Obat Peningkat Nafsu Makan Anak Tradisional dari Segi Pandangan Ahli Gizi


Gambar artikel

ditulis oleh : Dhea Fitria Salsabella
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nafsu makan memiliki arti keinginan untuk makan. Dalam Ensiklopedia Budaya, nafsu adalah istilah yang menyiratkan keinginaan untuk memperoleh atau berpartisipasi dalam suatu hal. Sehingga dalam konteks makanan, nafsu makan digunakan untuk menggambarkan menginginkan atau menyukai makanaan tertentu, yang biasanya berdasarkan sifat sensorik ( rasa, aroma, tekstur) mereka, atau atribut psikologis ( perceived value atau status simbolis).
Nafsu makan merupakan keadaan yang mendorong seseorang untuk memuaskan keinginannya untuk makan selain rasa lapar (Hall, 2011). Sehingga dapat disimpulkan bahwa nafsu makan adalah dorongan yang kuat dalam rangka memuaskan keinginannya untuk makan makanan yang biasanya dipengaruhi oleh sifat sensoris maupun faktor psikologis.

Pengaturan perilaku makan merupakan proses yang disadari dan meliputi keterlibatan sistem saraf pusat, saluran pencernaan dan  jaringan lemak. Rasa kenyang atau puas (satiety) akan membatasi asupan makanan. Nafsu makan ditentukan oleh faktor eksternal (lingkungan), kondisi mental (emosi) seperti kondisi stress atau cemas. Kondisi lingkungan bisa berupa pemilihan jenis makanan berdasarkan pengalaman makan sebelumnya (learning), kapan akan makan dan kondisi saat itu misalnya mengikuti tren saja.

 

 

 

Terdapat dua  daerah sinyal syaraf di hipotamus (otak) yang berperan dalam nafsu makan yaitu  daerah yang disebut dengan pusat kenyang (satiety system) dan daerah  yang disebut dengan pusat lapar atau pusat makan (feeding sistem). Selain kondisi eksternal yang mempengaruhi sinyal menuju sistem saraf pusat, makanan yang masuk ke dalam usus dua belas jari akan merangsang pengeluaran hormon kolesistokinin oleh bagian usus yang disebut duodenum untuk membangkitkan reseptor saraf vagus di saluran pencernaan, selanjutnya saraf vagus ini akan terhubung dengan otak. Adanya sekresi hormon kolesistokinin menunjukkan sinyal kenyang.
Hormon kolesistokinin juga dapat menyebabkan peningkatan hormon serotonin di hipotalamus. Serotonin adalah hormon yang berhubungan dengan perasaan tenang (nyaman), dalam hal makan  akan mendukung perasaan nyaman setelah makan. Selain kolesistokinin, saluran cerna juga akan mengeluarkan hormon glucagon like peptide-1 (GLP-1) dan peregangan kantong saluran pencernaan (distensi lambung) akibat masuknya makanan juga merupakan sinyal ke otak. Organ lain yang terlibat yaitu hati akan mengatur kadar glukosa yang dikeluarkan tubuh saat konsentrasinya turun (hepatic glucose production), yang ditandai dengan tubuh merasa lapar, pusing, berkeringat dingin, dan sebagainya. Hati akan mengeluarkan cadangan glukosa tubuh untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh. Organ pankreas akan mengeluarkan hormon insulin dan jaringan lemak akan mengeluarkan hormon leptin sebagai sinyal ke otak.
Semua sinyal yang menuju otak akan membangkitkan pusat kenyang (satiety) di otak sehingga tubuh akan merasa kenyang atau puas maka kita akan berhenti makan. Penurunan kadar hormon insulin akan menurunkan kadar glukosa darah sehingga merangsang pusat lapar di hipotalamus (otak) yang menyebabkan  timbulnya keinginan untuk makan. Hal tersebut menandakan glukosa darah  harus tersedia sebagai sumber energi bagi tubuh, terutama sistem saraf pusat sehingga proses makan akan membuat tubuh menyerap glukosa dari saluran pencernaan sebagai sumber energi, maka akan muncul rasa kenyang, sebaliknya setelah selesai penyerapan terjadi penurunan penggunaan glukosa oleh sel akan kembali membangkitkan rasa lapar. Siklus ini terjadi secara terus-menerus selama 24 jam dalam tubuh.
Rasa kenyang (puas) setelah makan ataupun di antara waktu makan dapat dimanipulasi berdasarkan pengalaman makan sebelumnya. Seseorang secara sadar dapat mengatur kapan akan berhenti makan bahkan mengatur porsi makan sehingga dapat memilih apakah ingin makan sekali saja langsung dengan porsi besar atau dengan porsi kecil tapi frekuensinya lebih sering.
Hormon leptin yang dikeluarkan oleh jaringan lemak dan insulin yang dikeluarkan pankreas berbanding lurus kadarnya dengan kadar lemak dalam tubuh. Jika kadar lemak dalam tubuh tinggi, maka kadar leptin dan insulin tinggi. Tingginya kadar leptin dan insulin merupakan sinyal bagi otak, kemudian otak akan memerintahkan tubuh untuk menghentikan asupan makanan, begitu juga sebaliknya. Orang yang mengabaikan rasa puas atau kenyang itu saat makan atau setelah berhenti makan bahkan terus-menerus memasukkan makanan ke dalam tubuhnya akan terus-menerus memiliki kadar leptin dan insulin yang tinggi dalam tubuhnya sehingga semakin lama kadar leptin dan insulin tidak lagi merupakan sinyal yang baik bagi otak, sehingga terjadi kondisi yang disebut resistensi leptin dan resistensi insulin. Biasanya ini terjadi pada orang dengan berat badan berlebih. Mereka seperti tidak pernah merasa puas atau kenyang, meski sudah banyak sekali makanan yang masuk ke dalam tubuh.
Rasa lapar secara fisiologis di artikan sebagai tanda internal yang merangsang “akuisisi” dan konsumsi makanan, sedang rasa kenyang merupakan keadaan sebaliknya. Mekanisme terjadi rasa lapar / kenyang sangat kompleks.
Pusat rasa lapar dan kenyang terdapat pada hipotalamus, masing-masing di bagian nukleus lateralis dan nukleus ventromedialis, keduanya dinamakan “appestat”.

Berbagai teori tentang peran nutrien pada terjadinya rasa lapar dan kenyang telah di kenal, antara  lain :

 

  1. Teori glukostatik : Kemoreseptor di nukleus ventromedialis mempunyai afinitas terhadap glukosa dan diaktifkan olehnya. Bila utilisasi glukosa tinggi, reseptor ini berlaku sebagai “rem” terhadap nukleus lateralis sehingga proses makan kemudian berhenti. Sebaliknya, bila utilisasi glukosa rendah, tidak terjadi stimulasi pada reseptor ventromedialis dan timbul rasa lapar yang menyebabkan terjadinya konsumsi makanan.
  2. Teori lipostatik : Terdapatnya metabolit seperti lipoprotein lipase yang beredar dalam darah mempengaruhi hipotalamus untuk membentuk set point yang menentukan masukan energi. Set poin ini dapat berubah setiap waktu sesuai jumlah jaringan lemak tubuh.
  3. Teori aminostatik : Kadar asam amino pada sirkulasi darah dapat menentukan mulainya atau berakhirnya rasa lapar. Binatang akan makan lebih banyak pada diet rendah protein serta menunjukan kecenderungan untuk memilih makanan dengan kandungan asam amino yang seimbang.
  4. Teori termostatik : Pada  lingkungan dingin binatang makan lebih banyak dibandingkan pada lingkungan panas.

Sekitar 20-30 peptida di usus bersifat sebagai hormon dan neuro transmiter sehingga merupakan pertanda internal. Sebagai contoh :
1.    gastrin : meningkatkan kontraksi lambung yang mengakibatkan masukan makanan meningkat.
2.    kolesistokinin : mengurangi kontraksi yang mengakibatkan masukan makanan menurun.
3.    glikogen hati rendah yang mengakibatkan lapar.
4.    insulin menurunkan glukosa darah yang mengakibatkan masukan makanan meningkat.
5.    dopamin yang mengakibatkan makan lebih banyak.
6.    serotanin yang mengakibatkan makan berkurang.

Demikian pula beberapa keadaan dapat mempengaruhi rasa lapar / kenyang seperti kegiatan fisik, keadaan sakit, lingkungan fisik maupun psikis.

Jadi makan merupakan perilaku yang disadari. Pusat kenyang dan pusat lapar di otak merupakan sinyal bagi tubuh untuk memulai asupan makanan atau sinyal untuk berhenti makan. Perilaku makan yang sudah menjadi suatu kebiasaan merupakan perilaku berulang sehingga otak sudah memiliki memori akan sinyal berupa banyaknya kadar zat gizi yang masuk ke dalam tubuh (karbohidrat, protein, dan lemak), aroma makanan dan rasa makanan. Tubuh sudah mengenal bahwa makanan itu enak untuk dikonsumsi lembali berdasarkan pengalaman makan sebelumnya. Pengaturan waktu makanpun dapat terjadi secara berulang, jika kita biasa bangun tengah malam kemudian makan, maka kita akan cenderung mengulang kebiasaan itu.
Perilaku makanan anak sehari-hari mencangkup lima aspek yaitu kebiasaan makan pagi, kebiasaan mengkonsumsi makanan jajanan di sekolah, keragaman konsumsi makanan dalam sehari (di rumah maupun di sekolah), kebiasaan mengkonsumsi protein hewani dan kebiasaan mengkonsumsi sayuran. Perilaku makan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi gizi pada seseorang (Dewi, 2012).
Anak-anak membutuhkan kandungan gizi yang cukup, seperti energi dan protein. Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Energi berfungsi sebagai zat tenaga untuk metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu tubuh dan kegiatan fisik. Kelebihan energi disimpan sebagai cadangan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang.
Kebutuhan energi pada dasarnya tergantung dari empat faktor yang saling berkaitan, yaitu aktivitas fisik, ukuran, komposisi tubuh, umur, iklim, dan faktor ekologi lainnya. Untuk anak-anak diperlukan tambahan energi yang berfungsi untuk pertumbuhannya.
Pada kenyataannya, tak jarang anak mengalami kesulitan makan. Hal tersebut dapat mempengaruhi pemenuhan zat gizi dalam tubuhnya. Aktifnya anak pada usia ini menyebabkan kebutuhan energi dari anak harus tercukupi. Padahal pada masa ini zat gizi sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan anak. Apabila anak sulit makan, kebutuhan nutrisi anak akan sulit terpenuhi.
Masalah kesulitan makan pada anak merupakan problem yang sangat sering dihadapi baik oleh para orang tua maupun para ahli gizi. Dampak dari kesulitan makan ini adalah tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang dapat mengakibatkan keadaan defisiensi gizi dan pada akhirnya terjadi mal nutrisi.
Pemberian nutrisi merupakan salah satu kebutuhan dasar anak. Apabila telah terjadi keadaan mal nutrisi maka akan berdampak terhadap perkembangan, termasuk di antaranya : keterlambatan perkembangan motorik, gangguan perkembangan kognitif sehingga menurunkan tingkat IQ ( sampai 15 point untuk mal nutrisi berat ), kelainan prilaku dan sosial pada usia sekolah, berkurangnya perhatian, kemampuan belajar dan prestasi sekolah yang buruk.
Anak dengan gangguan perkembangan mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk berkembangnya kesulitan yang berhubungan dengan makan. Dari penelitian yang dilakukan Schwarrz dkk, terhadap 79 anak yang mengalami susah makan dengan gangguan perkembangan didapatkan 44 anak (56%) mengalami refluk gastroesofageal dan 31 anak dengan refluks tersebut mengalami esofagitis. Disfungsi motor oral atau faring terdapat pada 21 anak (27%) dikelompokkan ke dalam kelompok disfagia dan 14 pasien (18%) dengan kebiasaan menolak makanan.
Berbagai perilaku makan anak sering kali menjadi hambatan atau penyulit pelaksanaan pemberian makan, seperti menolak makan, melepeh atau  memuntahkan makanan, ngemut atau hanya menyukai satu atau beberapa jenis makanan tertentu saja. Hal seperti ini dapat berakibat tidak terpenuhinya satu atau beberapa jenis makanan tertentu saja. Hal seperti ini dapat berakibat tidak terpenuhinya kecukupan gizi, baik energi maupun kebutuhan satu atau lebih nutrien yang akan berdampak terhadap tumbuh-kembang anak. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan dan harus segera di atasi dengan mencari penyebab masalah makan tersebut, di samping memberikan nutrisi padat energi.
Pada dasarnya tidak ada sistem klasifikasi untuk masalah makan ini tetapi umumnya klasifikasi yang di buat berdasarkan penyebab permasalahan . Illingworth membagi masalah disfagia (menghisap dan menelan) pada bayi berdasarkan penyebab, yaitu :
  1. defek kongenital pada palatum, lidah, mandibula, farings, esofagus dan toraks.
  2. kelainan neuro muskular : palsi serebral keterlambatan pematangan, distrofia muskular, berbagai sindrom serta infeksi bakteri ataupun virus.
  3. Infeksi akut : stomatitis, faringitis dan sebagainya
Samsudin  membagi penyebab masalah kesulitan makan pada anak menjadi 3 golongan besar, yaitu : faktor organik, faktor nutrisi dan faktor psikologik

1.    Faktor Organik

Proses makan terjadi terutama berupa proses mekanik dan kimiawi / enzimatik. Dalam proses tersebut, berbagai organ tubuh turut berperan mulai dari unsur-unsur pada rongga mulut (bibir, gigi geligi, palatum, lidah) sampai ke usus dan organ organ yang berhubungan (pankreas, hati), yang dipengaruhi oleh sistem saraf.

Oleh karenanya berbagai kelainan atau penyakit pada organ-organ tersebut pada umumnya akan mengakibatkan gangguan atau masalah makan. Selain itu, perkembangan keterampilan makan yang berlangsung sejak lahir sampai usia 3 tahun merupakan suatu aspek tersendiri yang memerlukan pelatihan / pembinaan agar anak terampil mengkonsumsi berbagai makanan. Kelainan bawaan serta penyakit infeksi pada organ tubuh lainnya dapat pula menimbulkan masalah makan di samping kebutuhan energi yang meningkat.

Kelainan dan penyakit organik dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a.     Pada rongga mulut :

        1)    Kelainan bawaan : labiognatopalatoskisis, makro glosus.
        2)    Infeksi : stomatitis, karies dentis, tonsilitis akut dan lain-lain.
        3)    Gangguan neuro muskuler : paralis lidah, palatum mole.
b.      Pada bagian lain saluran cerna :
        1)    Kelainan bawaan : atresia esofagus,  stenosis pylorus, penyakit Hirschprung, akalasia dan lain-lain.
        2)    Infeksi : diare akut / kronik, hepatitis,  pankreatitis, cacing / parasit dan lain Sebagainya.
c.    Pada organ  tubuh lain :
       1)    Kelainan bawaaan : penyakit jantung bawaaan, sindrom down.
       2)    Infeksi akut / kronik: ISPA, tuberkulosis, dll.
      3)    Gangguan neuro muskuler : palsi serebral.
      4)    Keganasan / tumor : leukemia, tumor Wilms, neuro blastoma, dll.
d.    Penyakit metabolik : diabetes melitus, inborn errors of matabolism.

2.    Faktor nutrisi

    Berdasarkan kemampuan mengkonsumsi, memilih jenis dan menentukan jumlah makanan, balita merupakan golongan konsumen semi pasif / semi aktif, sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi masih bergantung pada orang lain, khususnya ibu atau pengasuhnya. Pada masa ini pula terjadi perubahan pola makan dari makanan bayi ke makanan dewasa. Semua hal tersebut sering kali secara sinergis menimbulkan masalah makan yang dapat mengakibatkan terjadinya defisiensi nutrien dan mal nutrisi, yang bisa menurunkan nafsu makan sehingga asupan makanan lebih berkurang lagi. Defisiensi nutrien yang sering kali berhubungan dengan nafsu makan adalah defisiensi seng (Zn) sebagai akibat berkuranganya ketajaman rasa (taste acuity) di samping fungsi seng sebagai metalo-enzim.

3. Faktor fisiologik
Faktor psikososial sering kali  menjadi penyebab hambatan perkembangan keterampilan makan yang umumnya terjadi pada usia sejak lahir sampai 4 tahun. Di duga terdapat periode sensitif yaitu terjadi respons optimal terhadap aplikasi stimulus (misal : jenis makanan) dan bila masa kritis ini terlampaui, keterampilan makan tertentu seperti mengunyah, akan lebih sullit untuk dipelajari oleh sibayi. Hal ini akan berakibat timbulnnya masalah makan di masa selanjutnya. Terlebih bila disertai sikap paksaan sewaktu makan, sehingga bayi / anak merasakan proses makan ini merupakan saat yang tidak menyenangkan yang akan berakibat timbulnya rasa anti makan terhadap makanan. Hubungan emosional antara ibu-bayi / anak sangat penting pada terjadinya masalah makan.
Kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulut tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipercernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Kesulitan makan adalah ketidak mampuan untuk makan dan menolak makanan tertentu (Santos, et al. 2009).
Gangguan kesulitan makan pada anak sering dijumpai pada masyarakat awam yang belum memahami prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak. Masyarakat awam masih banyak yang belum memahami pentingnya nutrisi pada anak. Menurut Samsudin masalah makan yang dikaitkan dengan bidang nutrisi klinis pada anak adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan ke tidak mampuan bayi atau anak untuk mengkonsumsi sejumlah makanan yang diperlukannya, secara alamiah dan wajar, yaitu dengan menggunakan mulutnya secara suka rela.

Menurut pengertian- pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesulitan makan adalah gangguan makan sehingga melakukan penolakan makanan dan hanya mengkonsumsi makanan yang disukai.

 

Gejala kesulitan makan adalah :
a. Makan hanya sedikit
b. Sulit untuk mencoba makanan baru
c. Secara total menghindari beberapa jenis makanan
d. Memiliki makanan yang sangat disukainya
   
Salah satu tanda kesulitan makan adalah kurangnya nafsu makan atau turunnya nafsu makan. Turunnya nafsu makan dapat dilihat dengan kurnganya ketertarikan terhadap makanan sehingga makanan hanya dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit. Berkurangnya ketertarikan terhadap makanan ditandai dengan menu makanan yang tidak dihabiskan, bermain-main dengan makanan, hingga makanan yang telah dihidangkan tidak dimakan.
    Menurunnya nafsu makan yang terjadi pada anak merupakan hal yang mengkhawatirkan bagi orangtua. Orangtua khawatir akan kondisi kesehatan anaknya apabila nafsu makan anak terus menerus menurun. Menurunnya nafsu makan pada anak juga dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Maka dari itu ornagtua berusaha mencari solusi agar nafsu makan anaknya kembali.
    Dalam upaya mengatasi anak yang mengalami penurunan nafsu makan, orang tua biasanya berupaya dengan berbagai cara supaya anaknya mau makan. Tindakan yang dilakukan orang tua pada umumnya adalah memberi anak vitamin penambah nafsu makan dan konsultasi dengan petugas kesehatan. Dinas kesehatan terkait khususnya puskesmas dan posyandu sudah berusaha mendata dan memberikan tindakan pada anak yang status gizinya masih dibawah garis kuning, yaitu dengan PMT (pemberian makanan tambahan), vitamin A, pendidikan kesehatan tentang manfaat nutrisi, dan lain sebagainya.
    Cara meningkatkan nafsu makan yang banyak dipilih oleh orangtua adalah dengan member obat nafsu makan tradisional. Pemeberian obat nafsu makan anak tradisional biasa dipilih karena minimnya efek samping yang timbul akibat konsumsi obat tersebut. Selain itu mudahnya mendapatkan obat nafsu makan tradisional juga menjadi alasan bagi orang tua untuk memberikannya pada anak- anak mereka. Wujud obat nafsu makan tradisional yang biasa diberikan adalah dalam bentuk jamu cekok.
    Jamu cekok merupakan jamu yang metode pemberian jamunya dengan cara diperaskan kedalam mulut. Dicekok sama dengan dipaksa, yaitu pemberian dnegan dipakasa dibuka mulutnya agar jamu dapat masuk ke dalam mulut.   Pemberian jamu cekok dengan cara pemerasan ke dalam mulut biasa disebabkan rasanya yang pahit, sehingga anak- anak kurang menyukainya.
    Bahan yang digunakan pada jamu cekok bermacam- macam. Penggunaan bahan pada jamu cekok selain untuk meningkatkan nafsu makan, juga untuk mengatasi masalah yang diderita anak. Bahan dalam pembuatan jamu cekok pada umumnya adalah tanaman rimpang. Tanaman yang wajib digunakan pada jamu cekok adalah temulawak ( curcuma xanthoriza robx).
    Penggunaan tanaman sebagai obat inilah yang meyakinkan banyak ornagtua untuk tetap menggunakan jamu cekok sebagai obat nafsu makan pada anak. Selain jamu cekok merupakan warisan turun temurun. Jamu cekok biasa dibuat oleh dukun bayi ataupun pedagang jamu dengan cara yang sederhana.
    Rimpang temulawak mengandung zat kurkumin, minyak atzsiri, pati, protein, lemak, Selulosa, dan mineral. Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia, sejenis rempah yang bisa digunakan sebagai obat, sumber karbohidrat, bahan penyedap masakan dan minuman, pewarna alami untuk makanan dan kosmetik. Kandungan kurkuminnya berkhasiat sebagai anti tumor, antioksidan, dan obat malaria (Ramdja, et. al. 2009).
    Temulawak mengandung minyak atsiri yang berkhasiat sebagai cholagogum, sejenis bahan yang mampu merangsang pengeluaran cairan empedu yang berfungsi sebagai penambah nafsu makan dan anti spasmodicum (menenangkan dan mengembalikan kekejangan otot. Curcuma xanthorrizae dipercaya sebagai tanaman yang mempunyai efek hepatoprotektif dan juga meningkatkan nafsu makan pada orang yang sulit makan (BKTM Makassar, 2013). Menurut Jurnal Turmeric and Curcumin : Biological Actions and Medicinal Applications menyatakan bahwa Curcuma dapat mempercepat proses pencernaan lipid oleh lipase dan meningkatkan sekresi kelenjar empedu untuk mengemulsi lemak sehingga secara tidak langsung mempercepat pengosongan lambung.
    Pemberian curcuma dapat proses pencernaan lemak dan pengosongan lambung, sehingga dapat meningkatkan nafsu makan anak. Fungsi temulawak juga dapat meningkatkan nafsu makan melalui fungsinya sebagai karminativum (antiflatulen). Menurut BKTM (2013) dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, bahwa dengan dosis 1125- 2500 mg kurkumin perhari tidak menunjukkan adanya toksisitas. Dosis yang disarankan untuk meningkatkan nafsu makan adalah 2 gram rimpang kering temulawak, dibuat dalam bentuk infus, diminum 2-3 kali sehari.
    Pemberian obat nafsu makan tradisional pada anak berupa jamu cekok terbukti dapat meningkatkan nafsu makan. Pada uji yang dilakukan Renny (2010), hasil penelitian pada saat pre-test rerata berat badan kelompok perlakuan 9900 gram. Pada post-test seluruh berat badan respondennaik dengan rerata berat badan 10220 gram. Dari data berat pre dan post test pada kelompok perlakuan, kenaikan rerata berat badan yaitu 320 gram. Pada kelompok kontrol pada pre-testrerata berat badan 9380 gram dan pada posttest beberapa responden mengalami kenaikan berat badan dengan rerata 9420 gram. Rerata kenaikan berat badan dari pra dan pasca yaitu 40 gram. Hasil uji statistik paired t-test, pada kelompok perlakuan didapatkan hasil p = 0,001 yang berarti bahwa adanya pengaruh yang signifikan berat badan sebelum dan sesudah diberikan madu temulawak. Dari hasil uji statistik independent t-test pada post test didapatkan nilai probabilitas 0,006 berarti ada perbedaan yang signifikan berat badan anak antara yang diberi madu temulawak dengan anak yang tidak mendapat madu temulawak.

    Karena belum ditemukannya efek samping dari konsumsi temulawak, maka konsumsi obat nafsu makan berupa jamu cekok  yang umunya berbahan dasar temulawak ini diperbolehkan dalam dosis tertentu dan dalam penggunaannya orang tua harus tetap mengawasi asupan nutrisi anaknya. Obat nafsu makan tradisional ini diharapkan dapat mengemabalikan kepedulian masyarakat akan manfaat dari tanaman rimpang ini.  

 

Bagikan artikel ini :  
  •          

  •   5 kali dibagikan

    Referensi
    1. Akhmadi.2008. Gangguan Makan pada Anak. Picky Eaters Clinic. Jakarta Pusat.
    2. Asiah,N. 2015. Psikologi Gizi Edisi 1. Jakarta.
    3. Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat Makassar. 2013. Pengaruh Pemberian Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) terhadap Kenaikan Berat Badan pada Anak Usia Sekolah. Makassar.
    4. Dewi. R.K., Budiantara. I.N. 2012. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi Buruk di Jawa Timur dengan Pendekatan Regresi Non Parametrik Spline. Jurnal Sains dan Seni ITS 1. Surabaya.
    5. Marni dan Ambarwati, R. 2015. Khasiat Jamu Cekok terhadap Peningkatan Berat Badan pada Anak. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Vol 11.1: 102-111.
    6. Ramdja, A.F., Aulia, R.M.A., Mulya, P. 2009. Ekstraksi Kurkumin dari Temulawak dengan Menggunakan Etanol. Jurnal Teknik Kimia, 3: 16.
    7. Renny, F., Sufiyanti, Y.A dan Alit, N.K. 2010. Madu Temulawak Meningkatkan Berat Badan Anak Usia Toddler. Jurnal Ners. Surabaya: Universitas Airlangga. Vol. 5 No. 1 April 2010: 49–54
    8. Telalaumbanua, K. L.2013. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Sulit Makan pada Usia Prasekolah di TK Islam Nurul Hikmah Bantar Gebang. Bekasi: STIKES Medistra Indonesia.

    Artikel terkait
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    11/06/2018
    Gambar artikel
    Oleh : Mokhamad Ali Zaenal Abidin, S.Gz
    12/04/2018




    jangan KLIK disini