Sumber: Freepik
Banyak anak sekarang cenderung memilih makanan yang rasanya lebih “nendang”, manis, gurih, atau sangat beraroma. Sementara itu, makanan rumahan seperti sayur, lauk sederhana, atau buah yang rasanya lebih alami sering kali dianggap “kurang enak”. Fenomena ini sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan anak yang pilih-pilih makan.
Ini perlu dipahami dengan lebih luas, karena bukan hanya soal kebiasaan makan, tetapi menyangkut bagaimana indera perasa anak berkembang. Semakin sering lidah terpapar rasa yang intens, semakin tinggi ambang sensitivitas terhadap rasa alami.
Para peneliti menemukan bahwa makanan ultra-proses food (UPF), seperti snack kemasan, sereal manis, minuman berperisa, hingga makanan beku instan, memiliki kombinasi rasa yang jauh lebih kuat dibandingkan makanan segar. Tidak hanya lebih manis atau lebih asin, tetapi juga mengandung penambah rasa, penguat aroma, dan tekstur yang dibuat sesedap mungkin.1
Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap rasa yang sangat intens ini tentunya dapat mengubah cara reseptor perasa merespons makanan. Lidah menjadi “terbiasa” pada rangsangan kuat, sehingga rasa alami seperti manis buah atau gurih kaldu rumahan terasa jauh lebih datar.2,3
Fenomena ini dikenal sebagai penurunan sensitivitas rasa, dan bisa terjadi pada usia berapa pun, termasuk anak-anak yang sering mengonsumsi UPF sejak kecil.
Rasa pada makanan segar sebenarnya sangat kompleks, seperti manis alami di buah, asam pada sayur, gurih halus pada protein hewani. Namun, rasa-rasa ini membutuhkan sensitivitas lidah yang baik untuk bisa diapresiasi.
Perubahan di level indera perasa ini pada akhirnya tidak berhenti hanya pada soal “lidah terbiasa rasa kuat”. Dampaknya bisa merembet ke kebiasaan makan sehari-hari. Saat rasa alami tak lagi memuaskan, preferensi anak pun perlahan ikut bergeser, dan inilah yang sering kali tidak disadari banyak orang tua.
Perubahan preferensi ini biasanya muncul dalam bentuk kebiasaan kecil seperti:
Polanya bisa terjadi sangat halus. Banyak orang tua merasa anak “tiba-tiba sulit makan makanan rumah”, padahal perubahan preferensi rasa ini terjadi bertahun-tahun, dan dipicu oleh kebiasaan kecil yang berulang setiap hari.
Selain memengaruhi lidah, konsumsi UPF yang terlalu sering juga dapat:
Ketika sensitivitas rasa menurun, anak cenderung memilih makanan yang lebih manis atau lebih gurih untuk mendapatkan “kepuasan rasa” yang sama. Inilah yang membuat UPF memberi efek domino pada pola makan jangka panjang, sekaligus meningkatkan risiko metabolik seiring waktu.
Baca Juga: ULTRA-PROCESSED FOODS PENGHANCUR DIET ?
Kabar baiknya, penurunan sensitivitas rasa tidak permanen. Lidah dapat “belajar ulang”, terutama jika dilakukan secara bertahap.
Beberapa langkah yang terbukti membantu, seperti:
Perubahan kecil tetapi konsisten dapat membantu lidah anak kembali mengenali dan menikmati rasa alami. Kecenderungan anak menyukai makanan yang “nendang” bukanlah masalah perilaku semata. Ada proses biologis yang ikut berperan, mulai dari reseptor rasa yang kurang sensitif hingga preferensi alami yang bergeser karena seringnya terpapar UPF.
Dengan memahami mekanisme ini, orang tua (dan pendidik) dapat mengambil langkah preventif dan korektif tanpa menyalahkan anak. Kuncinya bukan melarang sepenuhnya, tetapi membangun kebiasaan rasa yang lebih seimbang, dan ya, lidah anak bisa kembali sensitif. Asalkan kita mulai dari langkah kecil.
Baca Juga: PENTINGNYA MEMILIH JAJANAN SEHAT DEMI KESEHATAN ANAK
Beras porang semakin populer di kalangan masyarakat yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Banyak…
Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…
Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…
Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…
View Comments
Menarik sekali poin tentang bagaimana paparan rasa yang terlalu intens bisa menggeser ambang sensitivitas lidah anak. Saya jadi teringat bahwa kebiasaan ini bisa terbentuk tanpa disadari, terutama kalau camilan ultra-proses hadir setiap hari. Mungkin pendekatan bertahap dengan memperkenalkan kembali rasa alami dari makanan rumahan bisa membantu anak ‘melatih ulang’ indera perasanya.