DIET DEMENSIA ALZHEIMER

Menurut laporan WHO dan Alzheimer’s Disease International (ADI) tahun 2012 diperkirakan 35,6 juta orang hidup dengan demensia. Jumlah andiperkirakan dapat menjadi dua kali lipat pada tahun 2030 dan tiga kali atau sekitar 115 juta orang pada tahun 2050 ​1​. Lantas bagaimana diet untuk orang yang mengalami demensia/alzheimer ini?

Demensia

adalah sindrom yang mempengaruhi memori, pemikiran, perilaku dan kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, yang disebabkan oleh berbagai penyakit otak, seperti penyakit Alzheimer, demensia vaskular, demensia dengan tubuh Lewy, dan demensia frontotemporal adalah yang paling umum, demensia bukanlah bagian normal dari penuaan​2​ . Secara umum gejala demensia dibagi menjadi dua kelompok yaitu gangguan kognisi dan gangguan non-kognisi. Gangguan kognisi meliputi dari gangguan memori terutama kemampuan belajar materi baru yang sering merupakan keluhan paling dini. Memori lama bisa terganggu pada demensia tahap lanjut. Gangguan non-kognisi meliputi keluhan neuropsikiatri atau kelompok behavioral neuropsychological symptoms of dementia (BPSD). Komponen perilaku meliputi agitasi, tindakan agresif dan nonagresif seperti wandering, disihibisi, sundowning syndrome dan gejala lainnya. Keluhan tersering adalah depresi, gangguan tidur dan gejala psikosa seperti delusi dan halusinasi​3​.

Baca Artikel : Skrining Fungsi Kognitif pada Lansia

Penyakit Azheimer

Penyakit neurodegenerative yang paling sering ditemukan sekitar 60%-80%. Karateristik klinik berupa berupa penurunan progresif memori episodik dan fungsi kortikal lain. Gangguan motorik tidak ditemukan kecuali pada tahap akhir penyakit. Gangguan perilaku dan ketergantungan dalam aktivitas hidup keseharian menyusul gangguan memori episodik mendukung diagnosis penyakit ini. Penyakit ini mengenai terutama lansia (>65 tahun) walaupun dapat ditemukan pada usia yang lebih muda.

Upaya Yang dapat dilakukan untuk menunda demensia/ Alzeimer​1​

  1. Menurunkan/menjaga kadar kolesterol dalam darah
  2. Menurunkan/menjaga tekanan darah
  3. Mengendalikan diabetes
  4. Berolahraga secara teratur
  5. Terlibat dalam kegiatan yang merangsang pikiran
  6. Peningkatan kualitas hidup.
  7. Diet sehat dan gizi seimbang

Bagaimana Demensia Dapat Mempengaruhi Diet dan Zat Gizi ?

Demensia dapat menyebabkan perubahan berat badan, nafsu makan, indra perasa bau dan  haus, dan dapat terjadi kesulitan mengunyah dan menelan. Perubahan ini semua dapat  berdampak pada  diet, asupan zat gizi, dan kualitas hidup.

Kenaikan/Penurunan Berat Badan Orang dengan Demensia

Beberapa orang demensia lupa makan atau berpikir mereka sudah makan hanya karena tidak merasa lapar. Apabila hal ini dapat terjadi secara terus menerus akan terjadi penurunan berat badan secara bertahap dari waktu ke waktu. Jika seorang dimensia tinggal sendirian tidak ada yang menyiapkan makan untuk mereka dan mereka akan sulit untuk membuat atau membeli makanannya sendiri. Begitu pula sebaliknya beberapa orang bisa makan berlebihan. Mereka mungkin tidak ingat bahwa mereka baru saja makan atau mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka merasa kenyang​4​.

Perlu untuk diingat bahwa setiap orang dengan demensia berbeda, dan tantangan makanan dan zat gizi yang dihadapi individu akan menentukan berapa banyak dari setiap kelompok makanan yang mungkin perlu dimakan orang tersebut. Misalnya, jika  seseorang  dengan  demensia terlalu kurus berat badannya,  mereka  mungkin perlu meningkatkan  asupan makanan dari sebagian besar kelompok makanan. Jika seseorang dengan demensia terlalu gemuk berat badannya, mereka mungkin perlu  mengurangi asupan mereka​4​.

Makanan yang baik bagi demensia​4​

Lebih lanjut : Peran Zat Gizi pada Fungsi Kognitif Lansia

  • Nasi, roti, sereal, kentang, pasta

Penting untuk memastikan tercukupinya asupan bagi penyandang demensia sepanjang hari supaya energi nya terpenuhi. Orang dengan demensia dapat merasa lelah seiring berjalannya waktu. Jadi makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, roti, kentang, dan pasta akan membantu.

  • Protein dan daging

Protein sangat diperlukan untuk menjaga kekuatan otot dan untuk perbaikan semua jarinagn didalam tubuh termasuk kekebalan tubuh. Anda dapat memasukan makanan berprotein tinggi pada dua makanan utama setiap hari, serta makanan ringan. Sumber protein yang baik seperti daging, ayam, ikan, produk susu, telur, dan kacang-kacangan. Cobalah cracker gandum dengan keju di pagi hari pengganti biskuit manis.

  • Buah dan sayur

Buah dan sayur menyediakan sumber vitamin, mineral dan serat yang baik, yang membantu mendukung sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan fungsi usus yang sehat. Konsumsi berbagai macam buah dan sayur serta batasi jus buah tanpa pemanis, hanya sehari sekali

adalah jenis lemak baik. Studi  menunjukkan  bahwa zat gizi tertentu, seperti  omega 3 lemak, dapat membantu mendukung fungsi otak yang sehat. Ikan misalnya,  salmon, herring, sarden, makarel, atau tuna dua kali seminggu akan memberikan asupan lemak omega 3 yang baik. Makanan lain yang dapat menyediakan omega 3 termasuk  minyak nabati, biji rami, kacang-kacangan (kenari, pecan dan kacang pinus) dan sayuran hijau berdaun, seperti  bayam  dan  brokoli.

  • Susu dan produk olahannya

Makanan yang terbuat dari susu adalah sumber protein dan kalsium yang kaya, penting untuk menjaga kekuatan tulang. Sumber makanan termasuk  susu, keju, yoghurt dan custard.

Bagaimana kebutuhan gizi bagi lansia?

Referensi

  1. 1.
    Selamatkan otak, peduli gangguan demensia/alzheimer (PIKUN) . Pusat Analisis Determinan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Published 2018. Accessed August 20, 2021. http://www.padk.kemkes.go.id/article/read/2018/09/23/1/selamatkan-otak-peduli-gangguan-demensiaalzheimer-pikun.html
  2. 2.
    Dementia: numbers and burden . In: Nutrition and Dementia. Alzheimer’s Disease International (ADI); 2014:83.
  3. 3.
    Panduan Praktik Klinik Diagnosis Dan Penatalaksanaan Demensia. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia; 2015.
  4. 4.
    Eating Well With Dementia Practical Tips For Family Carers. The Alzheimer Society of Ireland; 2017.

Editor : Ayu Rahadiyanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *