Membiasakan Konsumsi Sayur Buah pada Anak Pra Sekolah

Banyak anak pra sekolah yang kurang menyukai sayur dan buah. Faktor apa saja yang mempengaruhi konsumsi sayur buah pada anak pra sekolah? Mari kita simak pada artikel berikut.

Karakteristik anak prasekolah

Anak prasekolah merupakan anak yang berusia 3-5 tahun dan merupakan kurun waktu yang disebut sebagai masa keemasan (the golden
age
) karena terjadi beberapa perubahan baik fisik maupun psikologis dari anak tersebut. Karakteristik perubahan psikologis yang terjadi sebagai berikut berkembangnya konsep diri, munculnya egosentris (tidak mampu menerima sudut pandang orang lain), rasa ingin tahu, imajinasi, belajar menimbang rasa serta munculnya kontrol internal (tubuh) yang dipelajari dari lingkungan.​1​

Usia anak prasekolah merupakan masa penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat pada anak.​1​ Tahapan usia ini, anak mulai belajar untuk bisa makan sendiri dan memiliki pilihan terhadap makanan yang akan dikonsumsi. Selain itu, anak juga mampu menunjukkan pilihannya mengenai apa yang disukai dan apa yang tidak disukainya atau bahkan menolak untuk mencoba makanan baru.​2​

Baca Artikel : Gizi Seimbang Anak Sekolah

Konsumsi Sayur Buah

Tingkat konsumsi sayur dan buah pada anak pra sekolah sangat rendah, dan di bawah dari angka yang direkomendasikan. Data di Amerika
menyebutkan bahwa konsumsi sayur dan buah pada anak prasekolah hanya terpenuhi sekitar 25% perhari dari total rekomendasi sebesar 80% perhari.​3​ Berdasar penelitian di TK Supriyadi Semarang, sebanyak 93,6% sampel mengkonsumsi sayur dalam kategori kurang dengan rata-rata konsumsi 73,5 g/hari sedangkan rata-rata konsumsi buah pada anak masih kurang dari anjuran yaitu 58,6 gram/hari.​4​

Rendahnya konsumsi sayuran pada anak karena mereka menganggap sayur memiliki rasa pahit. Hal ini disebabkan dalam sayur terkandung zat phenylthiocarbamide yang menimbulkan rasa pahit. Berbeda dengan sayur, buah lebih diterima oleh anak-anak karena memiliki rasa yang lebih manis. Namun, tidak sedikit pula anak-anak yang menolak untuk mengkonsumsi buah karena tekstur dan rasa asam dari beberapa buah.​5​ Selain penolakan dari segi perbedaan rasa dan tekstur, sikap anak dalam menghadapi makanan baru ada 2 yaitu cenderung merasa curiga (Neophobia) dan akan menerima dengan campuran rasa penasaran (Neofilia).​6​ Perilaku Neophobia terhadap makanan baru merupakan bagian dari perkembangan normal pada anak, bukan merupakan perilaku tidak suka secara abadi melainkan tidak suka secara sementara yang dapat diubah melalui kebiasaan.​6​

Ingin tahu Apa itu Food Neophobia?

Dampak kurangnya asupan sayur buah

Akibat yang ditimbulkan apabila konsumsi sayur dan buah rendah dalam jangka pendek yaitu sembelit atau konstipasi. Dampak jangka
panjang jika kurang konsumsi sayur dan buah seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, obesitas, diabetes melitus, kanker usus dan dislipidemia.​7​

Penting bagi orang tua untuk memberikan asupan sayur dan buah pada anak prasekolah secara cukup dan sesuai dengan yang dianjurkan.
Anjuran konsumsi sayur dan buah untuk orang Indonesia menurut Pedoman Gizi Seimbang 2014 yaitu sebesar 300-400 g per orang per hari untuk balita (pra sekolah) dan anak usia sekolah, yang setara dengan 1,5-2 penukar buah dan 2,5-3 penukar sayur.8​

Faktor yang mempengaruhi konsumsi sayur buah

Berikut faktor – faktor yang dapat membiasakan anak pra sekolah untuk konsumsi sayur buah antara lain :

Kebiasaan makan sayur dan buah ibu selama hamil

Konsumsi sayur dan buah pada anak dapat dimulai sejak dalam kandungan atau melalui asupan dari ibu selama masa kehamilan. Pengenalan makanan baru pada anak sejak dalam kandungan akan membuat rasa dari makanan tersebut semakin familiar di lidah anak, sehingga makanan tersebut lama-kelamaan akan disukai oleh anak. Studi menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara
kesukaan ibu terhadap sayur dan buah selama kehamilan dengan kesukaan anak pada sayur dan buah.​9​

Ingin tahu Diet pada Ibu Hamil?

ASI eksklusif

Pemberian ASI eksklusif juga berpengaruh terhadap asupan sayur dan buah pada anak. Semakin lama durasi pemberian ASI eksklusif maka semakin tinggi pula asupan sayur dan buah pada anak, dan sebaliknya. Mekanisme tersebut terjadi karena rasa dari asupan sayur dan buah yang dimakan oleh ibu saat masa kehamilan dapat diteruskan kepada janinnya melalui cairan amniotik dan selanjutnya diteruskan kembali setelah bayi mulai mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI). ​5​

Baca : Pola Diet Ibu Mempengaruhi Kandungan Asam Lemak ASI

Lamanya pemberian ASI

Pemberian ASI dalam jangka waktu yang lama memiliki pengaruh terhadap tingkat asupan anak kedepannya. Hal ini dibuktikan penelitian bahwa lama pemberian ASI berhubungan dengan tingginya asupan buah dan sayur pada anak. Proses transfer rasa dari sayur dan buah berasal dari asupan sayur dan buah yang dimakan oleh Ibunya kemudian diteruskan saat bayi mengkonsumsi ASI.​5​

Pengetahuan orang tua

Orang tua menjadi pengaruh utama pada pengembangan pilihan serta pola makan pada anak yang dikenalkan oleh orang tua sejak usia dini. Tingkat pengetahuan gizi ibu akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi keluarga. Perilaku konsumsi sayur dan buah juga dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua terutama Ibu. Apabila pengetahuan orang tua tentang pentingnya sayur dan buah rendah, maka dapat berdampak dengan tingkat konsumsi sayur dan buah pada anak. Pengetahuan tentang buah dan sayur berbanding lurus dengan konsumsi buah dan sayur pada anak.​3​

Kebiasaan atau perilaku dari orang tua termasuk dalam mengendalikan ketersediaan dan aksesibilitas sayur dan buah di rumah, potensial berhubungan dengan asupan sayur dan buah pada anak-anak. Anak-anak dengan orang tua yang memiliki frekuensi tinggi makan sayur dan buah serta berusaha untuk menyediakan sayur dan buah di rumah maka frekuensi makan sayur dan buah pada anak lebih banyak.​6​

Lebih Lanjut : Obat Peningkat Nafsu Makan Anak Tradisional dari Segi Pandangan Ahli Gizi

Referensi

  1. 1.
    Brown J. Nutrition Through the Life Cycle. 4th ed. Cengage Learning; 2011.
  2. 2.
    Wijayanti I, Astuti H, Riawati D. Gambaran Perilaku Picky Eater dan Faktor yang Melatar Belakanginya pada Anak Usia 2-4 tahun di RW XII Kelompok Bermain dan Raudhatul Athfal Terpadu Uwais AL Qorni Surakarta. Jurnal Gizi Prima. 2020;5(1):39-48.
  3. 3.
    O’Connor TM, Hughes SO, Watson KB, et al. Parenting practices are associated with fruit and vegetable consumption in pre-school children. Public Health Nutr. Published online June 3, 2009:91-101. doi:10.1017/s1368980009005916
  4. 4.
    Widiyastuti L, Pramono A. INTERVENSI HIDDEN VEGETABLE TERHADAP PENERIMAAN SAYURAN PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK PGRI 21 KARANGASEM KOTA SEMARANG. J NutriColl. Published online April 1, 2015:195-201. doi:10.14710/jnc.v4i2.10065
  5. 5.
    Mennella JA, Reiter AR, Daniels LM. Vegetable and Fruit Acceptance during Infancy: Impact of Ontogeny, Genetics, and Early Experiences. Advances in Nutrition. Published online January 1, 2016:211S-219S. doi:10.3945/an.115.008649
  6. 6.
    Benton D. Role of parents in the determination of the food preferences of children and the development of obesity. Int J Obes. Published online June 1, 2004:858-869. doi:10.1038/sj.ijo.0802532
  7. 7.
    Ahern SM, Caton SJ, Bouhlal S, et al. Eating a Rainbow. Introducing vegetables in the first years of life in 3 European countries. Appetite. Published online December 2013:48-56. doi:10.1016/j.appet.2013.07.005
  8. 8.
    Kemenkes R. Peraturan Menteri Kesehatan No 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gii Seimbang. JDIH BPK RI. Published 2014. https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/119080/permenkes-no-41-tahun-2014
  9. 9.
    Febriana R, Sulaeman A. Kebiasaan makan sayur dan buah ibu saat kehamilan kaitannya dengan konsumsi sayur dan buah anak usia prasekolah. . J Pangan Gizi . 2014;9(2):133–8.

Ayu Rahadiyanti

Executive Editor Ahli Gizi ID | Lecturer | Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *