Hubungan Status Hidrasi dan Kelelahan Kerja

Kondisi status hidrasi sangat terkait dengan kelelahan kerja yang selanjutnya akan berdampak pada penurunan produktivitas tenaga kerja. Mari kita simak pada artikel berikut =)

Definisi

Status hidrasi merupakan keseimbangan cairan yang ada di dalam tubuh dan menjamin fungsi sel metabolisme tubuh. Keseimbangan cairan yang dimaksud adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dengan yang dikeluarkan oleh tubuh. ​1​ Keseimbangan cairan tersebut dipengaruhi oleh konsumsi cairan dan pengeluaran air. Melalui mekanisme tersebut, tubuh berusaha agar cairan yang ada di dalam tubuh selalu keadaan yang konstan/tetap. Status hidrasi mencerminkan keseimbangan antara asupan air yang dikonsumsi setiap hari oleh seseorang dan kehilangan air akibat aktivitas sehari-hari. Kehilangan cairan tubuh dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik dan musim atau kondisi lingkungan serta letak geografis.​2​

Baca Lebih Lanjut : Air Kelapa dan Status Hidrasi

Macam – Macam Status Hidrasi

Terdapat beberapa macam status hidrasi, yaitu :

  1. Euhidrasi adalah status dimana kondisi cairan dalam tubuh dalam keadaan seimbang atau terhidrasi dengan baik.
  2. Hiperhidrasi adalah kondisi dimana status keseimbangan cairan bersifat positif atau kelebihan asupan cairan.
  3. Hipohidrasi adalah kondisi dimana status keseimbangan cairan bersifat negatif atau kekurangan asupan cairan.
  4. Rehidrasi adalah proses penambahan cairan tubuh setelah seseorang mengalami kekurangan cairan..
  5. Dehidrasi adalah proses kehilangan cairan tubuh melalui urin, keringat, feses dan proses pernapasan. Dehidrasi terjadi jika kehilangan cairan yang terlalu banyak, tidak minum air dalam jumlah cukup, ataupun akibat kedua hal di atas.

Tanda-tanda dehidrasi sangat bervariasi tergantung tingkat dehidrasi yang dialami. Adapun tanda-tanda dehidrasi adalah sebagai berikut :​3​
a. Dehidrasi tingkat ringan : haus, lelah, kulit kering, mulut dan tenggorokan kering. Dehidrasi tingkat ringan merupakan dehidrasi dengan janngka waktu pendek dan tidak menimbulkan tanda dan gejala yang terlalu parah tetapi apabila dibiarkan akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.
b. Dehidrasi tingkat sedang : detak jantung makin cepat, pusing, tekanan darah rendah, lemas, konsentrasi urinnya pekat, tetapi volumenya kurang.
c. Dehidrasi tingkat berat : muscle spams (kejang), swollen tongue (lidah bengkak), kegagalan fungsi ginjal, poor blood circulation (sirkulasi darah yang tidak lancar), dan bahkan menimbulkan kematian. Dehidrasi tingkat berat merupakan dehidrasi jangka panjang yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Faktor yang Mempengaruhi Status Hidrasi

Hal – hal yang mempengaruhi status hidrasi antara lain :

Konsumsi Cairan

Kebutuhan konsumsi cairan dapat dilihat dari banyaknya air yang keluar atau hilang dari tubuh karena aktifitas harian seseorang. Kehilangan air tersebut berasal dari ekskresi air dalam urin, air pernapasan, feses dan keringat. Keseimbangan cairan dalam tubuh harus dijaga dengan menyeimbangkan antara jumlah asupan air yang dikonsumsi dengan kehilangan air. Apabila tidak mengonsumsi cukup air, maka tubuh akan mengalami kekurangan air. Hasil penelitian dari The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) menunjukan bahwa 49,1% subyek penelitian mengalami kurang air atau hipovolemia ringan. Sedangakan pada orang dewasa kejadian hipovolemia ringan sebesar 42,5%.​4​

Suhu Lingkungan

Suhu yang panas serta konsumsi cairan yang tidak cukup akan membuat cairan tubuh menguap melalui pernapasan serta pengeluaran keringat.​4​ Proses metabolisme tubuh yang berinteraksi dengan panas di lingkungannya akan mengakibatkan pekerja mengalami tekanan panas. Tekanan panas tersebut dapat disebabkan karena adanya sumber panas maupun karena ventilasi yang tidak baik. Karena proses metabolisme tersebut berlangsung terus menerus, meskipun tidak konstan, tubuh harus melepaskan energi panas pada kecepatan tertentu agar tidak terjadi penumpukan panas yang menyebabkan peningkatan suhu.

Aktivitas Fisik

berpengaruh terhadap kebutuhan cairan. Aktifitas fisik tersebut menyebabkan peningkatan proses metabolisme tubuh yang mengakibatkan peningkatan keluaran air melalui keringat. Selain itu, kehilangan cairan yang tidak disadari juga meningkatan laju pernapasan dan aktivitas kelenjar keringat. Aktivitas fisik yang tinggi maupun rendah dapat berpeluang terhadap kurangnya status hidrasi dan kelelahan. Aktivitas fisik rendah juga dapat menyebabkan berkurangnya konsumsi minum sehingga peluang dehidrasi dapat terjadi. ​5​

Usia dan Jenis Kelamin

Perbedaan usia dan jenis kelamin berpengaruh pada status hidrasi. Produksi keringat pada wanita lebih rendah di banding laki-laki. Penelitian yang dilakukan di Eropa pada dewasa menyatakan bahwa wanita memiliki status hidrasi yang lebih baik dibanding laki-laki. Hal ini terjadi karena wanita cenderung memiliki pola hidup serta pilihan makanan dan minuman yang lebih baik daripada pria. Pada orang dewasa sensitivitas rasa haus mengalami penurunan sehingga tercapainya keseimbangan cairan tubuh butuh waktu lama.​6​

Status Gizi

Proporsi cairan yang harus dipenuhi tubuh setiap orang berbeda-beda tergantung komposisi tubuhnya. Kadar air tubuh lebih tinggi jika komposisi massa tubuh tanpa lemak (lean body mass) lebih tinggi dibanding massa lemak. Sedangkan jika massa lemak lebih tinggi dari massa tubuh tanpa lemak maka kadar air di dalam sel lemak lebih rendah dibanding kandungan air di dalam sel otot. Hal ini yang menyebabkan orang obesitas lebih berisiko mengalami dehidrasi dibanding orang dengan berat badan normal. Adanya penumpukan lemak tubuh pada orang obesitas dapat meningkatkan berat badan tanpa menambah kendungan air tubuhnya. Oleh karena itu, kebutuhan air bagi orang obesitas disarankan 2 gelas lebih banyak dari standar kebutuhan orang dengan berat badan normal.​6​

Status Hidrasi dan Kelelahan Kerja

merupakan keadaan yang dialami oleh orang–orang yang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan pelayanan terhadap manusia lain seperti pelayanan kesehatan, transportasi, dan sebagainya. Kelelahan kerja merupakan kondisi dimana terjadi penurunan efisiensi kerja, keterampilan kerja serta kecemasan atau kebosanan. Selain itu juga menurunkan kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Ditandai oleh adanya perasaan lelah, output menurun, dan kondisi fisiologis yang dihasilkan dari aktivitas terus menerus.

Keadaan hidrasi yang rendah (dehidrasi) akibat lingkungan kerja panas menyebabkan kelelahan kerja. Hal ini dikarenakan lingkungan kerja yang panas membuat membuat suhu tubuh naik. Keadaan tersebut akan menyebabkan hipotalamus merangsang kelenjar keringat sehingga tubuh akan mengeluarkan keringat. Keringat mengandung berbagai macam garam natrium klorida, keluarnya garam natrium klorida bersama keringat akan mengurangi kadarnya dalam tubuh, sehingga menghambat transportasi glukosa yang berfungsi sebagai sumber energi. Hal inilah yang menyebabkan penurunan kontraksi otot sehingga tubuh akan mengalami penurunan fungsi hingga terjadi kelelahan.​7​

Cara untuk menghindari kelelahan diperlukan adanya keseimbangan antara masukan sumber datangnya kelelahan tersebut (faktor-faktor penyebab kelelahan) dengan jumlah keluaran yang diperoleh lewat proses pemulihan termasuk status hidrasi juga perlu dilihat. Proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara antara lain memberikan waktu istirahat yang cukup baik yang terjadwal atau terstruktur atau tidak dan seimbang dengan tinggi rendahnya tingkat ketegangan kerja. Kelelahan dapat dikurangi dengan berbagai cara yang ditujukan kepada keadaan umum dan lingkungan fisik di tempat kerja. Misalnya, banyak hal yang dapat dicapai dengan jam kerja, pemberian kesempatan istirahat yang tepat, kamar-kamar istirahat, masa-masa libur atau rekreasi, dan lain-lain.​8​

Referensi

  1. 1.
    Kavouras SA, Arnaoutis G, Makrillos M, et al. Educational intervention on water intake improves hydration status and enhances exercise performance in athletic youth. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports. Published online March 16, 2011:684-689. doi:10.1111/j.1600-0838.2011.01296.x
  2. 2.
    Malisova O, Athanasatou A, Pepa A, et al. Water Intake and Hydration Indices in Healthy European Adults: The European Hydration Research Study (EHRS). Nutrients. Published online April 6, 2016:204. doi:10.3390/nu8040204
  3. 3.
    Armstrong LE. Assessing Hydration Status: The Elusive Gold Standard. Journal of the American College of Nutrition. Published online October 2007:575S-584S. doi:10.1080/07315724.2007.10719661
  4. 4.
    Santoso B, Hardinsyah H, Siregar P, Pardede S. Air Bagi Kesehatan. 2nd ed. Centra Communications; 2012.
  5. 5.
    Tamsuri A. Klien Gangguan Cairan Dan Elektrolit: Seri Asuhan Keperawatan. EGC; 2009.
  6. 6.
    Manz F, Wentz A. 24-h hydration status: parameters, epidemiology and recommendations. Eur J Clin Nutr. Published online December 2003:S10-S18. doi:10.1038/sj.ejcn.1601896
  7. 7.
    Guyton H. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC; 2008.
  8. 8.
    Sedarmayanti S. Sumber Daya Manusia Dan Produktivitas. CV Mandar Maju; 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: