Ultra-processed foods

Hati-Hati! Makanan Ultra-Proses Bisa Menurunkan Kepekaan Lidah Anak Terhadap Rasa

Banyak anak sekarang cenderung memilih makanan yang rasanya lebih “nendang”, manis, gurih, atau sangat beraroma. Sementara itu, makanan rumahan seperti sayur, lauk sederhana, atau buah yang rasanya lebih alami sering kali dianggap “kurang enak”. Fenomena ini sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan anak yang pilih-pilih makan.

Ini perlu dipahami dengan lebih luas, karena bukan hanya soal kebiasaan makan, tetapi menyangkut bagaimana indera perasa anak berkembang. Semakin sering lidah terpapar rasa yang intens, semakin tinggi ambang sensitivitas terhadap rasa alami.

Pola Makan Anak Bisa Bergeser Tanpa Disadari

Sumber: Freepik

Para peneliti menemukan bahwa makanan ultra-proses food (UPF), seperti snack kemasan, sereal manis, minuman berperisa, hingga makanan beku instan, memiliki kombinasi rasa yang jauh lebih kuat dibandingkan makanan segar. Tidak hanya lebih manis atau lebih asin, tetapi juga mengandung penambah rasa, penguat aroma, dan tekstur yang dibuat sesedap mungkin.1

Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap rasa yang sangat intens ini tentunya dapat mengubah cara reseptor perasa merespons makanan. Lidah menjadi “terbiasa” pada rangsangan kuat, sehingga rasa alami seperti manis buah atau gurih kaldu rumahan terasa jauh lebih datar.2,3

Fenomena ini dikenal sebagai penurunan sensitivitas rasa, dan bisa terjadi pada usia berapa pun, termasuk anak-anak yang sering mengonsumsi UPF sejak kecil.

Rasa pada makanan segar sebenarnya sangat kompleks, seperti manis alami di buah, asam pada sayur, gurih halus pada protein hewani. Namun, rasa-rasa ini membutuhkan sensitivitas lidah yang baik untuk bisa diapresiasi.

Perubahan di level indera perasa ini pada akhirnya tidak berhenti hanya pada soal “lidah terbiasa rasa kuat”. Dampaknya bisa merembet ke kebiasaan makan sehari-hari. Saat rasa alami tak lagi memuaskan, preferensi anak pun perlahan ikut bergeser, dan inilah yang sering kali tidak disadari banyak orang tua.

Perubahan preferensi ini biasanya muncul dalam bentuk kebiasaan kecil seperti:

  • lebih sering meminta snack atau minuman manis
  • lebih mudah bosan dengan makanan rumahan
  • lebih susah menerima sayur baru
  • craving makanan gurih, asin, atau berempah kuat
  • porsi UPF meningkat dari waktu ke waktu

Polanya bisa terjadi sangat halus. Banyak orang tua merasa anak “tiba-tiba sulit makan makanan rumah”, padahal perubahan preferensi rasa ini terjadi bertahun-tahun, dan dipicu oleh kebiasaan kecil yang berulang setiap hari.

Dampak Metabolik yang Perlu Diperhatikan

Selain memengaruhi lidah, konsumsi UPF yang terlalu sering juga dapat:

  • meningkatkan preferensi terhadap makanan tinggi gula dan lemak
  • mengganggu regulasi nafsu makan
  • meningkatkan risiko obesitas pada anak hingga 26% dan penyakit kardiovaskular sebesar 35%,4 karena produk ini tinggi kalori, gula, dan lemak, tetapi rendah zat gizi penting5
  • mengganggu keseimbangan mikrobiota usus dan memicu peradangan, yang berkontribusi pada sindrom metabolik dan gangguan metabolisme lainnya6

Ketika sensitivitas rasa menurun, anak cenderung memilih makanan yang lebih manis atau lebih gurih untuk mendapatkan “kepuasan rasa” yang sama. Inilah yang membuat UPF memberi efek domino pada pola makan jangka panjang, sekaligus meningkatkan risiko metabolik seiring waktu.

Baca Juga: ULTRA-PROCESSED FOODS PENGHANCUR DIET ?

Bisakah Sensitivitas Rasa Dipulihkan?

Sumber: Freepik

Kabar baiknya, penurunan sensitivitas rasa tidak permanen. Lidah dapat “belajar ulang”, terutama jika dilakukan secara bertahap.

Beberapa langkah yang terbukti membantu, seperti:

  • Kurangi UPF secara perlahan. Tidak perlu langsung berhenti total. Kurangi frekuensinya dan mulai perkenalkan rasa alami lebih sering.
  • Perkenalkan kembali makanan segar berkali-kali. Bisa dilakukan 10–15 kali paparan agar dapat menerima rasa baru.
  • Gunakan teknik masak yang memperkuat rasa alami. Panggang, tumis, kukus dengan bumbu ringan dapat meningkatkan aroma dan rasa tanpa perlu penguat rasa.
  • Hindari membandingkan makanan rumah dengan snack. Ajak anak menikmati rasa alami tanpa framing bahwa “ini kalah enak dari snack”.
  • Jadikan makan sebagai pengalaman positif. Jangan sampai ada tekanan atau paksaan, karena ini dapat membuat anak makin menolak makanan baru.

Perubahan kecil tetapi konsisten dapat membantu lidah anak kembali mengenali dan menikmati rasa alami. Kecenderungan anak menyukai makanan yang “nendang” bukanlah masalah perilaku semata. Ada proses biologis yang ikut berperan, mulai dari reseptor rasa yang kurang sensitif hingga preferensi alami yang bergeser karena seringnya terpapar UPF.

Dengan memahami mekanisme ini, orang tua (dan pendidik) dapat mengambil langkah preventif dan korektif tanpa menyalahkan anak. Kuncinya bukan melarang sepenuhnya, tetapi membangun kebiasaan rasa yang lebih seimbang, dan ya, lidah anak bisa kembali sensitif. Asalkan kita mulai dari langkah kecil.

Baca Juga: PENTINGNYA MEMILIH JAJANAN SEHAT DEMI KESEHATAN ANAK

Referensi

  1. Da Silva, A. F., da Silva, J. A. A., Rocha, L. G. A., & Santos, A. C. (2022). Impacto e consequências do consumo de alimentos ultraprocessados na saúde infantil. Research, Society and Development, 11(15), e123111536883. https://doi.org/10.33448/rsd-v11i15.36883 ↩︎
  2. De Castro, I. M. S., De Souza, K. S., Dos Reis, D. S., & Jardim, N. A. (2023). Consumo de alimentos ultraprocessados na fase escolar e seus reflexos na saúde. Revista Contemporânea. https://doi.org/10.56083/rcv3n12-141 ↩︎
  3. Conway, R., Heuchan, G., Heggie, L., Rauber, F., Lowry, N., Hallen, H., & Llewellyn, C. H. (2023). Ultra-processed food intake in toddlerhood and mid-childhood in the UK: cross sectional and longitudinal perspectives. https://doi.org/10.31219/osf.io/pyw9m ↩︎
  4. Yeum, D., Hua, S., Thapaliya, G., Duck, S. A., Melhorn, S. J., Roth, C. L., Schur, E. A., Carnell, S., & Sewaybricker, L. E. (2025). The Impact of Eating Behaviors on Ultraprocessed Food Consumption Over 12 Months in Children. Obesity. https://doi.org/10.1002/oby.24361 ↩︎
  5. Temple, N. J. (2024). Making Sense of the Relationship Between Ultra-Processed Foods, Obesity, and Other Chronic Diseases. Nutrients, 16(23), 4039. https://doi.org/10.3390/nu16234039 ↩︎
  6. Rác, M., Janicko, M., Koller, T., & Skladaný, Ľ. (2023). Ultra-processed food – a threat to liver health. Gastroenterologie a Hepatologie, 77(2), 123–129. https://doi.org/10.48095/ccgh2023123 ↩︎

Dewi Rizky Purnama

Recent Posts

Jus Buah atau Buah Utuh, Mana yang Lebih Baik?

Banyak orang merasa telah menerapkan “gaya hidup sehat” ketika minum jus buah setiap hari. Segelas…

2 weeks ago

Dampak Kasus Udang Terkontaminasi Cesium-137 di Cikande: Benarkah Fatal bagi Kesehatan?

Bayangkan saat membuka berita dan menemukan isu bahwa salah satu jenis makanan yang sering kita…

3 weeks ago

Benarkah Clean Eating Efektif Menurunkan Berat Badan?

Istilah clean eating semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang mulai beralih ke makanan…

4 weeks ago

Telur Jadi Protein Murah Favorit MBG! Yuk, Simak Plus Minusnya

Kalau bicara soal menu MBG, satu bahan yang hampir selalu muncul adalah telur. Dari telur…

1 month ago

Mengapa Suhu Jadi Salah Satu Penentu Keamanan Pangan MBG?

Kalau mendengar kasus keracunan makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebanyakan orang langsung menyalahkan…

1 month ago

Susu Plain Direkomendasikan MBG, Bagaimana dengan Anak yang Intoleran Laktosa?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menempatkan susu sebagai salah satu sumber protein hewani yang direkomendasikan,…

2 months ago