Sumber: Pixabay
Pernah merasa sudah makan banyak, perut sudah penuh, tapi tubuh tetap terasa lemas, mudah lapar lagi, sulit fokus, atau rasanya tidak bertenaga? Banyak orang mengira rasa kenyang adalah tanda bahwa kebutuhan tubuh sudah terpenuhi. Padahal, kenyang dan cukup gizi adalah dua hal yang berbeda.
Perut bisa saja kenyang karena volume makanan yang besar atau karena makanan tinggi kalori. Namun, tubuh tetap membutuhkan berbagai zat gizi penting seperti protein, vitamin, mineral, serat, dan lemak sehat agar bisa berfungsi dengan baik. Jadi, meskipun seseorang makan tiga kali sehari, bukan berarti otomatis kebutuhan gizinya sudah tercukupi.
Inilah alasan mengapa kualitas makanan sama pentingnya dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Rasa kenyang umumnya dipengaruhi oleh jumlah makanan, volume, kandungan air, serat, protein, lemak, dan kecepatan pengosongan lambung.1 Namun, makanan yang membuat kenyang belum tentu mengandung zat gizi yang lengkap.
Contohnya, sepiring besar nasi dengan sedikit lauk dan hampir tanpa sayur mungkin bisa membuat perut penuh. Namun, dari sisi komposisi gizi, makanan tersebut bisa saja lebih dominan karbohidrat, tetapi rendah protein, serat, vitamin, dan mineral.
Kementerian Kesehatan RI melalui panduan Isi Piringku menekankan bahwa makan sehat bukan hanya soal “sudah makan”, tetapi juga memperhatikan komposisi dalam satu piring, yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah dalam porsi yang seimbang.2
Dengan kata lain, tubuh tidak hanya membutuhkan energi dari makanan, tetapi juga zat gizi yang membantu tubuh bekerja optimal.
Kalori memang penting karena menjadi sumber energi. Namun, tubuh tidak hanya hidup dari kalori. Tubuh juga membutuhkan zat gizi makro dan mikro.
Zat gizi makro meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Karbohidrat berperan sebagai sumber energi utama, protein membantu membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, sedangkan lemak diperlukan untuk fungsi hormon, penyerapan vitamin tertentu, dan cadangan energi.
Sementara itu, zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi perannya sangat besar. Zat besi, misalnya, berperan dalam pembentukan sel darah merah. Kalsium penting untuk tulang dan gigi. Vitamin A, C, D, B kompleks, zinc, folat, dan mineral lainnya juga memiliki fungsi penting dalam metabolisme, daya tahan tubuh, dan kesehatan secara umum.3
Masalahnya, makanan yang tinggi kalori belum tentu tinggi zat gizi. Inilah yang sering disebut sebagai makanan padat energi tetapi rendah zat gizi.
Beberapa pola makan bisa membuat seseorang merasa kenyang, tetapi belum tentu memenuhi kebutuhan gizi harian. Misalnya:
Pola makan seperti ini bisa membuat tubuh mendapatkan energi, tetapi kurang mendapatkan protein, serat, vitamin, dan mineral. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat kualitas diet menjadi rendah.4
FAO menjelaskan bahwa makanan dengan kepadatan mikronutrien tinggi seperti kacang-kacangan, sayuran, terutama sayuran hijau, dan buah-buahan merupakan bagian penting untuk membantu memenuhi kecukupan vitamin dan mineral.5 Sebaliknya, pola makan yang terlalu bergantung pada serealia olahan atau makanan pokok tertentu bisa mencukupi energi, tetapi belum tentu mencukupi mikronutrien penting.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang bisa merasa sudah makan cukup, tetapi asupan gizinya belum terpenuhi.
Pertama, pilihan makanannya kurang beragam. Semakin terbatas jenis makanan yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan ada zat gizi tertentu yang kurang.6 Misalnya, jika seseorang jarang makan sumber protein hewani atau nabati, kebutuhan protein dan beberapa mineral bisa tidak optimal.
Kedua, porsi makanan tidak seimbang. Satu jenis makanan bisa terlalu dominan, sementara kelompok makanan lain terabaikan. Misalnya, porsi karbohidrat terlalu besar, tetapi lauk, sayur, dan buah sangat sedikit.7
Ketiga, terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, atau lemak, tetapi rendah zat gizi. Makanan seperti ini bisa membuat kenyang atau puas sesaat, tetapi tidak banyak memberikan vitamin, mineral, dan serat. Bahkan, justru bisa meningkatkan risiko penyakit tidak menular.8
Baca juga: PEMBATASAN KONSUMSI GULA, GARAM, DAN LEMAK (GGL) MENGGUNAKAN TRAFFIC-LIGHT LABEL
Keempat, kurang konsumsi sayur dan buah. Padahal, WHO merekomendasikan konsumsi lebih dari 400 gram buah dan sayur per hari untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan mengurangi risiko penyakit tidak menular tertentu.9
Kelima, pola makan hanya berfokus pada “asal tidak lapar”. Banyak orang makan dengan prinsip yang penting kenyang, murah, cepat, dan praktis. Prinsip ini wajar dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa memperhatikan kualitas makanan, tubuh bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zat gizi yang lebih lengkap.
Kekurangan zat gizi tidak selalu langsung terlihat. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi sinyal bahwa pola makan perlu dievaluasi, seperti:
Tanda-tanda tersebut tidak selalu disebabkan oleh kekurangan gizi, karena bisa juga berkaitan dengan tidur, stres, aktivitas fisik, penyakit tertentu, atau kondisi medis lainnya. Namun, jika sering terjadi, pola makan sehari-hari layak diperhatikan kembali.
Kabar baiknya, memperbaiki kualitas makan tidak harus selalu mahal atau rumit. Kuncinya adalah membuat piring makan lebih seimbang dan beragam.
Perubahan kecil seperti menu sederhana yang lengkap dan seimbang bisa membuat makanan bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga lebih bergizi.
Misalnya:
Makanan bergizi tidak harus selalu berasal dari makanan mahal. Banyak bahan lokal seperti tempe, tahu, telur, ikan, sayur hijau, kacang-kacangan, pisang, pepaya, ubi, dan singkong yang bisa menjadi bagian dari pola makan sehat.
Rasa kenyang memang penting, tetapi kenyang saja tidak cukup. Tubuh membutuhkan makanan yang tidak hanya mengisi perut, tetapi juga memberikan zat gizi yang lengkap dan seimbang.
Baca juga: Kompleksitas Diet: Makanan Apa yang Benar-Benar Berdampak untuk Kesehatan?
Makan banyak belum tentu bergizi. Sebaliknya, makan dengan porsi yang cukup, beragam, dan seimbang dapat membantu tubuh mendapatkan energi, protein, serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan setiap hari.
Jadi, mulai sekarang, jangan hanya bertanya, “Apakah saya sudah makan?” tetapi coba tanyakan juga, “Apakah isi piring saya sudah cukup beragam dan bergizi?”
Yuk, mulai perhatikan isi piring kita hari ini. Tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dari langkah kecil, seperti dengan menambahkan satu jenis sayur, pilih lauk berprotein, lengkapi dengan buah, dan kurangi kebiasaan makan asal kenyang.
Pernah merasa makanan di piring sudah habis, tetapi beberapa menit kemudian baru sadar ternyata memang…
Bagi sebagian orang, kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas pagi. Ada yang baru merasa siap…
Pernah melihat sayuran beku, susu pasteurisasi, atau ikan kaleng lalu berpikir, “Ini kan makanan olahan,…
Selesai olahraga, keringat bercucuran, lalu langsung mencari minuman elektrolit. Rasanya seperti pilihan yang paling tepat…
Setiap kali makan sudah dilengkapi dengan sayur. Siang makan tumis kangkung, malam ada beberapa potong…
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Setelah seharian bekerja, menghadapi perjalanan pulang, atau menyelesaikan berbagai…