Faktor Terkait Pemilihan Makanan Individu

Orang memutuskan apa yang akan dimakan, kapan harus makan, berapa banyak yang akan dimakan, dan bahkan apakah akan makan dengan cara yang sangat pribadi berdasarkan interaksi kompleks genetik, perilaku, atau faktor sosial dibanding kesadaran akan pentingnya gizi bagi kesehatan. Ragam pilihan makanan dapat mendukung kesehatan yang baik, dan memahami tentang gizi manusia yang membantu membuat pemilihan makanan yang lebih baik.

Preferensi

Alasan kebanyakan orang memilih makanan tertentu adalah rasa. Dua preferensi yang disukai yaitu rasa manis dari gula dan gurih dari garam. Keinginan manusia akan rasa manis mencakup semua usia, ras, dan budaya.​1​ Makanan tinggi lemak menjadi preferensi umum yang universal. Penelitian menunjukkan bahwa genetika dapat mempengaruhi persepsi rasa dan karena itu kesukaan atau ketidaksukaan. ​2​Demikian pula, hormon kehamilan tampaknya mempengaruhi mengidam dan enggan makan.

Kebiasaan

Pemilihan makanan juga dikaitkan dengan kebiasaan makan sebagai suatu bentuk tingkah laku berpola yang sangat terkait dengan kebudayaan, yang mencakup juga kepercayaan dan pantangan makan yang berkembang dalam sekelompok masyarakat.​3​ Terkadang orang memilih makanan di luar kebiasaan makannya. Mengkonsumsi makanan yang biasa dan tidak harus membuat keputusan dapat membuat perasaan nyaman.​4​ Kebiasaan makan merupakan hasil dari proses belajar yang terjadi seumur hidup, kebiasaan makan keluarga karena seseorang tinggal dalam keluarganya dan mengalami proses belajar terus menerus dalam keluarganya. Hal inilah yang menjadi alasan pola makan atau susunan hidangan sangat kuat bertahan terhadap berbagai pengaruh yang mungkin dapat mengubahnya.​5​

Warisan Etnis dan Masakan Daerah

Pengaruh terkuat terkait pemilihan makanan adalah warisan etnis dan masakan daerah. Orang cenderung lebih menyukai makanan tempat mereka tumbuh dengan makan. Setiap daerah memiliki makanan khas dan cara menggabungkannya ke dalam makanan. Masakan daerah mencerminkan kombinasi unik bahan-bahan lokal dan gaya memasak.​4​ Makanan juga sebagai pembentuk identitas etnis, yang dapat dikenali dari jenis masakannya yang memiliki karakterisitik rasa yang khusus. Misalnya, masakan Minahasa ditandai dengan penggunaan cabai (rica) dalam jumlah yang banyak dalam mengolah daging, begitu kuatnya rasa cabai sampai- sampai menghilangkan rasa daging itu
sendiri. Begitu juga masakan Minangkabau, cabai, santan, dan bumbu rempah-rempah menjadikan makanannya khas sebagai makanan Minangkabau.​3​

Menikmati makanan etnis tradisional memberikan kesempatan untuk merayakan warisan budaya. Seseorang yang menawarkan makanan tradisional berarti berbagi budaya mereka dengan orang lain, dan mereka yang menerima makanan belajar tentang cara hidup orang lain. Mengembangkan kompetensi budaya berarti menghormati preferensi individu dan sangat penting bagi para profesional untuk membantu orang lain dalam merencanakan diet sehat.​4​

https://pixabay.com/id/illustrations/makan-makanan-latar-belakang-seni-3306776/
https://pixabay.com/id/illustrations/makan-makanan-latar-belakang-seni-3306776/

Interaksi Sosial

Dalam interaksi sosial yang melibatkan makanan, individu sering membuat keputusan tentang dengan siapa dia ingin makan, dengan siapa dia tidak ingin makan. Beberapa studi memperlihatkan orang-orang yang makan dengan teman mengkonsumsi lebih banyak makanan dibanding makan dengan orang asing.​6​

Kebanyakan orang menikmati kebersamaan saat makan. Makan sering kali merupakan acara sosial, dan berbagi makanan adalah bagian dari keramahan. Adat sosial mengundang orang untuk menerima makanan atau minuman yang ditawarkan oleh tuan rumah atau dibagikan oleh kelompok — terlepas dari sinyal lapar.​4​

Ketersediaan, Kenyamanan, dan Ekonomi

Orang sering makan makanan yang mudah didapat, cepat dan mudah disiapkan, dan sesuai kemampuan finansialnya. Konsumen yang menghargai kenyamanan, sering makan di luar, membawa pulang makanan siap saji, atau layanan pesan antar makanan. Penekanan konsumen pada kenyamanan membatasi pilihan makanan pada pilihan yang ditawarkan terkait menu dan produk siap saji. ​4​

Faktor ekonomi juga terkait pemilihan makanan. Kenaikan biaya makanan telah menggeser beberapa prioritas konsumen dan mengubah prioritas kebiasaan berbelanja. Konsumen cenderung tidak membeli makanan cepat saji dengan harga lebih tinggi dan lebih cenderung membeli barang bermerek toko yang lebih murah dan menyiapkan sendiri masakan rumahan. Faktanya, lebih dari 70% makanan yang disiapkan sendiri di rumah lebih sehat karena jarang makan makanan cepat saji dan lebih cenderung untuk memenuhi pedoman diet untuk lemak, kalsium, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. ​7​

Sayangnya, pola makan sehat yang menyertakan banyak buah dan sayuran cenderung menjadi lebih mahal dibanding diet kurang sehat yang menampilkan makanan yang tinggi lemak dan gula tambahan. Makanan murah ini sering kali tinggi kalori dan rendah gizi. Konsumen dapat meningkatkan kualitas makanannya tanpa meningkatkan kualitasnya pengeluaran mereka dengan memilih lebih banyak makanan nabati, seperti kacang-kacangan, polong-polongan, dan biji-bijian utuh, serta mengurangi daging merah dan olahannya, dan produk susu tinggi lemak.​8​

Emosi

Emosi memandu pemilihan makanan dan perilaku makan. Beberapa orang tidak bisa makan saat mereka sedang kesal secara emosional. Orang lain mungkin makan untuk menanggapi variasi rangsangan emosional — misalnya, untuk menghilangkan kebosanan atau depresi atau untuk menenangkan kegelisahan. Orang yang depresi mungkin memilih untuk makan daripada menelepon teman. Karbohidrat dan alkohol, misalnya, cenderung menenangkan, sedangkan protein dan kafein lebih untuk merangsang. Makan sebagai respons terhadap emosi dan stres dapat dengan mudah menyebabkan makan berlebihan dan obesitas. Namun pada kondisi lain berbagai makanan dapat memberikan kenyamanan dan interaksi pada orang lain.​4​

Aspek Gizi dan Kesehatan

Banyak konsumen membuat pilihan makanan yang mereka yakini akan meningkatkan kesehatan mereka. Makanan fungsional memberikan manfaat kesehatan di luar kontribusi gizinya; termasuk makanan utuh serta yang diperkaya, diperkaya, atau makanan tambahan. Makanan utuh — sealami dan familiar seperti oatmeal atau tomat — adalah makanan fungsional paling sederhana. Dalam beberapa kasus, makanan telah dimodifikasi untuk memberikan manfaat kesehatan, misalnya dengan menurunkan kandungan lemak trans.​4​

Konsumen biasanya memasukkan makanan baru ke dalam makanannya, asalkan harga makanan masuk akal, terdapat label yang jelas, mudah ditemukan, dan nyaman untuk disiapkan. Makanan juga harus terasa enak seperti pilihan pada makanan tradisional. Tentu saja, seseorang tidak perlu makan makanan “khusus” untuk menikmati diet sehat; banyak makanan “biasa” juga memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Faktanya, makanan “biasa” seperti serealia utuh; sayuran ; buah-buahan; makanan laut, daging, unggas, telur, kacang-kacangan; dan produk susu termasuk alternatif pilihan makanan sehat.​4​

Referensi

  1. 1.
    Drewnowski A, Mennella JA, Johnson SL, Bellisle F. Sweetness and Food Preference. The Journal of Nutrition. Published online May 9, 2012:1142S-1148S. doi:10.3945/jn.111.149575
  2. 2.
    Hayes JE, Keast RSJ. Two decades of supertasting: Where do we stand? Physiology & Behavior. Published online October 2011:1072-1074. doi:10.1016/j.physbeh.2011.08.003
  3. 3.
    Nurti Y. Kajian Makanan dalam Perspektif Antropologi. Jurnal Antropologi. 2017;19(1):1-10.
  4. 4.
    Rolfes W. Understanding Nutrition. 14th ed. Cengage Learning; 2016.
  5. 5.
    Sediaoetama A. Ilmu Gizi Jilid II. Dian Rakyat; 2003.
  6. 6.
    Jones M. Food Choice, Symbolism, and Identity: Bread-and-Butter Issues for Folkloristics and Nutrition Studies (American Folklore Society Presidential Address October 2005). The Journal of American Folklore. 2007;120(476):129-177.
  7. 7.
    Lu J, Huet C, Dubé L. Emotional reinforcement as a protective factor for healthy eating in home settings. The American Journal of Clinical Nutrition. Published online May 25, 2011:254-261. doi:10.3945/ajcn.110.006361
  8. 8.
    Bernstein AM, Bloom DE, Rosner BA, Franz M, Willett WC. Relation of food cost to healthfulness of diet among US women. The American Journal of Clinical Nutrition. Published online September 1, 2010:1197-1203. doi:10.3945/ajcn.2010.29854

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: