{"id":292,"date":"2019-12-12T12:46:14","date_gmt":"2019-12-12T12:46:14","guid":{"rendered":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/?p=292"},"modified":"2020-09-12T16:58:06","modified_gmt":"2020-09-12T09:58:06","slug":"diet-batu-ginjal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/","title":{"rendered":"DIET BATU GINJAL"},"content":{"rendered":"\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">Penulis : Nindi Juniar Wati <\/pre>\n\n\n\n<p>Berikut artikel terkait patofiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiais) serta penalaksanaan diet untuk pasien dengan batu ginjal. <\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pengertian Ginjal<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Ginjal (renal) adalah organ tubuh yang\nmemiliki fungsi utama untuk menyaring dan membuang zat-zat sisa metabolisme\ntubuh dari darah dan menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit (misalnya\nkalsium, natrium, dan kalium) dalam darah. Ginjal juga memproduksi bentuk aktif\ndari vitamin D yang mengatur penyerapan kalsium dan fosfor dari makanan\nsehingga membuat tulang menjadi kuat. Selain itu ginjal memproduksi hormon\neritropoietin yang merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah,\nserta renin yang berfungsi mengatur volume darah dan tekanan darah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"1000\" src=\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/shutterstock_409736524.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-293\" srcset=\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/shutterstock_409736524.jpg 1000w, https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/shutterstock_409736524-300x300.jpg 300w, https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/shutterstock_409736524-150x150.jpg 150w, https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/shutterstock_409736524-768x768.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Pengertian Penyakit\nBatu Ginjal<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam istilah kedokteran penyakit batu ginjal disebut nephrolithiasis atau renal calculi. Batu ginjal adalah suatu keadaan dimana terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau calyces dari ginjal. Pembentukan batu ginjal dapat dapat terjadi di bagian mana saja dari saluran kencing, tetapi biasanya terbentuk pada dua bagian tebanya pada ginjal, yaitu di pasu ginjal dan calcyx renalis. Batu dapat terbentuk dari kalsium, fosfat, atau kombinasi asam urat yang biasanya larut dalam urin<span id=\"faf89995-358e-4c44-ade1-2ea8a165190d\" data-items=\"[&quot;130413481&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b1\u200b<\/sup><\/span>. Pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara garis besar pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik antara lain umur, jenis kelamin dan keturunan. Faktor ekstrinsik antara lain kondisi geografis, iklim, kebiasaan makan, zat atau bahan kimia yang terkandung dalam air dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Nefrolitiasis (batu ginjal) merupakan salah satu penyakit ginjal, dimana ditemukannya batu yang mengandung komponen kristal dan matriks organik yang merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran kemih (Hanley JM, 2015). Lokasi batu ginjal khas dijumpai di kaliks, atau pelvis dan bila keluar akan terhenti dan menyumbat pada daerah ureter (batu ureter) dan kandung kemih (batu kandung kemih). Batu ginjal dapat terbentuk dari kalsium, batu oksalat, kalsium oksalat, atau kalsium fosfat. Namun yang paling sering terjadi pada batu ginjal adalah batu kalsium. <\/p>\n\n\n\n<p>Penyebab pasti yang membentuk batu ginjal belum diketahui, oleh karena banyak faktor yang dilibatkannya. Diduga dua proses &nbsp;yang terlibat dalam batu ginjal yakni supersaturasi dan nukleasi. Supersaturasi terjadi jika substansi yang menyusun batu terdapat dalam jumlah besar dalam urin, yaitu ketika volume urin dan kimia urin yang menekan pembentukan batu menurun. Pada proses nukleasi, natrium hidrogen urat, asam urat dan kristal hidroksipatit membentuk inti. Ion kalsium dan oksalat kemudian merekat (adhesi) di inti untuk membentuk campuran batu. Proses ini dinamakan nukleasi heterogen. Prevalensi penyakit ini diperkirakan sebesar 7% pada perempuan dewasa dan 13% pada laki-laki dewasa. Empat dari lima pasien adalah laki-laki, sedangkan usia puncak adalah dekade ketiga sampai ke empat. <\/p>\n\n\n\n<p>Nefrolitiasis (batu ginjal) merupakan suatu keadaan dimana terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau kaliks dari ginjal.Secara garis besar pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu umur, jenis kelamin, dan keturunan, sedangkan faktor ekstrinsik yaitu kondisi geografis, iklim, kebiasaan makan, zat yang terkandung dalam urin, pekerjaan, dan sebagainya <span id=\"2534a293-ab36-4380-953f-41f86a773606\" data-items=\"[&quot;2640093220&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b2\u200b<\/sup><\/span> .<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Batu ginjal atau nefrolitiasis adalah terbentuknya struktur kristal di saluran kemih yang telah mencapai ukuran yang cukup sehingga menimbulkan gejala. Batu dapat terbentuk dari kalsium, fosfat, atau kombinasi asam urat yang biasanya larut dalam urin<span id=\"53c8f2f0-71ae-4c26-b076-f131711a5c1f\" data-items=\"[&quot;130413481&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b1\u200b<\/sup><\/span> .<\/p>\n\n\n\n<p>Gagal ginjal merupakan penyakit metabolik &nbsp;kronik&nbsp; yang&nbsp; menjadi&nbsp; masalah&nbsp; kesehatan&nbsp; di &nbsp;berbagai belahan dunia. Menurut hasil penelitian &nbsp;Organisasi&nbsp; Kesehatan&nbsp; Dunia&nbsp; (<em>World&nbsp; Health &nbsp;Organization<\/em>&nbsp; \/&nbsp; WHO)&nbsp; yang&nbsp; memperkirakan &nbsp;pertumbuhan penderita gagal ginjal di Indonesia &nbsp;periode&nbsp; 1995&nbsp; \u2013&nbsp; 2025&nbsp; bisa&nbsp; mencapai&nbsp; 41%. &nbsp;Pemicu utama&nbsp; pasien gagal ginjal&nbsp; adalah pola konsumsi&nbsp; masyarakat.&nbsp; Semakin&nbsp; konsumtif &nbsp;masyarakat&nbsp; tanpa&nbsp; memikirkan&nbsp; komposisi &nbsp;makanan yang sehat, itu menyebabkan semakin tingginya resiko untuk terkena gagal ginjal. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Patofisiologi\n<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Adanya kalkuli dalam traktus urinarius disebabkan oleh dua fenomena dasar. Fenomena pertama adalah supersaturasi urin oleh konstituen pembentuk batu, termasuk kalsium, oksalat, dan asam urat. Kristal atau benda asing dapat bertindak sebagai matriks kalkuli, dimana ion dari bentuk kristal super jenuh membentuk struktur kristal mikroskopis. Kalkuli yang terbentuk memunculkan gejala saat mereka membentur ureter waktu menuju vesica urinaria <span id=\"e07012b4-ef29-47bc-b591-6f6f6f6723dc\" data-items=\"[&quot;3298581062&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b3\u200b<\/sup><\/span>.<\/p>\n\n\n\n<p>Adanya kalkuli dalam traktus\nurinarius disebabkan oleh dua fenomena dasar. Fenomena pertama adalah\nsupersaturasi urin oleh konstituen pembentuk batu, termasuk kalsium, oksalat,\ndan asam urat. Kristal atau benda asing dapat bertindak sebagai matriks\nkalkuli, dimana ion dari bentuk kristal super jenuh membentuk struktur kristal\nmikroskopis. Kalkuli yang terbentuk memunculkan gejala saat mereka membentur\nureter waktu menuju vesica urinaria.<\/p>\n\n\n\n<p>Faktor\nrisiko nefrolitiasis (batu ginjal) umumnya biasanya karena adanya riwayat batu\ndi usia muda, riwayat batu pada keluarga, ada penyakit asam urat, kondisi medis\nlokal dan sistemik, predisposisi genetik, dan komposisi urin itu sendiri.\nKomposisi urin menentukan pembentukan batu berdasarkan tiga faktor, berlebihnya\nkomponen pembentukan batu, jumlah komponen penghambat pembentukan batu (seperti\nsitrat, glikosaminoglikan) atau pemicu (seperti natrium, urat). Anatomis traktus\nanatomis juga turut menentukan kecendrungan pembentukan batu (Basuki B, 2015).<\/p>\n\n\n\n<p>Nefrolitiasis berdasarkan\nkomposisinya terbagi menjadi batu kalsium, batu struvit, batu asam urat, batu\nsistin, batu <em>xanthine<\/em>, batu triamteren, dan batu silikat. Pembentukan\nbatu pada ginjal umumnya membutuhkan keadaan supersaturasi. Namun pada urin\nnormal, ditemukan adanya zat inhibitor pembentuk batu. Pada kondisi-kondisi\ntertentu, terdapat zat reaktan yang dapat menginduksi pembentukan batu. Adanya\nhambatan aliran urin, kelainan bawaan pada pelvikalises, hiperplasia prostat\nbenigna, striktura, dan buli bulineurogenik diduga ikut berperan dalam proses\npembentukan batu (Mochammad S, 2014).<\/p>\n\n\n\n<p>Batu\nterdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik maupun anorganik\nyang terlarut dalam urin. Kristal-kristal tersebut akan tetap berada pada\nposisi <em>metastable <\/em>(tetap terlarut)dalam urin jika tidak ada\nkeadaan-keadaan yang menyebabkan presipitasi kristal. Apabila kristal mengalami\npresipitasi membentuk inti batu, yang kemudian akan mengadakan agregasi dan menarik\nbahan-bahan yang lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar. Kristal akan\nmengendap pada epitel saluran kemih dan membentuk batu yang cukup besar untuk\nmenyumbat saluran kemih sehingga nantinya dapat menimbulkan gejala klinis.<\/p>\n\n\n\n<p>Terdapat\nbeberapa zat yang dikenal mampu menghambat pembentukan batu. Diantaranya ion\nmagnesium (Mg), sitrat, protein Tamm Horsfall (THP) atau uromukoid, dan\nglikosaminoglikan. Ion magnesium ternyata dapat menghambat batu karena jika\nberikatan dengan oksalat, akan membentuk garam oksalat sehingga oksalat yang\nakan berikatan dengan kalsium menurun. Demikian pula sitrat jika berikatan\ndengan ion kalsium (Ca) untuk membentuk kalsium sitrat, sehingga jumlah kalsium\noksalat akan menurun (Mochammad S, 2014).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Terdapat beberapa jenis variasi\ndari batu ginjal, yaitu: <\/h3>\n\n\n\n<p>1. Batu Kalsium <\/p>\n\n\n\n<p>Batu\nyang paling sering terjadi pada kasus batu ginjal. Kandungan batu jenis ini\nterdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campuran dari kedua unsur\ntersebut. Faktor-faktor terbentuknya batu kalsium adalah: <\/p>\n\n\n\n<p>a.\nHiperkalsiuri <\/p>\n\n\n\n<p>Terbagi\nmenjadi hiperkalsiuri absorbtif, hiperkalsiuri renal, dan hiperkasiuri\nresorptif. Hiperkalsiuri absorbtif terjadi karena adanya peningkatan absorbsi\nkalsium melalui usus, hiperkalsiuri renal terjadi akibat adanya gangguan\nkemampuan reabsorbsi kalsium melalu tubulus ginjal dan hiperkalsiuri resorptif\nterjadi karena adanya peningkatan resorpsi kalsium tulang. <\/p>\n\n\n\n<p>b.\nHiperoksaluri <\/p>\n\n\n\n<p>Merupakan\neksresi oksalat urin yang melebihi 45 gram perhari. <\/p>\n\n\n\n<p>c.\nHiperurikosuria <\/p>\n\n\n\n<p>Kadar\nasam urat di dalam urin yang melebihi 850mg\/24 jam.<\/p>\n\n\n\n<p>d. Hipositraturia <\/p>\n\n\n\n<p>Sitrat yang berfungsi untuk\nmenghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat sedikit. <\/p>\n\n\n\n<p>e. Hipomagnesuria <\/p>\n\n\n\n<p>Magnesium\nyang bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium kadarnya sedikit dalam\ntubuh. Penyebab tersering hipomagnesuria adalah penyakit inflamasi usus yang\ndiikuti dengan gangguan malabsorbsi.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Batu Struvit <\/p>\n\n\n\n<p>Batu\nyang terbentuk akibat adanya infeksi saluran kemih. <\/p>\n\n\n\n<p>3. Batu Asam Urat <\/p>\n\n\n\n<p>Biasanya\ndiderita pada pasien-pasien penyakit gout, penyakit mieloproliferatif, pasien\nyang mendapatkan terapi anti kanker, dan yang banyak menggunakan obat\nurikosurik seperti sulfinpirazon, thiazid, dan salisilat. <\/p>\n\n\n\n<p>4. Batu Jenis Lain <\/p>\n\n\n\n<p>Batu\nsistin, batu <em>xanthine<\/em>, batu triamteran, dan batu silikat sangat jarang\ndijumpai (Basuki B, 2015).<\/p>\n\n\n\n<p>Penderita\nnefrolitiasis sering mendapatkan keluhan rasa nyeri pada pinggang ke arah bawah\ndan depan. Nyeri dapat bersifat kolik atau non kolik. Nyeri dapat menetap dan\nterasa sangat hebat. Mual dan muntah sering hadir, namun demam jarang di jumpai\npada penderita<em>. <\/em>Dapat juga muncul adanya bruto atau mikrohematuria (David S, 2009).<\/p>\n\n\n\n<p>Selain dari keluhan khas yang didapatkan pada\npenderita nefrolitiasis, ada beberapa hal yang harus dievaluasi untuk\nmenegakkan diagnosis, yaitu: <\/p>\n\n\n\n<p>1. Evaluasi skrining\nyang terdiri dari sejarah rinci medis dan makanan, kimia darah, dan urin pada\npasien (Margaret Sue, 2014).<\/p>\n\n\n\n<p>2. Foto <em>Rontgen <\/em>Abdomen\nyang digunakan untuk melihat adanya kemungkinan batu radio-opak. <\/p>\n\n\n\n<p>3. Pielografi Intra\nVena yang bertujuan melihat keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Pemeriksaan ini\ndapat terlihat batu yang bersifat radiolusen. <\/p>\n\n\n\n<p>4. Ultrasonografi (USG) dapat\nmelihat semua jenis batu. <\/p>\n\n\n\n<p>5. CT Urografi tanpa kontras adalah standar baku\nuntuk melihat adanya batu di traktus urinarius<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan\nutama tatalaksana pada pasien nefrolitiasis adalah mengatasi nyeri,\nmenghilangkan batu yang sudah ada, dan mencegah terjadinya pembentukan batu\nyang berulang. <\/p>\n\n\n\n<p>1.  <em>Extracorporeal Shockwave Lithotripsy<\/em> (ESWL)<\/p>\n\n\n\n<p>Alat ini ditemukan pertama kali pada tahun 1980 oleh Caussy. Bekerja dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan di luar tubuh untuk menghancurkan batu di dalam tubuh. Batu akan dipecah menjadi bagian-bagian yang kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih <span id=\"3c7fc331-8cb0-4075-9e34-7493365a4ddf\" data-items=\"[&quot;3851395634&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b4\u200b<\/sup><\/span> ESWL dianggap sebagai pengobatan cukup berhasil untuk batu ginjal berukuran menengah dan untuk batu ginjal berukuran lebih dari20-30 mm pada pasien yang lebih memilih ESWL, asalkan mereka menerima perawatan berpotensi lebih.<\/p>\n\n\n\n<p>2. <em>Percutaneus Nephro Litholapaxy<\/em> (PCNL) <\/p>\n\n\n\n<p>Merupakan\nsalah satu tindakan endourologi untuk mengeluarkan batu yang berada di saluran\nginjal dengan cara memasukan alat endoskopi ke dalam kalises melalui insisi\npada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi\nfragmen-fragmen kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>3.\nBedah terbuka <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk pelayanan kesehatan yang belum memiliki fasilitas PNL dan ESWL, tindakan yang dapat dilakukan melalui bedah terbuka. Pembedahan terbuka itu ini dapat dilakukan dengan metode ESWL<em>,<\/em> PCNL<em>,<\/em> bedah terbuka dan terapi konservatif atau terapi ekspulsif medikamentosa (TEM).<\/p>\n\n\n\n<p>Faktor risiko untuk nefrolitiasis meliputi usia, jenis kelamin laki-laki, obesitas, diabetes, sindrom metabolik, kelainan ginjal struktural, asupan cairan yang rendah, penyakit ginjal dan penyakit saluran pencernaan tertentu <span id=\"cdc695c1-2578-462d-ba3d-4487ffeefe98\" data-items=\"[&quot;3333398590&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b5\u200b<\/sup><\/span> . Selain itu, faktor makanan dan endokrin juga diketahui sangat mempengaruhi risiko batu ginjal <span id=\"b6bf4a6f-1af4-4062-9a6a-fcf77e620588\" data-items=\"[&quot;3011732204&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b6\u200b<\/sup><\/span>. Selanjutnya de Oliveira et al., (2014) menuliskan hal serupa bahwa faktor makanan memainkan peran penting dalam batu ginjal. Misalnya, asupan cairan yang rendah dan asupan yang berlebihan dari protein, garam, dan oksalat merupakan faktor risiko yang dapat diubah untuk batu ginjal<span id=\"9bc2f8aa-8e98-45e2-9b9e-38ae051560d9\" data-items=\"[&quot;1789128744&quot;]\" contenteditable=\"false\" class=\"abt-citation\" data-has-children=\"true\"><sup>\u200b7\u200b<\/sup><\/span>. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Penatalaksanaan\nDiet Batu Ginjal<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Pasien batu ginjal harus memiliki pengetahuan tentang diet maupun asupan cairan yang dikonsumsi. Kusumawardani (2010) dalam penelitiannya mengatakan bahwa pada penderita yang memiliki pendidikan lebih tinggi maka akan memiliki pengetahuan lebih baik tentang dietnya sehingga memungkinkan pasien itu dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi masalah yang dihadapi, mudah mengerti tentang apa yang dianjurkan oleh petugas kesehatan, serta dapat mengurangi kecemasan sehingga dapat membantu individu tersebut dalam membuat keputusan<span id=\"2a2ccaec-0e88-457d-8351-823c4f02a8ab\" data-items=\"[&quot;2983637010&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b8\u200b<\/sup><\/span>. Kepatuhan diet adalah suatu perilaku pasien dalam melaksanakan pemenuhan makan yang telah direkomendasikan oleh penyedia pelayanan kesehatan. kepatuhan diet dapat dilihat dari jenis makanan yang spesifik yang dibatasi<span id=\"b099a9aa-ffc3-4823-a6c6-a2d055845369\" data-items=\"[&quot;880473674&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b9\u200b<\/sup><\/span>. Penelitian yang dilakukan Ismail (2012) menunjukkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan diet<span id=\"5bb6cb95-141f-4ff8-a2d9-85e4dd7caada\" data-items=\"[&quot;1370987661&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b10\u200b<\/sup><\/span>.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyebab gagal ginjal kronik adalah tekanan\ndarah tinggi (hipertensi), penyumbatan saluran kemih, glomerulonefritis,\nkelainan ginjal, misalnya penyakit ginjal polikista, diabetes melitus (kencing\nmanis) dan kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik. Seseorang\nyang memiliki penyakit ginjal kronik, dapat memiliki stadium yang berbeda.\nKlasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus. Stadium\nyang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah.\nGejala gagal ginjal kronik seperti, bengkak mata, kaki, nyeri pinggang hebat\n(kolik), demam, kencing sakit, kencing sedikit, kencing merah\/darah, sreing\nkencing, lemas, nafsu makan menurun, mual, muntah, gatal, sesak napas dan\npucat\/anemia. Kelainan hasil pemeriksaan laboratorium : kreatinine darah naik,\nHb turun, ditemukannya protein pada urin. Kelainan urin : Protein, darah\/eritrosit,\nsel darah putih \/ leukosit, bakteri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasien&nbsp; gagal&nbsp; ginjal&nbsp; harus&nbsp; menjalani&nbsp; diet &nbsp;khusus&nbsp; untuk&nbsp; mengontrol&nbsp; pola&nbsp; makan&nbsp; serta &nbsp;menjaga&nbsp; agar&nbsp; kerusakan&nbsp; pada&nbsp; ginjal&nbsp; tidak &nbsp;semakin parah. Tujuan diet gagal ginjal adalah &nbsp;membantu&nbsp; pasien&nbsp; memperbaiki&nbsp; kebiasaan &nbsp;makan dan olahraga untuk mendapatkan kontrol metabolisme&nbsp; yang&nbsp; lebih&nbsp; baik<span id=\"2796d4c1-9342-4b44-a322-96fdff8c9372\" data-items=\"[&quot;2727386651&quot;]\" contenteditable=\"false\" data-has-children=\"true\" class=\"abt-citation\"><sup>\u200b11\u200b<\/sup><\/span>&nbsp; . Pasien harus membatasi makanan apa saja yang dapat&nbsp; dikonsumsi&nbsp; dan&nbsp; yang&nbsp; tidak&nbsp; dapat dikonsumsi. Hal itu menyebabkan pasien harus &nbsp;benar-benar memperhatikan menu makanannya &nbsp;agar tidak memperparah kondisi pasien. <\/p>\n\n\n\n<p>Pasien\nharus membatasi makanan apa saja yang dapat dikonsumsi dan yang tidak dapat\ndikonsumsi. Hal itu menyebabkan pasien harus benar-benar memperhatikan menu\nmakanannya agar tidak memperparah kondisi pasien. Selain\nkebutuhan gizi menurut umur, jenis kelamin, aktivitas fisik dan kondisi khusus\ndalam keadaan sakit, penetapan kebutuhan gizi harus memperhatikan perubahan\nkebutuhan karena infeksi, gangguan metabolik, penyakit kronik serta kondisi\nabnormal lainnya. Dalam hal ini perlu dilakukan perhitungan kebutuhan gizi\nsecara khusus dan penerapannya dalam bentuk modifikasi diet atau diet khusus\nterutama pada pasien gagal ginjal.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian mengenai komposisi bahan pangan untuk diet penyakit ginjal dan saluran kemih pernah dilakukan oleh Uyun dan Hartati (2011) menggunakan algoritme genetika. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa algortime genetika dapat digunakan untuk menentukan komposisi bahan pangan yang optimal untuk mencukupi kebutuhan gizi dalam 1 hari bagi yang sedang melakukan diet untuk penyakit ginjal dan saluran kemih<span id=\"2624b4db-392e-4cd9-80bb-8a2c86c04aed\" data-items=\"[&quot;2727386651&quot;]\" contenteditable=\"false\" class=\"abt-citation\" data-has-children=\"true\"><sup>\u200b11\u200b<\/sup><\/span>.<\/p>\n\n\n\n<p>Fungsi\nutama ginjal adalah memelihara keseimbangan homeostatic cairan, elektrolit dan\nbahan-bahan organik dalam tubuh. Diet khusus diperlukan jika fungsi ginjal\nterganggu, yaitu pada penyakit-penyakit seperti sindroma nefrotik, gagal ginjal\nakut, penyakit ginjal kronik dengan penurunan fungsi ginjal ringan sampai\ndengan berat, penyakit ginjal tahap akhir yang memerlukan transplantasi ginjal\ndan batu ginjal. Diet pada penyakit ginjal ditekankan pada pengontrolan asupan\nenergi, protein, cairan, elektrolit natrium, kalium, kalsium dan fosfor.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dikelompokkan menurut stadium, yaitu stadium I, II, III, dan IV. Untuk mencegah penurunan dan mempertahankan status gizi, perlu perhatian melalui monitoring dan evaluasi status kesehatan serta asupan makanan oleh tim kesehatan. Pada dasaranya pelayanan dari suatu tim terpadu yang terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi serta petugas kesehatan lain diperlukan agar terapi yang diperlukan kepada pasien optimal. Asuhan gizi (<em>Nutrition Care<\/em>) betujuan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi agar mencapai status gizi optimal, pasien dapat beraktivitas normal, menjaga keseimbangn cairan dan elektrolit, yang pada akhirnya mempunyai kualitas hidup yang cukup baik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tujuan terapi diet<\/h3>\n\n\n\n<p>Tujuan terapi diet pada gagal ginjal mengendalikan\ngejala, meminimalkan komplikasi memperlambat perkembangan penyakit. Penyebab\ndan berbagai keadaan yang memperburuk gagal ginjal harus segera dikoreksi. Diet\nrendah protein , Protein = 0,6 \u2013 0,8 gr\/kg BB (memperlambat perkembangan gagal\nginjal kronis). Tambahan vitamin B dan C diberikan jika penderita menjalani\ndiet ketat atau menjalani dialisa.<\/p>\n\n\n\n<p>Jenis diet pada gagal ginjal kronik<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Diet rendah protein (RP) I: Asupan protein 30 g dan diberikan kepada pasien dengan berat badan 50 kg. <\/li><li>Diet RP II: Asupan protein 35 g, untuk pasien berat badan 60 kg. <\/li><li>Diet RP III: Asupan protein 40 g, pasien dengan berat badan 65 kg.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Syarat diet gagal ginjal dengan dialisis menurut Almatsier (2008) adalah: <\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Protein = 12,5% dari energi total. <\/li><li>Karbohidrat = 65% dari energi total. <\/li><li>Lemak = 22,5% dari energi total. <\/li><li>Kalsium = 1000 mg\/hari. <\/li><li>Fosfor &lt; 17 mg\/kg BB ideal.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Perhitungan Kalori <\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Proses perhitungan kebutuhan nutrisi pasien gagal ginjal berdasarkan pada variabel jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, usia, faktor aktivitas serta faktor stress. <\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Perhitungan Angka Metabolisme Basal (AMB) untuk mengetahui jumlah energy minimal untuk mempertahankan proses hidup utama. Ada beberapa cara menghitung AMB, salah satunya adalah rumus Harris Benedict (1919) yang akan digunakan dalam penelitian. AMB laki-laki = 66+(13,7\u00d7BB) + (5\u00d7TB) &#8211; (6,8\u00d7U) AMB perempuan = 65,5+(9,6\u00d7BB) + (1,8\u00d7TB)-(4,7\u00d7U)              Keterangan: BB = Berat Badan dalam (kg), TB = Tinggi Badan (cm), U = Umur (th)<\/li><li>Perhitungan selanjutnya perhitungan dengan panambahan variabel yaitu faktor aktivitas dan faktor stress. Untuk mencari kebutuhan energi dapat menggunakan persamaan berikut: Kebutuhan Energi = AMB \u00d7 faktor aktifitas \u00d7 faktor stress. <\/li><li>Setelah mengetahui jumlah energi yang dibutuhkan, dilakukan perhitungan untuk mencari kebutuhan asupan energi, protein, karbohidrat, lemak, kalsium dan fosfor dalam satu hari.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pengaturan makanan pada gagal ginjal kronik, bahan makanan karbohidrat dianjurkan <\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td>Sumber<\/td><td>Makanan yang dianjurkan<\/td><td>Makanan yang dibatasi<\/td><\/tr><tr><td>Karbohidrat<\/td><td>Gula, selai, sirup, permen, madu untuk menambah energi (suplemen), agar- agar, jelly<\/td><td>nasi, jagung, kentang, makaroni atau pasta, havermout, ubi\/talas<\/td><\/tr><tr><td>Protein hewani<\/td><td>&#8211;<\/td><td>Daging kambing, ayam, ikan, hati, keju, udang, telur<\/td><\/tr><tr><td>Protein nabati<\/td><td>&#8211;<\/td><td>Kacang- kacangan dan hasil olahannya, seperti tahu, tempe, oncom, kacang merah, kacang tolo, kacang hijau, kacang kedelai<\/td><\/tr><tr><td>Lemak<\/td><td>Minyak jagung, minyak kacang tanah, minyak kelapa, minyak kedelai, minyak kelapa sawit, dan margarin rendah garam<\/td><td>Minyak kelapa, santan kental, mentega dan lemak hewan<\/td><\/tr><tr><td>Sayur<\/td><td>Semua sayuran kecuali untuk pasien dengan heperkalemia<\/td><td>Sayuran tinggi Kalium seperti peterseli, buncis, bayam, daun pepaya muda, dll apabila pasien mengalami hyperkalemia<\/td><\/tr><tr><td>Buah<\/td><td>Semua buah kecuali untuk pasien hyperkalemia<\/td><td>Buah-buahan tinggi kalium seperti apel, alpukat, jeruk, pisang, dll apabila pasien mengalami hyperkalemia<\/td><\/tr><tr><td>Bumbu<\/td><td>Bawang merah, bawang putih, lada, kunyit, jahe, ketumbar, salam, sereh, kayu manis, lengkuas<\/td><td>Hindari\/batasi makanan tinggi natrium jika pasien hipertensi, udema dan asites. Bahan makanan tinggi natrium diantaranya adalah garam, vetsin, penyedap rasa\/kaldu kering, makanan yang diawetkan, dikalengkan dan diasinkan.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Cara mengatur diet pada gagal ginjal kronik, Makanan diberikan porsi kecil, padat kalori dan sering, misal 6x sehari. Pilih makanan sumber protein hewani sesuai jumlah yang telah ditentukan. Cairan lebih baik dibuat dalam bentuk minuman. Masakan lebih baik dibuat tidak berkuah, seperti ditumis, dipanggang, dikukus atau dibakar. Bila harus membatasi garam, gunakanlah lebih banyak bumbu seperti gula, asam dan bumbu dapur lainnya untuk menambah rasa ( lengkuas, kunyit, daun salam, dll ).<\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang perlu diperhatikan pada gagal ginjal kronik, Sirup, madu, permen, sangat baik sebagai penambah energi, tetapi tidak diberikan dekat dengan waktu makan karena dapat mengurangi nafsu makan. Bila ada edema (bengkak di kaki), tekanan darah tinggi, perlu mengurangi garam dan menghindari bahan makanan sumber natrium lainnya, seperti soda, kaldu instan, ikan asin, telur asin, makanan yang diawetkan. Jumlah cairan yang masuk harus seimbang dengan cairan yang keluar (urin). Ingat cairan yang berlebihan akan membebani kerja ginjal yang fungsinya sudah berkurang. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Daftar Pustaka<\/h2>\n\n\n\n<section aria-label=\"Bibliography\" class=\"wp-block-abt-bibliography abt-bibliography\" role=\"region\"><ol class=\"abt-bibliography__body\" data-entryspacing=\"1\" data-maxoffset=\"4\" data-linespacing=\"1\" data-second-field-align=\"flush\"><li id=\"130413481\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">1. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Sun Q, Shen Y, Sun N, et al. Diagnosis, Treatment, and Follow-up of 25 Patients with MelamineInduced Kidney Stones Complicated by Acute Obstructive Renal Failure in Beijing . <i>Eur J Pediatr<\/i>. 2010;169:483\u2013 489.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"2640093220\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">2. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Krisna PDN. Faktor Risiko Kejadian Suspect Penyakit Batu Ginjal Di Wilayah Kerja Puskesmas Margasari Kabupaten Tegal Tahun 2010. 2011. <a href=\"http:\/\/\/journal.unnes.ac.id\/index.php\/kemas\">http:\/\/\/journal.unnes.ac.id\/index.php\/kemas<\/a>.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"3298581062\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">3. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Dave C. Nephrolithiasis. Medscape. <a href=\"https:\/\/emedicine.medscape.com\/article\/437096-overview\">https:\/\/emedicine.medscape.com\/article\/437096-overview<\/a>. Published 2017.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"3851395634\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">4. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">H A. Hubungan Kepatuhan Diet dan Asupan Kalium dengan Kadar Kalium pada pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Rawat Jalan di RSUD Kabupaten Sukoharjo. 2016.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"3333398590\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">5. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Virapongse A. Nefrolithiasis. Science Direct. Volume43-57. <a href=\"http:\/\/www.sciencedirect. com\/science\/article\/pii\/ S2211594315000490 \">http:\/\/www.sciencedirect. com\/science\/article\/pii\/ S2211594315000490 <\/a>. Published 2016.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"3011732204\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">6. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Ingimarsson JP, Krambeck AE, Pais VM. Diagnosis and Management Of Nefrolithiasis. <i>Surgical Clinics<\/i>. 2016;9(3). <a href=\"http:\/\/dx.doi. org\/10.1016\/j.suc.2016.02.008\">http:\/\/dx.doi. org\/10.1016\/j.suc.2016.02.008<\/a>.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"1789128744\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">7. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">De Oliveira LMT, Hauschild DB, Leite CDMBA, Baptista DR, Carvalho M. Adequate dietary intake and nutritional status in patients with nephrolithiasis: new targets and objectives. <i>Journal of Renal Nutrition<\/i>. 2014;6(24):417-422.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"2983637010\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">8. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Kusumawardani, AY. Hubungan Karakteristik Individu dengan Kualitas Hidup Dimensi Fisik pasien Gagal Ginjal Kronik di RS Dr. Kariadi Semarang. Digilib.unimus. <a href=\"http:\/\/Digilib.unimus. ac.id\/files\/disk1\/106\/jtpunimus-gdl-annyyuliaw-5289-2bab2.pdf [\">http:\/\/Digilib.unimus. ac.id\/files\/disk1\/106\/jtpunimus-gdl-annyyuliaw-5289-2bab2.pdf [<\/a>. Published 2011.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"880473674\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">9. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Khan AR, Lateef ZNAA, Al Aithan MA, Bu-Khamseen MA, Al Ibrahim I, Khan SA. Factors Contributing to Non-Compliance Among Diabetics Attending Primary Health Centers In The Al Hasa District of Saudi Arabia. <i>Journal of Family and Comunity Medicine<\/i>. 2012;19(1):26-32.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"1370987661\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">10. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Ismail. Hubungan pendidikan, pengetahuan dan motivasi dengan kepatuhan diet pada pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Umum Pusat dr.Wahidin Sudirohusodo. Skripsi.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"2727386651\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">11. <\/div><div class=\"csl-right-inline\">Uyun S, Hartati S. Penentuan Komposisi Bahan Pangan Untuk Diet Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih Dengan Algoritma Genetika. 2011.<\/div>\n  <\/div>\n<\/li><\/ol><\/section>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-social-links is-layout-flex wp-block-social-links-is-layout-flex\"><li class=\"wp-social-link wp-social-link-wordpress  wp-block-social-link\"><a href=\"https:\/\/wordpress.org\" class=\"wp-block-social-link-anchor\"><svg width=\"24\" height=\"24\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.1\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path d=\"M12.158,12.786L9.46,20.625c0.806,0.237,1.657,0.366,2.54,0.366c1.047,0,2.051-0.181,2.986-0.51 c-0.024-0.038-0.046-0.079-0.065-0.124L12.158,12.786z M3.009,12c0,3.559,2.068,6.634,5.067,8.092L3.788,8.341 C3.289,9.459,3.009,10.696,3.009,12z M18.069,11.546c0-1.112-0.399-1.881-0.741-2.48c-0.456-0.741-0.883-1.368-0.883-2.109 c0-0.826,0.627-1.596,1.51-1.596c0.04,0,0.078,0.005,0.116,0.007C16.472,3.904,14.34,3.009,12,3.009 c-3.141,0-5.904,1.612-7.512,4.052c0.211,0.007,0.41,0.011,0.579,0.011c0.94,0,2.396-0.114,2.396-0.114 C7.947,6.93,8.004,7.642,7.52,7.699c0,0-0.487,0.057-1.029,0.085l3.274,9.739l1.968-5.901l-1.401-3.838 C9.848,7.756,9.389,7.699,9.389,7.699C8.904,7.67,8.961,6.93,9.446,6.958c0,0,1.484,0.114,2.368,0.114 c0.94,0,2.397-0.114,2.397-0.114c0.485-0.028,0.542,0.684,0.057,0.741c0,0-0.488,0.057-1.029,0.085l3.249,9.665l0.897-2.996 C17.841,13.284,18.069,12.316,18.069,11.546z M19.889,7.686c0.039,0.286,0.06,0.593,0.06,0.924c0,0.912-0.171,1.938-0.684,3.22 l-2.746,7.94c2.673-1.558,4.47-4.454,4.47-7.771C20.991,10.436,20.591,8.967,19.889,7.686z M12,22C6.486,22,2,17.514,2,12 C2,6.486,6.486,2,12,2c5.514,0,10,4.486,10,10C22,17.514,17.514,22,12,22z\"><\/path><\/svg><span class=\"wp-block-social-link-label screen-reader-text\">WordPress<\/span><\/a><\/li>\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Nindi Juniar Wati Berikut artikel terkait patofiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiais) serta penalaksanaan diet untuk pasien dengan batu<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":294,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_layout":"default_layout","footnotes":"","_wpscppro_custom_social_share_image":0,"_facebook_share_type":"","_twitter_share_type":"","_linkedin_share_type":"","_pinterest_share_type":"","_linkedin_share_type_page":"","_instagram_share_type":"","_medium_share_type":"","_threads_share_type":"","_selected_social_profile":[]},"categories":[40,19],"tags":[41],"class_list":["post-292","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-diet-batu-ginjal","category-diet-penyakit","tag-batuginjal"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>DIET BATU GINJAL - Blog AhliGiziID<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Penatalaksannaan diet pada pasien dengan batu ginjal disertai patofisiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiasis)\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"DIET BATU GINJAL - Blog AhliGiziID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Penatalaksannaan diet pada pasien dengan batu ginjal disertai patofisiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiasis)\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog AhliGiziID\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/ahligiziid\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-12-12T12:46:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-09-12T09:58:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"377\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ayu Rahadiyanti\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ahligiziid\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ahligiziid\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ayu Rahadiyanti\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"15 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"ScholarlyArticle\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ayu Rahadiyanti\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/person\/01ca519e45b02857c843ab873866e33e\"},\"headline\":\"DIET BATU GINJAL\",\"datePublished\":\"2019-12-12T12:46:14+00:00\",\"dateModified\":\"2020-09-12T09:58:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\"},\"wordCount\":3091,\"commentCount\":13,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg\",\"keywords\":[\"BatuGinjal\"],\"articleSection\":[\"Diet Batu Ginjal\",\"Diet Penyakit\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#respond\"]}]},{\"@type\":[\"WebPage\",\"MedicalWebPage\"],\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\",\"url\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\",\"name\":\"DIET BATU GINJAL - Blog AhliGiziID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg\",\"datePublished\":\"2019-12-12T12:46:14+00:00\",\"dateModified\":\"2020-09-12T09:58:06+00:00\",\"description\":\"Penatalaksannaan diet pada pasien dengan batu ginjal disertai patofisiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiasis)\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg\",\"width\":600,\"height\":377},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"DIET BATU GINJAL\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/\",\"name\":\"Blog AhliGiziID\",\"description\":\"Menyajikan Informasi Gizi yang Renyah dan Ilmiah\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#organization\",\"name\":\"AhliGiziID\",\"url\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/ahligizi_logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/ahligizi_logo.png\",\"width\":2370,\"height\":664,\"caption\":\"AhliGiziID\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/facebook.com\/ahligiziid\",\"https:\/\/x.com\/ahligiziid\",\"https:\/\/intagram.com\/ahligiziid\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/person\/01ca519e45b02857c843ab873866e33e\",\"name\":\"Ayu Rahadiyanti\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1fe208b6eff8de470add941566ec4674c9e1032819bb3d331b95e7b3d3c7d244?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1fe208b6eff8de470add941566ec4674c9e1032819bb3d331b95e7b3d3c7d244?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Ayu Rahadiyanti\"},\"description\":\"Executive Editor Ahli Gizi ID | Lecturer | Writer\",\"sameAs\":[\"https:\/\/id.linkedin.com\/in\/ayu-rahadiyanti-7441b960\"],\"url\":\"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/author\/ayu\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"DIET BATU GINJAL - Blog AhliGiziID","description":"Penatalaksannaan diet pada pasien dengan batu ginjal disertai patofisiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiasis)","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"DIET BATU GINJAL - Blog AhliGiziID","og_description":"Penatalaksannaan diet pada pasien dengan batu ginjal disertai patofisiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiasis)","og_url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/","og_site_name":"Blog AhliGiziID","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/ahligiziid","article_published_time":"2019-12-12T12:46:14+00:00","article_modified_time":"2020-09-12T09:58:06+00:00","og_image":[{"width":600,"height":377,"url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ayu Rahadiyanti","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ahligiziid","twitter_site":"@ahligiziid","twitter_misc":{"Written by":"Ayu Rahadiyanti","Est. reading time":"15 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"ScholarlyArticle","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/"},"author":{"name":"Ayu Rahadiyanti","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/person\/01ca519e45b02857c843ab873866e33e"},"headline":"DIET BATU GINJAL","datePublished":"2019-12-12T12:46:14+00:00","dateModified":"2020-09-12T09:58:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/"},"wordCount":3091,"commentCount":13,"publisher":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg","keywords":["BatuGinjal"],"articleSection":["Diet Batu Ginjal","Diet Penyakit"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#respond"]}]},{"@type":["WebPage","MedicalWebPage"],"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/","url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/","name":"DIET BATU GINJAL - Blog AhliGiziID","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg","datePublished":"2019-12-12T12:46:14+00:00","dateModified":"2020-09-12T09:58:06+00:00","description":"Penatalaksannaan diet pada pasien dengan batu ginjal disertai patofisiologi penyakit batu ginjal (nefrolitiasis)","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#primaryimage","url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg","contentUrl":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/86eb6eac28f181d0c160bf99b0be3243_00230609.jpg","width":600,"height":377},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/2019\/12\/12\/diet-batu-ginjal\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"DIET BATU GINJAL"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/","name":"Blog AhliGiziID","description":"Menyajikan Informasi Gizi yang Renyah dan Ilmiah","publisher":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#organization","name":"AhliGiziID","url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/ahligizi_logo.png","contentUrl":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/ahligizi_logo.png","width":2370,"height":664,"caption":"AhliGiziID"},"image":{"@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/ahligiziid","https:\/\/x.com\/ahligiziid","https:\/\/intagram.com\/ahligiziid"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/person\/01ca519e45b02857c843ab873866e33e","name":"Ayu Rahadiyanti","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1fe208b6eff8de470add941566ec4674c9e1032819bb3d331b95e7b3d3c7d244?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/1fe208b6eff8de470add941566ec4674c9e1032819bb3d331b95e7b3d3c7d244?s=96&d=mm&r=g","caption":"Ayu Rahadiyanti"},"description":"Executive Editor Ahli Gizi ID | Lecturer | Writer","sameAs":["https:\/\/id.linkedin.com\/in\/ayu-rahadiyanti-7441b960"],"url":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/author\/ayu\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1227,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292\/revisions\/1227"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/294"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahligizi.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}