Bagaimana asupan dan perilaku makan pada anak autis? Apakah ada diet atau perilaku spesifik ? Mari kita simak artikel berikut

Baca Artikel : Rekomendasi Diet Anak Autis

Konsumsi Makan Anak dengan Autis​1​

Asupan makanan anak autis pada umumnya sama dengan makanan untuk anak lainnya, yaitu harus memenuhi gizi seimbang dan tetap harus memperhatikan aspek pemilihan makanan. Diet yang umumnya diterapkan pada anak autis adalah diet bebas gluten dan bebas kasein. Tujuan dari intervensi diet pada anak autis adalah untuk menghilangkan gejala autis, menghentikan atau menunda proses degeneratif yang berlangsung, meningkatkan kualitas hidup, serta memberikan status gizi yang baik bagi penyandang autis.​1​

Namun perilaku pilih-pilih makanan (picky eater) membuat penerapan diet terganggu dan tidak maksimalnya asupan gizi yang diasup. Sebagian besar anak autis mempunyai pola makan idiosyncratic dan perilaku makan yang tidak biasa. Hal tersebut dapat berupa sedikitnya variasi diet, keengganan pada tekstur makanan tertentu atau sangat suka pada makanan tertentu.​2​ Tercukupnya asupan makanan pada anak autis harus mendapatkan dukungkan dari internal dan eksternal. Keterlibatan keluarga dapat berpengaruh dalam pemenuhan asupan makanan dan keberhasilan penerapan diet.

Walaupun dapat diketahui bahwa masih banyaknya anak autis yang belum dapat melaksanakan diet bebas gluten bebas kasein. Hal tersebut tidak bisa dipungkiri karena masih banyaknya produk makanan yang mengandung gluten maupun kasein. Selain itu juga terbatasnya jenis makanan yang tidak mengandung gluten dan kasein yang diketahui ibu untuk disajikan kepada anak mereka.​3​

Diet Gluten Free Casein Free (GFCF) ?

Meskipun tidak direkomendasikan secara rutin, diet GFCF umumnya digunakan sebagai diet untuk anak autis. Berdasar sistematic review terdapat sedikit bukti bahwa diet GFCF bermanfaat untuk mengelola gejala Autism Spectrum Disorder (ASD) pada anak-anak dan remaja. Dengan beberapa pengecualian di beberapa subdomain, tidak ada secara statistik perbedaan signifikan dalam gangguan spektrum autisme.​4​

Studi lain juga menunjukkan diet GFCF bukanlah terapi yang efektif untuk gejala inti ASD (yaitu, defisit sosial dan komunikasi, stereotip / perilaku berulang) dan hanya boleh diterapkan jika anak dengan ASD mengalami perubahan perilaku akut, tampaknya terkait dengan perubahan pola makan, dan/atau ketika profesional medis telah memastikan bahwa anak tersebut memiliki alergi atau intoleransi makanan terhadap gluten dan/atau kasein.​5​

Terapi probiotik disarankan dalam beberapa ulasan sebagai pengobatan potensial untuk anak-anak dengan ASD dan gejala gastrointestinal. Satu studi menunjukkan bahwa pemberian Lactobacillus acidophilus (5 × 109 CFU/hari, 2x/hari selama 2 bulan) secara signifikan mengurangi penanda kandidiasis patogen invasif pada anak-anak dengan ASD dan gejala gastrointestinal.​6​

Perilaku Makan Anak Autis

Anak autis sering menolak makan, picky eaters (memilih-milih makanan), kesulitan menerima makanan baru, tantrum dan gerakan mengunyah sangat pelan. Sebagian besar anak autis mempunyai pola makan idiosyncratic dan perilaku makan yang tidak biasa. Hal tersebut dapat berupa sedikitnya variasi diet, keengganan pada tekstur makanan tertentu atau sangat suka pada jenis makanan tertentu dan sulit menerima menu makanan baru, pemilihan jenis makanan yang benar secara tidak langsung akan mempengaruhi status gizi anak.​7​

Gangguan perilaku makan dapat menyebabkan jumlah makanan yang dikonsumsi tidak adekuat atau bisa berlebihan sehingga menimbulkan berbagai dampak yaitu asupan gizi yang tidak tercukupi, asupan berlebihan, berat badan tidak normal, malnutrisi, gangguan perkembangan fisik dan mental serta dapat menyebabkan kematian. untuk melihat perilaku makan seorang anak dapat menggunakan Children eating Behavior Questionnarie (CEBQ).

Instrumen Perilaku Makan Anak

Perilaku makan anak dapat diukur menggunakan instrumen Child Eating Behaviour Questionnaire (CEBQ) yang dikembangkan oleh Wardle et al (2001). Children Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) adalah kuesioner laporan orang tua yang terdiri dari 35 pertanyaan yang menilai perilaku makan pada anak-anak. perilaku makan dinilai dalam 8 skala (food responsiveness, emotional overeating, satiety responsiveness, slowness in eating, emotional undereating, fussiness, enjoyment of food, and desire to drink).​8​

Untuk versi terbaru yang telah dilakukan validasi oleh The Norwegian Mother and Child Cohort Study (MoBa) 2016 perilaku makan dinilai dalam 5 subskala (food responsiveness, emotional overeating, satiety responsiveness, slowness in eating, emotional undereating, fussiness). Para ibu menilai frekuensi perilaku dan pengalaman anak mereka pada skala 5 poin (1-tidak pernah, 2-jarang, 3-kadang, 4-sering, 5-selalu). Pengolahan data perilaku makan anak menggunakan metode Likert Summated Rating, yaitu dengan menggunakan nilai tengah dari total nilai skor. Jumlah total skor yang didapat, kemudian jika hasil < dari median total skor maka perilaku makan anak kurang dan jika > median maka perilaku makan anak baik.​8​

Form Kuesioner Perilaku Makan

NoPerilaku MakanSelaluSeringKadangJarangTidak Pernah
1Anak saya suka mencicipi makanan baru
2Anak saya mudah kenyang
3Anak saya makan lebih banyak saat dia sedang bahagia
4Diberi pilihan, anak saya akan makan lebih sering setiap waktu
5Anak saya makan perlahan
6Anak saya makan lebih banyak ketika sedang khawatir
7Anak sata membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk makan
8Anak saya cepat kenyang sebelum selesai makan
9Anak saya menikmati berbagai macam makanan
10Anak saya tertarik untuk mencicipi makanan yang belum pernah dimakan
11Jika diberi kesempatan, anak saya selalu memasukkan makanan kedalam mulutnya
12Anak saya makan lebih banyak ketika gelisah
13Jika diizinkan, anak saya akan makan tertalu banyak
14Anak saya makan sedikit ketika sedih
15Anak saya meninggalkan makanan di akhir makan/ ada sisa
16Anak saya makan lebih sedikit ketika sedang marah
17Anak saya makan banyak dan lambat selama makan
18Anak saya makan lebih banyak ketika kesal

Referensi

  1. 1.
    Nugraheni S. Efektivitas Intervensi Diet Bebas Gluten Bebas Casein Terhadap Perubahan Perilaku Anak Autis. Pustaka Rizki Putra; 2008.
  2. 2.
    Ahearn WH, Castine T, Nault K, Green G. Journal of Autism and Developmental Disorders. Published online 2001:505-511. doi:10.1023/a:1012221026124
  3. 3.
    Ramadayanti S  S, Margawati A. Perilaku Pemilihan Makanan dan Diet Bebas Gluten Bebas Kasein pada Anak Autis. J Nutr Coll. 2013;2(1):35-43.
  4. 4.
    Piwowarczyk A, Horvath A, Łukasik J, Pisula E, Szajewska H. Gluten- and casein-free diet and autism spectrum disorders in children: a systematic review. Eur J Nutr. Published online June 13, 2017:433-440. doi:10.1007/s00394-017-1483-2
  5. 5.
    Mulloy A, Lang R, O’Reilly M, Sigafoos J, Lancioni G, Rispoli M. Addendum to “gluten-free and casein-free diets in treatment of autism spectrum disorders: A systematic review.” Research in Autism Spectrum Disorders. Published online January 2011:86-88. doi:10.1016/j.rasd.2010.07.004
  6. 6.
    Sanctuary MR, Kain JN, Angkustsiri K, German JB. Dietary Considerations in Autism Spectrum Disorders: The Potential Role of Protein Digestion and Microbial Putrefaction in the Gut-Brain Axis. Front Nutr. Published online May 18, 2018. doi:10.3389/fnut.2018.00040
  7. 7.
    Rahayu S. Gambaran Perilaku Picky Eater, Pola Makan dan Status Gizi Anak Autis di SLB Negeri Semarang. . Published online 2016.
  8. 8.
    The Norwegian Institute of Public Health N. Documentation of MoBa Instruments. The Norwegian Mother and Child Cohort Study (MoBa). Published 2016. https://www.fhi.no/en/studies/moba/
Ayu Rahadiyanti

Executive Editor Ahli Gizi ID | Lecturer | Writer

View Comments

Recent Posts

Beras Porang Lebih Cocok untuk Diet? Ini Perbandingannya dengan Beras Biasa

Beras porang semakin populer di kalangan masyarakat yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Banyak…

3 days ago

Lebaran Tanpa Khilaf: Tips Menikmati Hidangan agar Tidak Overeating

Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Selain menjadi momen ibadah dan berbagi…

1 week ago

Mengenal ‘Fibermaxxing’: Tren Baru yang Membuat Asupan Serat Kembali Jadi Perhatian

Beberapa waktu terakhir, istilah fibermaxxing mulai ramai dibahas di media sosial dan komunitas kesehatan global.…

3 weeks ago

GLP-1: “Terapi Penurun BB” yang Sedang Mendunia, Benarkah Aman dan Efektif?

Belakangan ini, dunia kesehatan sedang ramai membicarakan terapi GLP-1. Di media sosial hingga klinik penurunan…

4 weeks ago

Tanpa Sadar, Lingkunganmu Menentukan “Isi Piringmu”

Pernah merasa sudah berniat makan sehat, tapi justru berakhir memesan makanan cepat saji? Kita sering…

1 month ago

Benarkah Teh Hijau Bisa Menurunkan Berat Badan?

Banyak orang memasukkan teh hijau ke dalam rutinitas diet mereka dengan harapan bisa menurunkan berat…

1 month ago