KONSUMSI GARAM BERYODIUM | MENGAPA PENTING??

Apakah Anda telah menggunakan garam beryodium? Seberapa penting garam beryodium bagi tubuh? Mari kita simak pada artikel berikut=)

Garam Beryodium

Penggunaan garam beryodium dirumah tangga sangat dianjurkan karena fungsi yodium sangat penting bagi tubuh manusia (1). Yodium merupakan mineral mikro yang harus tersedia, berfungsi untuk pembentukan hormon tiroid dan berguna untuk proses metabolisme di dalam tubuh (2).

Pemerintah telah mengeluarkan banyak peraturan dan ketentuan yang berkaitan dengan produksi dan penggunaan garam beryodium di Indonesia. Mulai dari Keputusan Presiden tentang Pengadaan Garam Beryodium (Keppres No. 69 tahun 1994), Peraturan Menteri Perindustrian tentang Pengolahan, Pengemasan, dan Pelabelan Garam Beryodium (No. 42/M-IND/PER/11/2005), dan Peraturan Menteri Perdagangan tentang Ketentuan Impor Garam (No.125/M-DAG/PER/12/2015). Garam yang dapat diperdagangkan untuk keperluan konsumsi manusia atau ternak, pengasinan ikan, atau bahan penolong industri pangan adalah garam beryodium yang telah memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) atau Standar Nasional Indonesia (SNI). Oleh karena itu, sudah selayaknya seluruh garam yang beredar di Indonesia memiliki kandungan yodium yang cukup. Umumnya garam yang memenuhi syarat untuk difortifikasi adalah dalam bentuk halus. Hal ini dikarenakan rendahnya kadar air, tingkat keasaman yang tidak terlalu tinggi, serta telah melalui proses pencucian (1).

Pemantauan konsumsi garam beryodium di tingkat rumah tangga merupakan salah satu program nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota. Program ini bertujuan untuk pemantauan secara rutin konsumsi garam beryodium sebagai upaya penanggulangan masalah GAKY. Hasil pemantauan ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana penerapan penggunaan garam beryodium di tingkat rumah tangga (1).

GAKY

Apabila yodium dalam tubuh manusia tidak tercukupi, maka akan menyebabkan terjadinya masalah gizi yang disebut dengan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Secara umum GAKY berkaitan erat dengan beberapa penyakit seperti penyakit hipotiroid, hipertiroid, gondok, kekerdilan, dan berisiko terhadap penyakit seperti penyakit arteri koroner, autoimun, gangguan mental, dan kanker (1).

GAKY merupakan salah satu masalah gizi mikro di Indonesia yang mempunyai dampak langsung ataupun tidak langsung pada kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia (2). Dampak yang ditimbulkan sangat luas dan beragam, pada dasarnya melibatkan gangguan tumbuh kembang manusia baik fisik maupun mental ataupun kecerdasan. Gejalanya ada yang mudah terlihat ada pula yang sulit terdeteksi. Selain berupa pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroid, kekurangan yodium pada ibu hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati sampai cacat bawaan pada bayi yang lahir berupa gangguan perkembangan syaraf, mental dan cacat fisik yang disebut kretin. Semua gangguan ini dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya produktifitas kerja pada orang dewasa serta timbulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat yang dapat menghambat pembangunan (3).

Baca Artikel : Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Anjuran Asupan Yodium

Tubuh manusia membutuhkan yodium dalam jumlah yang kecil dalam satuan microgram (mkg). Bagi masyarakat Indonesia asupan yodium yang dianjurkan untuk per orang per harinya yaitu sebesar 90 sampai 120 mkg untuk anak-anak dan 120 sampai 150 mkg untuk orang dewasa, sedangkan dalam kondisi khusus seperti hamil dan menyusui ditambahkan yodium masing-masing sebanyak 70 mkg dan 100 mkg (1).

Garam bukan satu-satunya sumber yodium. Anjuran konsumsi garam yaitu 2000 mg/hari atau setara dengan 1 sendok teh (5 gram) garam / hari​1​ Oleh karena itu konsumsi garam individu perlu dibatasi untuk mencegah peningkatan tekanan darah. Berikut perhitungan garam individu. Laut merupakan sumber utama yodium sehingga makanan laut seperti ikan, udang, kerang, rumput laut, dll merupakan sumber yodium yang baik.

Di daerah pantai, air dan tanahnya mengandung banyak yodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai cukup yodiumnya. Semakin jauh tanah dari pantai semakin sedikit kandungan yodiumnya. Salah satu cara penanggulangan kekurangan yodium melalui fortifikasi garam dapur dengan iodium. Fortifikasi garam dengan yodium sudah diwajibkan di Indonesia yaitu sebesar 30-80 ppm.

Lebih Lanjut : Pembatasan Konsumsi Gula Garam Lemak (GGL)

Penggunaan dan Penyimpanan Garam Beryodium

Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), kadar Iodat dalam garam beryodium dapat mengalami penurunan atau hilang selama pengolahan, penyimpanan dan pemasakan. Ketika membubuhkan garam pada waktu proses memasak dilakukan (api masih menyala), zat yodium garam akan hilang ketika terkena panas tersebut. Cara memasak yang salah akan menyebabkan kandungan yodium akan berubah dan tidak bereaksi sebelum diserap oleh tubuh. Sebaiknya pembubuhan garam dilakukan setelah masakan matang dan siap disajikan atau pada saat hangat-hangat kuku saja sehingga kandungan yodiumnya tetap utuh (3). Kehilangan yodium pada saat proses pemasakan dapat dikurangi dengan tiga cara perlakuan penambahan garam beryodium ke dalam sediaan makanan yaitu sebelum pemasakan, pada saat pemasakan dan pada saat siap disajikan (2).

Selain itu dalam penyimpanan garam beryodium juga harus dengan benar agar dapat mencegah terjadinya kehilangan kadar yodium selama penyimpanan di rumah tangga yaitu dengan menggunakan wadah yang tertutup dan kering, diletakkan di tempat sejuk, jauh dari api dan terhindar dari cahaya matahari secara langsung, pada saat pengambilan garam harus menggunakan sendok yang kering dan selalu menutup kembali dengan baik setelah pengambilan garam. Garam beryodium akan lebih baik apabila disimpan dalam wadah yang terbuat dari kaca, keramik ataupun plastik, terutama yang tidak tembus cahaya. Garam yang disimpan dalam toples kaca cenderung mengandung kadar iodium yang cukup dibandingkan dengan wadah penyimpanan lainnya (1).

Baca : Apakah Garam Himalaya Lebih baik dari Garam Biasa?

Referensi

1.        Chahyanto, Bibi Ahmad, Dorce Dame Purba N dan RS. Penggunaan Garam Beriodium Tingkat Rumah Tangga di Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga. Jurnal Media Litbangkes. 2017;27(2):125–32.

2.        Astutik VY. Tingkat Pengetahuan, Pola Kebiasaan Lingkungan Hidup Berhubungan dengan Motivasi Ibu dalam Memilih Kondisi Garam. Jurnal Care. 2017;5(2):220–30.

3.        Agustin, Helfi, Hary Budiman  dan YF. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Kecamatan Koto Tangah , Padang. Jurnal Kesehatan Komunitas. 2015;2(6):262–9.

Editor : Ayu Rahadiyanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *