Konsumsi Makanan Apa Saja yang Memicu Hiperemesis?

Hiperemesis lazim terjadi pada ibu hamil terutama pada kehamilan pertama selama trimester pertama. Konsumsi makanan dapat memicu maupun mencegah kejadian hiperemesis pada ibu hamil. Mari kita simak lebih jauh pada artikel berikut =)

Hiperemesis Gravidarum (HG)

merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan mual dan muntah secara terus menerus yang dapat menyebabkan penurunan berat badan lebih dari 5% dari berat badan sebelum hamil, dehidrasi, asidosis metabolik akibat kelaparan, alkalosis akibat kehilangan asam klorida, dan hipokalemia. Sedikitnya 80% wanita hamil mengalami mual dan muntah selama kehamilan. Istilah morning sickness sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ini apabila gejalanya relatif ringan. Mual dan muntah tersebut biasanya hilang setelah trimester pertama.​1​

Hiperemesis biasanya mulai terjadi pada kehamilan minggu ke 4 hingga minggu ke 6, kemudian tingkat keparahan meningkat pada minggu ke 8 hingga minggu ke 12, dan biasanya berakhir pada minggu ke 20.​1​ Permulaan terjadinya hiperemesis gravidarum selalu terjadi pada trimester pertama. Selain mual, muntah, dan penurunan berat badan, wanita tersebut juga mengalami ptyalism (air liur berlebih), dan memiliki tanda-tanda dehidrasi, termasuk hipotensi dan takikardia.​2​

Baca : Diet pada Ibu Hamil

Penyebab

dapat terjadi sebagai interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan sosiokultural. Human Chorionic Gonadotropin (hCG) diyakini sebagai penyebab hiperemesis gravidarum yang paling mungkin terjadi baik secara langsung maupun aktivitasnya terhadap reseptor hormon tiroid (TSH). Jalur dimana tingkat hCG yang lebih tinggi dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum masih belum jelas, namun mekanisme yang diketahui meliputi pengaktifan proses sekresi pada saluran gastrointestinal bagian atas dan menstimulasi peningkatan produksi hormon tiroid oleh hCG.​3​

Peningkatan kadar HCG terjadi pada semua wanita hamil selama awal kehamilan dan biasanya menurun setelah 12 minggu. Hal ini sesuai dengan durasi morning sickness yang normal. Pada hiperemesis gravidarum, kadar hCG seringkali lebih tinggi dan melebihi trimester pertama. Asupan cairan yang menurun dan muntah yang berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi dapat meningkatkan konsentrasi serum hCG, yang pada akhirnya dapat memperburuk mual dan muntah. Beberapa teori lain juga dikemukakan untuk menjelaskan etiologi hiperemesis gravidarum, meliputi :​1​
a. Teori endokrin –kadar HCG dan estrogen yang tinggi selama kehamilan
b. Teori metabolisme –defisiensi vitamin B dan protein, tinggi asupan lemak, fungsi hati yang rendah, faktor imunologi, adanya Helicobacter pylori, dan meningkatnya level amilase.
c. Teori psikologis –stress secara psikologis dapat memperburuk gejala
Lebih Lanjut : Konsumsi Air pada Ibu Hamil

Meskipun penyebab pastinya mual dan muntah tidak diketahui, pengaruh dari mual muntah tersebut dapat meningkatkan aliran darah plasenta, penurunan aliran darah ibu, dan asidosis yang dapat mengancam kesehatan ibu dan janin. Dehidrasi juga bisa menyebabkan persalinan prematur. Sejumlah teori banyak dikemukakan namun hanya sedikit penelitian yang menghasilkan bukti ilmiah untuk mengindentifikasi etiologi kondisi ini.​1​

Asupan Karbohidrat

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat dalam jumlah banyak berhubungan dengan kejadian mual dan muntah pada ibu hamil yang meningkatkan risiko hiperemesis.​4,5​ Telah diamati bahwa wanita yang mengalami mual dan muntah cenderung memiliki Gestational Weight Gain (GWG) atau pertambahan berat badan hamil yang lebih sedikit walaupun mengonsumsi energi dalam jumlah tinggi dan yang terbanyak bersumber dari karbohidrat dan gula. Hal ini terjadi karena disritmia lambung yang menyebabkan mual.​4​

Protein

Konsumsi protein dalam jumlah rendah berhubungan dengan kejadian mual dan muntah pada ibu hamil yang meningkatkan risiko hiperemesis.​4,6​ Adanya pembentukan sel baru akan mendorong permintaan protein dalam waktu cepat. Mual terjadi ketika kebutuhan protein embrio dan ibu melebihi dari sumber daya yang tersedia untuk sintetis protein. Tubuh ibu akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan homeostasis, dan akan membutuhkan peningkatan jumlah protein baik dari cadangan maupun dari makanan untuk mendapatkan kembali keseimbangan homeostatik. Hal ini dapat menyebabkan tubuh mengalami defisiensi protein apabila kebutuhan protein tidak terpenuhi. Kekurangan protein dalam waktu cepat akan menyebabkan disritmia lambung dan menimbulkan perasaan mual.​5​

Mual dan disritmia lambung dapat diturunkan dengan cara memberikan pasien dengan makanan tinggi protein terutama triptofan. Sumber triptofan antara lain telur, susu, keju, yogurt, daging ayam, daging sapi, kacang-kacangan, mangga, kurma, oat. Makanan tinggi protein lebih berperan dalam menurunkan gejala dibandingkan dengan makanan tinggi lemak atau tinggi karbohidrat. Menurunnya gejala disritmia lambung diikuti pula oleh menurunnya gejala mual. Makanan dan susu tambahan untuk ibu hamil akan membentuk konsentrasi serotonin yang cukup serta niasin dalam darah. Fungsi serotonin dan niasin adalah mencegah berlangsungnya mual dan muntah secara berlebihan yang dapat berlanjut menjadi hiperemesis gravidarum.​7​

Lemak

Asupan tinggi lemak merupakan salah satu faktor terjadinya hiperemesis gravidarum.​8​ Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi lemak dalam jumlah banyak berhubungan dengan kejadian mual dan muntah pada ibu hamil yang meningkatkan risiko hiperemesis.​7​ Peningkatan lemak tubuh dapat menyebabkan peningkatan produksi estrogen melalui konversi steroid menjadi estradiol melalui enzim aromatase. Proses ini terjadi pada sel lemak dan peningkatan lemak tubuh sehingga meningkatkan produksi estrogen. Hal ini dispekulasikan bahwa asupan lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan konsentrasi estrogen yang bersirkulasi. Meningkatnya kadar estrogen berkaitan dengan terjadinya hiperemesis gravidarum.

Selain itu, makanan yang berlemak akan menunda pengosongan lambung yang dapat mengakibatkan terjadinya mual. Lemak dapat menghambat pelepasan gastrin di dalam perut dan dapat mempengaruhi aktivitas ritmis lambung. Lemak juga dapat menghambat protein dalam mempertahankan aktivitas lambung secara normal.​9​ Asupan tinggi lemak juga dapat menyebabkan obesitas yang berkaitan dengan terjadinya HG, karena wanita yang memiliki berat badan berlebih cenderung memproduksi dan menyimpan lebih banyak estrogen.​7​

a) Asupan asam lemak omega-3 (asam α-linolenat)

merupakan salah satu pengobatan untuk depresi pada beberapa populasi tertentu, salah satunya kehamilan. Gangguan depresi dengan gangguan somatisasi merupakan bentuk depresi yang paling umum. Menurut teori psikologi, mual muntah pada ibu hamil merupakan gangguan somatisasi atau gangguan fisik yang berasal dari pikiran. Asam lemak omega-3 dapat menurunkan depresi, penyakit perilaku, dan menghubungkan antara pikiran dan tubuh.

Eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) merupakan komponen bioaktif utama asam lemak tak jenuh omega-3, yang tidak disintetis secara efisien pada manusia dan harus diperoleh secara langsung dari makanan, terutama konsumsi ikan. Kekurangan DHA berkaitan dengan disfungsi stabilitas membran neuron dan transmisi serotonin, norepinefrin, dan dopamine, yang berhubungan dengan penyebab mood dan disfungsi kognitif. Serotonin juga berperan dalam mencegah terjadinya mual dan muntah. Selain itu, EPA juga penting untuk menyeimbangkan fungsi kekebalan dan kesehatan fisik dengan menekan efek proinflamasi asam arakhidonat (asam lemak tak jenuh omega-6) sehingga mengurangi sintesis prostaglandin E 2, yang berkaitan dengan depresi.​10​

Lebih Lanjut : Omega 3 dan 6

b) Asupan asam lemak omega-6 (asam lemak linoleat)

Asam arakhidonat (AA), asam lemak tak jenuh omega-6, merupakan substrat utama untuk prostaglandin E2. Diet tinggi AA dapat meningkatkan glukokortikoid dan prostglandain E2 serta kecemasan. Sebaliknya, EPA dapat menekan efek proinflamasi AA, sehingga mengurangi sintetis prostaglandin E2 dan melemahkan interleukin (IL)-1β yang disebabkan oleh aktivasi prostaglandin E2.​10​

Vitamin B6

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sumber vitamin B6 dapat menurunkan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil yang menurunkan risiko hiperemesis. Sumber vitamin B6 antara lain kacang-kacangan, ikan, ayam, alpukat, pisang, sayuran hijau. Meskipun vitamin ini mengkatalisis sejumlah reaksi yang melibatkan produksi neurotransmitter, namun tidak diketahui apakah fungsi ini berperan dalam menghilangkan gejala mual dan muntah atau tidak. Mekanisme bagaimana vitamin B6 berperan dalam menurunkan mual muntah belum jelas, namun vitamin B6 berfungsi sebagai kofaktor pada sekitar 50 enzim dekarboksilase dan transaminase.

Satu hipotesis yang diyakini adalah bahwa vitamin B6 dapat berperan sebagai koenzim yang memungkinkan terjadinya reaktivitas lisin (lisin menjadi residu protein dari reseptor hormone steroid), dimana reaktivitas lisin tersebut dapat mengurangi mual dan muntah yang disebabkan oleh meningkatnya kadar estrogen pada ibu hamil. Vitamin B6 juga dianggap berperan dalam sintetis serotonin, dopamine, norepinephrine, dan asam gamma amino butirat dengan mengkatalisis proses dekarboksilasi. Kekurangan konsumsi asam gamma amino butirat dapat menyebabkan mual dan muntah pada kehamilan sehingga dapat meningkatkan risiko hiperemesis.​11​

Referensi

  1. 1.
    Ricci S, Kyle T. Maternity and Pediatric Nursing. Wolters Kluwer; 2009.
  2. 2.
    James D, Steer P, Weiner C, Gonik B. High Risk Pregnancy E-Book: Management Options – Expert Consult. Elsevier Saunders; 2011.
  3. 3.
    Bajaj S, Rajput R, Jacob J. Endocrine Disorders During Pregnancy. Jaypee Brothers Medical Publishers; 2013.
  4. 4.
    Huo L, Li B, Wei F. Maternal Nutrition Associated with Nausea and Vomiting During Pregnancy : A Prospective Cohort China Study. Biomedical Research . 2017;28(10):4543-4548.
  5. 5.
    Chortatos A, Haugen M, Iversen P, Vikanes Å, Magnus P, Veierød M. Nausea and vomiting in pregnancy: associations with maternal gestational diet and lifestyle factors in the Norwegian Mother and Child Cohort Study. BJOG: Int J Obstet Gy. Published online August 7, 2013:1642-1653. doi:10.1111/1471-0528.12406
  6. 6.
    Haugen M, Vikanes Å, Brantsæter AL, Meltzer HM, Grjibovski AM, Magnus P. Diet before pregnancy and the risk of hyperemesis gravidarum. Br J Nutr. Published online April 18, 2011:596-602. doi:10.1017/s0007114511000675
  7. 7.
    Stern R, Koch K, Andrews P. Nausea: Mechanisms and Management. Oxford University Press; 2011.
  8. 8.
    Green C. Maternal Newborn Nursing Care Plans. Jones & Barlett Learning, LLC; 2012.
  9. 9.
    Levine ME, Muth ER, Williamson MJ, Stern RM. Protein-predominant meals inhibit the development of gastric tachyarrhythmia, nausea and the symptoms of motion sickness. Alimentary Pharmacology & Therapeutics. Published online February 19, 2004:583-590. doi:10.1111/j.1365-2036.2004.01885.x
  10. 10.
    Su K-P. Biological Mechanism of Antidepressant Effect of Omega–3 Fatty Acids: How Does Fish Oil Act as a ‘Mind-Body Interface’? Neurosignals. Published online 2009:144-152. doi:10.1159/000198167
  11. 11.
    Wibowo N, Purwosunu Y, Sekizawa A, Farina A, Tambunan V, Bardosono S. Vitamin B6supplementation in pregnant women with nausea and vomiting. International Journal of Gynecology & Obstetrics. Published online December 20, 2011:206-210. doi:10.1016/j.ijgo.2011.09.030

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *