Diet untuk PCOS (PolyCystic Ovary Syndrome)

25/01/2019
dilihat 881 kali


Gambar artikel

Polycystic Ovary Syndrom atau yang lebih dikenal dengan PCOS adalah sebuah kelainan pada sistem endokrin dan seringkali ditandai dengan gejala klinis seperti menstruasi tidak teratur baik oligomenorrhea (menstruasi lebih dari sekali dalam sebulan) atau amenorrhea (tidak menstruasi), hiperandrogenisme, dan infertilitas. Kondisi berjerawat yang sangat parah juga dapat dijadikan sebagai biomarker terjadinya PCOS. Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang terkena PCOS ini antara lain penyakit diabetes (baik DM tipe 1 maupun DM tipe 2). Kondisi gestational diabetes pun dapat menjadi faktor risiko kejadian PCOS. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa kegemukan dapat meningkatkan risiko terkenanya PCOS.

 

Untuk dapat menghalau dampak negatif PCOS, perlu dilakukan adanya penanganan yang tepat. Penurunan berat badan misalnya telah terbukti dapat menurunkan dampak negatif PCOS karena dapat melancarkan siklus hormon androgen dalam tubuh. Beberapa studi menunjukkan adanya perbaikan pada tingkat kesuburan (ovulasi dan kehamilan) setelah penurunan berat badan sebesar 5-10%. Selain diet penurunan berat badan, diet rendah karbohidrat juga terbukti dapat memperbaiki dampak PCOS. Pemilihan makanan yang tepat untuk penderita PCOS yaitu dengan meningkatkan asupan lemak baik (MUFA dan PUFA) yang biasanya terkandung di dalam kacang-kacangan serta buah-buahan yang kaya akan antioksidan untuk meningkatkan fertilitas pasien PCOS. Tentunya pengaturan makan ini juga akan lebih baik jika diimbangi dengan aktivitas fisik agar berat badan lebih terkontrol.

 

 

 

 

Bagikan artikel ini :  
  •          

  •   12 kali dibagikan

    Referensi

    Douglas, C. C., Gower, B. A., Darnell, B. E., Ovalle, F., Oster, R. A., & Azziz, R. (2006). Role of diet in the treatment of polycystic ovary syndrome. Fertility and sterility85(3), 679-88.


    Sirmans, Susan M. dan Kristen A. Pate. (2014). Epidemiology, diagnosis, and management of polycystic ovary syndrom. Clin. Epidemiol. Vol.6:1-3.


    Artikel terkait
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    10/11/2019
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    16/02/2018
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    22/01/2018
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    11/01/2018
    Gambar artikel
    Oleh : Qonita Rachmah, S.Gz., M.Sc(Nutr&Diet)
    06/01/2018
    Gambar artikel
    Oleh : AhliGiziID
    24/11/2017
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    05/11/2017





    Kelebihan Berat Badan ?