Laktase Laktosa dan Intoleransi Laktosa

12/01/2018
dilihat 1221 kali


Gambar artikel

Ditulis oleh :

  • I.D.G.S. Deva, S.Si. M.P.H (c) (ZYWIELAB)
  • Dipl-Ing Arradi Nur Rizal M.Sc. (ZYWIELAB)
  • dr. Besthari Anindita Pramitasari (ZYWIELAB)
  • Tessa A. S. B.AS., M.Sc. (ZYWIELAB)

Pada artikel ini, kita akan melihat lebih dalam tentang intoleransi laktosa yang erat kaitannya dengan produksi enzim laktase, suatu enzim untuk memecah laktosa pada proses pencernaan makanan, dan laktosa.

 

Apasih Laktosa itu ?

Laktosa adalah karbohidrat sederhana yang oleh laktase, enzim khusus untuk mencerna laktosa, dipecah menjadi glukosa dan galaktosa (mirip seperti glukosa namun memiliki perbedaan sedikit pada susunannya). Di dalam tubuh, laktosa akan mengalami proses pencernaan di usus halus. Pada umumnya, laktosa dikenal sebagai gula susu karena karbohidrat ini ditemukan di dalam susu. Namun perlu diingat laktosa tidak hanya ditemukan di susu, tetapi juga terdapat di berbagai produk olahan susu, kue, biskuit, dan produk fermentasi, seperti keju, yoghurt hingga bir [1]. 

 

Siapa yang bertugas untuk menghasilkan enzim laktase?


Enzim laktase dihasilkan oleh sel-sel dinding usus halus (enterosit). Di dalam sel ini, terdapat gen LCT dan gen-gen regulator yang membantu proses produksi laktase. Gen LCT adalah cetakan (blue print) dari enzim laktase, sementara salah satu gen regulator MCM6 akan menghasilkan protein MCM6 yang membantu proses produksi enzim laktase dari gen LCT [2,3].

 

Apa hubungan produksi enzim laktase dan intoleransi laktosa?


Penyebab utama dari intoleransi laktosa adalah kekurangan enzim laktase (defisiensi laktase) karena produksi enzim laktase yang semakin berkurang [4]. Berdasarkan penyebabnya, defisiensi enzim laktase dapat dibagi menjadi tiga tipe berbeda, yaitu:

  • Defisiensi Laktase Bawaan

Terjadi pada bayi yang mendapatkan sepasang gen LCT yang mengalami mutasi dan bersifat resesif dari masing-masing orang tua. Bayi dalam keadaan ini tidak dapat menghasilkan enzim laktase sejak lahir. Kelainan ini sangat jarang terjadi, sekitar 1 dari 60.000 kelahiran dan pertama kali ditemukan di Finlandia pada tahun 1959 [5, 6].

 

  • Defisiensi Laktase Primer

Jenis yang paling umum terjadi karena secara alami, produksi enzim laktase mulai berkurang setelah bayi melewati masa menyusui [2]. Pada kondisi ini, gen-gen yang berperan dalam membantu produksi laktase, seperti gen MCM6, terprogram untuk mengurangi produksi laktase setelah masa menyusui [4].

 

  • Defisiensi Laktase Sekunder

Terjadi karena sel-sel usus halus mengalami kerusakan akibat pengobatan dan penyakit, seperti kemoterapi, dan infeksi usus. Berbeda dengan defisiensi bawaan dan primer, defisiensi sekunder dikarenakan sel-sel usus halus rusak akibat faktor eksternal, sehingga mengakibatkan produksi laktase berkurang [4].

 

Akan tetapi apapun jenis defisiensi yang dialami, berkurangnya produksi enzim laktase dapat mengakibatkan laktosa menjadi tidak dapat dicerna. Laktosa yang tidak terserap ini akhirnya mengendap di usus besar yang kemudian meningkatkan tekanan osmotik usus, sehingga air dalam usus sulit diserap oleh tubuh dan air dari dalam tubuh mudah keluar menuju saluran usus. Selain itu, proses fermentasi laktosa di dalam perut yang menghasilkan asam lemak dan berbagai macam gas. Oleh karena itu, bertambahnya timbunan laktosa akan menambah jumlah gas dan air yang berada di dalam usus. Alhasil, orang akan mengalami kembung, keram perut, diare dan sering buang angin yang merupakan tanda dari intoleransi laktosa [4, 7].

 

Jadi, apa sih Intoleransi Laktosa (lactose intolerance) dan Defisiensi Laktase?


Seperti yang sudah dijelaskan diatas, defisiensi laktase adalah kondisi dimana tubuh kita kekurangan enzim laktase. Kekurangan ini menyebabkan tubuh kita tidak dapat mencerna dan menyerap semua laktosa (bisa dari susu, dari keju atau sumber lainnya) yang masuk ke dalam tubuh. Sementara itu, intoleransi laktosa (lactose Intolerance) adalah kondisi dimana seseorang yang mengalami defisiensi laktase (kekurangan enzim laktase) dan mengalami gejala-gejala medis seperti kembung, keram perut, diare dan sering buang angin setelah mengkonsumsi laktosa dengan kadar yang bervariasi.

 

Lalu apakah Lactose Intoleransi Laktosa (lactose intolerance) dengan defisiensi laktase itu sama?

Tidak sama. Hal ini karena orang yang mengalami defisiensi laktase belum tentu mencapai tahap dimana orang tersebut mengalami intoleransi laktosa. Karena walaupun orang tersebut kekurangan enzim laktase, belum tentu mengalami gejala-gejala medis seperti kembung, keram perut, diare, dan sering buang angin.

Bagikan artikel ini :  
  •          

  •   10 kali dibagikan

    Referensi
    1. Zealand FStandards. NUTTAB 2010 Online Searchable Database [Internet]. 2015. http://www.foodstandards.gov.au/science/monitoringnutrients/nutrientables/nuttab/Pages/default.aspx
    2. Gerbault P, Liebert A, Itan Y, Powell A, Currat M, Burger J, et al.. Evolution of lactase persistence: an example of human niche construction. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 2011;366:863–877.
    3. NHS. Lactose intolerance - NHS Choices [Internet]. Department of Health; 2016. http://www.nhs.uk/Conditions/lactose-intolerance/Pages/Introduction.aspx
    4. Deng Y, Misselwitz B, Dai N, Fox M. Lactose intolerance in adults: Biological mechanism and dietary management. Nutrients. 2015;7:8020–8035.
    5. J. Coromina S, A. Vergés V, R. Puig G. Congenital lactase deficiency: Identification of a new mutation [Internet]. Anales de Pediatría (English Edition). 2015. pp. 365–366. http://www.sciencedirect.com.iclibezp1.cc.ic.ac.uk/science/article/pii/S2341287915000873?np=y&npKey=bd3b94cad09b10c847f4a38da950ab68e1d85e9c5a635198859513ab40fac6a3
    6. Swallow DM. Genetics of lactase persistence and lactose intolerance. Annu Rev Genet [Internet]. 2003;37. http://dx.doi.org/10.1146/annurev.genet.37.110801.143820
    7. Lomer MCE, Parkes GC, Sanderson JD. Review article: lactose intolerance in clinical practice–myths and realities. Alimentary pharmacology & therapeutics. 2008;27:93–103.

    Artikel terkait
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    20/02/2018
    Gambar artikel
    Oleh : Muhammad Iqbal Basagili, S.Gz., M.P.H. (Nutr & Diet)
    17/11/2017





    Kelebihan Berat Badan ?