Kesehatan dan Gizi lainnya

Jus Buah atau Buah Utuh, Mana yang Lebih Baik?

Banyak orang merasa telah menerapkan “gaya hidup sehat” ketika minum jus buah setiap hari. Segelas jus memang terasa segar, praktis, dan jadi cara cepat mendapatkan vitamin. Tapi, apakah jus benar-benar lebih baik daripada buah utuh? Atau justru sebaliknya?

Dalam artikel berikut akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dengan sederhana dan jelas, agar kamu bisa menentukan pilihan yang paling sehat dan tepat untuk tubuhmu.

Kenapa Buah Utuh dan Jus Berbeda di Dalam Tubuh?

Meskipun berasal dari bahan yang sama, buah utuh dan jus memberikan efek yang sangat berbeda pada tubuh. Perbedaan utama ini berasal dari kandungan serat, kontrol porsi, dan dampaknya terhadap gula darah, sehingga respons tubuh juga ikut berbeda.1 Berikut perbedaannya secara lebih jelas.

1. Serat yang Hilang dalam Jus

Buah utuh mengandung serat makanan yang berperan penting dalam menjaga pencernaan, meningkatkan rasa kenyang, serta membantu mengontrol gula darah.1 Serat inilah yang memperlambat penyerapan gula sehingga kadar glukosa tetap stabil.

Namun, ketika buah diolah menjadi jus, sebagian besar seratnya hilang. Tanpa serat, gula buah lebih cepat diserap dan dapat memicu lonjakan gula darah dalam waktu singkat.2 Hal ini juga menjadi alasan mengapa jus sering terasa lebih “ringan”, tetapi justru kurang mengenyangkan dibandingkan buah utuh.

buah utuh dan jus memiliki respon berbeda dalam tubuh
Sumber: Freepik

2. Porsi yang Lebih Sulit Dikendalikan

Satu gelas jus biasanya dibuat dari 2–3 potong buah, bahkan lebih. Artinya, jumlah gula dan kalorinya otomatis meningkat, tanpa rasa kenyang yang sepadan.

Dari bentuknya yang cair, jus juga cenderung diminum lebih cepat dan dalam porsi lebih besar, membuat konsumsi gula dapat berlebihan.3 Pola ini berpotensi meningkatkan asupan kalori total dan risiko penambahan berat badan, yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2.4

Sebaliknya, saat makan buah utuh, proses mengunyah dan kandungan serat membuat tubuh lebih cepat memberikan sinyal kenyang sehingga porsi lebih mudah terkontrol.

3. Respons Glikemik Tubuh yang Berbeda

Sejalan dengan dua poin sebelumnya, tubuh memang merespons gula dari buah utuh dan jus dengan cara yang berbeda. Buah utuh cenderung memberikan efek netral atau bahkan positif terhadap kontrol gula darah karena struktur fisiknya membuat proses pemecahan dan penyerapan gula berlangsung lebih bertahap.1,5 Kondisi ini membantu menjaga kadar glukosa tetap stabil sepanjang waktu.

Sebaliknya, jus yang telah melalui proses penghancuran, tidak lagi memiliki struktur alami yang memperlambat pemecahan gula. Akibatnya, glukosa lebih cepat dilepas ke aliran darah, dan menghasilkan respons glikemik yang lebih tinggi. Mekanisme inilah yang membuat jus kurang ideal bagi individu yang perlu menjaga kestabilan gula darah, meskipun tetap memberikan vitamin dan hidrasi.

Jus Tetap Bisa Sehat, Asal Dikonsumsi dengan Bijak

cara konsumsi jus yang tepat
Sumber: Freepik

Dalam kondisi tertentu, jus tetap bisa menjadi pilihan yang sehat, asal cara konsumsinya tepat, seperti:

  • Tidak ada penambahan gula, karena tambahan pemanis dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.
  • Porsinya dibatasi 120–150 ml per sajian, agar asupan gula tidak berlebihan dan tetap aman untuk kesehatan metabolik.6
  • Gunakan buah yang kaya air, seperti jeruk, semangka, atau melon, sehingga kadar kalorinya lebih rendah.
  • Dikombinasikan dengan sayuran, misalnya wortel atau bayam. Studi menemukan bahwa mencampurkan jus buah dengan sayuran dapat meningkatkan asupan vitamin dan antioksidan, sekaligus memberi manfaat bagi kesehatan kardiovaskular.7

Baca juga: SUMBER SAYUR, BUAH, DAN MAKANAN DALAM VITAMIN LARUT AIR

Di sisi lain, jus juga dapat membantu seseorang yang:

  • Sulit mengonsumsi buah utuh karena gangguan pencernaan atau kondisi medis tertentu.
  • Membutuhkan energi cepat setelah berolahraga, karena gula alami pada jus lebih mudah diserap.
  • Ingin menambah asupan vitamin dengan cara yang lebih praktis, terutama saat mobilitas sedang tinggi.

Intinya, jus tetap bisa menjadi pilihan yang sehat, tetapi tidak bisa menggantikan manfaat lengkap dari buah utuh.

Buah Utuh Tetap Jadi Pilihan Terbaik

Manfaat buah utuh tetap lebih unggul karena struktur alaminya yang mempertahankan serat dan zat gizi penting. Serat larut dalam buah juga membantu menstabilkan kadar gula darah dan kolesterol, sehingga menurunkan risiko diabetes serta penyakit kardiovaskular.8,9

konsumsi buah utuh daripada jus
Sumber: Freepik

Selain itu, buah dengan indeks glikemik rendah terbukti mampu memperbaiki profil lipid dan kadar glukosa darah puasa, sehingga menjadikannya lebih ideal untuk mendukung metabolisme yang sehat.⁸

Buah utuh juga mempertahankan fitokimia penting seperti flavonoid dan polifenol, yang banyak terdapat pada serat dan kulitnya. Senyawa antioksidan ini cenderung berkurang ketika buah diproses menjadi jus karena oksidasi.10 Padahal, fitokimia tersebut berperan besar dalam melawan stres oksidatif dan peradangan.

Tentukan Pilihan yang Paling Tepat untuk Tubuhmu

Kalau kamu masih ragu memilih antara jus atau buah utuh, kamu bisa menggunakan panduan sederhana berikut untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan harianmu.

Jus lebih tepat dipilih ketika:

  • kamu membutuhkan energi yang cepat diserap, misalnya sebelum olahraga.
  • kamu sedang dalam masa pemulihan dan perlu tambahan cairan sekaligus vitamin.
  • kamu mengalami kesulitan mengunyah atau menelan.

Buah utuh lebih ideal ketika:

  • kamu ingin merasa kenyang lebih lama.
  • kamu sedang mengatur berat badan atau mengontrol gula darah.
  • kamu ingin mendapatkan manfaat maksimal dari serat dan antioksidan.

Jadi, buah utuh tetap menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan jangka panjang karena efeknya terhadap kenyang, metabolisme, dan kontrol gula darah. Tapi, di sisi lain jus tetap boleh dikonsumsi, namun lebih baik dijadikan sebagai pelengkap, bukan pengganti utama.

Sebagai langkah kecil untuk memulai, coba perhatikan pola konsumsi buahmu minggu ini. Apakah lebih banyak dalam bentuk jus atau buah utuh? Jika ingin mendukung kesehatan jangka panjang, biasakan konsumsi buah utuh minimal 2–3 porsi per hari.

Baca juga: Semangka Dapat Mengurangi Penumpukan Asam Laktat?

Referensi

  1. Gul, S., Khatoon, H., Ahmed, N., Rashid, H., & Mirza, A. Z. (2020). Possible role of grape fruit in controlling hyperglycemia and associated complications: Better glycemic control in healthy subjects through fruits fibers as compared to fruit juices. Bangladesh Journal of Medical Science, 19(3), 480–485. https://doi.org/10.3329/BJMS.V19I3.45866 ↩︎
  2. Gonzalez, J. T. (2024). Are all sugars equal? Role of the food source in physiological responses to sugars with an emphasis on fruit and fruit juice. European Journal of Nutrition. https://doi.org/10.1007/s00394-024-03365-3 ↩︎
  3. Seino, Y., Iizuka, K., & Suzuki, A. (2021). Eating whole fruit, not drinking fruit juice, may reduce the risk of type 2 diabetes mellitus. Journal of Diabetes Investigation, 12(10), 1759–1761. https://doi.org/10.1111/JDI.13639 ↩︎
  4. The Relationship of Fruits and Fruit-Products Consumption with Glucose Homeostasis and Diabetes: A Comprehensive Update on the Current Clinical Literature. (2023). Dietetics. https://doi.org/10.3390/dietetics2030018 ↩︎
  5. Christensen, A. S., Viggers, L., & Gregersen, S. (2015). Fruit and Glycemic Control in Type 2 Diabetes (pp. 215–223). Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-800093-9.00017-X ↩︎
  6. Ruxton, C. H. S., & Myers, M. (2021). Fruit Juices: Are They Helpful or Harmful? An Evidence Review. Nutrients, 13(6), 1815. https://doi.org/10.3390/NU13061815 ↩︎
  7. Zheng, J., Zhou, Y., Li, S., Zhang, P., Zhou, T., Xu, D.-P., & Li, H.-B. (2017). Effects and Mechanisms of Fruit and Vegetable Juices on Cardiovascular Diseases. International Journal of Molecular Sciences, 18(3), 555. https://doi.org/10.3390/IJMS18030555 ↩︎
  8. Ningrum, N., Indarto, D., & Suminah. (2022). Consumption of Fruit Before Meals with Different Glycaemic Index to Lipid Profile and Blood Glucose Levels in Overweight Adults. International Journal of Human and Health Sciences, 6(3), 320. https://doi.org/10.31344/ijhhs.v6i3.466 ↩︎
  9. Li, F., Zeng, K., & Ming, J. (2023). Lowering glycemic levels via gastrointestinal tract factors: the roles of dietary fiber, polyphenols, and their combination. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 1–37. https://doi.org/10.1080/10408398.2023.2278169 ↩︎
  10. Bator, P., Razik, M., Rozwadowska, P. A., Ramian, J., Rybak, J., Magiera, B., Magiera, K., Grabowska-Szczurek, M., Grabarczyk, A., & Razik, W. (2024). An apple a day keeps the doctor away? – a review of health benefits of apples. Journal of Education, Health and Sport. https://doi.org/10.12775/jehs.2024.55.005 ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *