Kesehatan dan Gizi lainnya

Apakah Kita Benar-Benar Butuh Multivitamin Harian?

Banyak orang merasa lebih “aman” ketika minum multivitamin setiap hari. Rasanya seperti ada penyelamat, bahwa kalau pola makan kurang bagus pun, setidaknya ada vitamin tambahan.

Tapi, apakah benar tubuh kita memang membutuhkan suplemen setiap hari? Atau sebenarnya pola makan yang seimbang sudah lebih dari cukup?

Apa Itu Multivitamin?

Multivitamin adalah suplemen yang menggabungkan berbagai vitamin dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi harian seseorang, terutama ketika asupan dari makanan kurang memadai. Suplemen ini biasanya mengandung vitamin A, C, D, E, B kompleks, serta mineral seperti zat besi, zinc, selenium, atau magnesium.1

Beberapa produk tersedia dalam bentuk gummy, yang lebih mudah dikonsumsi bagi sebagian orang. Selain gummy, multivitamin juga hadir dalam berbagai bentuk lain seperti tablet, kapsul/softgel, sirup cair, dan serbuk (powder).

multivitamin merupakan suplemen yang menggabungkan berbagai vitamin dan mineral
Sumber: Freepik

Multivitamin ini sebenarnya bersifat melengkapi, bukan menggantikan peran asupan zat gizi dari makanan. Dengan kata lain, multivitamin hanya membantu menutupi kekurangan kecil dalam pola makan, bukan menjadi solusi utama untuk kesehatan.

Vitamin di dalam suplemen juga tidak membawa serat, fitokimia, antioksidan alami, dan struktur makanan utuh lainnya yang justru memberi manfaat besar bagi tubuh. Jadi, kalau pola makan tetap buruk, minum multivitamin setiap hari tidak otomatis membuat tubuh lebih sehat.

Apakah Semua Orang Membutuhkannya?

Belum tentu. Sebagian besar orang sehat sebenarnya sudah bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral hanya dari pola makan yang beragam, terutama jika rutin mengonsumsi buah, sayur, protein, dan biji-bijian. Pada kelompok ini, multivitamin umumnya tidak diperlukan.2

Namun, ada beberapa kelompok yang justru lebih membutuhkan multivitamin, misalnya:

  1. Orang yang jarang makan buah dan sayur
    Asupan mikronutrien bisa kurang ketika porsi buah dan sayur sangat minim, karena sumber vitamin dan mineral penting tidak terpenuhi secara optimal.

    Tapi, multivitamin bukan berarti bisa menggantikan buah dan sayur seutuhnya. Artinya, perbaikan pola makan tetap menjadi prioritas utama.
  2. Lansia
    Proses penuaan dapat menurunkan kemampuan tubuh menyerap zat gizi, sehingga lansia lebih berisiko kekurangan vitamin D, B12, serta mineral seperti kalsium dan magnesium.3
  3. Ibu hamil
    Saat hamil, kebutuhan asupan zat gizi menjadi lebih tinggi, dan ibu hamil memerlukan multivitamin untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi diri sendiri serta mendukung tumbuh kembang janin.4
  4. Pekerja dengan stres tinggi atau pola makan tidak teratur
    Contohnya, pekerja yang sering melewatkan jam makan atau konsumsi makanan cepat saji dapat menyebabkan kekurangan mikronutrien.

    Meskipun demikian, suplemen tidak dimaksudkan untuk membenarkan pola makan yang berantakan atau stres berkepanjangan. Jadi, perbaikan pola hidup secara menyeluruh tetap diperlukan.
  5. Penyandang kondisi medis tertentu
    Misalnya pada orang dengan gangguan penyerapan, penyakit gastrik, atau sedang menjalani pengobatan tertentu. Pada kelompok ini, suplemen dapat membantu mencukupi kebutuhan zat gizi penting.2

Selain itu, penelitian populasi besar juga menunjukkan bahwa konsumsi multivitamin rutin tidak memberikan manfaat kesehatan tambahan yang berarti pada orang sehat, termasuk dalam hal penurunan risiko penyakit kronik atau angka kematian.3 Ini menunjukkan bahwa multivitamin tidak otomatis dibutuhkan oleh semua orang.

Apakah Ada Risiko Jika Dikonsumsi Setiap Hari?

dampak konsumsi multivitamin setiap hari
Sumber: Freepik

Ada, terutama jika dikonsumsi tanpa indikasi yang jelas atau tidak sesuai kebutuhan.

Multivitamin bukan sepenuhnya bebas risiko. Beberapa vitamin seperti A, D, E, dan K bersifat larut lemak sehingga dapat menumpuk di dalam tubuh. Jika dikonsumsi secara berlebihan, bisa menimbulkan efek samping seperti mual, pusing, hingga gangguan fungsi hati.

Studi juga menyoroti bahwa suplementasi tertentu dalam dosis tinggi, misalnya vitamin B12, berpotensi meningkatkan risiko kesehatan (seperti kanker) pada individu yang tidak membutuhkan.1

Hal yang paling sering terjadi justru “false sense of security”, yakni merasa pola makan sudah “aman” hanya karena minum suplemen, sehingga seseorang malah tidak memperbaiki kualitas makanan harian.

Risiko-risiko ini terutama relevan untuk:

  • pengguna yang memilih dosis tinggi tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
  • orang sehat dengan pola makan seimbang yang sebenarnya tidak memerlukan suplementasi.
  • individu yang mengonsumsi multivitamin harian tanpa mengetahui kebutuhannya.

Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa konsumsi multivitamin benar-benar sesuai kebutuhan, bukan sekadar kebiasaan tanpa tujuan.

Baca juga: Cara dan Waktu yang Tepat Konsumsi Suplemen Vitamin

Pilih Multivitamin dengan Bijak

Multivitamin bukan musuh, tapi juga bukan tiket instan untuk mendapatkan tubuh yang sehat. Tubuh kita bekerja jauh lebih kompleks daripada sekadar menambah vitamin. Pada banyak orang, pola makan yang beragam dan seimbang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien harian. Oleh karena itu, multivitamin sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan utuh.

Jika kamu merasa mudah lelah, sering melewatkan makan, atau mencurigai ada kekurangan zat gizi tertentu, langkah terbaik bukan langsung membeli multivitamin, melainkan mengevaluasi pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan. Suplemen mungkin bisa membantu, tetapi akan bekerja jauh lebih baik kalau pola makan dan gaya hidup sudah baik terlebih dahulu.

Pada akhirnya, keputusan untuk mengonsumsi multivitamin harus disesuaikan dengan kebutuhan pribadi, riwayat kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan. Dengan pendekatan yang bijak, multivitamin dapat menjadi alat bantu, bukan tumpuan utama untuk hidup sehat.

Baca juga: FAKTOR PENYEBAB DEFISIENSI VITAMIN D

Referensi

  1. Khatode, R. R., Pathan, S. B., Datir, P., & Khaladkar, S. (2022). Formulation and Evaluation of Multivitamin Gummies. International Journal of Advanced Research in Science, Communication and Technology, 391–399. https://doi.org/10.48175/ijarsct-4828 ↩︎
  2. Hack, C. C., & Wasner, S. (2021). Vitamine und Spurenelemente. Gynakologe, 54(1), 38–44. https://doi.org/10.1007/S00129-020-04727-8 ↩︎
  3. Silva, V. M., Sá, L. F. R. de, Carvalho, D. S. de, Mérida, L. A. D., Oliveira, C. P. de, Modesto, R. M., Tinoco, V. do A., Gallo, E. C. D. P. R., Pinho, M., Barreto, J. G., Ribeiro, M. B., & Costa, R. (2025). A importância da suplementação nutricional em idosos. Desarrollo Local Sostenible, 18(70), e6365. https://doi.org/10.55905/rdelosv18.n70-120 ↩︎
  4. Brown, L. L., Cohen, B. E., Edwards, E., Gustin, C. E., & Noreen, Z. (2021). Physiological Need for Calcium, Iron, and Folic Acid for Women of Various Subpopulations During Pregnancy and Beyond. Journal of Womens Health, 30(2), 207–211. https://doi.org/10.1089/JWH.2020.8873 ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *