baby lead weaning (BLW) Vs Traditional Feeding: Mana yang lebih baik ?


Gambar artikel

Ditulis oleh :
Tony Arjuna
Research Fellow, at NHMRC Centre of Research Excellence in Translating Nutritional Science to Good Health, University of Adelaide & Royal Adelaide Hospital. Member of the 1st Dietitian – UGM

Baby-led weaning (BLW) adalah tidak memberikan Makanan pendamping ASI dengan cara disuapkan, akan tetapi memberikan kesempatan pada bayi untuk memegang dan menyuap makanannya sendiri. Masyarakat di barat sudah lama mempraktikkan metode BLW ini, namun di Indonesia hal ini masih menjadi sesuatu yang kurang lumrah.

Nah sebetulnya bagaimana sih sisi ilmiah dari BLW ini. apakah baik diterapkan pada bayi atau tidak. berikut penjelasannya.

1. Penelitian menunjukkan bahwa :
• Sebagian besar Ibu yang melakukan BLW, memberikan ASI kepada anaknya dan BLW dimulai setelah anak berusia 6 bulan ke atas. (1, 2)
• Ibu yang melakukan BLW di negara2 maju memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan mapan dan status sosial ekonomi menengah ke-atas. (1, 2)
• Ibu yang melakukan BLW sebagian besar merupakan anggota Parenting Group, dimana anggotanya diberikan pengetahuan dan keterampilan yang cukup terkait pemberian makan anak, khususnya keterampilan pencegahan dan pertolongan pertama agar anak tidak tersedak. (2)

2. Sampai saat ini, belum ada penelitian “berkualitas” yang menunjukkan bahwa BLW lebih baik dari pada metode pemberian makan tradisional. (3, 4) Sehingga, tenaga kesehatan seperti Dokter Spesialis Anak dan Dietisien belum memiliki dasar yang cukup untuk merekomendasikan BLW.

3. Akan tetapi, sudah ada bukti bahwa BLW meningkatkan resiko:
• Anak mengalami kekurangan zat besi (4, 5). Anak yang mengalami kekurangan zat besi ketika bayi, terbukti memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah. (6-8)
• Anak mengkonsumsi garam melebihi kebutuhannya, karena sering ditawarkan makanan yang sama dengan yang dikonsumsi anggota keluarga lainnya. (9) Sehingga meningkatkan resiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung ketika dewasa. (10)
• Anak mengkonsumsi lemak (termasuk lemak jenuh) lebih tinggi,  tapi zat besi, seng dan vitamin B12 lebih rendah dari bayi yang diberi makan secara tradisional. (11)
• Anak tersedak saat makan. (5, 12) Ini tentunya bisa berakibat fatal apabila ibu tidak bisa menolong anaknya yang tersedak sesegera mungkin.
• Anak memiliki berat badan dibawah normal / kurang gizi (13), karena anak tidak mengerti apakah makan nya sudah cukup atau tidak.

4. Apabila orangtua sudah memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan percaya diri untuk melakukan BLW, tentu tidak ada yang melarang.

5. Pola pemberian makanan anak adalah sepenuhnya hak orang tua untuk menentukan. Tapi, apakah kita mau mengorbankan kesehatan, keselamatan dan masa depan anak hanya demi mengikuti trend?

6. Sepertinya, ibu akan lebih bangga untuk dikenal dan dikenang sebagai ibu yang berhasil membesarkan anak yang sehat dan cerdas, dibandingkan hanya sebagai praktisi BLW.

Bagikan artikel ini :  
  •          

  •   16 kali dibagikan

    Referensi

    1. Brown A, Lee M. A descriptive study investigating the use and nature of baby-led weaning in a UK sample of mothers. Maternal & child nutrition. 2011;7(1):34-47.
    2. Cameron SL, Heath A-LM, Taylor RW. Healthcare professionals’ and mothers’ knowledge of, attitudes to and experiences with, Baby-Led Weaning: a content analysis study. BMJ Open. 2012;2(6).
    3. Cameron SL, Heath A-LM, Taylor RW. How Feasible Is Baby-Led Weaning as an Approach to Infant Feeding? A Review of the Evidence. Nutrients. 2012;4(11):1575-609.
    4. Cichero JAY. Introducing solid foods using baby-led weaning vs. spoon-feeding: A focus on oral development, nutrient intake and quality of research to bring balance to the debate. Nutrition Bulletin. 2016;41(1):72-7.
    5. Alvisi P, Brusa S, Alboresi S, Amarri S, Bottau P, Cavagni G, et al. Recommendations on complementary feeding for healthy, full-term infants. Italian journal of pediatrics. 2015;41(1):36.
    6. Carter RC, Jacobson JL, Burden MJ, Armony-Sivan R, Dodge NC, Angelilli ML, et al. Iron deficiency anemia and cognitive function in infancy. Pediatrics. 2010;126(2):e427-34.
    7. Lozoff B, Jimenez E, Hagen J, Mollen E, Wolf AW. Poorer behavioral and developmental outcome more than 10 years after treatment for iron deficiency in infancy. Pediatrics. 2000;105(4):E51.
    8. Lozoff  B, Jimenez  E, Wolf  AW. Long-Term Developmental Outcome of Infants with Iron Deficiency. New England Journal of Medicine. 1991;325(10):687-94.
    9. Townsend E, Pitchford NJ. Baby knows best? The impact of weaning style on food preferences and body mass index in early childhood in a case–controlled sample. BMJ Open. 2012;2(1).
    10. Strazzullo P, Campanozzi A, Avallone S. Does salt intake in the first two years of life affect the development of ca
    rdiovascular disorders in adulthood? Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases.22(10):787-92.
    11. Rowan H, Harris C. Baby-led weaning and the family diet. A pilot study. Appetite. 2012;58(3):1046-9.
    12. Fangupo LJ, Heath A-LM, Williams SM, Erickson Williams LW, Morison BJ, Fleming EA, et al. A Baby-Led Approach to Eating Solids and Risk of Choking. Pediatrics. 2016.
    13. Morison BJ, Taylor RW, Haszard JJ, Schramm CJ, Williams Erickson L, Fangupo LJ, et al. How different are baby-led weaning and conventional complementary feeding? A cross-sectional study of infants aged 6–8 months. BMJ Open. 2016;6(5).


    Artikel terkait
    Gambar artikel
    Oleh : AhliGiziID
    05/05/2018
    Gambar artikel
    Oleh : Mokhamad Ali Zaenal Abidin, S.Gz
    12/04/2018




    jangan KLIK disini