Zat Gizi Antioksidan : Free Radical Scavengers

Gizi Antioksidan dikenal untuk memakan radikal bebas yang berefek buruk bagi tubuh. Dibutuhkan zat gizi yang cukup untuk menghilangkan oksidan tersebut. Mari kita simak pada artikel berikut.

Radikal Bebas

merupakan molekul dengan satu atau lebih elektron tidak berpasangan, sifatnya tidak stabil dan sangat reaktif. Untuk mendapatkan kembali kestabilannya, radikal bebas dengan cepat menemukan yang stabil tetapi rentan untuk mengambil elektron. Dengan hilangnya elektron, molekul yang sebelumnya stabil menjadi radikal bebas dan mengambil elektron dari molekul lain di dekatnya. Antioksidan menetralkan radikal bebas dengan menyumbangkan salah satu elektronnya sendiri, sehingga mengakhiri reaksi berantai. Saat kehilangan elektron, antioksidan tidak menjadi radikal bebas karena stabil dalam bentuk apa pun.​1​

Antioksidan

adalah substansi gizi yang terkandung dalam bahan pangan, yang mampu mencegah atau memperlambat terjadinya kerusakan oksidatif dalam tubuh.​2​ Kejadian penyakit seperti Cardiovascular Heart Disease (CHD), degenerasi makular, diabetes, kanker, dan lain -lain dipicu oleh stress oksidatif. Antioksidan bekerja sebagai free radical scavengers, mencegah dan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas.​3​

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai molekul atau senyawa bebas yang memiliki 1 atau lebih elektron bebas yang tidak berpasangan. elektron tersebut membuat radikal bebas bersifat sangat reatif hingga mudah menyerang sel -sel sehat dalam tubuh.​4​ Aktivitas radikal bebas dapat dihambat oleh sistem antioksidan yang melengkapi sistem kekebalan tubuh. Tubuh memiliki kemampuan memproduksi antioksidan, namun gizi antioksidan yang dihasilkan tubuh tidak cukup hingga kita perlu mengonsumsi makanan yang mengandung antioksidan.

Macam Antioksidan

Antioksidan berdasarkan fungsi dan mekanisme kerjanya terbagi menjadi tiga yaitu:

Antioksidan primer

berfungsi untuk mencegah pembentukan senyawa radikal baru dengan mengubah radikal bebas menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya sebelum senyawa radikal bebas bereaksi. Mekanisme antioksidan primer yaitu dengan memutuskan reaksi berantai (chain-breaking antioxidant) yang dapat bereaksi dengan radikal-radikal lipid dan mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil. Contoh antioksidan primer adalah Superoksida Dismutase (SOD), Glutation Peroksidase (GPx), katalase, dan protein pengikat logam.

Superoksida dismutase (SOD) berfungsi sebagai katalisator reaksi dismutase dari anion superoksida menjadi hidrogen peroksida (H2O2) dan oksigen (O2). Enzim SOD melindungi sel-sel tubuh dan mencegah terjadinya proses peradangan yang diakibatkan oleh radikal bebas. SOD sebenanya sudah terdapat dalam tubuh, namun SOD dapat bekerja secara efektif jika ada zat gizi mineral seperti mangan (Mn), seng (Zn), dan tembaga (Cu) agar dapat bekerja. Cu, Zn-SOD terdapat dalam sitoplasma eukariot, Mn-SOD terdapat di mitokondria organisme aerobik. Enzim SOD tidak selalu bekerja secara bersama-sama. Cu, Zn-SOD berperan sebagai faktor pertahanan utama yang melindungi sel dari radikal superoksida dan memiliki peranan yang sangat penting pada pertahanan antioksidan. Mn-SOD berperan dalam pertahanan sel saat menghadapi stres etanol. Aktivitas enzim SOD memiliki peran penting dalam memerangi stres oksidatif.​1,5​

Anti oksidan sekunder

sebagai pengikat ion-ion logam, penangkap oksigen, pengurai hidroperoksida menjadi senyawa non radikal, penyerap radiasi UV. Antioksidan sekunder bekerja dengan cara mengkelat logam yang bertindak sebagai pro-oksidan, menangkap radikal dan mencegah terjadinya reaksi berantai. Senyawa-senyawa pengkelat ion-ion logam yaitu asam sitrat, EDTA, dan turunan asam fosfat. Contoh antioksidan sekunder adalah vitamin E, vitamin C, β-karoten, isoflavon, bilirubin, dan albumin. Potensi antioksidan sekunder dengan cara memotong reaksi oksidasi berantai dari radikal bebas atau dengan cara menangkapnya (scavanger free radical) sehingga radikal bebas tersebut tidak bereaksi dengan komponen seluler.​1,5​

https://www.pexels.com/id-id/foto/sayuran-lot-264537/

Antioksidan Tersier

berfungsi untuk memperbaiki kerusakan biomolekul yang disebabkan oleh radikal bebas. Contoh antioksidan tersier adalah enzim-enzim yang memperbaiki DNA dan metionin sulfida reduktase. Sumber antioksidan tersier terbagi dalam 2 sumber yaitu antioksidan sintetik atau antioksidan yang berasal dari hasil sintesa reaksi kimia dan antioksidan alami atau antioksidan hasil ekstraksi bahan alami. Contoh dari antioksidan sintetis adalah Butylated Hidroxyanisol (BHA), Butylated Hidroxytoluene (BHT), Tert-Butylated Hidroxyquinon (TBHQ) dan tokoferol. Contoh antioksidan alami adalah zat gizi vitamin A, vitamin E, vitamin C, vitamin B2, seng, tembaga, selenium, dan karotenoid (prekursor vitamin A).​1,5​

Baca Artikel : Konsumsi Vitamin C

Makanan, Suplemen atau Keduanya?

Dalam proses menghilangkan radikal bebas, antioksidan menjadi teroksidasi. Sampai batas tertentu, antioksidan dapat diregenerasi, namun oksidasi tetap terjadi dan radikal bebas menyerang terus menerus. Untuk mempertahankan imunitas, seseorang harus mengkonsumsi antioksidan dari makanan secara teratur. Apakah antioksidan harus terpenuhi dari makanan atau suplemen? Makanan — terutama buah-buahan dan sayuran — tidak hanya menawarkan antioksidan, tetapi juga berbagai vitamin dan mineral lain. Karena defisiensi gizi dapat merusak DNA dengan mudah sebagai radikal bebas. Konsumsi buah dan sayur secara teratur dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit — dan mungkin melindungi terhadap peradangan dan kerusakan DNA.​6​

Pola makan sehat yang dikombinasikan dengan olahraga, pengendalian berat badan, dan tidak merokok berfungsi sebagai resep terbaik untuk kesehatan. Terutama, mengonsumsi suplemen tidak termasuk di antara rekomendasi pencegahan penyakit. Buah dan sayur banyak mengandung zat gizi antioksidan dan fitokimia yang dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis. Namun, suplemen tidak selalu terbukti bermanfaat.​7​ Bahkan, terkadang manfaatnya lebih terlihat bila vitamin berasal dari makanan bukan dari suplemen. Studi meta-analisis terkait hubungan antara suplemen vitamin A, vitamin E, beta-karoten, atau kombinasi dan kematian total menyimpulkan bahwa suplemen tidak memberikan manfaat yang berarti dan dapat meningkatkan risiko kematian.​8​

Antioksidan dan Risiko Penyakit Kronis​1​

Referensi

  1. 1.
    Whitney E, Rolfes S. Understanding Nutrition. 14th ed. Cengage Learning; 2016.
  2. 2.
    Hudson B. Food Antioxidant. Springer Science & Business Media; 2012.
  3. 3.
    Youngson D. Antioksidan: Manfaat Vitamin C & E Bagi Kesehatan. Penerbit Arcan; 2005.
  4. 4.
    Pokorný J J, Yanishlieva N, Gordon M. Antioxidants in Food. CRC Press; 2001.
  5. 5.
    Winarsi H. Antioksidan Dan Radikal Bebas: Potensi Dan Aplikasinya Dam Kesehatan. Kanisius; 2007.
  6. 6.
    Bhupathiraju SN, Tucker KL. Greater variety in fruit and vegetable intake is associated with lower inflammation in Puerto Rican adults. The American Journal of Clinical Nutrition. Published online November 10, 2010:37-46. doi:10.3945/ajcn.2010.29913
  7. 7.
    Halliwell B. Free radicals and antioxidants – quo vadis? Trends in Pharmacological Sciences. Published online March 2011:125-130. doi:10.1016/j.tips.2010.12.002
  8. 8.
    Bjelakovic G, Nikolova D, Gluud C. Antioxidant Supplements to Prevent Mortality. JAMA. Published online September 18, 2013:1178. doi:10.1001/jama.2013.277028

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: