Penurunan Stunting Melalui 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

Status gizi dan kesehatan ibu dan anak sebagai penentu kualitas sumber daya manusia. Periode yang sangat kritis yang dikenal sebagai 1000 HPK sangat berdampak pada penurunan stunting. Mari kita simak pada artikel berikut =)

Apa itu 1000 HPK?

Periode 1000 HPK yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkan. Periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya. Pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.​1​

Masalah kekurangan gizi 1000 HPK diawali dengan perlambatan atau retardasi pertumbuhan janin yang dikenal sebagai Intra Uterine Growth Retardation (IUGR). Di negara berkembang kurang gizi pada pra-hamil dan ibu hamil berdampak pada lahirnya anak yang IUGR dan berat badan lahir rendah (BBLR). Kondisi IUGR hampir separuhnya terkait dengan status gizi ibu, yaitu berat badan (BB) ibu pra-hamil yang tidak sesuai dengan tinggi badan ibu atau bertubuh pendek, dan pertambahan berat badan selama kehamilannya (PBBH) kurang dari seharusnya. Ibu yang pendek waktu usia 2 tahun cenderung bertubuh pendek pada saat menginjak dewasa. Apabila hamil ibu pendek akan cenderung melahirkan bayi BBLR. Apabila tidak ada perbaikan terjadinya IUGR dan BBLR akan terus berlangsung di generasi selanjutnya, sehingga terjadi masalah anak pendek intergenerasi. ​1​

Siklus tersebut akan terus terjadi apabila tidak ada perbaikan gizi dan pelayanan kesehatan yang memadai pada masa-masa tersebut. Kelompok ini tidak lain adalah kelompok 1000 HPK yang menjadi fokus perhatian. Alasan pentingnya 1000 HPK yaitu mengurangi jumlah anak pendek / stunting di generasi yang akan datang dan seterusnya. Dengan itu, akan ditingkatkan kualitas manusia dari aspek kesehatan, pendidikan dan produktivitasnya yang akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Para ahli ekonomi dunia perbaikan gizi pada 1000 HPK adalah suatu investasi pembangunan yang “cost effective“.​1​

Tantangan untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi Selama 1000 HPK

Kebutuhan energi 13% lebih tinggi selama kehamilan dan 25% lebih tinggi selama menyusui, dan kebutuhan protein 54% lebih tinggi selama kedua periode. Beberapa mikronutrien, peningkatan relatif dalam asupan yang direkomendasikan adalah  ≥50%, seperti folat dan zat besi selama kehamilan dan untuk vitamin A, vitamin C, vitamin B6, yodium serta seng selama menyusui. Hal tersebut menimbulkan tantangan karena perempuan di lingkungan berpenghasilan rendah sering memiliki akses terbatas pada makanan padat gizi.

Anak-anak di bawah usia 2 tahun juga memiliki kebutuhan gizi yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Bayi membutuhkan makanan pendamping dengan kepadatan gizi yang jauh lebih tinggi dibanding yang dibutuhkan orang dewasa. Tantangan terbesar untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro anak-anak yang disusui biasanya terjadi selama 6 bulan kedua kehidupan. Bayi harus menerima makanan paling kaya gizi yang tersedia di rumah tangga, namun sering terjadi sebaliknya di lingkungan berpenghasilan rendah dimana mereka biasanya diberi makan bubur encer yang rendah gizi. Kesenjangan dalam asupan gizi pada usia ini umumnya terbesar untuk zat besi dan seng, tetapi zat gizi lain mungkin bermasalah (seperti kalsium, vitamin A dan vitamin B tertentu) tergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi.​2​

Lebih Lanjut : Diet pada Ibu Hamil

Strategi untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi Selama 1000 HPK

Salah satu pilihan strategi memenuhi kebutuhan zat besi dalam masa kehamilan adalah fortifikasi atau biofortifikasi makanan pokok, yang dapat meningkatkan asupan zat gizi seperti zat besi, seng dan vitamin A. Pilihan lain adalah suplementasi mikronutrien berganda. Pilihan ketiga yaitu produk makanan untuk ibu hamil dan menyusui yang mengandung makro dan mikro nutrien sehingga mendapatkan asam lemak esensial dan protein tinggi selain vitamin dan mineral.​2​

Terdapat beberapa pilihan untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan anak yang disusui selama periode pemberian makanan pendamping ASI (6-24 bulan). Diversifikasi diet dan pemilihan makanan pendamping yang kaya gizi adalah tujuan jangka panjang utama, tetapi akses dan biaya seringkali menjadi hambatan, dan sulit untuk memenuhi kebutuhan zat besi bahkan dengan diet yang relatif beragam. ​2​

Perlunya Pendekatan Terintegrasi

Kombinasi dari strategi-strategi dengan intervensi gizi yang tepat akan lebih efektif, karena dengan gizi yang cukup dapat mengurangi dampak negatif infeksi pada pertumbuhan dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh, menyediakan zat gizi tambahan untuk mengkompensasi efek infeksi dan memungkinkan untuk mengejar pertumbuhan, mencegah nafsu makan yang buruk yang disebabkan oleh defisiensi gizi dan mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan dalam usus yang dapat meningkatkan fungsi usus dan mempertahankan kekebalan tubuh.

Meningkatkan pertumbuhan anak, bukan hanya pertumbuhan fisik saja, harus menjadi bagian integral dari strategi untuk mengurangi stunting dan sequel jangka panjang. Intervensi terintegrasi untuk mencegah stunting yang mencakup komponen untuk meningkatkan perkembangan anak usia dini melalui stimulasi psikososial, pemberian makan yang responsif dan perawatan untuk ibu dan anak dapat memberikan dampak yang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan perilaku terutama pada periode 1000 HPK.

Secara khusus, untuk mengatasi penyebab langsung dari stunting, intervensi yang direkomendasikan harus fokus pada peningkatan zat gizi dan mencegah penyakit terkat. Strategi intervensi mikronutrien untuk anak-anak  yaitu suplementasi vitamin A (pada periode neonatal dan akhir masa bayi), suplementasi zink, suplementasi besi untuk anak-anak di daerah malaria bukan endemik (pada daerah malaria endemik, suplementasi besi dapat meningkatkan risiko kematian) dan promosi penggunaan garam beryodium. Peningkatan pemberian makanan pendamping melalui strategi populasi pangan yang aman seperti konseling gizi, suplementasi makanan, conditional cash transfers atau kombinasi dari semua ini  secara substansial dapat mengurangi stunting. Dalam konteks daerah perkotaan yang kumuh, intervensi untuk anak stunting yaitu : ​3​

  • Intervensi gizi (suplementasi, makanan yang diperkaya akan mikronutrien (fortifikasi) atau complementary food, promosi gizi)
  • Reproductive and Child Health (RCH), imunisasi dan peningkatan akses ke layanan kesehatan
  • WASH (water, sanitation, and hygiene)
  • Safety net programmes (transfer tunai bersyarat).

Bukti bagaimana intervensi WASH dapat mendukung intervensi Gizi untuk meningkatkan pertumbuhan linier dan mengurangi stunting  masih “under construction”. Tantangan utama untuk strategi WASH yang sensitif terhadap zat gizi adalah memastikan bahwa populasi dengan beban stunting yang menjadi sebelum atau ketika growth faltering terjadi dengan intervensi WASH yang tepat bersama dengan intervensi gizi spesifik pada 1000 HPK.

Referensi

  1. 1.
    Bappenas R. Kerangka Kebijakan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK). Bappenas . Published 2013. https://www.bappenas.go.id/files/7713/8848/0483/KERANGKA_KEBIJAKAN_-_10_Sept_2013.pdf
  2. 2.
    Dewey KG. Reducing stunting by improving maternal, infant and young child nutrition in regions such as South Asia: evidence, challenges and opportunities. Maternal & Child Nutrition. Published online May 2016:27-38. doi:10.1111/mcn.12282
  3. 3.
    Goudet SM, Griffiths PL, Bogin BA, Madise NJ. Nutritional interventions for preventing stunting in children (0 to 5 years) living in urban slums in low and middle-income countries (LMIC). Cochrane Database of Systematic Reviews. Published online May 12, 2015. doi:10.1002/14651858.cd011695

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: