Kurang Energi Kronis Pada Ibu Hamil Pencetus BBLR

Oleh: Amarilis  Nurdita Pawestri, S.Gz

Kurang Energi Kronik (KEK) merupakan suatu kondisi dimana seorang ibu hamil menderita kekurangan asupan makanan yang berlangsung dalam jangka waktu lama (menahun atau kronis), yang ditandai dengan hasil ukur LILA <23,5 cm. Ibu hamil yang mengalami KEK cenderung melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Baca : Kurang Energi Kronis pada Kehamilan

Dampak

KEK selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin. KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal dan terkena penyakit infeksi. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (prematur), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi. KEK ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum, lahir dengan berat lahir rendah (BBLR).

Kurang Energi Kronis dan Berat Badan Lahir Rendah

Status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan apabila status gizi ibu buruk, baik sebelum kehamilan maupun selama kehamilan akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan pada janin, menyebabkan terhambatnya pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah infeksi, dan abortus sehingga memiliki risiko melahirkan bayi BBLR.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sumiati mengenai menunjukkan bahwa persentase ibu hamil yang mengalami KEK 69 (23,8%) dan BBLR sebanyak 58 bayi (20%). Terdapat hubungan yang bermakna antara KEK pada ibu hamil dengan BBLR. Ibu hamil dengan KEK memiliki risiko 4x untuk melahirkan bayi dengan BBLR.

Status gizi ibu hamil harus benar-benar mendapat perhatian karena menentukan berat badan bayi baru lahir dan status gizi janin ditentukan oleh status gizi ibu selama hamil sampai melahirkan. Malnutrisi menyebabkan ibu mengalami penurunan darah. Volume darah penting untuk membawa zat gizi atau oksigen ke janin melalui plasenta. Terjadinya penurunan volume darah maka curah jantung tidak adekuat, darah menuju plasenta yang membawa zat gizi untuk janin tersebut mengalami penurunan, menyebabkan ukuran plasenta lebih kecil. Selain itu, karena adanya gangguan sirkulasi oksigen dan zat gizi maka akan mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat atau BBLR.

Lebih Lanjut : Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan Bagi Ibu Hamil

Pencegahan KEK

Dalam menanggulangi KEK pada ibu hamil dan memperkecil resiko BBLR maka diperlukan upaya mempertahankan kondisi gizi yang baik pada ibu hamil antara lain melalui :

  • pencegahan dan pengobatan yaitu mengusahakan agar ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara rutin dan lebih awal,
  • penjaringan dan deteksi Wanita Usia Subur (WUS) yang mempunyai resiko KEK dan Anemia sehingga faktor resiko tersebut dapat ditangani sedini mungkin,
  • memberikan penyuluhan tentang makanan bergizi dan pengaturan konsumsi makanan pada WUS dan ibu hamil,
  • pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada ibu hamil KEK,
  • pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka, terutama dalam mencukupi kebutuhan akan makanan bergizi.
  • peningkatan variasi dan jumlah makanan, oleh karena kandungan zat gizi pada setiap jenis makanan berbeda-beda, dan tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung zat gizi lengkap, maka perlu konsumsi makanan yang beragam.
Selain itu upaya pencegahan serta pengendalian BBLR bisa dilakukan dengan beberapa upaya yaitu memberikan pendidikan kesehatan yang cukup mengenai BBLR kepada ibu hamil. Selain itu, dapat juga melakukan pengawasan dan pemantauan, kemudian melakukan upaya pencegahan hipotermia pada bayi serta membantu mencapai pertumbuhan normal. Adapun upaya lainnya seperti, melakukan terapi tanpa biaya yang dapat dilakukan oleh ibu, mengukur status gizi ibu hamil, melakukan perhitungan dan persiapan langkah–langkah dalam kesehatan (Antenatal Care), serta melakukan pemantauan terhadap kondisi bayi sejak dalam kandungan yang telah mengalami retardasi pertumbuhan interauterin.

Dengan demikian, bila upaya pencegahan serta pengendalian BBLR dapat terlaksana dengan baik, maka keberhasilan dalam peningkatan berat badan bayi akan terealisasi, begitu pula tingkat pengetahuan ibu baik dalam mengatur jarak kehamilan hingga mengetahui usia-usia yang tidak aman untuk menjalani kehamilan dan persalinan serta pemberian zat gizi yang dimulai dari semasa dalam kandungan hingga beranjak menuju usia 2 tahun, menjaga kesehatan diri serta sang buah hati, dan selalu memperhatikan kebersihan yang berada di sekitar.

Upaya pencegahan dan pengendalian BBLR sangat penting dilakukan sehingga dapat berpengaruh untuk menurunkan AKB. Upaya pencegahan dan pengendalian tersebut diantaranya yaitu meliputi pendidikan kesehatan, pengawasan dan pemantauan, pencegahan hipotermia pada bayi, melakukan terapi tanpa biaya yang dapat dilakukan, mengukur status gizi ibu hamil, melakukan perhitungan dan persiapan langkah–langkah dalam kesehatan (Antenatal Care)

Referensi

Adamkin, D. H., & Radmacher, P. G. (2017, February). Advances in nutrition. Seminars in Fetal and Neonatal Medicine, Vol. 22, p. 1. W.B. Saunders Ltd. https://doi.org/10.1016/j.siny.2016.08.006

Azizah, L. F., Nugrahaeni, S. A., & Hadi, C. (2018). Pengaruh Pendidikan Buklet Kesehatan terhadap Perilaku Ibu Hamil terkait Upaya Pencegahan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Kota Semarang ( Studi Kasus di Puskesmas Tlogosari Wetan dan Puskesmas Genuk)

Nasution, D. (2014). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-24 Bulan. Gizi Klinik Indonesia, 11(1), 31–37.

Rosela, K., Taviane, E., & Alestari, R. O. (2016). Pengaruh Pendidikan Kesehatn terhadap Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil dalam Pencegahan terjadinya Kelahiran Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pahandut Palangkaraya. Dinamika Kesehatan, 7(2), 60–67. https://doi.org/10.1103/PhysRevE.49.12

Rosha, B. C. (2018). Pengetahuan Ibu mengenai BBLR dan cara Menghangatkan Bayi BBLR dengan Perawatan Metode Konvensional, Skin To Skin, dan Tradisional di Kota Bogor. Buletin Penelitian Kesehatan, 46(3), 169–176. https://doi.org/10.22435/bpk.v46i3.901

Supariasa,I Nyoman & Bakri,Bachyar & Fajar,Ibnu 2013. Penilaian Status Gizi, EGC, Jakarta.

Solehati, T., Kosasih, C. E., Rais, Y., Fithriyah, N., Darmayanti, D., & Puspitasari, N. R. (2018). Kangaroo Mother Care Pada Bayi Berat Lahir Rendah : Sistematik Review. PROMOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1), 83. https://doi.org/10.31934/promotif.v8i1.234

AhliGiziID

informasi gizi berbasis fakta ilmiah

2 thoughts on “Kurang Energi Kronis Pada Ibu Hamil Pencetus BBLR

  • September 14, 2022 at 4:04 pm
    Permalink

    Terimakasih sudah sharing min, ilmu ini akan sangat bermanafaat bagi Ibu yang sedang berjuang menaikkan berat badan saat hamil.

    Sehat-sehat selalu ya

    Reply
  • September 14, 2022 at 4:05 pm
    Permalink

    Terimakasih sudah sharing min, ilmu ini akan sangat bermanafaat bagi Ibu yang sedang berjuang menaikkan berat badan saat hamil.

    Sehat-sehat selalu ya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.