Sumber: Freepik
Bayangkan saat membuka berita dan menemukan isu bahwa salah satu jenis makanan yang sering kita konsumsi sehari-hari terkontaminasi zat radioaktif. Itulah yang terjadi beberapa waktu belakangan ketika isu kontaminasi Cesium-137 pada udang ramai dibicarakan publik. Banyak orang langsung bertanya-tanya, apakah udang di Indonesia masih aman dikonsumsi? Apakah kontaminasi ini berbahaya bagi kesehatan?
Sebenarnya yang perlu dilakukan adalah tidak langsung terjebak kepanikan, melainkan penting untuk memahami kasus ini terlebih dahulu secara utuh dan berbasis sains.
Isu ini bermula dari temuan kontaminasi radionuklida Cesium-137 (Cs-137) pada produk udang beku asal Indonesia, yang dilaporkan oleh otoritas pengawas pangan Amerika Serikat (US FDA). Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).1
Pihak BAPETEN lalu melakukan pengujian terhadap dua kontainer udang di Terminal Petikemas Koja, pada 8 Oktober 2025. Dari hasil pengujian berlapis yang dilakukan, semua pemeriksaan menunjukan tidak adanya kontaminasi zat radioaktif pada kontainer yang tiba dari Amerika Serikat itu.2
Selanjutnya, dari pemeriksaan 3.250 kotak karton, terdapat 494 kotak karton (sekitar 5,7 ton) yang mengalami kontaminasi Cs-137 pada permukaan luar kemasan karton. Pengujian terhadap sampel udang mencatat kadar Cs-137 sebesar 10,8 Bq/kg, nilai yang masih berada di bawah ambang klirens 100 Bq/kg yang ditetapkan untuk pelepasan ke lingkungan.1
Meski demikian, pemerintah tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) pada pemusnahan 494 kotak karton udang yang terkontaminasi. Mulai dari pemantauan portal radiasi hingga inspeksi lanjutan oleh tim ahli. Pemusnahan dilakukan melalui proses insinerasi bersuhu tinggi, dengan pengelolaan limbah yang mengikuti protokol keselamatan radiasi dan lingkungan secara ketat.
Seiring dengan itu, pemerintah juga melakukan pengamanan dan dekontaminasi intensif di area terdampak. BAPETEN dan BRIN menyatakan bahwa sebagian besar zona di Kawasan Cikande telah dinyatakan aman dan fasilitas pengolahan terkait kini telah kembali beroperasi.
Otoritas menegaskan bahwa kasus ini bersifat terbatas, tidak mencerminkan kondisi seluruh rantai pasok udang nasional, namun menjadi pengingat penting akan ketatnya standar keamanan pangan, khususnya untuk produk ekspor.
Baca juga: Kontaminan Merkuri di Pangan
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Cesium-137 adalah isotop radioaktif buatan manusia yang dihasilkan dari proses fisi nuklir, seperti pada reaktor atau uji coba senjata nuklir. Zat ini tidak terbentuk secara alami dalam jumlah signifikan di lingkungan.3
Meskipun demikian, United States Environmental Protection Agency (US EPA) menyebutkan bahwa Cs-137 cukup mudah bergerak melalui udara, mudah larut dalam air, serta mengikat kuat pada tanah dan beton.4
Bahkan, studi menunjukkan bahwa Cs dapat terbawa air hujan dari permukaan daun ke tanah. Dari tanah inilah, Cesium-137 kemudian dapat masuk ke rantai makanan melalui tanaman dan hewan.5
Penelitian lain juga menyoroti pada tumbuhan berbunga yang dapat memindahkan radiosesium dari tanah ke lebah madu, yang kemudian dapat memusatkan kontaminan tersebut dalam madu.6
Dalam konteks pangan, Cesium-137 menjadi perhatian jika terjadi kontaminasi, meskipun kejadian seperti ini relatif jarang dan diawasi ketat oleh otoritas internasional.
Cs-137 memancarkan radiasi beta dan gamma. Ketika berada di lingkungan atau masuk ke tubuh manusia, radiasi ini dapat berinteraksi dengan sel dan jaringan lunak, terutama jaringan otot yang kemudian dapat meningkatkan risiko kanker.3,4
Adapun pada kasus yang ditemukan di Cikande dengan tingkat paparan rendah, tidak dilaporkan adanya efek kesehatan akut. Paparan radiasi akut biasanya hanya terjadi pada kecelakaan nuklir besar atau paparan dosis tinggi dalam waktu singkat. Artinya, konsumsi satu kali atau paparan singkat tidak serta-merta menyebabkan gejala fatal langsung.
Radiasi gamma yang dipancarkan oleh Cesium-137 (Cs-137) secara terus-menerus berpotensi meningkatkan berbagai risiko kesehatan dalam jangka panjang. Risiko ini terutama berkaitan dengan paparan kronis, bukan efek akut.
Beberapa dampak kesehatan yang dikaitkan dengan paparan Cs-137 meliputi peningkatan risiko kanker dan kerusakan jaringan akibat radiasi.7 Sejumlah studi lainnya juga menunjukkan bahwa paparan radiosesium, terutama dalam konteks paparan kronis dan akumulasi jangka panjang, dikaitkan dengan gangguan fungsi pankreas, termasuk pankreatitis dan peningkatan risiko diabetes sekunder asal pankreas (tipe 3c).8
Namun perlu digarisbawahi bahwa risiko kesehatan akibat Cs-137 bersifat probabilistik, artinya sangat dipengaruhi oleh besar dosis, durasi paparan, dan kondisi individu.
Baca juga: Tips Pencegahan Kanker
Cesium-137 memiliki waktu paruh fisik sekitar 30 tahun.3,4 Artinya, diperlukan waktu tiga dekade agar radioaktivitasnya berkurang setengah secara alami. Oleh karena itu, kontaminasi lingkungan oleh Cs-137 tidak bisa dianggap sepele.7,9
Namun, jika Cs-137 masuk ke dalam tubuh manusia, tubuh memiliki mekanisme eliminasi alami. Sekitar 86% cesium (Cs) yang terserap dalam tubuh akan dikeluarkan melalui urin oleh ginjal, sementara 14% sisanya dieliminasi lewat feses, air liur, dan cairan pankreas.8
Pada manusia, waktu paruh biologis Cs berkisar antara 50 hingga 150 hari, tergantung kondisi tubuh dan tingkat paparan. Artinya, meskipun tubuh memiliki mekanisme eliminasi alami, Cs-137 tidak langsung hilang setelah masuk ke dalam tubuh.
Selama masih berada di dalam jaringan, Cs-137 tetap memancarkan radiasi dari dalam tubuh, sehingga paparan berulang, meskipun dalam dosis rendah, tetap perlu dicegah.
Agar tetap aman tanpa perlu panik, konsumen bisa melakukan langkah-langkah berikut:
Kasus udang terkontaminasi Cesium-137 di Cikande adalah peringatan penting tentang pengawasan keamanan pangan, namun bukan alasan untuk ketakutan massal. Berdasarkan informasi yang tersedia, tidak ada bukti dampak kesehatan akut, sementara risiko jangka panjang dapat dicegah dengan pengawasan dan regulasi yang tepat.
Oleh karena itu, sikap terbaik yang dapat diambil konsumen adalah tetap kritis, teredukasi, dan rasional. Dengan mengandalkan informasi dari sumber resmi serta memahami bahwa risiko kesehatan sangat bergantung pada tingkat dan durasi paparan akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tenang dan proporsional, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…
Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…
Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…
Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…
Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…
Pernah merasa suasana hati mudah berubah, cemas, atau bahkan kehilangan semangat tanpa alasan yang jelas?…