelah makan nasi, lauk, dan tumis kangkung kita merasa ingin tidur, belum tentu kangkung menjadi satu-satunya penyebab. Bisa jadi porsi makan kita yang memang lebih banyak dan berat dari yang seharusnya.

Baca juga: Makan Sayur Dulu, Baru Nasi: Benarkah Urutan Makan Berpengaruh?

Jadi, Benarkah Kangkung Bisa Membuat Kita Mengantuk?

Anggapan bahwa kangkung memiliki efek menenangkan ternyata tidak sepenuhnya tanpa dasar ilmiah. Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa ekstrak kangkung air memiliki aktivitas sedatif pada mencit.

Namun, bukti tersebut belum sama untuk membuktikan bahwa seporsi kangkung yang kita makan sehari-hari akan membuat manusia mengantuk. Sampai saat ini, bukti langsung pada manusia masih terbatas dan sebagian besar penelitian justru menggunakan ekstrak pada hewan percobaan.

Jadi, kesimpulan yang lebih tepat bukanlah “kangkung pasti bikin ngantuk”, melainkan kangkung memiliki potensi sedatif berdasarkan penelitian praklinis, tetapi efek kantuk setelah mengonsumsinya sebagai sayuran pada manusia masih belum dapat dipastikan.

Oleh karena itu, kita juga tidak perlu langsung menghindari kangkung karena takut mengantuk ataupun sengaja menjadikannya sebagai “obat tidur”. Kangkung tetap dapat dinikmati sebagai bagian dari variasi konsumsi sayur sehari-hari.

Baca juga: Sudah Banyak Makan Sayur, tapi Apakah Serat Harianmu Sudah Cukup?

Referensi

  1. Syamsi, N., Tanra, A. A. M., & Lestari, N. H. (2019). Uji Efek Sedasi Ekstrak Kangkung Air (Ipomoea Aquatica) Pada Mencit (Mus musculus). Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 5(2), 49-53. ↩︎
  2. Suni, R. A., Julyani, S., Sommeng, F., & Maharani, R. N. (2022). Pengaruh Ekstrak Kangkung Air (Ipomoea Aquatica) Terhadap Efek Sedasi pada Mencit (Mus Musculus). Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran, 2(10), 718-726. ↩︎
  3. Deliana, D. A., Safitri, M., & Amali, E. (2025). Uji Efek Sedatif Ekstrak Etanol Kangkung Air (Ipomoea Aquatica) Terhadap Mencit Putih Jantan (Mus Musculus). Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika), 11(2), 294-299. ↩︎
  4. Farida, Y., & Putra, N. R. (2026). Phytochemical characterization and in vivo sedative potential of 96% ethanolic extracts of ipomoea aquatica Forssk. and Myristica fragrans Houtt., individually and in combination. South African Journal of Botany, 191, 436-450. ↩︎
  5. Sukandar, E. Y., Pratiwi, B., & Putri, R. A. (2022). Studi Literatur Tumbuhan Indonesia Dengan Aktivitas Hipnotik Sedatif Berdasarkan Khasiat Empiris Dan Data Uji Klinis. Acta Pharmaceutica Indonesia, 47(1), 29-42. ↩︎
  6. Monk TH. The post-lunch dip in performance. Clin Sports Med. 2005 Apr;24(2):e15-23, xi-xii. doi: 10.1016/j.csm.2004.12.002. PMID: 15892914. ↩︎
  7. Reyner, L. A., Wells, S. J., Mortlock, V., & Horne, J. A. (2012). ‘Post-lunch’sleepiness during prolonged, monotonous driving—Effects of meal size. Physiology & behavior, 105(4), 1088-1091. ↩︎
Dewi Rizky Purnama

Recent Posts

Buah Kering Bisa Jadi Alternatif Camilan Sehat? Yuk, Pahami 5 Hal Ini!

Kismis, kurma, mangga kering, atau nanas kering mungkin sesekali dipilih sebagian orang sebagai camilan yang…

5 days ago

Makan Malam Tinggi Lemak Bisa Mengganggu Kualitas Tidur?

Makan malam dengan gorengan, makanan bersantan, atau menu tinggi lemak memang bisa terasa lebih mengenyangkan.…

1 week ago

Total Sugar dan Free Sugar, Apa Bedanya? Jangan Sampai Salah Baca Label!

Pernah melihat angka “total gula” padamakanan lalu langsung menganggap seluruhnya adalah gula yang…

2 weeks ago

Nasi yang Sudah Dingin Punya Efek Berbeda pada Gula Darah?

Punya nasi sisa semalam di kulkas lalu dipanaskan kembali keesokan harinya? Selama ini, nasi seperti…

3 weeks ago

Jalan Kaki Setelah Makan Bisa Membantu Menjaga Gula Darah?

Selesai makan, apa yang biasanya banyak orang lakukan? Kembali duduk bekerja, rebahan, atau langsung lanjut…

4 weeks ago

Makan Sayur Dulu, Baru Nasi: Benarkah Urutan Makan Berpengaruh?

Sebagian besar orang biasanya hanya sering fokus pada apa yang ada di isi piring, baik…

4 weeks ago