Sumber: magnific
Banyak orang sudah berusaha memilih makanan yang lebih sehat. Ada yang rutin mengonsumsi sayur dan buah, memilih sumber protein yang baik, hingga mengurangi makanan tinggi gula dan lemak. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu bagaimana makanan tersebut disimpan setelah dibeli atau dimasak.
Padahal, cara penyimpanan makanan tidak hanya memengaruhi rasa, tekstur, dan daya tahannya. Tetapi juga dapat memengaruhi kandungan zat gizi di dalamnya.
Dalam beberapa kondisi, penyimpanan yang kurang tepat dapat menyebabkan berkurangnya kadar vitamin tertentu. Sementara pada kondisi lain justru dapat memberikan manfaat tambahan yang tidak banyak diketahui orang.
Makanan bukanlah sesuatu yang statis. Setelah dipanen, dibeli, atau dimasak, berbagai proses kimia dan biologis masih terus berlangsung di dalamnya.
Paparan suhu, cahaya, oksigen, dan kelembapan dapat memengaruhi stabilitas berbagai zat gizi pada makanan. Salah satu faktor yang cukup banyak diteliti adalah suhu penyimpanan. Misalnya, dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa pendinginan dan pembekuan dapat membantu memperlambat aktivitas mikroorganisme dan enzim yang berperan dalam proses pembusukan. Jadi, kualitas serta kandungan gizi makanan dapat lebih terjaga.1
Pendinginan yang dilakukan di suhu 0-10°C, bertujuan untuk memperlambat pertumbuhan mikroba. Selain itu, juga dapat menjaga kesegaran pangan dalam jangka pendek. Sementara, pembekuan pada suhu di bawah -18°C efektif untuk menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang, karena dapat menghambat proses kimia dan biologis yang bisa merusak kualitas bahan pangan.
Sebaliknya, penyimpanan pada suhu yang terlalu tinggi dalam waktu lama dapat mempercepat terjadinya perubahan pada beberapa komponen gizi tertentu.2
Oleh karena itu, dua makanan yang awalnya memiliki kandungan gizi yang sama belum tentu memberikan nilai gizi yang sama setelah disimpan dalam kondisi yang berbeda.
Baca juga: Cara Menyimpan Makanan dengan AMAN – menurut Ahli Gizi
Banyak orang menganggap bahwa sayuran segar selalu lebih bergizi dibandingkan sayuran beku. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar. Setelah dipanen, kandungan zat gizi dan senyawa bioaktif dalam sayuran dapat terus mengalami perubahan selama proses penyimpanan, terutama jika disimpan terlalu lama sebelum dikonsumsi.
Studi menunjukkan bahwa pendinginan dan pembekuan justru dapat membantu mempertahankan komponen bioaktif serta antioksidan dalam bahan pangan. Bahkan, sayuran yang langsung dibekukan segera setelah dipanen dilaporkan mampu mempertahankan kandungan vitamin C dan senyawa bioaktif lainnya dengan lebih baik dibandingkan sayuran segar yang disimpan dalam waktu lama sebelum dikonsumsi.2
Temuan ini menunjukkan bahwa produk beku tidak selalu memiliki kualitas gizi yang lebih rendah dibandingkan produk segar. Dalam kondisi tertentu, pembekuan yang dilakukan segera setelah panen justru dapat membantu mempertahankan kandungan gizi penting pada bahan pangan.
Salah satu contoh yang cukup sering dibahas dalam dunia gizi adalah nasi yang telah didinginkan setelah dimasak. Ketika nasi didinginkan, sebagian pati di dalamnya dapat berubah menjadi resistant starch, yaitu jenis pati yang lebih sulit dicerna oleh tubuh.
Resistant starch memiliki karakteristik yang mirip dengan serat pangan karena dapat membantu memperlambat proses pencernaan dan menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di usus.
Penelitian menunjukkan bahwa proses pendinginan dapat meningkatkan kandungan resistant starch pada nasi. Bahkan, nasi putih yang didinginkan selama 24 jam pada suhu 4°C kemudian dipanaskan kembali dilaporkan menghasilkan respons gula darah yang lebih rendah dibandingkan nasi putih yang baru matang.3
Hal ini menunjukkan bahwa cara penyimpanan tertentu tidak hanya membantu mempertahankan kualitas makanan, tetapi juga dapat memengaruhi cara tubuh merespons makanan tersebut.
Selain memperhatikan lama penyimpanan, cara menyimpan makanan juga memegang peranan penting.
Beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mempertahankan kualitas gizi makanan antara lain:
Langkah-langkah sederhana tersebut tidak hanya membantu menjaga keamanan pangan, tetapi juga membantu mempertahankan kualitas zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Selama ini, banyak orang hanya fokus pada pemilihan makanan yang dianggap sehat, tetapi jarang memperhatikan bagaimana makanan tersebut disimpan setelah dibawa pulang.
Studi menunjukkan bahwa cara penyimpanan dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas makanan, dengan kontribusi yang dilaporkan mencapai 92%.5
Artinya, kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan pangan yang dipilih, tetapi juga oleh bagaimana makanan tersebut disimpan setelah dibawa pulang.
Oleh karena itu, menjaga kualitas makanan tidak hanya dimulai dari memilih bahan pangan yang baik, tetapi juga dari bagaimana kita menyimpan dan mengelolanya di rumah.
Beras porang semakin populer di kalangan masyarakat yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Banyak…
Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…
Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…
Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…