Gizi Seimbang Anak Sekolah

Anak sekolah membutuhkan gizi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Mari kita simak pedoman gizi seimbang pada anak sekolah =)

Anak Sekolah

Tahap perkembangan usia sekolah dasar (middle childhood) merupakan salah satu tahap perkembangan krusial yang terkadang tidak
diperhatikan dalam tahap perkembangan manusia. Ketika anak berada di tahap perkembangan usia sekolah, fungsi kognitif mulai berkembang lebih baik dari masa sebelumnya. Zat gizi dapat mempengaruhi perkembangan kognitif pada anak. Penelitian menunjukkan bahwa malnutrisi dan defisiensi zat gizi mikro seperti zat besi, yodium, seng, dan folat berhubungan dengan kemampuan kognitif anak. Anak-anak memiliki risiko tinggi defisiensi zat gizi yang parah.​1,2​

Pertambahan berat anak usia prasekolah (4-6 tahun) berkisar antara 0,7-2,3 kg dan tinggi 0,9-1,2 cm/tahun sehingga menyebabkan tubuh
mereka tampak kurus. Berat pada usia 7-10 tahun bertambah sekitar 2 kg dan tinggi badan 5-6 cm setiap tahun. Perkembangan mental anak dapat dilihat dari kemampuannya mengatakan “tidak” terhadap makanan yang ditawarkan. Penelitian menunjukkan pada usia ini juga kebanyakan anak hanya mau makan satu jenis makanan selama berminggu-minggu (food jag).​3​

Baca : Meningkatkan Nafsu Makan Anak

Pesan Gizi Seimbang Anak Sekolah

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh
berdasarkan jenis kelamin, umur dan status kesehatan. Gizi seimbang bagi anak sekolah dipenuhi setiap hari dengan makanan yang beraneka ragam. Konsumsi makanan dengan pola gizi seimbang harus memperhatikan empat prinsip dasar yaitu mengkonsumsi aneka ragam makanan, melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), melakukan aktivitas fisik, dan memonitor berat badan ideal. Berikut pesan gizi seimbang untuk anak usia 6 – 9 tahun. ​4​

Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) bersama keluarga

Kebutuhan zat gizi anak usia 6-9 tahun dipenuhi dengan makan utama 3 kali sehari (sarapan atau makan pagi, makan siang dan makan
malam) dan disertai makanan selingan sehat. Pada anak sekolah makan pagi atau sarapan sangat dianjurkan sehingga pada saat menerima
pelajaran (1-2 jam setelah makan) gula darah naik dan dapat dipakai sebagai sumber energi otak. Otak mendapat energi terutama dari
glukosa. Pada proses belajar otak merupakan organ yang sangat penting untuk menerima informasi, mengolah informasi, menyimpan informasi dan mengeluarkan informasi.

Biasakan mengonsumsi ikan dan sumber protein lainnya

Ikan merupakan sumber protein hewani, sedangkan tempe dan tahu merupakan sumber protein nabati. Protein hewani lain seperti ayam, daging, seafood, telur ayam, susu, keju, dll. Protein merupakan zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan, mempertahankan sel atau jaringan yang sudah terbentuk, dan untuk mengganti sel yang sudah rusak, oleh karena itu protein sangat diperlukan dalam masa pertumbuhan. Kosumsi ikan, telur dan susu bagi kelompok anak usia 6-9 tahun sangat membantu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta peningkatan daya ingat dan kognitif di sekolah.

Perbanyak mengonsumsi sayuran dan cukup buah-buahan

Sayuran hijau maupun berwarna selain sebagai sumber vitamin, mineral juga sebagai sumber serat dan senyawa bioaktif yang tergolong sebagai antioksidan. Buah selain sebagai sumber vitamin, mineral, serat juga antioksidan terutama buah yang berwarna hitam, ungu,
merah.

Anjuran konsumsi sayuran lebih banyak daripada buah karena buah juga mengandung gula, ada yang sangat tinggi sehingga rasa buah
sangat manis dan juga ada yang jumlahnya cukup. Konsumsi buah yang sangat manis dan rendah serat agar dibatasi. Hal ini karena buah yang sangat manis mengandung fruktosa dan glukosa yang tinggi.

Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan sebaiknya bervariasi sehingga diperoleh beragam sumber vitamin ataupun mineral serta serat. Sayuran dapat dibuat masakan dengan dipotong kecil – kecil dan ditambahkan dalam makanan yang disukai anak seperti telur sayur, bakso bayam, rolade wortel, jus nanas sawi, dll.

Baca : Warna Warni Makanan

Biasakan membawa bekal makanan dan air putih dari rumah

Dengan membawa bekal dari rumah, anak tidak perlu makan jajanan yang kadang kualitasnya tidak bisa dijamin. Di samping itu perlu membawa air putih karena minum air putih dalam jumlah yang cukup sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan. Bekal yang dibawa anak sekolah tidak hanya penting untuk pemenuhan zat gizi tetapi juga diperlukan sebagai alat pendidikan gizi terutama bagi orang tua anak-anak tersebut. Guru secara berkala melakukan penilaian terhadap unsur gizi seimbang yang disiapkan orangtua untuk bekal anak sekolah dan ditindaklanjuti dengan komunikasi terhadap orang tua.

Lebih lanjut : Bekal sehat

Batasi mengonsumsi makanan cepat saji, jajanan dan makanan selingan yang manis, asin dan berlemak

Mengonsumsi makanan cepat saji dan jajanan saat ini sudah menjadi kebiasaan terutama oleh masyarakat perkotaan. Sebagian besar
makanan cepat saji adalah makanan yang tinggi gula, garam dan lemak yang tidak baik bagi kesehatan. Oleh karena itu mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan jajanan harus sangat dibatasi.

Biasakan menyikat gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari setelah makan pagi dan sebelum tidur

Setelah makan ada sisa makanan yang tertinggal di selasela gigi. Sisa makanan tersebut akan dimetabolisme oleh bakteri dan menghasilkan metabolit berupa asam, yang dapat menyebabkan terjadinya pengeroposan gigi. Membiasakan untuk membersihkan gigi setelah makan adalah upaya yang baik untuk menghindari pengeroposan atau kerusakan gigi. Demikian juga sebelum tidur, gigi juga harus dibersihkan dari sisa makanan yang menempel di sela-sela gigi. Saat tidur, bakteri akan tumbuh dengan pesat apabila disela-sela gigi ada sisa makanan dan ini dapat mengakibatkan kerusakan gigi.

Hindari merokok

Merokok sebenarnya merupakan kebiasaan dan bukan merupakan kebutuhan, seperti halnya makan atau minum. Oleh karena itu kebiasaan merokok dapat dihindari kalau ada upaya sejak dini. Merokok juga bisa membahayakan orang lain (perokok pasif). Banyak
penelitian menunjukkan bahwa merokok berakibat tidak baik bagi kesehatan misalnya kesehatan paru-paru dan kesehatan reproduksi.

Referensi

  1. 1.
    DelGiudice M. Middle Childhood: An Evolutionary-Developmental Synthesis . In: Handbook of Life Course Health Development. Springer, Cham; 2018:95-107.
  2. 2.
    Theodore RF, Thompson JMD, Waldie KE, et al. Dietary patterns and intelligence in early and middle childhood. Intelligence. 2009;37(5):506-513. doi:https://doi.org/10.1016/j.intell.2009.07.001
  3. 3.
    Arisman A. Gizi Dalam Daur Kehidupan . EGC; 2009.
  4. 4.
    Kemenkes R. Peraturan Menteri Kesehatan No 41 Tahun 2014. Kemenkes RI; 2014:1-96.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: