Kondisi kurang energi kronis perlu dicegah selama kehamilan karena berdampak negatif bagi ibu dan bayi yang dikandung. mari kita simak lebih lanjut pada artikel berikut.
Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan masalah gizi yang disebabkan kurangnya asupan energi dan protein dalam jangka waktu yang lama (hingga tahunan). Kekurangan energi dalam waktu yang lama akan menyebabkan pemakaian jaringan atau cadangan untuk memenuhi ketidakcukupan energi ditandai dengan penurunan berat badan, sehingga akan menimbulkan masalah kesehatan yang baru bagi wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil.1
Selain itu, akan terjadi perubahan biokimia pada saat pemeriksaan laboratorium, fungsi, dan anatomi yang dapat dilihat secara kasat mata. Kurangnya asupan energi secara kronis ini dapat diukur dengan lingkar lengan atas (LiLA), apabila kurang dari 23,5 cm atau penambahan berat badan kurang dari 9 kg selama kehamilan maka dapat dikatakan sebagai KEK.2
Beberapa faktor risiko KEK saat hamil antara lain :1,3–5
merupakan salah satu faktor penting dalam proses kehamilan hingga persalinan, karena kehamilan pada ibu yang berumur muda menyebabkan terjadinya kompetisi makanan antara janin dengan ibu yang masih dalam masa pertumbuhan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang berumur kurang dari 20 tahun memiliki risiko KEK yang lebih tinggi, bahkan ibu hamil yang umurnya terlalu muda dapat meningkatkan risiko KEK secara signifikan.
Paritas merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya KEK pada ibu hamil. Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Penelitian menyebutkan bahwa ibu dengan multipara lebih berisiko untuk mengalami KEK. Biasanya ibu dengan paritas lebih dari 5 kali memiliki kemungkinan besar untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Ibu hamil yang mempunyai paritas lebih dari 4 orang lebih berisiko KEK dibandingkan dengan ibu yang mempunyai paritas kurang dari 4 orang. Hal ini dapat terjadi karena ibu cenderung menjadi kurang peduli akan gizi yang dikonsumsi karena sudah beberapa kali hamil dan melahirkan sehingga banyak ditemui keadaan kesehatan yang terganggu. Selain itu, paritas ibu yang tinggi atau terlalu sering hamil dapat menguras cadangan zat gizi tubuh.
Hasil penelitian ibu hamil dengan KEK berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa mayoritas berpendidikan dasar. Hal ini dikarenakan makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki mengenai gizi selama hamil. Pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan termasuk mengenai gizi selama hamil. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang ibu akan mempengaruhi pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada perilakunya. Ibu dengan pengetahuan gizi yang baik kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup pada bayinya.
Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat keadaan ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli keluarga. Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan dalam rumah tangga. Keluarga yang memiliki pendapatan kurang, berpengaruh terhadap daya beli keluarga tersebut. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pandapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat pengelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar responden yang berpendapatan di atas UMR tidak mengalami KEK, sedangkan responden yang berpendapatan di bawah UMR lebih banyak yang mengalami KEK.
Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke petugas kesehatan sedini mugkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan ANC petugas mengumpulkan data dan menganalisis kondisi ibu melalui pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan serta ada tidaknya masalah atau komplikasi kehamilan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara riwayat ANC dengan kejadian KEK.
dipengaruhi oleh adanya asupan makanan yang mengandung zat besi (Fe) yang rendah sehingga mengakibatkan kadar Hb ibu hamil rendah dan dapat menyebabkan ibu hamil tersebut kekurangan energi kronis. Wanita hamil beresiko anemia jika kadar Hbnya <11 gr%. Hasil penelitian menyebutkan bahwa ibu hamil dengan KEK lebih banyak yang anemia dibadingkan ibu hamil yang tidak KEK.
Lebih Lanjut : Faktor Penyebab Anemia pada Ibu Hamil
Asupan makan merupakan salah satu dari berbagai faktor yang berperan penting dalam terjadinya bentuk kekurangan gizi seperti kurang energi kronik (KEK). Kebutuhan makanan bagi ibu hamil lebih banyak dari pada kebutuhan wanita yang tidak hamil baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal tersebut disebabkan karena adanya penyesuaian dari perbedaan fisiologi selama kehamilan. Ketidakcukupan asupan juga meliputi adanya malabsorbsi sehingga meskipun sudah mengasup dengan jumlah yang cukup namun yang diserap oleh tubuh belum mencukupi kebutuhan. Apabila ibu tidak mampu memenuhi kebutuhannya maka akan berdampak terhadap kekurangan gizi pada ibu hamil salah satunya KEK.
Baca Artikel : Makanan yang Dianjurkan & Tidak Dianjurkan bagi Ibu Hamil
Bila ibu mengalami risiko KEK selama hamil maka dampaknya akan terjadi baik pada janin maupun ibu. KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan risiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (prematur), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. KEK ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi BBLR mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan anak.
Untuk mengatasi kekurangan gizi (KEK) yang terjadi pada ibu hamil, Pemerintah memberikan bantuan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Bentuk makanan berupa biskuit yang diberikan 1 bulan sekali dan dilakukan observasi sampai ibu hamil dengan KEK tersebut mengalami pemulihan. PMT adalah makanan bergizi yang diperuntukkan bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis sebagai makanan tambahan untuk pemulihan gizi. Pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama. Faktor pendukung keberhasilan yakni distribusi tablet tambah darah, konseling gizi bagi ibu hamil, kampanye gizi seimbang, promosi keluarga sadar gizi, kegiatan kelas ibu hamil, dan meningkatkan penyelenggarakan kegiatan antenatal di puskesmas.
Perbaikan status gizi ibu hamil KEK harus sesegera mungkin dilakukan, berikut adalah tahapan konseling yang akan membantu perbaikan status gizi ibu hamil KEK:6
Baca : Pedoman bagi Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas Selama Pandemi Covid-19
Source: Portal Informasi Indonesia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan di…
Source: Freepik Bulan Ramadhan telah tiba, saatnya umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Menahan lapar dan…
Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) edisi 2024 telah dirilis dengan berbagai pembaruan signifikan untuk…
Editor: Annisa Alifaradila Rachmayanti Intermittent Fasting (IF) merupakan salah satu metode diet yang menggunakan interval…
Konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) semakin meningkat, mulai dari berbagai macam teh hingga kopi…
Sumber: Sakana on Unsplash Pernahkah kamu melihat postingan makanan mix “unik” dari anak kos pada…